Sejarah UPI, Jejak Panjang Kampus Guru di Bandung

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Jumat 16 Jan 2026, 09:50 WIB
Villa Isola di UPI Bandung (dahulu IKIP Bandung). (Sumber: Wikimedia Commons)

Villa Isola di UPI Bandung (dahulu IKIP Bandung). (Sumber: Wikimedia Commons)

AYOBANDUNG.ID - Bandung punya banyak julukan. Kota kembang, kota kreatif, kota hujan dadakan. Di antara semua itu, ada satu peran yang kerap luput disebut, Bandung sebagai kota pencetak guru. Peran ini tidak muncul tiba tiba. Ia tumbuh perlahan, berlapis sejarah, dan salah satu simpul terpentingnya bernama Universitas Pendidikan Indonesia atau UPI Bandung.

Jauh sebelum ribuan mahasiswa berlalu lalang di Jalan Setiabudhi sambil memegang tumbler dan gawai, kawasan ini telah lebih dulu menjadi saksi pergulatan ide besar tentang pendidikan. UPI tidak lahir dari ambisi gedung megah atau reputasi global. Ia lahir dari kegelisahan sederhana namun mendesak, siapa yang akan mengajar anak bangsa yang baru saja merdeka.

Pada awal 1950 an, Indonesia masih sibuk membereskan sisa perang, menyusun pemerintahan, dan menata sistem pendidikan yang belum seragam. Sekolah memang mulai tumbuh, tetapi guru bermutu masih menjadi barang langka. Banyak ruang kelas berdiri tanpa pengajar yang benar benar siap. Dari kegelisahan itulah, pada 20 Oktober 1954, berdirilah Perguruan Tinggi Pendidikan Guru di Bandung.

Saat itu namanya memang belum terdengar gagah. Tidak ada kata universitas. Tidak ada embel embel besar. Namun fungsinya sangat strategis. PTPG Bandung diproyeksikan sebagai dapur utama pencetak guru dengan standar universitas. Bukan sekadar pengajar yang bisa berdiri di depan kelas, tetapi pendidik yang paham ilmu, metode, dan tanggung jawab sosial.

Baca Juga: Hikayat Ledeng Bandung, Jejak Keselip Lidah di Kawasan Kota Pipa Kolonial

Bandung dipilih bukan tanpa alasan. Kota ini sejak masa kolonial telah menjadi pusat pendidikan tinggi. Technische Hoogeschool yang kelak menjadi ITB sudah lebih dulu berdiri. Lingkungan intelektualnya terbentuk. Suhunya dingin, mungkin cocok untuk berpikir serius. Di tengah atmosfer itu, PTPG tumbuh sebagai lembaga yang fokus pada satu hal, pendidikan guru.

Selain ITB, saat itu sudah ada beberapa fakultas dari Universitas Indonesia (UI) yang juga sempat beroperasi di Bandung seperti Fakultas Teknik atau Fakultas MIPA sebagai cabang pendidikan tinggi dari kampus pusatnya di Jakarta. Namun, belum ada universitas negeri komprehensif dengan berbagai disiplin ilmu yang berdiri secara mandiri di Bandung kecuali ITB sebagai sekolah teknik dahulu. Universitas negeri yang benar-benar multi-fakultas seperti sekarang baru dimulai kemudian dengan berdirinya Universitas Padjadjaran (Unpad) pada 11 September 1957.

Dalam lanskap pendidikan tinggi yang masih terfragmentasi itulah, kebutuhan akan lembaga khusus pencetak guru terasa semakin mendesak. Bandung memang telah menjadi rumah bagi pendidikan teknik dan cabang-cabang universitas dari Jakarta, tetapi urusan menyiapkan tenaga pendidik belum memiliki rumah yang benar-benar menetap. Negara membutuhkan lebih dari sekadar fakultas atau cabang sementara; ia memerlukan institusi dengan mandat jelas dan ruang yang cukup untuk tumbuh.

Baca Juga: Sejarah Panjang ITB, Kampus Insinyur Impian Kolonial di Tanah Tropis

Rumah pertama PTPG cikal bakal UPI bukanlah bangunan biasa. Gedung yang kini menjadi ikon UPI dulunya adalah Villa Isola, bangunan megah era kolonial yang sempat mengalami berbagai fungsi. Dari simbol kemewahan, berubah menjadi saksi perjuangan, lalu beralih menjadi ruang belajar. Seolah gedung itu sendiri paham bahwa masa depan Indonesia lebih membutuhkan papan tulis ketimbang pesta.

