Ketika Menteng Meninggalkan Gaya Indische

4 menit baca
Jannatul Rohmah Aisyiah
Ditulis oleh Jannatul Rohmah Aisyiah diterbitkan
Rumah dengan atap mansard dari tahun 1941 dan Komplek Perumahan Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). (Sumber: Buku Adolf Heuken dan Koleksi Perpustakaan Universitas Leiden (KITLV))
Rumah dengan atap mansard dari tahun 1941 dan Komplek Perumahan Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM). (Sumber: Buku Adolf Heuken dan Koleksi Perpustakaan Universitas Leiden (KITLV))

Menteng merupakan salah satu kawasan elit yang ada di pusat kota Jakarta yang dikenal karena lokasinya yang strategis dan berisikan hunian-hunian mewah. Menteng sebagai kawasan elit, sudah ada sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda yang terletak di selatan Kota Batavia. Awalnya, pembangunan Menteng dirancang oleh arsitek Belanda P.A.J. Moojen yang sudah berkecimpung di Batavia sejak tahun 1903.

P.A.J Moojen terinspirasi oleh seorang arsitek pembaharuan dari Inggris, Ebenezer Howard yang lebih dulu membuat konsep “Kota Taman”. Ia memutuskan untuk menerapkan konsep tersebut di Batavia, Hindia Belanda. Proyek pembangunan Menteng yang diberi nama Nieuw Gondangdia berlangsung di antara tahun 1910 - 1918. Surat kabar NRC Handelsblad edisi 29 Mei 1987 mencatat bahwa pada dekade 1920-an hingga 1930-an, kawasan permukiman Eropa seperti Nieuw Gondangdia dan Menteng mulai diperluas. 

Arsitektur Gaya Indische

Gaya arsitektur Indis (Indische) dibawa oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada tahun 1908-1913. Gaya arsitektur tersebut terus berkembang khususnya pada bangunan-bangunan pusat pemerintahan kolonial di Jakarta, Semarang, Surabaya, dan Yogyakarta serta di sekitar jalan pos saat itu. Menteng menjadi salah satu kawasan yang bangunannya didominasi oleh gaya Indis. Menteng didominasi bangunan bergaya Indis karena dirancang untuk menjadi sebuah “Kota Taman” dengan taman yang luas serta bangunan-bangunan seperti villa bergaya Indis.

Selain bangunan-bangunan seperti villa, pada masa itu Menteng juga berisikan kantor perwakilan negara asing dan kedutaan besar yang membuat Menteng dikenal sebagai pusat diplomasi. Dengan demikian, kawasan ini menjadi pilihan tempat tinggal bagi middle class (kelas menengah) dan berbagai kalangan penting, di antaranya, Barack Obama mantan Presiden Amerika Serikat yang menghabiskan masa kecilnya di Menteng.  Salah satu bangunan yang mengusung gaya arsitektur ini adalah Gedung Joang '45 Menteng yang kini menjadi Museum Perjuangan Kemerdekaan Indonesia.

Perbedaan antara Gaya Indis dan Gaya Jengki

Terdapat perbedaan di antara kedua gaya arsitektur Indis dan Jengki. Bangunan dengan gaya Indis banyak menggunakan atap limasan atau joglo dengan ornamen seperti gevel, domer, dan tower pada atap bangunan. Selain itu, bangunan Indis menerapkan tata ruang arsitektur Jawa seperti beranda, kamar tidur yang simetris, koridor sebagai penghubung antara ruang, dan ruang utama terletak di tengah bangunan. Kemudian jendela dan pintu terdapat ventilasi udara yang berada di bagian atas dengan tujuan untuk mengatasi permasalahan iklim tropis seperti udara lembab di Indonesia. Kita ambil contoh bangunan Indis di Kota Surakarta, untuk dindingnya menggunakan material dasar hidrolik mortar (campuran batu bata, gamping, dan semen).

Bangunan dengan gaya Jengki memiliki ciri yang asimetris yang melambangkan kebebasan. Dinding bangunan Jengki cenderung miring atau berbentuk segi lima. Atap dari bangunan Jengki menggunakan atap pelana asimetris. Pada jendela, menggunakan beton sebagai bingkai dengan kaca sebagai bahan yang dominan baik di jendela maupun di pintu dengan kusen jendela dan pintu yang tetap berbentuk asimetris. Bangunan Jengki juga selalu memiliki teras yang lebar. Tak hanya itu, bangunan Jengki selalu memiliki roster atau ventilasi serta penggunaan tiang berbentuk V.

