Sukuk: Di Balik Kegagalan Narasi, Ada Patriotisme yang Tertahan

5 menit baca
Bayu Hikmat Purwana
Ditulis oleh Bayu Hikmat Purwana diterbitkan
Replika Seulawah 001 di Blang Padang, Bandara Aceh : Simbol Kontribusi Rakyat Dalam Sejarah Pembangunan Indonesia. (Sumber: Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0) | Foto: Si Gam Aceh)
Replika Seulawah 001 di Blang Padang, Bandara Aceh : Simbol Kontribusi Rakyat Dalam Sejarah Pembangunan Indonesia. (Sumber: Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0) | Foto: Si Gam Aceh)

Ahmad Yasin (2025) di kanal Kompas bercerita kalau di awal kemerdekaan, Indonesia sebagai negara baru berdiri belum punya sarana transportasi udara pesawat angkut untuk mendukung keperluan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, terutama untuk urusan diplomatik. Pada 16 Juni 1948, Presiden Soekarno melakukan lawatan ke Sumatera termasuk datang ke Banda Aceh (dulu Kutaraja) dan mengajak warga ikut berperan membangun republik.

Soekarno meminta warga menyumbang sesuai kemampuan mereka dengan ajakan sederhana, tapi sarat makna. Warga Aceh pun bergerak cepat. Dari kalangan biasa hingga saudagar, mereka menyumbangkan sekitar 20 kilogram emas dan uang senilai 120.000 Dollar Singapura. Diberikan sukarela, penuh semangat patriotisme dan kepedulian pada nasib bangsa.

Dana ini kemudian digunakan untuk membeli pesawat Dakota C-47, yang diberi nama RI-001 “Seulawah”, atau “Gunung Emas” dalam bahasa Aceh, sebagai penghormatan kepada rakyat Aceh. Pesawat itu menjadi cikal bakal maskapai Garuda Indonesia. Hingga kini, sebagian warga masih menyimpan surat obligasi sumbangan sebagai kenangan dan bukti bahwa mereka pernah ikut membangun negara dari hati mereka sendiri.

Elitisme Sukuk

Delapan dekade telah berlalu, di tengah hiruk-pikuk kampanye efisiensi pada kondisi fiskal saat ini, ada satu instrumen negara yang sebetulnya penting, tapi nyaris luput dari kesadaran publik yaitu literasi keuangan Sukuk Negara. Kenapa luput? Masalahnya bukan pada sukuknya, melainkan pada narasi yang gagal diceritakan dengan cara yang membumi.

Bagi warga biasa, sukuk terasa jauh dan elitis. Sejak diperkenalkan, sukuk lebih sering diposisikan sebagai produk investasi dengan istilah teknis yang terkesan hanya milik bank, investor, atau pejabat keuangan. Semua sah secara teknis, tetapi gagal menjangkau emosi dan kesadaran warga. Akibatnya, sukuk hanya tumbuh subur di pasar keuangan. Padahal, jika ditarik ke akar maknanya, sukuk adalah sebagian cara warga gotong royong ikut membiayai negaranya sendiri.

Rajin Menagih, Tapi Kurang Mengajak

Dalam komunikasi publik, negara sangat fasih bicara soal kewajiban, seperti pajak, iuran, retribusi. Namun ketika bicara soal sukuk, nadanya berubah menjadi opsional dan teknokratis. Tidak ada ajakan yang hangat, tidak ada cerita yang menghubungkan sukuk dengan kehidupan sehari-hari warga. Padahal, di situlah potensi besarnya. Sukuk seharusnya bisa menjadi jembatan antara kewajiban sebagai warga dan keinginan untuk berkontribusi lebih.

Ironisnya, di saat filantropi dan donasi publik tumbuh subur dengan narasinya yang kuat dan emosional, sukuk semakin eksklusif. Donasi mudah dipahami (siapa dibantu, di mana, kapan) dan dampaknya terasa. Jarang kita mendengar, “kampus ini dibangun dari sukuk seri sekian” atau “jalan ini berdiri dari partisipasi ribuan warga.” Bukan soal kurang ikhlas. Rendahnya kesadaran terhadap sukuk sering kali disederhanakan sebagai kurangnya rasa patriotisme. Padahal itu analisis yang malas. Warga Indonesia terbukti sangat peduli, terlihat dari kuatnya solidaritas sosial saat bencana dan krisis.