Dalam perjalanannya, PTPG tidak berdiri lama sebagai lembaga mandiri. Dinamika politik dan kebijakan pendidikan membuatnya beberapa kali berganti baju. Pada akhir 1950-an, ketika Universitas Padjadjaran lahir sebagai universitas negeri multi fakultas di Bandung, PTPG dilebur menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Statusnya berubah, tetapi napasnya tetap sama, mencetak guru.

Perubahan ini mencerminkan masa ketika negara sedang bereksperimen dengan format pendidikan tinggi. Apa yang sebaiknya berdiri sendiri, apa yang sebaiknya bergabung. Dunia kampus kala itu tidak kalah dinamis dibanding hari ini, hanya saja tanpa media sosial dan grup percakapan daring.

Vila Isola (Sumber: Villa Isola: Moderne Woning Architectuur In Ned. Indié)
Vila Isola (Sumber: Villa Isola: Moderne Woning Architectuur In Ned. Indié)

Pada awal 1960 an, persoalan baru muncul. Selain FKIP, berdiri pula Institut Pendidikan Guru. Dua lembaga dengan tujuan serupa berjalan beriringan. Negara melihat ini sebagai pemborosan energi. Maka pada 1963, lahirlah keputusan penting yang melebur berbagai lembaga pendidikan guru menjadi satu entitas bernama Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung.

Sejak saat itu, nama IKIP Bandung mulai dikenal luas. Ia bukan sekadar fakultas. Ia institusi penuh, dengan lima fakultas yang mencakup pendidikan, sosial, eksakta, teknik, hingga seni. IKIP Bandung menjadi tulang punggung penyedia guru untuk Jawa Barat dan sekitarnya, bahkan lebih jauh lagi.

Baca Juga: Sejarah Universitas Padjadjaran, Lahirnya Kawah Cendikia di Tanah Sunda

Era IKIP hingga jadi Universitas Pendidikan Indonesia

Era IKIP Bandung bisa disebut sebagai era kerja keras tanpa banyak gimik. Negara membutuhkan guru dalam jumlah besar. IKIP menjawabnya dengan membuka berbagai program dan memperluas jangkauan. Antara akhir 1960 an hingga awal 1970 an, IKIP Bandung membuka ekstension hampir di seluruh Jawa Barat. Kampus tidak menunggu mahasiswa datang, tetapi mendatangi daerah.

Peran IKIP Bandung bahkan melampaui provinsi. Pemerintah mempercayainya sebagai IKIP pembina untuk wilayah luar Jawa. Dari Aceh hingga Kalimantan, IKIP Bandung ikut membentuk fondasi pendidikan guru nasional. Ini bukan tugas ringan, tetapi menunjukkan betapa sentralnya posisi Bandung dalam peta pendidikan Indonesia.

Upacara Dies Natalis IKIP Bandung ke-17 sekitar tahun 1971. (Sumber: Instagram @upilawas)
Upacara Dies Natalis IKIP Bandung ke-17 sekitar tahun 1971. (Sumber: Instagram @upilawas)

Seiring waktu, sistem pendidikan tinggi nasional kembali ditata. Ekstension ditutup, cabang berdiri mandiri, dan IKIP Bandung fokus memperkuat diri. Salah satu langkah penting adalah membuka pendidikan pascasarjana sejak 1970. Ini menandai pergeseran dari sekadar pencetak guru praktis menjadi pusat kajian dan riset pendidikan.

Dekade 1990 an membawa tantangan baru. Kualifikasi guru ditingkatkan, program diploma dibuka, dan kampus makin kompleks. Dunia pendidikan berubah. Guru tidak lagi cukup hanya bisa mengajar. Mereka dituntut memahami kurikulum, psikologi, hingga teknologi.

Puncak perubahan terjadi pada 1999. IKIP Bandung resmi bertransformasi menjadi Universitas Pendidikan Indonesia. Nama ini bukan sekadar kosmetik. Ia membawa mandat baru. UPI tidak lagi hanya mengelola pendidikan keguruan, tetapi juga program studi murni dan terapan. Sains, teknik, ekonomi, seni, semua masuk dalam satu payung, tanpa meninggalkan identitas utamanya sebagai kampus pendidikan.