Faktor Pergeseran dari Gaya Indis ke Gaya Jengki

Menurut surat kabar Leeuwarder Courant: Hoofdblad van Friesland edisi 19 Oktober 1972, wilayah Menteng pada sekitar tahun 1950-an masih kental dengan nuansa kolonial. Banyak bangunan yang dipertahankan bentuk aslinya saat didirikan oleh pemerintah Belanda dengan gaya arsitektur Indis. Namun, wajah Menteng mulai berubah pasca-kemerdekaan seiring dengan lahirnya arsitektur gaya Jengki. Gaya ini merupakan bentuk perlawanan dan ekspresi kemandirian arsitek lokal yang ingin menghilangkan pengaruh Barat. Didorong oleh rasa tidak suka terhadap Belanda dan semangat nasionalisme yang tinggi, para arsitek lokal pun mencintapkan identitas arsitektur baru yang mandiri.

Awal muncul gaya arsitektur Jengki terletak di sebuah perumahan yang diperuntukkan penduduk middle class (kelas menengah) di Kebayoran Baru, Jakarta lalu menyebar ke daerah lain. Selain faktor politik, terdapat juga faktor Sosial-Budaya dan identitas lokal. Adanya percampuran etnis dengan masuknya masyarakat Betawi, Sunda, dan pendatang lain menciptakan “kampung kota” dengan arsitektur tropis lokal (rumah panggung) yang kontras dengan rumah bergaya Belanda. Salah satu contoh rumah dengan gaya arsitektur Jengki adalah kediaman Ibu Fatmawati (Puri Fatmawati), istri Presiden Soekarno di Jalan Sriwijaya 26.

Menteng sebagai Cagar Budaya

Dari masa Kolonial hingga sekarang, sisa-sisa bangunan yang masih bertahan dijadikan Cagar Budaya oleh pemerintah Jakarta. Hal tersebut dilakukan guna melestarikan bangunan-bangunan bersejarah. Diatur oleh UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya serta melalui Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. D-VI-6098/d/33/1975, menetapkan Menteng secara khusus dilindungi sebagai lingkungan pemugaran untuk mencegah pembongkaran bangunan bersejarah.

Menteng yang kita kenal sekarang hanya sebatas kawasan elit, namun dibalik itu semua terdapat kisah sejarah yang panjang. Awal mula bagaimana para arsitek Belanda merancang sebuah kota modern untuk kepentingan mereka, hingga hasil dari rancangan tersebut menjadi peninggalan yang sangat berarti bagi tata kota Jakarta serta masyarakat Indonesia. Maka dari itu, kita sebagai penerus bangsa harus tetap melestarikan bangunan-bangunan ikonik peninggalan pemerintahan kolonial serta bangunan peninggalan hasil arsitek-arsitek lokal. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Jannatul Rohmah Aisyiah
Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Jul 2026, 16:01

Bandung Begal, Beungal, dan Bedul

Memberantas begal tidak cukup hanya dengan menangkap pelakunya.

Begal makin marak di Bandung. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 15:15

Pembongkaran Perpustakaan Gasibu Picu Kekecewaan Pembaca Buku di Bandung

Pembongkaran fisik Perpustakaan Gasibu Bandung memicu banyak kekecewan dari warga sekitar dan pegiat literasi.

Perpustakaan Gasibu yang dibongkar. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 14:34

Posisi Strategis Ibu dalam Pelestarian Bahasa Ibu

Pelestarian bahasa ibu atau bahasa daerah tidak bisa lepas dari peran ibu sendiri.

Ilustrasi masyarakat tradisional Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Wahyu Prabowo)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 13:14

Legitnya Peuyeum Ciruluk, Warisan Kuliner Khas Kalijati Subang

Sebuah kuliner tradisional yang memiliki keunikan tersendiri, yakni Peuyeum Ciruluk, tape ketan hijau yang telah menjadi identitas kuliner masyarakat setempat.

Peuyeum Ciruluk khas Kalijati, Kabupaten Subang, memiliki ciri khas dibungkus menggunakan daun muncang (daun kemiri), sehingga tampil alami sekaligus membantu menjaga cita rasa dan kualitas produknya. (Foto: Kin Sanubary)
Wisata & Kuliner 20 Jul 2026, 11:47

Hikayat Pasar Andir Pusat Grosir Fesyen Bandung yang Mencoba Terus Bertahan

Pasar Andir pernah menjadi pusat grosir fesyen Bandung dan kini berjuang menghadapi perubahan perilaku belanja masyarakat.

