Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Sukuk: Di Balik Kegagalan Narasi, Ada Patriotisme yang Tertahan

Bayu Hikmat Purwana
Ditulis oleh Bayu Hikmat Purwana diterbitkan Rabu 11 Feb 2026, 15:48 WIB
Replika Seulawah 001 di Blang Padang, Bandara Aceh : Simbol Kontribusi Rakyat Dalam Sejarah Pembangunan Indonesia. (Sumber: Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0) | Foto: Si Gam Aceh)

Replika Seulawah 001 di Blang Padang, Bandara Aceh : Simbol Kontribusi Rakyat Dalam Sejarah Pembangunan Indonesia. (Sumber: Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0) | Foto: Si Gam Aceh)

Ahmad Yasin (2025) di kanal Kompas bercerita kalau di awal kemerdekaan, Indonesia sebagai negara baru berdiri belum punya sarana transportasi udara pesawat angkut untuk mendukung keperluan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, terutama untuk urusan diplomatik. Pada 16 Juni 1948, Presiden Soekarno melakukan lawatan ke Sumatera termasuk datang ke Banda Aceh (dulu Kutaraja) dan mengajak warga ikut berperan membangun republik.

Soekarno meminta warga menyumbang sesuai kemampuan mereka dengan ajakan sederhana, tapi sarat makna. Warga Aceh pun bergerak cepat. Dari kalangan biasa hingga saudagar, mereka menyumbangkan sekitar 20 kilogram emas dan uang senilai 120.000 Dollar Singapura. Diberikan sukarela, penuh semangat patriotisme dan kepedulian pada nasib bangsa.

Dana ini kemudian digunakan untuk membeli pesawat Dakota C-47, yang diberi nama RI-001 “Seulawah”, atau “Gunung Emas” dalam bahasa Aceh, sebagai penghormatan kepada rakyat Aceh. Pesawat itu menjadi cikal bakal maskapai Garuda Indonesia. Hingga kini, sebagian warga masih menyimpan surat obligasi sumbangan sebagai kenangan dan bukti bahwa mereka pernah ikut membangun negara dari hati mereka sendiri.

Elitisme Sukuk

Delapan dekade telah berlalu, di tengah hiruk-pikuk kampanye efisiensi pada kondisi fiskal saat ini, ada satu instrumen negara yang sebetulnya penting, tapi nyaris luput dari kesadaran publik yaitu literasi keuangan Sukuk Negara. Kenapa luput? Masalahnya bukan pada sukuknya, melainkan pada narasi yang gagal diceritakan dengan cara yang membumi.

Bagi warga biasa, sukuk terasa jauh dan elitis. Sejak diperkenalkan, sukuk lebih sering diposisikan sebagai produk investasi dengan istilah teknis yang terkesan hanya milik bank, investor, atau pejabat keuangan. Semua sah secara teknis, tetapi gagal menjangkau emosi dan kesadaran warga. Akibatnya, sukuk hanya tumbuh subur di pasar keuangan. Padahal, jika ditarik ke akar maknanya, sukuk adalah sebagian cara warga gotong royong ikut membiayai negaranya sendiri.

Rajin Menagih, Tapi Kurang Mengajak

Dalam komunikasi publik, negara sangat fasih bicara soal kewajiban, seperti pajak, iuran, retribusi. Namun ketika bicara soal sukuk, nadanya berubah menjadi opsional dan teknokratis. Tidak ada ajakan yang hangat, tidak ada cerita yang menghubungkan sukuk dengan kehidupan sehari-hari warga. Padahal, di situlah potensi besarnya. Sukuk seharusnya bisa menjadi jembatan antara kewajiban sebagai warga dan keinginan untuk berkontribusi lebih.

Ironisnya, di saat filantropi dan donasi publik tumbuh subur dengan narasinya yang kuat dan emosional, sukuk semakin eksklusif. Donasi mudah dipahami (siapa dibantu, di mana, kapan) dan dampaknya terasa. Jarang kita mendengar, “kampus ini dibangun dari sukuk seri sekian” atau “jalan ini berdiri dari partisipasi ribuan warga.” Bukan soal kurang ikhlas. Rendahnya kesadaran terhadap sukuk sering kali disederhanakan sebagai kurangnya rasa patriotisme. Padahal itu analisis yang malas. Warga Indonesia terbukti sangat peduli, terlihat dari kuatnya solidaritas sosial saat bencana dan krisis.

