Negara Hadir Memihak Guru Honorer

3 menit baca
Muhamad Ikhwan A A
Ditulis oleh Muhamad Ikhwan A A diterbitkan
Potret acara Hari Guru Nasional (Sumber: kemendikdasmen.go.id | Foto: kemendikdasmen)
Potret acara Hari Guru Nasional (Sumber: kemendikdasmen.go.id | Foto: kemendikdasmen)

Keputusan negara tercermin dari ke mana anggaran publik diarahkan. Dalam konteks pendidikan, peningkatan kesejahteraan guru—khususnya guru honorer non-ASN—menjadi indikator penting sejauh mana negara benar-benar hadir menjamin mutu pendidikan nasional.

Memasuki tahun 2026, kebijakan pemerintah yang mengalokasikan anggaram lebih dari Rp14 triliun untuk kesejahteraan guru non-ASN menunjukkan arah yang semakin jelas: guru honorer tidak lagi dipandang sebagai pelengkap sistem, melainkan bagian inti dari pembangunan pendidikan.

Selama bertahun-tahun, guru honorer memikul beban kerja yang setara dengan guru ASN, namun berada dalam keterbatasan status dan penghasilan. Sistem honorarium berbasis jam mengajar membuat pendapatan mereka tidak menentu dan rentan secara ekonomi.

Padahal, dari perspektif profesional, tanggung jawab pedagogis guru honorer tidak berbeda dengan guru tetap (Mulyasa, 2006). Karena itu, intervensi kebijakan negara menjadi keharusan yang wajib dilaksanakan sebagai investasi Sumber Daya Manusia (SDM), bukan pilihan.

Arah Kebijakan yang Kian Tegas

Melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), pemerintah menegaskan komitmen memperbaiki tata kelola guru secara bertahap dan berkelanjutan. Fokusnya tidak hanya pada kesejahteraan, tetapi juga penataan status, sertifikasi, dan perlindungan profesi. Pendekatan ini menandai pergeseran kebijakan dari solusi jangka pendek menuju reformasi struktural yang lebih sistemik (Kemendikdasmen, 2026).

Langkah ini penting dicatat sebagai bentuk kehadiran negara dalam menjawab problem lama dunia pendidikan. Guru honorer non-ASN tidak lagi ditempatkan dalam posisi ambigu, melainkan mulai ditarik masuk ke dalam sistem yang lebih pasti dan berkeadilan.

Ilustrasi sekolah di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: el jusuf)
Ilustrasi sekolah di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: el jusuf)

Setidaknya adal lima langkah konkret negara dalam mewujudkan kesejahteraan guru honorer Non-ASN. Pertama, pengangkatan guru honorer menjadi ASN melalui skema PPPK. Dalam lima tahun terakhir, lebih dari 900 ribu guru honorer diangkat menjadi ASN PPPK.

Kebijakan ini memberi kepastian status kerja sekaligus akses terhadap sistem penggajian dan jaminan sosial yang lebih layak (BKN, 2025). Ini merupakan terobosan paling mendasar dalam penataan guru. Hal ini akan terus dilakukan sebagai bentuk keberpihakan negara.

Kedua, perluasan akses Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) bagi guru non-ASN. Sepanjang 2024–2025, lebih dari 750 ribu guru non-ASN mengikuti PPG. Melalui kebijakan ini, negara memastikan peningkatan kualitas berjalan seiring dengan pengakuan profesional melalui sertifikasi pendidik (Kemendikdasmen, 2025).

Ketiga, kenaikan insentif guru non-ASN dari Rp300.000 menjadi Rp400.000 per bulan mulai 2026. Dengan anggaran sekitar Rp1,8 triliun untuk 377.143 guru, kebijakan ini mencerminkan komitmen bertahap pemerintah dalam memperbaiki kesejahteraan dasar guru honorer.

Keempat, peningkatan Tunjangan Profesi Guru (TPG) bagi guru non-ASN bersertifikat pendidik menjadi Rp2 juta per bulan. Pemerintah mengalokasikan Rp11,5 triliun untuk 392.870 guru non-ASN pada 2026. Kenaikan ini menegaskan bahwa profesionalisme guru dihargai secara konkret, bukan sekadar simbolik.

Kelima, Tunjangan Khusus Guru (TKG) bagi wilayah 3T. Guru non-ASN yang bertugas di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar memperoleh tunjangan Rp2 juta per bulan. Tahun 2026, anggaran TKG mencapai Rp706 miliar untuk 28.892 guru, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Kebijakan ini menunjukkan sensitivitas negara terhadap ketimpangan geografis pendidikan.

Dampak di Tingkat Lapangan

Berbagai kebijakan tersebut mulai dirasakan di tingkat sekolah. Tunjangan yang diterima guru tidak hanya menopang kebutuhan keluarga, tetapi juga meningkatkan kapasitas profesional, mulai dari mengikuti pelatihan hingga memperkaya bahan ajar. Sejalan dengan temuan UNESCO (2021), kesejahteraan guru berkontribusi langsung pada peningkatan mutu pembelajaran dan stabilitas lingkungan pendidikan.

Berbagai kebijakan yang ditempuh pemerintah menunjukkan satu pesan penting: negara mulai menempatkan kesejahteraan guru honorer sebagai agenda strategis, bukan sekadar isu teknis pendidikan. Alokasi anggaran, penataan status, serta penguatan tunjangan menjadi indikator bahwa negara tidak lagi mengambil jarak, melainkan hadir melalui keputusan kebijakan yang terukur untuk mewujudkan kesejahteraan guru honorer.

Baca Juga: Ketika AI Menjadi Guru, Etika Jadi Korban Pertama Mahasiswa

Ke depan, konsistensi pelaksanaan dan keberanian politik menjadi kunci. Pemerintah perlu memastikan seluruh kebijakan berjalan tepat sasaran, tepat waktu, berkelanjutan, dan tidak terjebak pada pendekatan tambal sulam.

Sebab, menjaga martabat guru honorer sejatinya adalah menjaga kualitas pendidikan nasional itu sendiri untuk mencerdaskan bangsa. Di titik inilah, keberpihakan negara diuji: apakah kebijakan ini terus diperkuat sebagai investasi jangka panjang, atau berhenti sebagai capaian administratif semata. Rakyat tentu berharap yang pertama. Semoga. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhamad Ikhwan A A
Manajer Program Al Wasath Institute

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)