Mustikarasa: Monumen Gastronomi dan Manifesto Politik Kedaulatan Pangan

6 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Buku Mustikarasa. (Sumber: Istimewa)
Buku Mustikarasa. (Sumber: Istimewa)

Dalam lembaran sejarah pembangunan nasional Indonesia, buku Mustikarasa berdiri bukan sekadar sebagai kumpulan instruksi dapur atau kookboek biasa. Dokumen monumental setebal lebih dari 1.100 halaman ini merupakan dokumen kenegaraan yang lahir dari keresahan mendalam mengenai kedaulatan pangan.

Di bawah bayang-bayang revolusi tahun 1960-an, Mustikarasa adalah manifestasi dekolonisasi terhadap "lidah bangsa"—sebuah langkah strategis untuk memutus ketergantungan pada standar kuliner kolonial dan mendefinisikan kembali identitas nasional melalui apa yang tersaji di atas meja makan rakyat.

Latar belakang lahirnya proyek ambisius ini berakar pada mandat birokrasi yang sangat kuat. Landasan hukumnya bermula dari Memo 98/Kabmen tertanggal 12 Desember 1960 yang dikeluarkan oleh Menteri Pertanian, Brig. Djen. dr. Azis Saleh. Memo tersebut membawa instruksi langsung dari Presiden Sukarno untuk menyusun dokumentasi kuliner komprehensif.

Sukarno tidak sekadar menginginkan buku resep; ia membayangkan sebuah panduan bagi bangsa untuk mengolah kekayaan hayati Nusantara menjadi asupan yang berfaedah dan bermartabat.

Sukarno menekankan visi yang sangat spesifik mengenai kekayaan lokal sebagai fondasi identitas. Ia menuntut instruksi teknis yang jelas tentang cara 'mengolah daging itik di Djawa Tengah', pemanfaatan 'daun gendjer di Kalimantan Barat', hingga penggunaan 'susu kambing/domba di Djawa Timur' sebagai alternatif sumber protein nasional.

Mustikarasa pada akhirnya menjadi proyek teknokratis masif yang menyatukan kementerian, tenaga ahli gizi, hingga organisasi wanita untuk merajut persatuan melalui rasa. Namun, dekolonisasi identitas ini hanyalah satu sisi dari koin; sisi lainnya adalah strategi makro yang lebih mendesak guna mengamankan ketahanan nasional di tengah ledakan demografi.

Politik "Berdikari" dan Revolusi Menu Nasional

Mohammad Hatta (kiri) dan Soekarno (kanan) dalam sebuah kesempatan. (Sumber: Wikimedia)
Mohammad Hatta (kiri) dan Soekarno (kanan) dalam sebuah kesempatan. (Sumber: Wikimedia)

Pada pertengahan tahun 1960-an, Indonesia menghadapi tantangan kedaulatan yang eksistensial. Lonjakan penduduk dari 103 juta jiwa (1964) menjadi 105,4 juta jiwa (1965) menempatkan pasokan pangan pada titik kritis. Ketergantungan absolut pada satu komoditas tunggal—beras—dipandang oleh para analis kebijakan saat itu sebagai kerentanan strategis yang dapat memicu krisis ekonomi maupun stabilitas nasional.

Menanggapi ancaman krisis pangan, pemerintah mengambil langkah "radikal revolusioner" dengan menggeser kiblat konsumsi nasional melalui politik Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri). Melalui introduksi "Menu Pedoman", negara berupaya menjalankan strategi pertahanan hidup untuk mendiversifikasi pangan rakyat dengan mengangkat posisi jagung dan umbi-umbian agar tidak lagi dipandang rendah sebagai makanan rakyat miskin, melainkan pilar kedaulatan nasional.

Sebagai instrumen kebijakan untuk menekan ketergantungan impor, Menteri Koordinator Kompartimen Pertanian dan Agraria, Sadjarwo S.H., merumuskan target konsumsi karbohidrat per kapita tahun 1964 sebesar 146,0 kg per tahun. Target nasional ini mencakup alokasi beras sebagai komoditas utama sebesar 82,1 kg, yang didampingi oleh konsumsi jagung sebesar 45,6 kg serta umbi-umbian sebesar 18,3 kg (keduanya dalam nilai setara beras), guna menciptakan kemandirian pangan yang kokoh.

Transisi menu nasional ini bukanlah sekadar himbauan moral, melainkan operasi teknokratis yang membutuhkan validasi ilmiah agar perubahan pola makan rakyat tetap aman, bergizi, dan dapat diterima secara luas di dapur-dapur rumah tangga.

