Mabrur, Kabur, dan Syukur

8 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Oleh-oleh haji dan umrah di salah satu toko kawasan Pasar Baru Trade Center, Jalan Otto Iskandar Dinata, Kota Bandung, Jumat 29 Mei 2026 (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Oleh-oleh haji dan umrah di salah satu toko kawasan Pasar Baru Trade Center, Jalan Otto Iskandar Dinata, Kota Bandung, Jumat 29 Mei 2026 (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Saat menyaksikan tiga liputan video tentang kepulangan jemaah haji Indonesia dari Tanah Suci: Momen Unik Jemaah Haji Bawa Oleh-Oleh untuk Keluarga (@pikiranrakyat), Momen Menggemaskan Kakek "Juragan Unta" Inget Cucu di Soppeng (@idntimes.sulsel), Parade Onta dan “Princess” di Kepulangan Jamaah Haji Sulawesi (@radjawisataofficial).

Hasil tangkapan layar uniknya dinamika kepulangan jemaah dari tanah suci (Sumber: Instagram @pikiranrakyat, @idntimes.sulsel, @radjawisataofficial)
Hasil tangkapan layar uniknya dinamika kepulangan jemaah dari tanah suci (Sumber: Instagram @pikiranrakyat, @idntimes.sulsel, @radjawisataofficial)

Uniknya Kepulangan Jemaah dari Tanah Suci

Perhatian bukan tertuju pada prosesi kedatangan (sambutan keluarga) yang haru. Justru yang menarik itu deretan oleh-oleh yang dibawa para jemaah. Ruang tunggu bandara seakan-akan berubah menjadi panggung mode dadakan, festival parade kreativitas barang bawaan.

Ada yang mengalungkan boneka unta di leher, membawa payung, termos warna emas, hingga menenteng berbagai barang yang bagi orang lain terlihat biasa, tetapi bagi mereka menyimpan sejuta cerita yang istimewa.

Di antara kerumunan itu, Kakek bernama Kulasse Jibbe, jemaah haji asal Soppeng, Sulawesi Selatan (UPG 1) di Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, Minggu (31/5) malam menjadi perhatian.

Pasalnya, mengalungkan lima boneka unta untuk dibagikan kepada cucu-cucunya.

Ketika Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Mochamad Irfan Yusuf (Gus Irfan), tak sengaja berpapasan dengannya dan diajak bersalaman, terjadilah obrolan kocak, "Ini (boneka) buat siapa?" tanya Gus Irfan. "Buat anak cucu! Cucu sudah enam," jawab Kulasse mantap.

Gus Irfan menghitung bonekanya yang cuma ada lima "Kurang satu, Pak. Nanti berantem cucunya," Gus Irfan mengingatkan.

Sambil memamerkan unta-unta di lehernya, kakek yang satu ini mengaku langsung teringat pesanan cucunya saat melihat boneka khas Arab. Kakek itu menjawab santai satu lagi sudah tersimpan di dalam koper.

Gus Irfan sempat menyapa jemaah asal Makassar lainnya yang tampil meriah dengan busana dan perhiasan emas mentereng. Menanggapi fenomena unik ini, Gus Irfan merespons dengan santai, "Tidak apa-apa, selama tidak mengganggu kekhusyukan ibadah."

Sungguh luar biasa ya perjuangan seorang kakek demi membahagiakan cucu-cucunya di rumah!

Sederhana, lucu, dan menghangatkan hati. Ternyata perjalanan haji yang begitu panjang dan melelahkan masih menyisakan ruang untuk mengingat kebahagiaan anak cucu di rumah.

Waktu ketiga video itu selesai diputar, tiba-tiba anak kedua, Akil (11 tahun), bertanya, "Bah, itu masuk haji mabrur enggak?"

Dengan spontan menjawab sambil bercanda, "Kabur."

"Kenapa, Bah?" tanyanya lagi.

"Nya kabur da sieun dicandak oleh-olehna," jawabku, disambut tawa kecil.

Pada hakikatnya ibadah haji bukan merupakan serangkaian ritual semata, lebih daripada napak tilas perjalanan hamba-hamba Allah yang suci. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Andri Ridwan Fauzi)
Pada hakikatnya ibadah haji bukan merupakan serangkaian ritual semata, lebih daripada napak tilas perjalanan hamba-hamba Allah yang suci. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Andri Ridwan Fauzi)

Jejak Ibadah Rukun Islam Kelima

Kita merasa bahagia dan bersyukur atas kaum Muslim Indonesia yang melaksanakan rukun Islam kelima ke Tanah Suci semakin meningkat.

