Sejarah UPI, Jejak Panjang Kampus Guru di Bandung

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Villa Isola di UPI Bandung (dahulu IKIP Bandung). (Sumber: Wikimedia Commons)
Villa Isola di UPI Bandung (dahulu IKIP Bandung). (Sumber: Wikimedia Commons)

AYOBANDUNG.ID - Bandung punya banyak julukan. Kota kembang, kota kreatif, kota hujan dadakan. Di antara semua itu, ada satu peran yang kerap luput disebut, Bandung sebagai kota pencetak guru. Peran ini tidak muncul tiba tiba. Ia tumbuh perlahan, berlapis sejarah, dan salah satu simpul terpentingnya bernama Universitas Pendidikan Indonesia atau UPI Bandung.

Jauh sebelum ribuan mahasiswa berlalu lalang di Jalan Setiabudhi sambil memegang tumbler dan gawai, kawasan ini telah lebih dulu menjadi saksi pergulatan ide besar tentang pendidikan. UPI tidak lahir dari ambisi gedung megah atau reputasi global. Ia lahir dari kegelisahan sederhana namun mendesak, siapa yang akan mengajar anak bangsa yang baru saja merdeka.

Pada awal 1950 an, Indonesia masih sibuk membereskan sisa perang, menyusun pemerintahan, dan menata sistem pendidikan yang belum seragam. Sekolah memang mulai tumbuh, tetapi guru bermutu masih menjadi barang langka. Banyak ruang kelas berdiri tanpa pengajar yang benar benar siap. Dari kegelisahan itulah, pada 20 Oktober 1954, berdirilah Perguruan Tinggi Pendidikan Guru di Bandung.

Saat itu namanya memang belum terdengar gagah. Tidak ada kata universitas. Tidak ada embel embel besar. Namun fungsinya sangat strategis. PTPG Bandung diproyeksikan sebagai dapur utama pencetak guru dengan standar universitas. Bukan sekadar pengajar yang bisa berdiri di depan kelas, tetapi pendidik yang paham ilmu, metode, dan tanggung jawab sosial.

Baca Juga: Hikayat Ledeng Bandung, Jejak Keselip Lidah di Kawasan Kota Pipa Kolonial

Bandung dipilih bukan tanpa alasan. Kota ini sejak masa kolonial telah menjadi pusat pendidikan tinggi. Technische Hoogeschool yang kelak menjadi ITB sudah lebih dulu berdiri. Lingkungan intelektualnya terbentuk. Suhunya dingin, mungkin cocok untuk berpikir serius. Di tengah atmosfer itu, PTPG tumbuh sebagai lembaga yang fokus pada satu hal, pendidikan guru.

Selain ITB, saat itu sudah ada beberapa fakultas dari Universitas Indonesia (UI) yang juga sempat beroperasi di Bandung seperti Fakultas Teknik atau Fakultas MIPA sebagai cabang pendidikan tinggi dari kampus pusatnya di Jakarta. Namun, belum ada universitas negeri komprehensif dengan berbagai disiplin ilmu yang berdiri secara mandiri di Bandung kecuali ITB sebagai sekolah teknik dahulu. Universitas negeri yang benar-benar multi-fakultas seperti sekarang baru dimulai kemudian dengan berdirinya Universitas Padjadjaran (Unpad) pada 11 September 1957.

Dalam lanskap pendidikan tinggi yang masih terfragmentasi itulah, kebutuhan akan lembaga khusus pencetak guru terasa semakin mendesak. Bandung memang telah menjadi rumah bagi pendidikan teknik dan cabang-cabang universitas dari Jakarta, tetapi urusan menyiapkan tenaga pendidik belum memiliki rumah yang benar-benar menetap. Negara membutuhkan lebih dari sekadar fakultas atau cabang sementara; ia memerlukan institusi dengan mandat jelas dan ruang yang cukup untuk tumbuh.

Baca Juga: Sejarah Panjang ITB, Kampus Insinyur Impian Kolonial di Tanah Tropis

Rumah pertama PTPG cikal bakal UPI bukanlah bangunan biasa. Gedung yang kini menjadi ikon UPI dulunya adalah Villa Isola, bangunan megah era kolonial yang sempat mengalami berbagai fungsi. Dari simbol kemewahan, berubah menjadi saksi perjuangan, lalu beralih menjadi ruang belajar. Seolah gedung itu sendiri paham bahwa masa depan Indonesia lebih membutuhkan papan tulis ketimbang pesta.

Dalam perjalanannya, PTPG tidak berdiri lama sebagai lembaga mandiri. Dinamika politik dan kebijakan pendidikan membuatnya beberapa kali berganti baju. Pada akhir 1950-an, ketika Universitas Padjadjaran lahir sebagai universitas negeri multi fakultas di Bandung, PTPG dilebur menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Statusnya berubah, tetapi napasnya tetap sama, mencetak guru.

Perubahan ini mencerminkan masa ketika negara sedang bereksperimen dengan format pendidikan tinggi. Apa yang sebaiknya berdiri sendiri, apa yang sebaiknya bergabung. Dunia kampus kala itu tidak kalah dinamis dibanding hari ini, hanya saja tanpa media sosial dan grup percakapan daring.