Mustikarasa berfungsi sebagai jembatan antara kearifan lokal yang tersebar di pelosok Nusantara dengan sains modern—khususnya nutrisi dan toksikologi. Para penyusun menyadari bahwa mendorong konsumsi bahan non-beras secara masif, seperti ubi kayu, membawa risiko teknis fatal jika tidak disertai edukasi ilmiah. Oleh karena itu, buku ini berperan sebagai laboratorium kesehatan nasional yang membawa instrumen sains ke atas tungku rakyat.

Validasi teknis dalam dokumen ini mencakup aspek-aspek keamanan dan efisiensi pangan, mulai dari bidang toksikologi hingga pemenuhan nutrisi nasional. Dalam aspek keamanan, rakyat diedukasi untuk mewaspadai bahaya asam hidrosian (sianida) pada ubi kayu melalui “tes kertas pikrat”, di mana perubahan warna kertas dari kuning menjadi merah tua menandakan kadar racun linamarin yang mematikan, serta peringatan keras mengenai kontaminasi bakteri pada tempe bongkrek yang menghasilkan racun berbahaya seperti toxoflavin dan bongkrek acid.

Sejalan dengan itu, aspek nutrisi difokuskan pada optimalisasi “mesin manusia” Indonesia dalam menjalankan revolusi, terutama melalui perhatian besar terhadap Vitamin B1 (thiamin). Negara mengkritik penggunaan beras giling pabrikan yang terlalu putih karena menghilangkan lapisan aleuron yang sangat penting, sehingga mempromosikan beras tumbuk atau sosoh tangan sebagai standar kesehatan utama.

Selain itu, optimalisasi zat gizi dilakukan melalui pemanfaatan limbah rumah tangga seperti air pususan yang kaya Vitamin B3 (niasin) untuk pupuk tanaman, serta penggunaan air kapur secara teknis untuk menetralkan aroma tanah pada umbi-umbian guna meningkatkan kualitas konsumsi.

Standardisasi ilmiah ini menjadi pilar penting bagi pemerintah dalam menciptakan keseragaman kualitas gizi, yang pada gilirannya akan memfasilitasi kodifikasi identitas kuliner nasional secara logistik.

Mengkodifikasi Identitas Nusantara

Menyatukan ribuan resep dari beragam etnis dengan standar ukuran yang tidak seragam merupakan tantangan logistik yang luar biasa. Untuk mengatasi “kelemahan yang menyolok” dalam standarisasi, proyek ini dijalankan dalam tiga fase sistematis: Persiapan (1960-1962) yang melibatkan landasan hukum SK Menteri Pertama No. 304/M.P./1961, Pengumpulan Aktif (1962-1964) melalui kuesioner (enquete) kepada Pamong Pradja dan Organisasi Wanita, serta Penghabisan (1964-1966) untuk penyempurnaan naskah.

Penggunaan test kitchens menjadi instrumen penting di mana resep diuji secara kolaboratif oleh ahli masak, ahli gizi, dan ahli kimia untuk menciptakan bahasa kuliner nasional yang seragam. Melalui proses ini, Harsono Hardjohutomo mengklasifikasikan hasil kodifikasi tersebut ke dalam empat kategori strategis, dimulai dari makanan utama sebagai hidangan pokok porsi besar untuk menghilangkan lapar, serta lauk-pauk yang berfungsi sebagai pendamping untuk membangkitkan selera makan.

Selain itu, terdapat djadjan atau kudapan yang meski dikategorikan sebagai selingan, secara fungsional penting untuk melengkapi zat gizi yang tidak terdapat pada hidangan utama, serta dilengkapi dengan minuman yang berperan untuk menghilangkan dahaga sekaligus memberikan efek menyegarkan bagi tubuh.

Dokumen ini juga menunjukkan kecerdasan praktis yang sangat detail sebagai bukti profesionalisme penyusunnya. Contohnya adalah teknik menghilangkan bau prengus pada bebek; rakyat diinstruksikan memberi minum bebek satu sendok makan cuka 25% satu jam sebelum disembelih, serta menggosok kulitnya menggunakan serabut kelapa dan sabun untuk mengangkat lemak berbau tajam. Detail ini, bersama dengan tabel musim buah (seperti Duku pada Oktober-Februari), membuktikan bahwa Mustikarasa dirancang sebagai panduan ekonomi rumah tangga yang presisi.

