Romantika Siaran Radio Bandung di Bulan Ramadhan Era 1990-an

4 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan Selasa 10 Feb 2026, 20:05 WIB
Kin Sanubary, saat mengisi acara bincang ringan Radio Bandung jaman dulu di sebuah stasiun radio. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Kin Sanubary, saat mengisi acara bincang ringan Radio Bandung jaman dulu di sebuah stasiun radio. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Di Bandung pada era 1990-an, Ramadhan selalu hadir dengan rasa yang khas. Bukan semata karena udara sore yang mulai sejuk atau aroma kolak yang menyeruak dari dapur-dapur rumah, melainkan karena satu bunyi yang hampir tak pernah absen yakni radio yang menyala sejak dini hari hingga larut malam. Dari kotak-kotak suara itulah Ramadhan diwarnai oleh tausyiah, lantunan ayat suci, canda penyiar, hingga azan maghrib yang dinanti dengan khidmat.

Selama bulan suci, radio-radio di Kota Bandung seakan berlomba menghadirkan program-program khusus Ramadhan, baik on-air maupun off-air. Studio berubah menjadi ruang ibadah yang hangat, sementara para penyiar menjelma sahabat setia yang menemani pendengar dari sahur hingga malam. Ada tausyiah, talkshow religi, lomba menyanyi lagu Islami, festival Al-Qur’an, sampai peluncuran single religi dari musisi lokal maupun nasional.

Waktu dini hari menjadi saat paling sunyi, sekaligus paling akrab. Program sahur biasanya mengudara sejak pukul dua pagi dengan judul-judul yang bersahabat di telinga seperti Sahur Ceria, Sahur Sahabat, atau nama-nama khas lain. Lagu-lagu religi diputar lembut, diselingi kultum singkat, jadwal imsakiyah, dan sapaan penyiar yang hangat meski mata masih setengah terpejam. Tak jarang, pendengar menelepon hanya untuk menyapa, melapor sedang sahur bersama keluarga, atau mengirim salam ke kampung halaman.

Memasuki pagi hingga siang hari, radio tetap setia menemani. Program Tadarus on Radio menjadi salah satu sajian khas juga lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dibacakan dengan tartil, lalu diikuti terjemahan atau penjelasan singkat. Ada pula Klinik Ramadhan, ruang tanya jawab seputar fiqih puasa dan persoalan keseharian. Di sela-selanya, kuis Ramadhan dan bagi-bagi hadiah, yang kini mungkin bisa disebut THR versi radio, menjadi hiburan kecil yang menghangatkan suasana.

Puncak romantika siaran Ramadhan radio-radio-radio Bandung terasa menjelang sore, saat waktu ngabuburit. Program-program ringan dan penuh canda mengisi udara. Lagu religi bercampur obrolan santai, cerita pendengar, hingga laporan suasana jalanan Bandung yang mulai padat. Menjelang azan maghrib, kultum tujuh menit, yang akrab disebut kultum menjelang berbuka, menjadi penanda bahwa waktu hampir tiba. Banyak keluarga menunggu azan sambil tetap setia mendengarkan radio.

Malam hari, suasana kembali khusyuk. Sejumlah radio menyiarkan langsung salat tarawih dari masjid-masjid besar di Bandung. Ada pula program Tarawih Keliling yang menghadirkan nuansa ibadah dari berbagai penjuru kota. Setelahnya, kisah-kisah Islami, sejarah Nabi dan para sahabat, atau kajian ringan menjadi pengantar malam yang menenangkan.

Bagi warga Bandung era 1990-an, radio di bulan Ramadhan bukan sekadar media hiburan. Ia adalah penjaga waktu, pengingat ibadah, sekaligus ruang kebersamaan yang tak terlihat namun terasa dekat. Di tengah keterbatasan teknologi kala itu, radio berhasil menghadirkan harmoni spiritual dan sosial. Mengalun lembut, menemani puasa, dan meninggalkan jejak kenangan yang masih hidup hingga kini.

Jumpa sahabat pendengar radio era tahun 90-an. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Jumpa sahabat pendengar radio era tahun 90-an. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Gelombang Kreativitas di Udara

Sejak akhir 1980-an hingga memasuki 1990-an, Kota Kembang menjadi ruang bermain bagi imajinasi. Musik-musik baru diperdengarkan, sapaan akrab penyiar menyelinap di sela malam, dan lagu-lagu permintaan pendengar menjadi pengikat rasa kebersamaan. Radio bukan sekadar medium hiburan ia adalah teman setia, penanda waktu, sekaligus jendela dunia.

Sebelum istilah streaming dikenal, sebelum kejernihan audio menjadi keharusan, jalur AM adalah rumah bagi mimpi-mimpi itu. Di frekuensi inilah anak-anak muda belajar siaran, bereksperimen dengan format, dan menyapa kota dari balik mikrofon sederhana. Suara berderak tak pernah jadi soal yang penting, pesan sampai dan perasaan terhubung.

