Tradisi ‘Nglabur’ Rumah saat Ramadan, Filosofi Bersih Diri dan Mencerahkan Suasana Hati

5 menit baca
Totok Siswantara
Ditulis oleh Totok Siswantara diterbitkan
Ilustrasi melabur rumah dengan batu kapur atau gamping. (Sumber: Pexels | Foto: Sergey Meshkov)
Ilustrasi melabur rumah dengan batu kapur atau gamping. (Sumber: Pexels | Foto: Sergey Meshkov)

Tradisi membenahi, mempercantik  dan menyehatkan rumah dengan mengecat secara tradisional dilakukan oleh nenek moyang kita dengan cara ‘nglabur’ atau melabur bagian rumah agar kelihatan putih bersih dan sehat.

 Masyarakat Sunda dan Jawa sama-sama menyebut istilah nglabur sebagai aktivitas mengecat dinding atau tembok secara tradisional dengan memakai batu kapur atau gamping.  Melabur menurut nenek saya memiliki filosofi bersih diri dan bisa membawa suasana hati yang putih seperti fitrahnya ketika dilahirkan.

Masih terbayang dalam ingatan ketika saya dahulu diberi tugas orang tua untuk melabur rumah. Supaya ngirit biaya, ortu sengaja tidak mempekerjakan tukang. Tugas ini diberikan kepada anak laki-laki. Lumayan, biaya untuk ongkos tukang bisa berpindah ke kantong saya untuk membeli keperluan lebaran hingga membeli mercon agar tidak tertinggal dalam pergaulan anaka-anak.

Kegiatan melabur ini biasanya pada pertengahan bulan Ramadan. Setelah melabur di rumah sendiri kelar, saya juga mendapat order melabur rumah saudara atau tetangga yang kebetulan tidak punya anak laki-laki. Penghasilan dari beberapa kali melabur cukup lumayan untuk memberi baju lebaran dan bisa dipakai jalan-jalan dan nonton bioskop.

Bidang yang dilabur mulai dari tembok, pagar, plafon, hingga wuwungan genting. Agar semua tampak putih bersih. Proyek melabur rumah saya awali dengan membeli batu kapur (gamping) dan merang atau jerami yang sudah diikat seperti sapu lidi di toko bangunan.

Jerami yang sudah dipilih ditata seperti sapu lidi lalu di tumbuk ujungnya agar bisa menggantikan fungsinya sebagai kuas yang besar.

Batu gamping kemudian dicampur dengan air terjadi reaksi pengeluaran panas hingga air yang merendam gamping mendidih dan batu gamping meleleh. Setelah gamping meleleh temperatur masih tinggi dan bisa melukai tubuh. Perlu menunggu sekitar dua jam agar menjadi dingin dan bisa digunakan untuk melabur.

Ilustrasi tembok yang dilabur dengan gamping lebih atistik dan sehat (Sumber: Pexels | Foto: Engin Akyurt)
Ilustrasi tembok yang dilabur dengan gamping lebih atistik dan sehat (Sumber: Pexels | Foto: Engin Akyurt)

 Tembok yang Dilabur dengan Gamping Lebih Artistik dan Sehat

 Melabur alias mengecat tembok dengan gamping (limewash) menciptakan hasil akhir yang artistik, bertekstur, alami, dan ramah lingkungan. Prosesnya melibatkan pencampuran gamping dengan air (seringkali ditambah pigmen warna), lalu dioleskan tipis-tipis menggunakan kuas besar dari jerami dalam gerakan menyilang. Teknik ini bisa menutup permukaan dan tahan jamur atau lumut. 

Cat dinding gamping menimbulkan estetika yang unik untuk aplikasi interior dan eksterior. Terbuat dari mineral alami yang bisa menyerap CO2, dan meningkatkan kualitas udara dalam ruangan sekaligus mencegah pertumbuhan jamur.

Cat gamping telah digunakan selama berabad-abad untuk menciptakan hasil akhir dinding yang indah dan alami. Saat cahaya mengenai permukaan yang dilapisi kapur, kombinasi tekstur yang tidak rata dan unsur mineralnya akan menyebarkan sinar cahaya. Penyebaran ini menyebabkan cahaya mengalami pembiasan ke segala arah, yang menghasilkan luminositas halus yang membuat dinding tampak bersinar lembut.

Setiap dinding yang dicat dengan gamping dan kadang dicampur pigmen mineral menjadi elemen dinamis dari desain interior, bisa berubah secara halus seiring dengan cahaya alami sepanjang hari. Cat tembok kapur ramah lingkungan karena hanya mengandung bahan-bahan alami yang berasal dari bumi.