Hari ini, Mustikarasa berdiri sebagai monumen dari era di mana negara memandang isi piring rakyat sebagai garis depan pertahanan nasional. Di tengah ketergantungan Indonesia modern pada impor gandum yang masif dan fluktuasi harga beras global, semangat "Berdikari" tahun 1960-an menemukan relevansinya kembali. Mustikarasa bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan pengingat bahwa kedaulatan pangan adalah fondasi dari harga diri sebuah bangsa.

Nilai filosofis dokumen ini melampaui teknik memasak; ia adalah upaya untuk “menambah rasa harga menghargai antar daerah dan rasa persatuan antar suku”. Melalui pengakuan terhadap ubi, jagung, dan genjer sebagai bagian dari khazanah nasional, negara sebenarnya sedang membangun rasa percaya diri kolektif.

Di tengah gempuran pangan impor saat ini, sudah saatnya kita kembali menoleh ke belakang untuk menemukan kembali “Mustika” atau permata rasa di tanah air sendiri. Kita tidak boleh membiarkan kekayaan hayati Nusantara terkubur oleh modernitas konsumsi yang seragam dan bergantung pada pihak luar. Pada akhirnya, sejarah mengajarkan bahwa kedaulatan sebuah bangsa bermula dari kemandirian isi piringnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 30 Jul 2026, 18:40

Panduan Wisata Dieng: Sunrise Sikunir, Kawah Sikidang, hingga Candi Tertua di Jawa Tengah

Panduan lengkap wisata Dieng mulai Bukit Sikunir, Kawah Sikidang, Telaga Warna, Candi Arjuna, harga tiket terbaru, rute, dan tips berkunjung.

Panorama Dieng. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 18:30

Dari Singkong Menjadi Taart: Jejak Kedaulatan Pangan dari Bandung Tahun 1972

Melalui sentuhan-sentuhan, singkong tidak lagi tampil sebagai bahan pangan sederhana, melainkan sajian dengan kedalaman rasa dan istimewa.

Ilustrasi singkong. (Sumber: Pexels | Foto: Matheus Bertelli)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 17:05

Wujudkan 'Bandung Kota Perkedel' supaya Petani Kentang Makmur

Kota Bandung perlu menjadikan menu perkedel sebagai kuliner unggulan dari usaha kaki lima hingga restoran dan hotel berbintang.

Ilustrasi wujudkan Bandung Kota Perkedel (Sumber: Ayobandung.com dan resepkoki.id)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 16:32

Romantisme Membaca Majalah Jakarta Jakarta: Menyusuri Jejak Peristiwa Era 1990-an

Salah satu majalah yang meninggalkan jejak kuat dalam sejarah pers Indonesia adalah Majalah Jakarta Jakarta atau yang akrab disingkat JJ.

Majalah Jakarta Jakarta, salah satu majalah berita bergambar yang paling diminati masyarakat Indonesia pada era 1990-an. (Sumber: Koleksi Majalah Jakarta Jakarta | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 30 Jul 2026, 16:18

Bukan Sekadar Menangkap Begal, Mengembalikan Rasa Aman Warga Lebih Penting

Maraknya aksi begal di Bandung Raya memicu kecemasan warga yang beraktivitas malam dan polemik terkait kebijakan sayembara penangkapan pelaku yang dinilai berisiko memicu aksi main hakim sendiri.

Polrestabes Bandung tangkap 19 orang pelaku kejahatan jalanan yang terjadi sejak 1 hingga 21 Juli 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 15:15

Putri Noong Tahun 1980-an

Kuliner khas di Bandung tahun 1980-an.

Putri noong, salah satu kuliner legendaris di Jawa Barat. (Sumber: Youtube | Foto: Dapur Marlia)
Bandung 30 Jul 2026, 15:04

Suguhkan Sentuhan Seni dan Wangi Teh Pemium nan Otentik, Yuk Nikmati Cerita Baru CHAGEE di Jantung Kota Bandung

CHAGEE merancang gerai flagship secara khusus untuk menampilkan jiwa Kota Bandung yang dikenal berani, ekspresif, kreatif, namun tetap mengakar kuat pada warisan budaya.

CHAGEE secara resmi menjejakkan kakinya untuk pertama kali di Bandung, membawa angin segar bagi lanskap tempat nongkrong di Kota Parijs van Java. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 15:00

Pelajaran 'Zero Waste' dari Stadion Persib Bandung

Jika stadion macam GBLA bisa dianggap sebagai “laboratorium” dalam pengelolaan sampah, maka kota adalah “ekosistem hidup” yang membutuhkan integrasi lintas sektor.