Bandung kala itu dipenuhi pemancar radio amatir. Dari gang-gang sempit, rumah petak, hingga studio darurat, gelombang suara berseliweran memenuhi udara. Banyak di antaranya kemudian tumbuh menjadi stasiun radio swasta komersial yang dikenal hingga hari ini. Jalur AM menjadi semacam ruang inkubasi, tempat belajar, jatuh bangun, dan menemukan jati diri siaran.

Radio transistor jadul yang setia menemani sejak era 1990-an. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Radio transistor jadul yang setia menemani sejak era 1990-an. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Daftar Frekuensi Radio AM di Bandung (Era 1980–1990-an)

Berikut adalah sebagian nama yang pernah menemani pagi, sore, dan malam warga Bandung. Nama-nama yang mungkin kini tinggal kenangan, tetapi suaranya pernah akrab di telinga:

  • RRI Bandung, Mara,
  • Dwikarya '69, Mercy ’73, Kencana, Sonatha'4, Leidya, Fortune, Columbia BMW, Estrellita , Budaya Sari, 
  • Contessa, Continental 
  • Megantara, Warga Karya, Maestro, Volvo, Paramuda Mustika Parahyangan,
  • Ariestiara, Garuda,
  • Ganesha, Chevy'88 
  • Dahlia, Elgangga,
  • Famor, Ardan,
  • Mutiara Gegana , Radio OZ, Young Generation (Way Jie), Unasko 
  • Shinta Buana, Lita,
  • Sangkuriang, Sarra' 88 , Cendrawasih, Paksi dan Radio Adhika Swara.

Baca Juga: Romantisme Mendengarkan Radio 'Sempal Guyon Parahyangan'

Ketika itu di tengah kepadatan jalur AM, FM masih menjadi barang langka, nyaris eksklusif. Hanya segelintir yang mengudara, di antaranya Radio KLCBS dan Radio 101 FM. Kehadirannya menandai awal perubahan, suara yang lebih jernih, format yang lebih rapi, dan perlahan-lahan, pergeseran zaman.

Kini, banyak frekuensi itu telah sunyi. Namun bagi mereka yang pernah memutar knop radio perlahan, mencari sinyal di antara desir, nama-nama itu bukan sekadar daftar. Ia adalah potongan ingatan tentang malam panjang, lagu favorit, dan Bandung yang pernah berbicara lewat udara. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Bandung 08 Jun 2026, 19:34

Menilik Eksistensi Dawa Rempah, Racikan Minuman Herbal Tradisional dengan Sentuhan Modern

Gaya hidup sehat turut menjadi tren kekinian yang santer digandrungi oleh masyarakat di masa kini. Salah satu caranya lewat menjaga kesehatan dan kebugaran.

Dawa Rempah (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:31

Hari Laut Sedunia, Masih Adakah Prospek Galangan Kapal di Jabar?

Masih sedikit industri galangan kapal di Jabar. Padahal provinsi ini memiliki sebelas pelabuhan yang bisa digunakan sebagai prasarana galangan kapal.

Ilustrasi Hari Laut Sedunia 2026, pemandangan Pantai Jayanti di Kecamatan Cidaun. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Muhammad Ikhsan)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:01

Polemik Penggusuran Perumahan Warga di Anyer Dalam akibat Pembangunan oleh KAI

Perumahan Warga di Anyer Dalam digusur untuk pembangunan yang dilakukan oleh oleh KAI merupakan kejadian yang terjadi 5 tahun yang lalu.

Foto Grafiti Bekas 2021 di Tembok Menyusuri di Jalan Serang menyusuri Jalan Anyer Dalam, 17 April 2026. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hikmat Nur Hidayat)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 17:29

Polemik SPPG Sukabumi: Antara Harapan Gizi dan Alarm Nyata bagi Gen Z

Tercatat sudah tiga kali gelombang unjuk rasa terjadi di pertengahan tahun ini.

Dokumentasi demo SPPG Sukabumi
Beranda 08 Jun 2026, 17:04

Bandung Pernah Jadi Kiblat Musik Indie, Kini Para Musisi Berusaha Merebutnya Kembali

Bandung pernah menjadi salah satu pusat musik independen Indonesia. Melalui Bandung Music Indie, para musisi kini berupaya membangun kembali ruang bersama dan semangat kolektif yang mulai memudar.

Atmosfer hangat dan akrab mewarnai gelaran Bandung Music Indie saat musisi lintas generasi dan penikmat musik bertemu dalam satu ruang yang sama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 16:53

Gedung BAT Cirebon, Pusat Industri yang Kini Hidup sebagai Cagar Budaya Kota

Bukan hanya bangunan kosong, Gedung BAT Cirebon merupakan saksi bisu kejayaan industri kolonial di Kota Cirebon.