Cat gamping melindungi ruangan dan bisa mencegah kelembapan dan uap air terperangkap di dalam dinding. Memiliki pH basa yang membuat permukaan higienis. Cat ini juga tahan terhadap jamur dan bakteri.

Cat gamping sangat serbaguna, menjadikannya pilihan yang sangat baik untuk berbagai aplikasi. Kemampuan adaptasinya berasal dari komposisi alaminya, yang memungkinkannya untuk berikatan secara efektif dengan berbagai jenis permukaan.

Mesin untuk menciptakan jenis warna tertentu pada cat dengan cara pencampuran warna dasar di toko bangunan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Mesin untuk menciptakan jenis warna tertentu pada cat dengan cara pencampuran warna dasar di toko bangunan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

 Warna Cat Favorit saat Ramadan

 Zaman sudah berubah. Namun tradisi mengecat rumah saat lebaran masih ada. Tetapi dengan teknologi cat masa kini yang warna warni. Dari tahun ke tahun, warna cat yang paling laris saat bulan Ramadan cenderung bernuansa cerah, menenangkan, dan memberikan kesan bersih (fitrah) untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Menurut survey industry cat, warna-warna yang populer saat Ramadan meliputi putih, putih gading (ivory), hijau, biru pastel, krem, abu-abu muda, hingga sentuhan emas atau kuning keemasan yang memberikan kehangatan dan kemewahan.

Warna-warni untuk menghapus kekumuhan di Lembur Katumbiri (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Warna-warni untuk menghapus kekumuhan di Lembur Katumbiri (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Momentum Ramadan Bisa Mengubah Bangunan Kumuh

Bulan Ramadan mestinya bisa mengubah suasana bangunan kumuh di kota. Apalagi infrastruktur perkotaan kini sedang dilanda cuaca ekstrim membuat warga kota menjadi gerah dan  tidak nyaman di mata. Kondisinya semakin menyebalkan jika warga kota melihat bangunan kota atau infrastruktur publik kondisi temboknya kumuh dan kusam. Semakin banyak bangunan di kota yang tembok dan lokasinya kumuh. Hal ini mestinya bisa diatasi dengan cara melakukan pengecatan tembok bangunan oleh pemda. Karena hal itu bisa mendatangkan persepsi positif dari para pemudik lebaran yang pulang ke daerah asalnya.

Momentum Ramadan saatnya membenahi bangunan publik dan gedung pemerintah dengan program pengecatan massal sekaligus menjadi program padat karya untuk menanggulangi masalah ketenagakerjaan dan kemiskinan.

Cuaca ekstrim menyebabkan kondisi permukaan fisik bangunan gedung dan berbagai macam infrastruktur mengalami gangguan berat. Kondisi diatas sebaiknya diatasi secara baik oleh kalangan industri cat dengan cara memperbaiki mutu dan inovasi produk yang ramah lingkungan dan lebih berdaya tahan menghadapi gangguan alam.

Baca Juga: 3 Jejak Heroik K.H. Anwar Musaddad yang Terlupakan 

Sudah saatnya industri cat yang berskala besar, menengah dan kecil menerapkan kaedah ekoefisiensi. Yakni mewujudkan rasio yang ideal terkait produk yang dihasilkan dengan dampak lingkungan yang diakibatkan adanya produk tersebut. Ekoefisiensi menjamin produksi yang berkelanjutan karena penggunaan sumber daya alam dan pengelolaan limbah dapat dikendalikan. Buah dari ekoefisiensi adalah sosio efisiensi yang bisa menjamin konsumsi yang berkelanjutan karena adanya kepercayaan masyarakat terhadap produk tersebut.

Industri cat masih dihadang dengan masalah mutu dan proses standardisasi. Penerapan SNI produk cat masih bermasalah. Sehingga masyarakat belum terlindungi dari produk-produk yang kurang berkualitas. Selain itu juga ada beberapa produk cat yang tidak ramah lingkungan dan bisa mengganggu kesehatan. Seperti misalnya belum ada langkah yang serius untuk mengurangi kandungan Volatile Organic Compound (VOC) yang bisa mengganggu lingkungan. Mestinya industri cat ditekan untuk segera mengurangi kandungan VOC yang masih tinggi. Karena tren dunia menunjukkan pentingnya produk cat refinish dengan tingkat emisi rendah yang dirancang untuk memenuhi persyaratan ambang batas VOC yang aman. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)