Ilustrasi. Laju roda ekonomi Jawa Barat tidak hanya bergantung pada raksasa perbankan komersial, melainkan juga pada ketangguhan Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan BPR Syariah yang bergerak di akar rumput. (Sumber: Pixabay)
Ilustrasi. Laju roda ekonomi Jawa Barat tidak hanya bergantung pada raksasa perbankan komersial, melainkan juga pada ketangguhan Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan BPR Syariah yang bergerak di akar rumput. (Sumber: Pixabay)

Secara formal, sukuk di Indonesia relatif terjangkau mulai dari Rp1 juta dan kelipatannya. Tapi bagi banyak warga, ini tetap terasa besar, terutama bagi yang pendapatannya tidak tetap dan belum terbiasa investasi. Akibatnya, sukuk sering diklasifikasikan sebagai “bukan untuk orang seperti saya.” Ini bukan soal angka, tapi soal jarak psikologis.

Kalau harga tinggi adalah faktor utama, maka warga menengah yang mampu pun seharusnya antusias. BPS (2024) mencatat jumlah Kelas Menengah dan Menuju Kelas Menengah di Indonesia sebanyak 66,35 persen dari total populasi. Secara matematis, jika diambil 50 persennya saja aktif, maka akan menghasilkan angka yang memiliki peran krusial sebagai penopang pembangunan. Faktanya tidak seindah itu, bahkan kelompok berpendidikan dan berpenghasilan cukup pun banyak acap kali kurang aware bahkan tidak tertarik.

Tantangan lainnya adalah stigma pemerintahan di era modern yang cenderung melihat warga sebagai wajib pajak (konsumen layanan), bukan partner yang bisa diajak berkontribusi langsung. Harga diri dan gengsi birokrasi untuk mengajak warga ikut “membiayai negara” pun sering dianggap tidak sesuai dengan citra pemerintah modern “ketinggalan zaman”, karena semua instrumen fiskal diatur lewat APBN, pajak, dan obligasi. Ditambah adanya kekhawatiran politik, dimana riskan disalahtafsirkan. Bisa saja netizen menilai ajakan ini sebagai “beban tambahan” atau bahkan memicu kritik terhadap kemampuan anggaran negara.

Sukuk Partisipatif: Jalan Tengah Modern

Dari sudut kebijakan, ini bukan takdir. Dengan persfektif yang terbuka, sebetulnya ada alternatif. Misalnya dengan membuka fleksibilitas partisipasi (micro-sukuk), skema kolektif berbasis komunitas, hingga integrasi dengan wakaf atau filantropi. Visualisasi proyek yang “dibeli” warga dengan narasi yang membangkitkan rasa kepemilikan kolektif, akan menggeser stigma transaksi menjadi kontribusi sosial.

Di luar skema Private Public Partnership atau KPBU. Sukuk Negara bisa dirancang sebagai instrumen yang lebih partisipatif sebagai penyelaras kebutuhan negara akan pembiayaan pembangunan. Konsep ini mengulang semangat rakyat Aceh dulu, tetapi dikemas secara modern, formal, dan terukur.

Modern dengan memanfaatkan teknologi dan skema fleksibel. Warga bisa membeli micro-sukuk digital melalui platform online atau website resmi pemerintah, mulai dari nominal yang sangat terjangkau. Setiap kontribusi tercatat transparan, dan warga dapat melihat progres proyek secara real-time. Secara formal sukuk ini menjadi bagian dari instrumen resmi negara di bawah UU APBN dan UU SBSN. Proyek yang didanai ditampilkan dengan jelas, misal jalan, jembatan, rumah sakit, atau sekolah, sehingga warga bisa melihat langsung dampak sumbangan mereka. Imbal hasil pun jelas, baik berupa bagi hasil proyek maupun return keuangan sesuai akad.

Bandung Bisa Jadi Contoh

Konsep sukuk partisipatif ini tidak hanya relevan di level nasional, tapi juga bisa diterapkan di kota-kota seperti Bandung. Bayangkan seorang warga Bandung membeli micro-sukuk digital melalui aplikasi resmi pemerintah kota, mulai dari nominal terjangkau. Dana yang terkumpul digunakan untuk membangun fasilitas publik yang nyata, seperti merenovasi sekolah di Kecamatan Cijerah, memperbaiki jalan di Dago, atau menambah ruang kesehatan di Puskesmas Pasundan. Setiap bulan, warga bisa memantau progres proyek secara langsung melihat hasil kontribusi mereka, sekaligus menerima imbal hasil sesuai akad. Dengan cara ini, partisipasi warga tidak lagi abstrak, mereka merasakan dampak nyata dan menjadi bagian dari pembangunan Kota Bandung.