Suasana Pasar Andir, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 11:42

Gernas RANA: Menepis Cemas dan Menanam Senyum di Hari Pertama Sekolah

Lewat Permendikdasmen 12/2026 & Gernas RANA, sekolah kini jadi ruang aman bebas cemas. Saatnya sambut masa depan anak dengan kasih sayang!

Pengenalan sekolah bagi para siswa-siswi baru. (Foto: Oleh : bkhmvidio@gmail.com)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 09:09

Bedah Publikasi Pesan Program Pendampingan Gizi dalam Pencegahan Stunting

Nestle Indonesia mempublikasikan program pendampingan gizi di berbagai platform komunikasi dengan menyesuaikan karakteristik tiap platform.

Ilustrasi penulis sedang membedah narasi iklan. (Dokumentasi pribadi)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 08:39

Sudah Sehatkah Demokrasi Kita?

Apakah demokrasi bisa tumbuh secara sehat tanpa partisipasi masyarakat? Bagaimana pandangan pakar tentang ini?

Bendera negara Indonesia. (Sumber: Unsplash | Foto: Rizky Rahmat Hidayat)
Ayo Netizen 20 Jul 2026, 07:55

SPMB Jalur Domisili Belum Cukup Mengurangi Ketergantungan Pelajar pada Sepeda Motor

SPMB jalur domisili mendekatkan jarak antara rumah dan sekolah, tetapi belum cukup mengurangi ketergantungan pelajar pada sepeda motor dan risiko keselamatan di jalan raya.

Sejumlah sepeda motor milik siswa sebuah SMA di Kota Bandung diparkir di badan jalan. (Istimewa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 18:04

Cara Ampuh Menerangi Jalan Kota Bandung

Menindak tegas begal bukan sekadar menjadi program tapi melanjutkan keluhan masyarakat yang diprioritaskan

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 15:30

Mafia Olahraga, Sebuah Stigma Menakutkan

Olahraga yang seharusnya menjadi ruang sportivitas kini dihantui oleh mafia yang terhubung dengan jaringan global.

Uang rupiah. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Wisata & Kuliner 19 Jul 2026, 14:01

Keripik Paru Klaten, Oleh-oleh Gurih Legendaris dari Kampung Tegal Kepatihan

Dari Kampung Tegal Kepatihan hingga dikenal luas, Keripik Paru Klaten menjadi ikon kuliner khas. Ketahui sejarah, proses, dan tempat membelinya.

Keripik Paru Klaten.
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 11:33

Marak Begal, Gangster, dan Matel Menelan Korban, Warga Bandung Pertanyakan Aksi Walikota dan Aparat

Bandung darurat 'Red Zone' akibat maraknya begal, gangster, dan matel yang menelan banyak korban.

Senjata Tajam. (Sumber: Pixabay/KhanaBadosh | Foto: Pixabay/KhanaBadosh)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 08:00

Ketika Deru Knalpot dan Distorsi Musik Menyatukan Ribuan Pecinta Otomotif Bandung

Seri pembuka Kejurnas Slalom MLDSPOT Autokhana 2026 sukses mengguncang GOR Arcamanik Bandung.

Gate masuk event MLDSPOT Autokhana, pada 11 Juli 2026 (Sumber: Athhar Jundi Pratama Attaqa | Foto: Athhar Jundi Pratama Attaqa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 07:50

Mengembalikan Fungsi Bandara Husein Bukan Romantisme Masa Lalu

Keberhasilan reaktivasi Bandara Husein pada akhirnya tidak akan ditentukan oleh hari pertama operasional, melainkan oleh apa yang terjadi berbulan-bulan setelahnya.

Petugas Avsec melakukan patroli di pintu keberangkatan domestik Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 21:21

Panduan Wisata ke Kawah Ijen Banyuwangi: Blue Fire, Tiket, dan Tips Lengkap

Panduan lengkap wisata Kawah Ijen Banyuwangi, mulai harga tiket 2025, fenomena Blue Fire, rute pendakian, jam terbaik, hingga tips agar perjalanan lebih aman.

Kawah Ijen Banyuwangi. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 20:15

Luka, Algoritma, dan Dogma

Luka hanya dapat disembuhkan oleh kepedulian, algoritma dapat diimbangi dengan literasi, dan rapuhnya interaksi sosial hanya dapat dipulihkan saat kita meluangkan waktu untuk benar-benar hadir bersama

Kita tidak akan sepenuhnya paham bagaimana rasanya di-bully, sebelum kita merasakan sendiri dampaknya. (Sumber: Unsplash/Carolina)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)