Pada hakikatnya ibadah haji bukan merupakan serangkaian ritual semata, lebih daripada napak tilas perjalanan hamba-hamba Allah yang suci; Nabi Ibrahim, Hajar dan Nabi Ismail. Peristiwa yang mereka jalani amat historis, oleh sebab itu banyak memberikan pelajaran bagi kita.

Haji merupakan ibadah yang amat penting. Ibadah ini, oleh para ulama, ditempatkan sebagai rukun Islam yang ke lima. Haji merupakan rutinitas ritual yang dapat mengantarkan pelakunya menjadi manusia yang bersih.

Rasulullah bersabda, "Siapa yang melakukan haji tidak melakukan rafats, dan tidak berbuat fasik ia kembali sebagai hari pada ia dilahirkan oleh ibunya."

Secara general dapat dipahami, setiap pelaksana ibadah haji bertujuan untuk memperoleh haji mabrur. Tujuan itu bukannya tanpa alasan, terkait dengan hal ini, Rasulullah bersabda, "Sebaik-baik amal ialah iman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian jihad fisabilillah, kemudian haji mabrur."

Hadis ini mendapat penguatan dari teks hadis lain, "Jihadnya orang yang sudah tua dan jihadnya orang yang lemah dan wanita ialah haji mabrur."

Indikator haji mabrur tidak mesti diukur dari bingkai penampilan fisikal saja. Tapi, ritualisme ini terangkai melalui komitmen yang kuat dan solidaritas sosial yang tinggi. Ibadah haji bisa dinilai baik dan dikatakan mabrur bila secara sosial pelaksananya memberikan manfaat kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.

Dalam sebuah hadis ditegaskan, "...tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga." Dengan kata lain, surga adalah tempat yang pantas bagi orang yang hajinya mabrur. Hadis ini mengajak kita membuat satu renungan fundamental.

Dari sini, timbul pertanyaan lebih lanjut, “Mengapa haji mabrur balasannya surga?" Secara semantis, yaitu dengan memahami makna haji mabrur itu sendiri, kata "mabrur" berasal dari bahasa Arab yang artinya mendapatkan kebaikan atau menjadi baik.

Kalau kita lihat akar katanya, kata "mabrur" berasal dari kata “barra", yang berarti berbuat baik atau patuh. Dari kata barra ini kita bisa mendapatkan kata “birr-un, al- birru-u" yang artinya kebaikan.

Haji mabrur adalah haji yang akan mendapatkan kebaikan. Sering dikatakan sebagai ibadah yang diterima Allah.

Dalam terminologi yang lebih luas, haji mabrur adalah haji yang mendatangkan kebaikan bagi pelakunya atau pelakunya selalu memberi kebaikan kepada orang lain. Jika definisi itu dibalik, maka haji yang mardud (tertolak) adalah haji yang tidak mendatangkan kebaikan bagi pelakunya atau pelakunya tidak memberikan kebaikan kepada orang lain.

Jika dipahami secara seksama, kata mabrur memiliki dua makna sekaligus, yaitu menjadi baik dan memberikan kebaikan. Makna itu menegaskan pelaksana ibadah haji adalah orang yang akan menjadi baik sekaligus selalu memberikan kebaikan kepada orang lain.

Dalam hal apakah kebaikan itu harus diwujudkan? Allah berfirman, "Kamu tidak akan mendapatkan kebaikan yang sempurna, sebelum kamu mendermakan sebagian dari hartamu yang kamu cintai." (Q.S. Ali-Imraan/ 3: 9). (Muhammad Qorib, 2018, 145-146)

Konsul Jenderal (Konjen) RI di Jeddah, Eko Hartono (peci hitam) di Bandara Internasional KAA membantu jemaah haji (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Andri Ridwan Fauzi)
Konsul Jenderal (Konjen) RI di Jeddah, Eko Hartono (peci hitam) di Bandara Internasional KAA membantu jemaah haji (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Andri Ridwan Fauzi)

Merawat Kemabruran dalam Menjalani Kehidupan

Kloter pertama jamaah haji kita telah tiba di Tanah Air. Kita turut menyambut kedatangan mereka dengan iringan doa, semoga mereka memperoleh haji mabrur.