Baca Juga: Sejarah UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Riwayat Panjang di Balik Ramainya Cibiru

Transformasi ini bisa dibilang berani. Tidak semua lembaga pendidikan guru berhasil menavigasi perubahan semacam ini. UPI melakukannya dengan tetap menjadikan pendidikan sebagai poros. Program non kependidikan hadir bukan sebagai pesaing, tetapi pelengkap.

Status kelembagaan UPI pun terus berubah mengikuti kebijakan negara. Dari BHMN pada 2004, kembali menjadi perguruan tinggi negeri, hingga akhirnya berstatus PTN Berbadan Hukum pada 2014. Setiap status membawa konsekuensi, tantangan, dan ruang gerak yang berbeda. Namun di balik semua itu, aktivitas kampus tetap berjalan, mahasiswa tetap datang, dan kelas tetap dibuka.

UPI juga mengembangkan konsep multikampus. Tidak hanya berpusat di Bandung, tetapi hadir di Cibiru, Sumedang, Purwakarta, Tasikmalaya, hingga Serang. Ini memperkuat perannya sebagai universitas nasional, bukan sekadar institusi regional.

Hari ini, UPI Bandung berdiri sebagai kampus besar dengan puluhan ribu mahasiswa, delapan fakultas, sekolah pascasarjana, dan infrastruktur modern. Namun jika ditarik ke belakang, benang merahnya tetap sama. Dari PTPG, FKIP, IKIP, hingga UPI, satu misi tidak pernah benar benar berubah, menyiapkan manusia yang akan mengajar manusia lain.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Bandung 10 Jun 2026, 21:21

Menjembatani Komunitas dan Profesional Urban, Strategi Respiro Definisikan Ulang Fashion Berkendara Tropis

Respiro menangkap peluang emas ini dengan merumuskan ulang konsep estetika visual produk agar selaras dengan kebutuhan gaya hidup kaum urban yang serbacepat.

Koleksi perlengkapan berkendara atau riding apparel dari Respiro Indonesia. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 20:24

Tugu Koperasi Tasikmalaya, Bukti Nyata Lahirnya Semangat Koperasi Indonesia

Artikel ini membahas Tugu Koperasi Tasikmalaya sebagai simbol sejarah lahir dan berkembangnya semangat koperasi di Indonesia.

Depan Tugu koperasi Tasikmalaya saat ini (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nabila imania)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 18:47

Ulos: Kain yang Menjadi Simbol dari Masyarakat Batak

Ulos adalah kain tenun khas Batak berbentuk selendang. Benda sakral ini merupakan simbol restu, kasih sayang dan persatuan.

Kain Ulos Ragi Hidup (Sumber: https://repositori.kemendikdasmen.go.id/19484/1/2010-Booklet-Mengenal%20Ulos.pdf)
Bandung 10 Jun 2026, 17:55

Mengenal Kanemura, Brand Kuliner Jepang yang Mengusung Sistem Manajemen Terpusat dalam Bisnis Waralaba

Brand kuliner Jepang, Kanemura, menawarkan berbagai paket kemitraan menarik bagi masyarakat yang ingin merambah bisnis waralaba (franchise).

Brand kuliner Jepang, Kanemura, menawarkan berbagai paket kemitraan menarik bagi masyarakat yang ingin merambah bisnis waralaba (franchise). (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 10 Jun 2026, 17:29

Denyut Digitalisasi Perbankan yang Menghidupi Perajin Sepatu Kulit Cibaduyut

Sejak 2018, Mochamad Indra Yusuf Wahyudin aktif mengikuti pelatihan di Rumah BUMN Bandung.

Mochamad Indra Yusuf Wahyudin, pemilik Koku Footwear (produsen sepatu kulit) di Taman Cibaduyut Indah, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 10 Jun 2026, 16:50

Ibun Bajra, Fenomena Alam Embun Membeku di Kertasari Bandung

Fenomena ibun bajra kembali muncul di Kertasari. Embun membeku jadi lapisan es dan berdampak pada pertanian.

Daun teh membeku di Kertasari saat cuaca dingin menyergap Bandung 2019 silam. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 16:48

Menelusuri Jejak Historis Surabi, Oleh-Oleh Khas Jawa Barat

Surabi adalah salah satu makanan tradisional khas Jawa Barat.