Ilustrasi. Laju roda ekonomi Jawa Barat tidak hanya bergantung pada raksasa perbankan komersial, melainkan juga pada ketangguhan Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan BPR Syariah yang bergerak di akar rumput. (Sumber: Pixabay)
Ilustrasi. Laju roda ekonomi Jawa Barat tidak hanya bergantung pada raksasa perbankan komersial, melainkan juga pada ketangguhan Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan BPR Syariah yang bergerak di akar rumput. (Sumber: Pixabay)

Secara formal, sukuk di Indonesia relatif terjangkau mulai dari Rp1 juta dan kelipatannya. Tapi bagi banyak warga, ini tetap terasa besar, terutama bagi yang pendapatannya tidak tetap dan belum terbiasa investasi. Akibatnya, sukuk sering diklasifikasikan sebagai “bukan untuk orang seperti saya.” Ini bukan soal angka, tapi soal jarak psikologis.

Kalau harga tinggi adalah faktor utama, maka warga menengah yang mampu pun seharusnya antusias. BPS (2024) mencatat jumlah Kelas Menengah dan Menuju Kelas Menengah di Indonesia sebanyak 66,35 persen dari total populasi. Secara matematis, jika diambil 50 persennya saja aktif, maka akan menghasilkan angka yang memiliki peran krusial sebagai penopang pembangunan. Faktanya tidak seindah itu, bahkan kelompok berpendidikan dan berpenghasilan cukup pun banyak acap kali kurang aware bahkan tidak tertarik.

Tantangan lainnya adalah stigma pemerintahan di era modern yang cenderung melihat warga sebagai wajib pajak (konsumen layanan), bukan partner yang bisa diajak berkontribusi langsung. Harga diri dan gengsi birokrasi untuk mengajak warga ikut “membiayai negara” pun sering dianggap tidak sesuai dengan citra pemerintah modern “ketinggalan zaman”, karena semua instrumen fiskal diatur lewat APBN, pajak, dan obligasi. Ditambah adanya kekhawatiran politik, dimana riskan disalahtafsirkan. Bisa saja netizen menilai ajakan ini sebagai “beban tambahan” atau bahkan memicu kritik terhadap kemampuan anggaran negara.

Sukuk Partisipatif: Jalan Tengah Modern

Dari sudut kebijakan, ini bukan takdir. Dengan persfektif yang terbuka, sebetulnya ada alternatif. Misalnya dengan membuka fleksibilitas partisipasi (micro-sukuk), skema kolektif berbasis komunitas, hingga integrasi dengan wakaf atau filantropi. Visualisasi proyek yang “dibeli” warga dengan narasi yang membangkitkan rasa kepemilikan kolektif, akan menggeser stigma transaksi menjadi kontribusi sosial.

Di luar skema Private Public Partnership atau KPBU. Sukuk Negara bisa dirancang sebagai instrumen yang lebih partisipatif sebagai penyelaras kebutuhan negara akan pembiayaan pembangunan. Konsep ini mengulang semangat rakyat Aceh dulu, tetapi dikemas secara modern, formal, dan terukur.

Modern dengan memanfaatkan teknologi dan skema fleksibel. Warga bisa membeli micro-sukuk digital melalui platform online atau website resmi pemerintah, mulai dari nominal yang sangat terjangkau. Setiap kontribusi tercatat transparan, dan warga dapat melihat progres proyek secara real-time. Secara formal sukuk ini menjadi bagian dari instrumen resmi negara di bawah UU APBN dan UU SBSN. Proyek yang didanai ditampilkan dengan jelas, misal jalan, jembatan, rumah sakit, atau sekolah, sehingga warga bisa melihat langsung dampak sumbangan mereka. Imbal hasil pun jelas, baik berupa bagi hasil proyek maupun return keuangan sesuai akad.

Bandung Bisa Jadi Contoh

Konsep sukuk partisipatif ini tidak hanya relevan di level nasional, tapi juga bisa diterapkan di kota-kota seperti Bandung. Bayangkan seorang warga Bandung membeli micro-sukuk digital melalui aplikasi resmi pemerintah kota, mulai dari nominal terjangkau. Dana yang terkumpul digunakan untuk membangun fasilitas publik yang nyata, seperti merenovasi sekolah di Kecamatan Cijerah, memperbaiki jalan di Dago, atau menambah ruang kesehatan di Puskesmas Pasundan. Setiap bulan, warga bisa memantau progres proyek secara langsung melihat hasil kontribusi mereka, sekaligus menerima imbal hasil sesuai akad. Dengan cara ini, partisipasi warga tidak lagi abstrak, mereka merasakan dampak nyata dan menjadi bagian dari pembangunan Kota Bandung.