Doa ini rasanya patut kita panjatkan karena semua jamaah haji tentu mendambakan haji mabrur. Harapan dan dambaan memperoleh haji mabrur itu mudah dimengerti, karena pengampunan dan surga Allah menjadi balasan dan imbalannya.

Haji mabrur berarti haji yang baik atau mendatangkan kebaikan bagi pelakunya. Menurut para ulama, haji mabrur itu adalah haji yang tidak dicampuri atau dinodai oleh dosa-dosa. Ini mengandung makna kebaikan haji yang diperoleh oleh para hujjaj itu telah membentengi diri mereka dari dosa-dosa (ma'ashi) dan berbagai tindak kejahatan (munkarat) baik kecil maupun besar.

Dalam bahasa yang lebih simpel, Imam Nawawi memberikan definisi yang lebih konkret tentang haji mabrur. Menurut Nawawi, haji mabrur adalah haji yang buah atau hasilnya tampak jelas bagi para pelakunya. Buah haji itu, tak lain adalah menguatnya iman dan meningkatnya ibadah dan amal saleh dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, maka keadaan hujjaj itu setelah menunaikan ibadah haji jauh lebih baik dari keadaan sebelumnya.

Bertolak dari pemikiran Nawawi di atas, dapat dipahami bahwa mendapatkan haji mabrur merupakan sesuatu yang sulit. Namun, sesungguhnya yang lebih sulit lagi adalah mempertahankan dan memelihara kemabruran haji itu. Kemabruran haji itu memang harus terus dijaga dan dipelihara sepanjang waktu dalam hidup kita.

Menjaga dan memelihara kemabruran haji itu dapat dilakukan dengan mengupayakan peningkatan kualitas keberagamaan itu sendiri, baik dalam tataran iman, ibadah, amal saleh, maupun akhlak.

Peningkatan iman diwujudkan, antara lain, dalam bentuk menguatnya kesadaran seseorang tentang kebesaran dan keagungan Allah swt. Peningkatan ibadah dibuktikan dalam bentuk pelaksanaan ibadah secara sempurna dan istiqamah, terutama salat lima waktu. Peningkatan amal saleh diwujudkan, antara lain, dalam bentuk kepedulian sosial dan keberpihakan orang yang bersangkutan terhadap orang-orang lemah dan kaum dhuafa.

Untuk peningkatan moral, akhlak harus diupayakan melalui dua proses. Pertama, menghilangkan dan membersihkan diri dari berbagai sifat dan akhlak yang buruk. Dalam Al-Baqarah 197, sifat yang buruk itu ada tiga, yaitu berkata kotor (rafats), berbuat jahat (fusuq), dan membikin permusuhan (jadal).

Kedua, menghiasi diri dengan berbagai akhlak yang mulia dan terpuji. Dalam kaitan ini, Rasulullah saw menyebut beberapa di antaranya. Pertama, bertutur kata yang baik. Kedua, dermawan dan santun yang dibuktikan dengan memberi makan kepada fakir miskin. Ketiga, sabar dan syukur serta ikhlas dalam melaksanakan perintah Allah.

Meski haji mabrur itu menjadi rahasia Tuhan, dalam arti tak seorang pun dapat mengetahuinya secara pasti, apakah seorang haji memperoleh haji mabrur atau tidak, namun dari indikator-indikator yang disebutkan di atas tampaknya cukup jelas siapa dari para hujjaj yang berhasil meraih haji mabrur dan yang mampu memelihara dan mempertahankan kemabruran hajinya. (Didin Hafidhuddin, 2001:47-48)

Sering kali kita memahami haji mabrur sebagai gelar spiritual yang besar dan agung. Ukurannya kerap dicari dalam simbol-simbol yang tampak mulai dari pakaian yang berubah, panggilan baru yang melekat, sampai cerita perjalanan yang panjang.

Padahal para ulama sejak lama mengingatkan kemabruran bukan terutama soal apa yang dibawa pulang dari Tanah Suci, melainkan apa yang berubah ketika seseorang pulang dari sana. Haji mabrur bukan tentang banyaknya oleh-oleh, melainkan bertambahnya kejujuran, kesabaran, kerendahan hati, dan kepedulian kepada sesama.