Surabi Cihapit Bandung. (Sumber: Instagram | Foto: Surabi Cihapit)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 15:31

Menyusuri Bukit Plangon: Saat Sejarah dan Kepercayaan Menjaga Alam

Bukit Plangon menjadi contoh bagaimana nilai spiritual dan kearifan lokal berperan dalam menjaga keseimbangan alam.

Sinar matahari menerobos rimbunnya pepohonan di sekitar bangunan makam Bukit Plangon, Cirebon. (Sumber Foto: Dokumentasi pribadi, 2025)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 14:48

Kesadaran Masyarakat terhadap Penggunaan Kain Wol dengan Fashion Old Money

Penerapan gaya old money dan pemakaian kain wol menjadi strategi yang sangat efektif untuk menekan laju pertumbuhan fashion cepat di Indonesia.

Ilustrasi kain wol. (Sumber: Pexels | Foto: Vlada Karpovich)
Wisata & Kuliner 10 Jun 2026, 14:33

Jelajah TMII, Panduan Lengkap Wisata, Harga Tiket, dan Wahana Terbaru

Panduan lengkap berkunjung ke TMII Jakarta, mulai dari harga tiket, museum, anjungan daerah, Jagat Satwa Nusantara, hingga cara menjelajahi kawasan seluas 150 hektare.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 12:49

Filosofi Kendi, Animo Pemakaian Tumbler dan Mesin Air Minum Gratis

Kendi adalah ikon sosialisme air minum pada zamannya.

Ilustrasi kendi yang merupakan ikon sosialisme air minum warisan budaya bangsa. (Sumber: Pexels | Foto: Eda Yılmaz)
Sejarah 10 Jun 2026, 12:21

Jelajah Candi-candi di Bandung, Jejak Peradaban Kuno yang yang Hampir Terlupakan

Jejak peninggalan Hindu kuno di Bandung masih bertahan, tetapi kondisi situsnya memerlukan perhatian serius.

Situs Candi Bojongemas di Solokanjeruk Kabupaten Bandung memprihatinkan dan tak terawat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 11:29

Toponimi Lembang (Bagian 1)

Lembang berasal dari bahasa Sunda yaitu “Ngalembang” yang berarti air yang tergenang.

Buku Toponimi Lembang. (Foto: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 10:18

Gedung Juang 45: Transformasi Bangunan Kolonial Menjadi Museum Berbasis Digital

Revitalisasi Gedung Juang 45 Bekasi dari bangunan cagar budaya yang sempat terbengkalai menjadi museum modern berbasis teknologi digital.

Gedung Juang 45 Kota Bekasi (Sumber: bekasikab.go.id | Foto: Situs Pemerintah)
Beranda 10 Jun 2026, 10:12

Di Tengah Janji Energi Bersih, Warga Lereng Gunung Cemas Kehilangan Air, Lahan, dan Masa Depan

Di balik janji energi bersih dari proyek geotermal, warga di sejumlah lereng gunung di Jawa Barat menyuarakan kekhawatiran atas ancaman terhadap sumber air, lahan pertanian, dan ma

Dani Setiawan, petani sayur di kaki Gunung Gede Pangrango, menyuarakan kekhawatirannya terhadap proyek geotermal yang dinilai dapat mengancam sumber air, lahan pertanian, dan ruang hidup warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 09:17

Mengenal Peuyeum sebagai Makanan Tradisional Khas Jawa Barat

Peuyeum sebagai makanan tradisional khas Jawa Barat

Peuyeum Bandung. (Foto: Sofi Putri)
Ayo Netizen 10 Jun 2026, 08:38

Taat Rambu Lalu Lintas adalah Hal Sepele tapi Menyelamatkan Nafas Kehidupan

Satu detik yang menurut kita sepele bisa saja jadi harapan kehidupan bagi orang lain.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Ayo Netizen 09 Jun 2026, 20:22

Pasang Surut Era Trem di Batavia

Transportasi trem di Batavia yang kini sudah tidak ada di Indonesia.

Tram Gondangdia di Batavia. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 09 Jun 2026, 16:31

Wisata Candi Borobudur: Panduan Lengkap Tiket, Sunrise, dan Sunset Experience

Panduan lengkap wisata Candi Borobudur 2026, mulai dari harga tiket, kuota naik candi, aturan penggunaan upanat, hingga waktu terbaik untuk berkunjung.

Candi Borobudur. (Sumber: Pemprov Jateng)