Baca Juga: Ramadan Mencerahkan Literasi Pekerja dan Hubungan Industrial

Dengan desain sukuk model partisipatif ini, bisa menghidupkan kembali semangat warga ikut membangun negara. Merasakan kontribusi, melihat hasil, dan tahu nilai ekonominya. Metode ini inklusif, cocok untuk masyarakat urban dan generasi muda untuk ikut secara sukarela tapi tetap resmi, sah secara hukum, dan aman, tidak sekadar filantropi informal. Seperti sumbangan emas rakyat Aceh di masa Soekarno, sukuk ini mengajak setiap warga, termasuk Bandung untuk menjadi bagian dari cerita Indonesia hari ini.

Di balik kegagalan narasi sukuk hari ini, ada potensi besar yang tertahan. Warga ingin terlibat, tapi jarang diajak. Pemerintah bukan sekadar menerbitkan sukuk, tapi harus belajar bercerita agar setiap warga merasa menjadi bagian pembangunan. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Bayu Hikmat Purwana
Analis Kebijakan dengan bidang kepakaran pengembangan kapasitas ASN di Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Manajemen Talenta ASN Nasional LAN RI

Berita Terkait

News Update

Bandung 30 Mar 2026, 17:03

The Hallway Space: Menyulap Pasar Tradisional Jadi Ruang Bisnis Kreatif Anak Bandung

The Hallway Space, ruang kebebasan dengan fungsi sebagai wadah cakupan kolektif dari para pelaku industri kreatif yang memiliki visi untuk bertumbuh bersama dalam satu cakupan ekosistem.

The Hallway Space, ruang kebebasan dengan fungsi sebagai wadah cakupan kolektif dari para pelaku industri kreatif yang memiliki visi untuk bertumbuh bersama dalam satu cakupan ekosistem. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Netizen 30 Mar 2026, 16:24

Anomali Saat Lebaran Tahun 1980-an

Pada hari Lebaran banyak orang-orang yang terlibat dalam permainan lotre atau judi padahal kbaru saja menjalani shaum Ramadan

Masjid Agung Bandung (Alun-Alun) pada tahun 1980-an. (Sumber: Twitter | Foto: @arbainrambey)
Linimasa 30 Mar 2026, 15:12

Jejak Serangan Berdarah Israel terhadap Pasukan Perdamaian Indonesia di Lebanon

Sejarah mencatat berbagai serangan terhadap UNIFIL di Lebanon, dari tragedi Qana 1996 hingga insiden terbaru yang menewaskan prajurit Indonesia.

Latihan bersama Kontingen Garuda dengan Lebanese Armed Forces. (Sumber: tniad.mil.id)
Beranda 30 Mar 2026, 14:43

Jejak Perjalanan Motor Pemudik dari Kiaracondong ke Kampung Halaman

Mudik tak selalu identik dengan lelah di jalan. Lewat program Motis, ratusan sepeda motor diangkut dengan kereta dari Kiaracondong, menghadirkan perjalanan pulang yang lebih aman, ringan, dan manusiaw

Rapi berjejer, sepeda motor pemudik yang sudah “dibungkus” siap diberangkatkan menuju tujuan masing-masing. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 30 Mar 2026, 13:56

Kakarén dan Hidup Setelah Lebaran

Kakarén Lebaran bisa dibaca sebagai metafora yang menarik.

produksi kue kering di pabrik kue J&C Cookies, Cimenyan, Kabupaten Bandung pada Rabu, 27 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 30 Mar 2026, 12:37

Transportasi Laut Pemudik: Antara Pelayaran Rakyat Anak Tiri dan Pelayaran Pelat Merah Anak Emas

Kegiatan penyeberangan dengan pelayaran rakyat sarat dengan bahaya.

Ilustrasi kapal pelayaran rakyat. (Sumber: Pexels | Foto: Agus Triwinarso)
Ayo Netizen 30 Mar 2026, 09:40

Ketika Utilitas Melanggar Ruang Manfaat Jalan

Utilitas seperti kabel menjuntai dan galian kabel di permukaan jalan di Bandung melanggar ruang manfaat jalan.

Lakalantas tunggal di Jalan Perintis Kemerdekaan akibat bekas galian kabel PLN, Kamis (26/3/2026). (Sumber: Instagram/@im.bethh___)
Ayo Netizen 30 Mar 2026, 08:40

Jabar Mesti Berani Revolusi untuk Mencetak SDM Terbarukan

SDM terbarukan memiliki etos kerja, kompetensi, daya literasi, kreativitas dan inovasi yang sesuai dengan tantangan zaman

Ilustrasi revolusi ketenagakerjaan di Jabar (Sumber: Meta | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 29 Mar 2026, 18:16

Prospek Usaha Florikultura saat Lebaran dan Reinventing Kota Kembang

Prospek usaha bunga potong atau Florikultura saat lebaran bisa reinventing predikat kota kembang.