Baca Juga: Ramadan Mencerahkan Literasi Pekerja dan Hubungan Industrial

Dengan desain sukuk model partisipatif ini, bisa menghidupkan kembali semangat warga ikut membangun negara. Merasakan kontribusi, melihat hasil, dan tahu nilai ekonominya. Metode ini inklusif, cocok untuk masyarakat urban dan generasi muda untuk ikut secara sukarela tapi tetap resmi, sah secara hukum, dan aman, tidak sekadar filantropi informal. Seperti sumbangan emas rakyat Aceh di masa Soekarno, sukuk ini mengajak setiap warga, termasuk Bandung untuk menjadi bagian dari cerita Indonesia hari ini.

Di balik kegagalan narasi sukuk hari ini, ada potensi besar yang tertahan. Warga ingin terlibat, tapi jarang diajak. Pemerintah bukan sekadar menerbitkan sukuk, tapi harus belajar bercerita agar setiap warga merasa menjadi bagian pembangunan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Bayu Hikmat Purwana
Analis Kebijakan dengan bidang kepakaran pengembangan kapasitas ASN di Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Manajemen Talenta ASN Nasional LAN RI

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 06 Jul 2026, 18:01

Membaca Ulang Jogja Dua yang Kini Bertransformasi Jadi 'Buah Dua'

Asal-usul julukan “Jogja 2” yang disematkan kepada Buahdua, Sumedang, melalui tinjauan sejarah pada masa Agresi Militer Belanda II, juga peran warga memaknai julukan tersebut.

Monumen Perjuangan Jogja 2 di Desa Darongdong (Sumber: Ilustrasi | Foto: Ilustrasi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:49

Jejak Otentisitas Kuliner Bumi Pasundan: Tinjauan 8 Resep Warisan dalam Karya Ny. Tuty Latief (1976)

Pada tahun 1976, sebuah pustaka boga berjudul Resep Masakan Daerah hadir sebagai dokumentasi penting bagi khazanah kuliner Nusantara.

Pepes ikan emas (pais lauk mas) Sunda. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 17:41

Rujak Cingur Surabaya, Kuliner Legendaris Sejak 1930-an

Kenali sejarah rujak cingur Surabaya, bahan khas, warung legendaris, Festival Rujak Uleg, hingga tips menikmati kuliner Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Rujak Cingur Surabaya.
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 17:03

Perjalanan Panjang Mie Ayam: Dari Makanan Pendatang hingga jadi 'Comfort Food' Sejuta Umat

Rasanya sudah biasa ketika pergi ke mana pun, pasti ada gerobak atau warung mie ayam yang berjualan.

Foto mie ayam dari warung pinggir jalan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Syabil Rasyidan)
Bandung 06 Jul 2026, 16:15

Kisah Ratri Wijaya Nakhodai 3 Lini Mode: Potret Tangguh UMKM Bandung yang Ogah Gulung Tikar Digilas Zaman

Di tengah ketatnya persaingan pasar digital dan pergeseran tren yang bergerak secepat kilat, para kreator lokal dituntut untuk tidak sekadar bertahan, melainkan terus beradaptasi dan bertransformasi.

Ratri Wijaya dikenal sebagai desainer sekaligus entrepreneur sukses yang menaungi tiga brand fashion sekaligus, yaitu Rumah Batik Wijaya, Kamaku, dan Alaiya. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 16:01

10 Netizen Terpilih Juni 2026, Menangkap Momentum dengan Kualitas

Per Juni 2026 dan seterusnya penulis tidak lagi dibatasi satu tema besar, melainkan dipersilakan mengangkat isu apa pun yang relevan dengan momentum.

Website ayobandung.id. (Sumber: Unsplash | Foto: Alex Knight)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 14:14

Mendefinisikan Ulang Nation Branding: Ketika Identitas Bangsa Tak Lagi Ditentukan dari Atas

Artikel ini mengulas partisipasi publik dalam pemilihan logo HUT ke-81 RI sebagai paradigma baru nation branding yang memperkuat legitimasi, reputasi, dan identitas kolektif Indonesia.

logo HUT ke-81 RI. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:40

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang: Nostalgia Berujung Meriah Bersama Java Jive

Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang membuktikan bahwa persahabatan yang terjalin sejak bangku sekolah tetap hidup meski waktu terus berjalan.