Manusia tetaplah menjadi hamba yang dekat dengan makhluk lain. Di balik kekhusyukan ibadah, ada kerinduan kepada keluarga. Di sela doa-doa yang dipanjatkan di Arafah, thawaf di sekitar Kabah, ada wajah anak dan cucu yang menunggu kepulangan.

Ingat, boneka unta yang dipeluk kakek bukan sekadar cendera mata. Melainkan bahasa kasih sayang yang sederhana.

Rupanya, di balik kemeriahan penyambutan ini, tersimpan rasa syukur dan kebahagiaan yang begitu besar setelah menunaikan rukun Islam kelima.

Rasanya, kata yang paling tepat bukan hanya mabrur, melainkan syukur yang melimpah. Terima kasih sudah diberi kesempatan memenuhi panggilan Allah. Haru, bahagia dapat kembali ke tanah air dalam keadaan selamat. Lega dan terima kasih masih memiliki keluarga yang menunggu dengan penuh kerinduan di rumah.

Walhasil, kebahagiaan itu ternyata tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar dan megah, terkadang menjelma menjadi boneka unta sederhana yang diperebutkan cucu-cucu di ruang tamu, menghadirkan tawa, kehangatan, dan kenangan yang tak ternilai harganya.

Dengan demikian, haji merupakan momentum yang tepat untuk belajar arti pentingnya tunduk, patuh, pasrah, dan berserah diri kepada Allah. Dari proses itulah lahir penyucian diri yang menjadi puncak ketakwaan, yang tercermin dalam sebutan haji mabrur. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Jul 2026, 21:02

Stamp Hunting di Kota Kembang: Fenomena Demam “Museum Passport” dan Candu Baru Kaum Metropolis Bandung

Siapa sangka selembar kertas dan ketukan tinta bisa memicu adrenalin sedahsyat ini? Di Jakarta, demam stamp hunting sudah lebih dulu meledak. Sekarang fenomenanya menular ke Kota Bandung.

Para Stamp Hunter Peserta Komunitas Cerita Bunda Lintas Generasi Berfoto di Museum KAA (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 19:06

Ketika Pelajar Diminta Pulang Cepat, Apakah Bandung Menjadi Lebih Aman?

Jika seorang pelajar dianggap aman hanya karena berada di rumah setelah pukul 21.00, lalu bagaimana dengan keamanan kota setelah jam itu?

Warga berlalu lalang di kawasan Asia Afrika, Kota Bandung, pada malam hari. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ditya Rafi Muttaqin/Magang)
Linimasa 24 Jul 2026, 18:41

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari

Seni ukir kayu menjadi cara warga Kampung Bunisakti, Arjasari, memperkenalkan daerahnya. Beragam ukiran bernilai seni diproduksi dengan teknik khas.

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 18:33

5 'Warung' Sarapan di Pilihan Bandung, dari Kedai Legendaris hingga Hidden Gem

Jelajahi 5 kedai sarapan favorit di Bandung dengan pilihan menu rumahan, panorama asri, hingga hidden gem yang cocok untuk memulai hari.

Sajian di Sepiring Pagi.
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 17:15

Di Balik Kampanye Digital Jakarta International Marathon 2025: Analisis Merek Air Mineral Nasional

Membedah hal-hal yang tidak terlihat di balik kampanye digital.

Ilustrasi. (Sumber: AI)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 16:18

Pesta Kesenian Bali sebagai Bukti Apresiasi Seni yang Perlu Ditularkan ke Provinsi Lain

Ketika suatu festival seni dapat memberi inspirasi bagi daerah lain.

Pertunjukan Pesta Kesenian Bali tahun 2026 (Sumber: Youtube: Disbud Prov. Bali)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:27

Mega Korupsi Era 90-an Skandal Bapindo dan Eddy Tansil Mengguncang Indonesia

Pengusaha bernama lengkap Edy Tansil (Tan Tjoa Ing) dituntut hukuman penjara seumur hidup serta diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp800 miliar.