Potret Gedung BAT Cirebon saat ini (Sumber: siceppot.cirebonkota.go.id)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 15:07

Gor Saparua sebagai Ruang Ekspresi Anak Muda dan Panggung Musik Kota Bandung

Satu tempat yang sekarang banyak dipakai orang untuk mencurahkan keringat selama 1990-an-2000-an.

Gor Saparua Bandung. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Zikri)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 12:00

Perempuan yang Menjerit-Membuncah Keheningan Malam Kota Bandung

Bahkan di keheningan malam pun perempuan selalu ramai dengan isi kepalanya.

Suasana alam di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: KOSONGDANSATU)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 10:41

Ibu Kota di Bawah Hujan Plastik: Bagaimana Peran Pemerintah dalam Mengatasinya?

Hujan mikroplastik di Ibu Kota dan pernah menjadi berita hangat pada 2025 akhir tahun.

Banjir akibat hujan deras di Jakarta. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:43

Fenomena Geologi Mata Air Asin dalam Memori Kolektif dan Toponimi Desa Ciuyah

Fenomena mata air asin di Desa Ciuyah, Kab. Sumedang, berasal dari air laut purba (connate water).

Kondisi terkini situs mata air asin purba (connate water) di Desa Ciuyah, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, saat didokumentasikan pada 28 Maret 2026 pukul 10.50 WIB. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Fatia Siti Biladi)
Wisata & Kuliner 08 Jun 2026, 09:42

Panduan Wisata Sea World: Dunia Bawah Laut yang Bisa Dijelajahi dalam 3 Jam

Panduan lengkap Sea World Ancol mulai dari harga tiket, Antasena Tunnel, feeding shark, Jellyfish Sphere, hingga tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Sea World Indonesia. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:02

Rompi "Psikolog Klinis" di Puskesmas: Niat Baik yang Menabrak Aturan

Pemasangan rompi bertuliskan "Psikolog Klinis" di puskesmas menuai sorotan. Di balik niat baik meningkatkan layanan, ada aturan profesi yang dipertanyakan.

Seorang warga berkonsultasi dengan psikolog di Puskesmas Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Rabu 13 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 08:26

Wujudkan Optimasi Pajak Bumi dan Bangunan dengan Drone  

Mengelola Pajak Bumi dan Bangunan dengan drone sangat efektif untuk melakukan pemetaan udara, pemutakhiran data blok, dan penilaian properti secara presisi.

Demo drone produksi Iter Aero di Kabupaten Subang terkait dengan bidang perkebunan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 19:05

Bangsa Penghafal: Ketika Pancasila Dipisahkan dari Tradisi Berpikir yang Melahirkannya

Pancasila tidak lahir dari hafalan. Ia lahir dari pergulatan pemikiran yang panjang. Ironisnya, bangsa yang mewarisinya justru semakin terbiasa menghafal daripada memahami.

Bung Karno (Foto: Dokumen Historia.ID)
Bandung 07 Jun 2026, 18:19

Dari K-Pop hingga Kuliner, Mengintip Cara Bandung dan Korea Selatan Ubah Hubungan Kultural Jadi Peluang Bisnis Kreatif

Dari kegemaran menikmati musik hingga tren produk kecantikan, adaptasi kultural ini perlahan tapi pasti membuka ruang-ruang usaha baru yang melibatkan para pelaku industri kreatif lokal.

“Oullim Korea: Rhythm & Recipes” yang memadati 23 Paskal Shopping Center, Bandung, pada 5–7 Juni 2026.
Bandung 07 Jun 2026, 15:04

Dari Tren Jadi Cuan, Kisah Mawaru Matcha Ekspansi Ratusan Gerai Lewat Minuman Kalcer

Gelombang hype yang mengakar dari tren makanan hingga minuman kalcer masa kini seperti dessert, kopi, sampai matcha greentea, kian menarik respons positif masyarakat.

Mawaru Matcha. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 07 Jun 2026, 09:41

Riwayat Cibiru, Pusat Kesenian Hingga Kemacetan

Cibiru dikenal karena kemacetannya, tetapi kawasan ini juga menjadi rumah bagi benjang dan wayang golek.

Kondisi kemacetan di Cibiru, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 07 Jun 2026, 08:33

Jelajah Yogyakarta untuk Pemula: Destinasi, Kuliner, dan Itinerary Pilihan

Panduan lengkap untuk pertama kali ke Yogyakarta, mulai dari transportasi, tempat menginap, wisata budaya, hingga kuliner khas yang wajib dicoba.

Tugu Jogja. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 07:09

Menelusuri Jejak Bioskop Capitol di Sukabumi

mengenai bioskop capitol di sukabumi, yang pernah menjadi pusat hiburan masyarakat ditahun 90-an

Bioskop Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. (Sumber: Dokumentasi Penulis)