Band legendaris asal Bandung, Java Jive, tampil menghibur dan menyemarakkan Reuni Lima Angkatan SMA Negeri 1 Subang. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 13:19

Demokratisasi Keahlian: Reinvensi Peran SME dalam Ekosistem Corporate University

Reinvensi peran SME dalam Corporate University mengubah pelatihan menjadi ekosistem pembelajaran berkelanjutan yang relevan, adaptif, dan berdampak pada kinerja organisasi.

Ilustrasi ASN. (Sumber: diskominfo.bandaacehkota.go.id)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 12:47

Lagu Kontroversial 'Lalaki Langit' dari Bupati Purwakarta

Kontroversi Lagu "Lalaki Langit" buatan Bupati Purwakarta menuai kritik panas dari netizen hingga berujung permintaan maaf.

Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein. (Sumber: ppid.purwakartakab.go.id)
Wisata & Kuliner 06 Jul 2026, 12:40

Pantai Sayang Heulang, Wisata dengan View Eksotis di Garut Selatan yang Wajib Dikunjungi

Pantai Sayang Heulang Garut menawarkan karang raksasa, gumuk pasir, camping, dan sunset indah. Ketahui harga tiket, lokasi, aktivitas, serta tips berkunjung terbaru.

Pantai Sayang Heulang Garut. (Sumber: Instagram @pantaisayangheulang)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 11:38

Kaum Prekariat, Mimpi yang Digantung Zaman

Kaum Prekariat sampai saat ini hanya menggantungkan impiannya untuk meningkatkan taraf hidup.

Aktivitas buruh perempuan di sebuah pabrik tekstil di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 10:25

Tari Bali: Kaya akan Ritual Sakral hingga Berkembang menjadi Tarian Penyambutan

Sejarah keindahan tarian tradisional Bali dan makna dibaliknya.

Gambaran posisi Penari Pendet duduk saat menari dalam sebuah acara. (Sumber: Arsip Nasional)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 09:41

Sate Maranggi: Narasi Evolusi, Filosofi, dan Diplomasi Budaya di Balik Ikon Kuliner Purwakarta

Kekuatan utama Sate Maranggi tersebut justru terletak pada teknik marinasinya yang intens.

Sate Maranggi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunwan Kartapranata)
Ayo Netizen 06 Jul 2026, 08:40

Rupiah Kuat Harapan Tertinggi Masyarakat

Kekuatan Rupiah harus diperhatikan dengan seksama.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 20:03

Menelusuri Akar Sejarah Pasunda Bubat dan Kondisi Kedua Kerajaan Pascatragedi

Peristiwa Pasunda Bubat dan Kondisi Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda Pasca-Pasunda Bubat berdasarkan catatan kitab-kitab kuno.

Ilustrasi Pasunda Bubat (Sumber: Wikimedia commons)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 18:11

Komentar Jahat yang Mendongkrak Penjualan PUKA

Hate comment yang membanjiri TikTok PUKA justru mendongkrak penjualan scrunchie buatan para penyandang disabilitas.

Proses produksi aksesori di PUKA, dikerjakan langsung oleh teman-teman penyandang disabilitas (Sumber: Penulis | Foto: Lupita Sari Ayuning Cahya Nugraha)
Wisata & Kuliner 05 Jul 2026, 17:23

Cara Berkunjung ke Suku Baduy Banten, Semua yang Wajib Diketahui Sebelum Datang ke Kanekes

Berencana ke Baduy? Ketahui rute menuju Ciboleger, larangan di Baduy Dalam, masa Kawalu, penginapan rumah warga, dan tips perjalanan sebelum berangkat.

Pemukiman di Desa Knekes, Banten, yang popular dengan sebutan Baduy. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 17:10

Merebut Simpati Masyarakat Desa dalam Ketahanan Pangan Bergizi

Ketercapaian pemerintah dapat dilihat ketika masyarakat di desa antusias untuk mempertahankan pangan yang aman dan amanah. 

Program makan bergizi gratis (MBG). (Sumber: kebumenkab.go.id)
Ayo Netizen 05 Jul 2026, 13:22

Sering Dianggap Lemah, Sains Buktikan Perempuan Lebih Kuat Tahan Rasa Sakit

Ungkap fakta sains tentang mekanisme proteksi saraf unik pada tubuh perempuan.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)