Vila Isola (Sumber: Villa Isola: Moderne Woning Architectuur In Ned. Indié)
Vila Isola (Sumber: Villa Isola: Moderne Woning Architectuur In Ned. Indié)

Pada awal 1960 an, persoalan baru muncul. Selain FKIP, berdiri pula Institut Pendidikan Guru. Dua lembaga dengan tujuan serupa berjalan beriringan. Negara melihat ini sebagai pemborosan energi. Maka pada 1963, lahirlah keputusan penting yang melebur berbagai lembaga pendidikan guru menjadi satu entitas bernama Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung.

Sejak saat itu, nama IKIP Bandung mulai dikenal luas. Ia bukan sekadar fakultas. Ia institusi penuh, dengan lima fakultas yang mencakup pendidikan, sosial, eksakta, teknik, hingga seni. IKIP Bandung menjadi tulang punggung penyedia guru untuk Jawa Barat dan sekitarnya, bahkan lebih jauh lagi.

Baca Juga: Sejarah Universitas Padjadjaran, Lahirnya Kawah Cendikia di Tanah Sunda

Era IKIP hingga jadi Universitas Pendidikan Indonesia

Era IKIP Bandung bisa disebut sebagai era kerja keras tanpa banyak gimik. Negara membutuhkan guru dalam jumlah besar. IKIP menjawabnya dengan membuka berbagai program dan memperluas jangkauan. Antara akhir 1960 an hingga awal 1970 an, IKIP Bandung membuka ekstension hampir di seluruh Jawa Barat. Kampus tidak menunggu mahasiswa datang, tetapi mendatangi daerah.

Peran IKIP Bandung bahkan melampaui provinsi. Pemerintah mempercayainya sebagai IKIP pembina untuk wilayah luar Jawa. Dari Aceh hingga Kalimantan, IKIP Bandung ikut membentuk fondasi pendidikan guru nasional. Ini bukan tugas ringan, tetapi menunjukkan betapa sentralnya posisi Bandung dalam peta pendidikan Indonesia.

Upacara Dies Natalis IKIP Bandung ke-17 sekitar tahun 1971. (Sumber: Instagram @upilawas)
Upacara Dies Natalis IKIP Bandung ke-17 sekitar tahun 1971. (Sumber: Instagram @upilawas)

Seiring waktu, sistem pendidikan tinggi nasional kembali ditata. Ekstension ditutup, cabang berdiri mandiri, dan IKIP Bandung fokus memperkuat diri. Salah satu langkah penting adalah membuka pendidikan pascasarjana sejak 1970. Ini menandai pergeseran dari sekadar pencetak guru praktis menjadi pusat kajian dan riset pendidikan.

Dekade 1990 an membawa tantangan baru. Kualifikasi guru ditingkatkan, program diploma dibuka, dan kampus makin kompleks. Dunia pendidikan berubah. Guru tidak lagi cukup hanya bisa mengajar. Mereka dituntut memahami kurikulum, psikologi, hingga teknologi.

Puncak perubahan terjadi pada 1999. IKIP Bandung resmi bertransformasi menjadi Universitas Pendidikan Indonesia. Nama ini bukan sekadar kosmetik. Ia membawa mandat baru. UPI tidak lagi hanya mengelola pendidikan keguruan, tetapi juga program studi murni dan terapan. Sains, teknik, ekonomi, seni, semua masuk dalam satu payung, tanpa meninggalkan identitas utamanya sebagai kampus pendidikan.

Baca Juga: Sejarah UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Riwayat Panjang di Balik Ramainya Cibiru

Transformasi ini bisa dibilang berani. Tidak semua lembaga pendidikan guru berhasil menavigasi perubahan semacam ini. UPI melakukannya dengan tetap menjadikan pendidikan sebagai poros. Program non kependidikan hadir bukan sebagai pesaing, tetapi pelengkap.

Status kelembagaan UPI pun terus berubah mengikuti kebijakan negara. Dari BHMN pada 2004, kembali menjadi perguruan tinggi negeri, hingga akhirnya berstatus PTN Berbadan Hukum pada 2014. Setiap status membawa konsekuensi, tantangan, dan ruang gerak yang berbeda. Namun di balik semua itu, aktivitas kampus tetap berjalan, mahasiswa tetap datang, dan kelas tetap dibuka.

UPI juga mengembangkan konsep multikampus. Tidak hanya berpusat di Bandung, tetapi hadir di Cibiru, Sumedang, Purwakarta, Tasikmalaya, hingga Serang. Ini memperkuat perannya sebagai universitas nasional, bukan sekadar institusi regional.

Hari ini, UPI Bandung berdiri sebagai kampus besar dengan puluhan ribu mahasiswa, delapan fakultas, sekolah pascasarjana, dan infrastruktur modern. Namun jika ditarik ke belakang, benang merahnya tetap sama. Dari PTPG, FKIP, IKIP, hingga UPI, satu misi tidak pernah benar benar berubah, menyiapkan manusia yang akan mengajar manusia lain.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)