Stadion GBLA yang menjadi kandang Persib Maung Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 12:02

Menjelajah Gastronomi Pasundan dalam Mustikarasa: Kesegaran Alami di Lanskap Kuliner Nusantara

Pada tahun 1967, atas arahan Presiden Soekarno, terbitlah sebuah karya monumental bertajuk Mustikarasa.

Ilustrasi Sukarno dan buku Mustikarasa. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 30 Jul 2026, 11:46

Batagor Tamim, Legenda Kuliner Kaki Lima Bandung yang Bertahan dari Gerobak Sederhana

Batagor Tamim menawarkan batagor kering dan kuah dengan bumbu kacang khas serta rasa ikan yang kuat. Cari tahu lokasi, harga, dan jam bukanya.

Batagor Tamim Bandung.
Ayo Netizen 30 Jul 2026, 08:47

Harus Menunggu Berapa Korban? Jalan Soekarno-Hatta Harus Punya Jalur Sepeda Terproteksi

Kematian pesepeda di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung kembali menegaskan perlunya jalur sepeda terproteksi.

Kecelakaan maut yang menewaskan seorang pesepeda di Jalan Soekarno-Hatta, tepatnya di seberang Terminal Leuwipanjang pada Rabu (29/7/2026). (Sumber: Instagram/@ayobandung_official)
Wisata & Kuliner 29 Jul 2026, 23:55

Sejarah Sop Konro, Kuliner Kuah Hitam dari Kluwek yang Kental dengan Sejarah Sulawesi Selatan

Kenali sejarah Sop Konro Makassar, kuah hitam dari kluwek, asal-usulnya, hingga cara penyajian dengan burasa dan ketupat.

Sop Konro Makassar. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 29 Jul 2026, 18:01

Batas Antara Ojek Online dan Ojek Pangkalan

Permasalahan transportasi di Bandung memang seringkali memunculkan persaingan yang tidak sehat antara moda transportasi yang satu dengan yang lainnya.

Ribuan pengemudi ojek dan taksi online melakukan unjukrasa di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 25 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 29 Jul 2026, 17:06

Mempersiapkan Agustus 2026, Ide Tema Semarak Kemerdekaan hingga Panggung Seni

Bagi penulis Ayo Netizen yang masih mencari ide, berikut beberapa pijakan tema yang bisa diangkat sepanjang Agustus 2026 nanti.

Kemeriahan lomba setiap tanggal 17 Agustus di Indonesia. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 29 Jul 2026, 16:07

Ketum AMSI Dorong Homeless Media Berafiliasi dengan Perusahaan Pers

Ketua Umum AMSI mendukung kehadiran ISMN sebagai wadah penguatan homeless media sekaligus mendorong perlindungan hukum.

Ketua Umum AMSI Wahyu Dhyatmika mendukung kehadiran ISMN sebagai wadah penguatan homeless media sekaligus mendorong perlindungan hukum.
Ayo Netizen 29 Jul 2026, 16:07

Masih Ada Waktu! 6 Ide Tema untuk Ayo Netizen di Sisa Juli 2026

Berikut beberapa momentum aktual yang bisa diangkat sepanjang 29–31 Juli 2026 ini.

Website ayobandung.id pada layar smartphone. (Sumber: Pexels | Foto: Pixabay)
Ayo Netizen 29 Jul 2026, 15:26

SNT dan Jalan Panjang Pemerataan Pendidikan

Keberhasilan Sekolah Nasional Terintegrasi tidak hanya ditentukan oleh kualitas bangunan atau fasilitas yang tersedia.

Siswa SMP. (Sumber: Kemendikdasmen.go.id | Foto: Kemendikdasmen)
Ayo Netizen 29 Jul 2026, 14:20

PANGSI Sebagai Ruang Kreativitas

Sebuah potensi jika tidak terus menerus di pupuk, ia akan menjadi ruang hampa.

 (Foto: Tim Media OSIS)
Wisata & Kuliner 29 Jul 2026, 13:23

Tamasya Pondok Halimun Sukabumi: Harga Tiket, Camping, Rute, dan Daya Tariknya

Meta: Panduan lengkap wisata Pondok Halimun Sukabumi mulai dari harga tiket terbaru, camping, river tubing, kebun teh, rute menuju lokasi, hingga kondisi akses jalan.

Pondok Halimun Sukabumi.
Ayo Netizen 29 Jul 2026, 13:18

Kala Bandung Jadi 'Rumah Kedua' Pemain Asing Persib

Ketika seorang pemain asing seperti Matricardi menyebut keluarganya betah di Bandung, itu bukan sekadar catatan tambahan, melainkan indikator penting.

Persib bertanding dalam Piala Presiden 2026 di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Sabtu 25 Juli 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)