Surat kabar Bandung Pos edisi akhir Juli 1994 yang menampilkan berita utama mengenai kasus mega korupsi Eddy Tansil. (Sumber: Foto dan koleksi surat kabar Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:10

Modernisasi Berkebaya yang Berbudaya

Tidak dapat ditawar lagi dengan berkebaya. Kebaya sudah menjadi identitas yang sangat penting bagi Indonesia.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 14:17

Telusur Arca Derenten: Ikonografi Durga-Agastya, Omon-Omon dari Kebun Binatang ke Museum Kota

Pengejawantahan arkeolog sebagai 'detektif masa lalu': mengkaji ikonografi Arca batu, menelusuri jejak hilangnya, hingga mengurai urgensi lembaga Museum Kota

Pintu masuk kebun binatang Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 13:40

Pentingnya Patuh Minum Obat Hipertensi: Penyuluhan Mahasiswa PKPA UMB di Puskesmas Cibiru

Kegiatan kolaborasi yang dilakukan oleh mahasiswa dan praktisi fasilitas pelayanan kesehatan di puskesmas dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup pasien di puskesmas cibiru.

Mahasiswa PKPA Universitas Muhammadiyah Bandung sedang melaksanakan Penyuluhan di Puskesmas Cibiru. Kamis (23/6/2026). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Indri Wahyuni A)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 13:22

Lontong Goreng Gasibu, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Gedung Sate Bandung

Cari sarapan enak di Bandung? Lontong Goreng Gasibu menawarkan lontong goreng hangat dan tahu Sumedang dengan harga mulai Rp4.000 di kawasan Lapangan Gasibu.

Lontong Goreng Gasibu. (Sumber: Instagram @hayulahgaskeun)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 10:22

Sate, Sang Mahakarya Kuliner Nusantara: Dari Warisan Budaya hingga Diplomasi Rasa Dunia

Indonesia boleh dibilang merupakan "Negeri Seribu Sate".

Pedagang sate. (Sumber: Pexels | Foto: nourrie zein)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 07:55

Kesantunan Berdigital bagi Anak

Kecerdasan buatan tidak boleh membatasi proses tumbuh kembang anak.

Orang tua dan anaknya. (Sumber: Pexels/Lgh_9)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 19:42

Gunung Alit Telah Lahir di Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu

Gunung Alit ini lahir di sisi utara Kawah Ratu Gunung Tangkubanparahu.

Gunung Alit lahir di dalam Kawah Ratu pascaletusan Juli–Agustus 2019. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 18:02

Serunya Belajar di Alam Bebas

Pendidikan terbaik bukan selalu tentang seberapa cepat anak mampu membaca, menulis, berhitung. Melainkan ketika anak tumbuh menjadi manusia yang rasa ingin tahunya tetap hidup, hatinya tetap lembut

Asyiknya Kakang naik Bebek Gowes di Pondok Tandang Bakti Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Ahad (31/5/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 17:00

Hari Anak Nasional: Kenalkan Proses Kreatif Sejak Dini Lewat Program Little Creator

Kreativitas di segala bidang kehidupan adalah kunci masa depan anak.

Program Kreator Cilik yang diselenggarakan oleh Omochatoys menekankan proses kreatif sejak usia dini (Foto: dok Omochatoys)
Wisata & Kuliner 23 Jul 2026, 16:22

Wahana Pilihan TMII, dari Kereta Gantung hingga Drone Show Gratis

Rencanakan kunjungan ke TMII dengan panduan wahana terbaik, lengkap dengan tiket, museum pilihan, Jagat Satwa Nusantara, dan tips berkunjung hemat.

Museum Indonesia TMII. (Sumber: TMII)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 16:21

Hari Anak Nasional: Sudahkah Anak-Anak Indonesia Merdeka?

Apakah anak-anak layak dikatakan sudah merdeka? jika rasa aman, nyaman dan hak-hak dasar dalam hidup mereka belum sepenuhnya bisa ditunaikan.

Seorang anak sekolah di Aceh yang menyebrangi jembatan tali menuju sekolah. (Sumber: Generated AI (Terinspirasi dari Video Asli di Aceh))
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 15:11

Hari Anak Nasional Menjadi Momen Tumbuhnya Generasi Kuat dan Cerdas

Seharusnya peringatan Hari Anak Nasional dijadikan momentum penting untuk membangun anak-anak yang kuat dan cerdas.

Butuh kerjasama dan partisipasi dari berbagai pihak dalam rangka mewujudkan pendidikan terbaik bagi anak-anak negeri ini. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 14:39

Ketika Kritik Tenggelam dalam Kebisingan

Status quo tidak selalu bertahan karena kritik dibungkam, tetapi karena perhatian kita terlalu mudah dialihkan.

Sebuah pagelaran seni dog-dog di tengah sebuah aksi. (Foto: Dokumen pribadi)