Pasar kembang Wastukencana kota Bandung (Sumber: pasarbungawastukencana.com)
Ayo Netizen 29 Mar 2026, 14:03

Habis Lebaran, Terbitlah Hajatan

Menikah di bulan Syawal menjadi simbol dimulainya kehidupan baru dengan jiwa yang kembali fitri, suci.

Pemerintah Kota Bandung menggelar nikah gratis bagi 10 pasangan dengan dengan berbagai fasilitas dalam rangka Hari Jadi Kota Bandung ke-215. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 29 Mar 2026, 12:06

Syawal adalah Harapan

Bulan Syawal—sebuah fase yang bukan sekadar penanda berakhirnya ibadah sebulan penuh, melainkan awal dari harapan yang diperbarui.

Pemudik sepeda motor melintasi Kota Bandung pada Sabtu, 14 Maret 2025, dengan pilihan perjalanan hemat dan berbagai konsekuensinya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 29 Mar 2026, 09:43

Sejarah Tahu Gejrot, Legenda Kuliner yang Berawal dari Pabrik di Pesisir Cirebon

Tahu gejrot lahir dari industri tahu di Cirebon, berkembang dari makanan buruh menjadi jajanan jalanan legendaris di banyak kota.

Tahu gejrot khas Cirebon.
Ayo Netizen 29 Mar 2026, 09:20

Jalan Gelap di Bandung Memperbesar Risiko Keselamatan bagi Semua Pengguna Jalan

Jalan gelap di Bandung meningkatkan risiko kecelakaan dan kejahatan.

Jalan 'miskin lampu' di Bandung. (Sumber: Instagram @infobandungkota)
Beranda 28 Mar 2026, 11:07

Pedagang Mengenang Terminal Cicaheum yang Tak Lagi Ramai

Terminal Cicaheum di Bandung kini tak lagi seramai dulu. Pedagang lama bertahan di tengah penurunan penumpang, perubahan transportasi, dan kenangan masa lalu yang masih membekas.

Tak lagi dipadati penumpang, Terminal Cicaheum kini menyisakan cerita dan kenangan di setiap sudutnya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 28 Mar 2026, 10:29

Kemacetan Pacira Saat Lebaran Ubah Pola Wisatawan

Kemacetan parah di jalur Pacira saat Lebaran berdampak pada kunjungan wisata, sebagian naik signifikan, sebagian lainnya justru turun.

Satlantas Polresta Bandung mengurai kemacetan di jalur Ciwidey. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 27 Mar 2026, 22:02

Jejak Bahasa, Dakwah, dan Tradisi Lebaran di Jawa dalam Kata ‘Ketupat

Sejak kapan ketupat menjadi simbol Idul Fitri? Dan benarkah kata “kupat” berasal dari “ngaku lepat”—mengakui kesalahan?

Warga menganyam daun kelapa menjadi cangkang ketupat di kawasan Blok Ketupat, Caringin, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 27 Mar 2026, 18:01

Mengenang Sambas Mangundikarta, Penyiar RRI–TVRI dan Pencipta Lagu Manuk Dadali

Nama Sambas Mangundikarta tidak dapat dipisahkan dari Kota Bandung.

Sambas Mangundikarta, sosok panutan dalam dunia penyiaran Indonesia. (Sumber: Istimewa)
Ikon 27 Mar 2026, 17:33

Sejarah Salak Pondoh, Buah Ikon Jogja dari Empat Biji Pemberian

Salak pondoh yang kini menjadi ikon pertanian Sleman berawal dari empat biji yang ditanam di lereng Merapi sekitar 1917. Dari kebun kecil desa, buah ini berkembang menjadi komoditas besar.

Ilustrasi salak Pondoh.
Ayo Netizen 27 Mar 2026, 16:27

Lebaran Telah Usai, Keselamatan Kerja Industri Distribusi BBM Tidak Boleh Kendor

Musim pancaroba menyebabkan temperatur ekstrim, ancaman puting beliung dan sambaran petir setiap saat mengancam aktivitas industri distribusi BBM.

Ilustrasi kasus kebakaran akibat kecelakaan kerja pada industri distribusi BBM (Sumber: Meta | Foto: Arif Minardi)