Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

4 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)

Seandainya saya jadi presiden, saya ingin setelah pidato pelantikan, ada yang membaca puisi kenegaraan. Seperti saat presiden Amerika Serikat, Bill Clinton dilantik menjadi presiden. Puisi berjudul “On the Pulse of Morning”. Atau seperti Robert Frost membacakan puisi berjudul “The Gift Outright”, saat pelantikan presiden John Fitzgerald Kennedy.

Seandainya saya jadi presiden, saya juga akan meminta agar negara berhenti memperlakukan pembangunan sebagai panggung pertunjukan. Negara ini bukan panggung pertunjukan. Ketika pejabat sibuk dengan pencitraan, maka publik atau netizen tidak akan belajar tentang demokrasi yang sesungguhnya.

Pembangunan tidak dimulai dengan janji, tetapi dengan tindakan yang hasilnya dapat dilihat dan dirasakan secara nyata. Jalan memang penting. Bandara penting. Pelabuhan penting. Bendungan penting. Teknologi penting. Tetapi pembangunan bukan sekadar benda yang dapat difoto dari udara.

Pembangunan yang sesungguhnya adalah ketika seorang anak di pelosok dapat belajar dengan layak. Ketika seorang ibu tidak takut melahirkan karena rumah sakit terlalu jauh. Ketika petani tidak menjadi miskin setelah panen. Ketika nelayan tidak kehilangan lautnya karena pencemaran. Ketika hutan tidak ditebang hanya karena ada selembar dokumen yang mengatakan bahwa tanah itu telah berubah fungsi. Ketika hukum tidak menjadi tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

Di situlah saya ingin mengukur keberhasilan sebuah pemerintahan. Bukan dari panjangnya jalan yang dibangun, tetapi dari seberapa jauh jalan itu membawa manusia menuju kehidupan yang lebih bermartabat. Sebab jalan yang panjang tetapi tidak membawa keadilan hanyalah aspal yang menghubungkan satu ketimpangan dengan ketimpangan lainnya.

Jika saya jadi presiden, saya akan memiliki satu musuh yang mungkin tidak populer untuk dibicarakan secara romantis: korupsi. Di negara mana pun, korupsi dianggap penyakit yang sangat berbahaya. Meski istilah penyakit korupsi menjadi konotasi bahasa dalam masyarakat.

Korupsi bukan sekadar mengambil uang negara. Korupsi adalah mencuri waktu orang miskin. Dan dalam sudut pandang agama, korupsi adalah perbuatan yang diharamkan. Dan ini menjadi ujian terbesar, seandainya saya menjadi presiden.

Ketika anggaran sekolah dikorupsi, yang dicuri bukan hanya uang. Yang dicuri adalah masa depan seorang anak. Ketika dana kesehatan diselewengkan, yang dicuri bukan hanya angka dalam laporan keuangan. Yang dicuri adalah kemungkinan seseorang untuk hidup lebih lama. Ketika proyek publik dikurangi kualitasnya demi keuntungan segelintir orang, yang dicuri adalah keselamatan masyarakat.

Karena itu, pemberantasan korupsi tidak boleh berhenti pada slogan dan konferensi pers. Ia harus masuk ke dalam sistem: transparansi anggaran, pengawasan publik, digitalisasi pelayanan, perlindungan terhadap pelapor, independensi lembaga pengawas, serta penegakan hukum yang tidak mengenal kasta. Sebab hukum yang dapat dibeli bukan lagi hukum. Ia telah berubah menjadi komoditas.

Dan negara yang menjadikan hukum sebagai komoditas pada akhirnya akan membuat rakyat belajar satu pelajaran berbahaya: bahwa keadilan memiliki harga. Dan harga itu, sejak kemerdekaan Indonesia, telah termaktub dalam butir-butir Pancasila sebagai falsafah negara.

Seandainya saya jadi presiden, saya mungkin akan melakukan sesuatu yang sangat sederhana. Saya akan bertanya kepada rakyat: “Apa yang paling Anda butuhkan?” Bukan: “Apa yang paling mudah saya jadikan program?” Keduanya terdengar hampir sama, tetapi sesungguhnya berbeda. Program pemerintah sering lahir dari meja rapat. Kebutuhan rakyat lahir dari kehidupan.

Maka negara harus turun dari menara gading kebijakan dan berjalan ke pasar, sekolah, sawah, puskesmas, kampung nelayan, kawasan kumuh, pulau-pulau kecil, daerah perbatasan, dan wilayah yang selama ini hanya disebut dalam pidato sebagai “daerah tertinggal”.

Presiden tidak sempurna, adalah sifat manusiawi. Maka memberlakukan manusia sebagai manusia adalah cerminan orang beragama. Karena saya tahu, menjadi presiden bukan menjadi Tuhan. Presiden tetap manusia. Ia bisa salah, bisa lelah, bisa takut, bahkan bisa kehilangan arah. Karena itu, seandainya saya jadi presiden, saya tidak akan menjanjikan Indonesia tanpa masalah.

Saya hanya ingin menjanjikan sebuah pemerintahan yang mau mengakui masalah. Sebab masalah yang diakui dapat dicari jalan keluarnya. Tetapi masalah yang disembunyikan di balik statistik, slogan dan pencitraan akan tumbuh menjadi monster yang suatu hari akan mengetuk pintu istana. Dan ketika itu terjadi, mungkin sudah terlambat.

Seandainya saya menjadi presiden, hal yang paling penting bagi masa depan generasi penerus adalah menciptakan insan mandiri dan cerdas. Maka, menguasai literasi adalah hal dasar untuk menguasai ilmu pengetahuan. Bagaimana meningkatkan angka literasi masyarakat, maka kebijakan yang diambil adalah mewajibkan masyarakat terutama anak didik untuk membaca buku setiap hari. Buku adalah jendela dunia untuk menguasai ilmu pengetahuan.

Pada akhirnya, seandainya saya jadi presiden, saya akan sadar bahwa kursi kekuasaan hanyalah kursi. Ia tidak membuat seseorang menjadi besar. Yang membuat seseorang besar adalah apa yang dilakukannya ketika memiliki kekuasaan. Sebab kursi presiden suatu hari akan kosong.

Akhirnya, impian besar akan terwujud, meski hanya menjadi catatan imajinatif. Paling tidak menciptakan ruang baru. Bahwa kebebasan berpikir dan berekspresi adalah hak setiap individu yang tidak boleh dibungkam. Tidak boleh dipenggal. Tidak harus dianggap sebagai ancaman, melainkan bukti bahwa setiap warga negara punya hak-hak sipil yang dilindungi oleh undang-undang.

Impian besar adalah karya seni yang sedang mencari jalan untuk menjadi karya yang tidak harus dikonsumsi sebagai komoditas politik. Bisa jadi, ia adalah frasa terindah bagi perenungan dan permenungan, yang selama ini tinggal dalam ruang kesunyian. Wallahu a’lam bishshawaab. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)