Menelusuri Bandung Lewat Novel Ateis: Saat Sastra Turun ke Jalan

8 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Hawe Setiawan membedah peta rahasia Bandung di balik lembaran novel Ateis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Hawe Setiawan membedah peta rahasia Bandung di balik lembaran novel Ateis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Ada yang beda di Jalan Tamblong Dalam siang itu. Di dalam gedung unik yang kini jadi tempat nongkrong, sejumlah orang tampak asyik mengobrol. Sambil berdiri memegang kopi, mereka sibuk berdiskusi soal jalan kaki dan sastra. Di tengah tren walking tour yang lagi hits, mereka justru punya cara baru buat menikmati Bandung: bukan lewat Google Maps, tapi lewat cerita di dalam novel.

Bukan sekadar menyusuri trotoar atau memotret bangunan tua, tetapi membaca kota lewat karya sastra legendaris Ateis karya Achdiat Karta Mihardja.

Acara bertajuk "Perjodohan Sastra dan Wisata Jalan Kaki" itu digagas Yusuf Wijanarko (39). Ia ingin mempertemukan dua dunia yang selama ini terasa berjauhan: sastra yang dianggap hanya tinggal di rak buku, dan wisata kota yang kini tumbuh sebagai gaya hidup urban.

“Sebetulnya kegiatan ini bukan milik lembaga tertentu, tapi milik masyarakat Bandung. Saya cuma merasa kota ini punya modal besar yang sering dilupakan, yaitu cerita. Bandung bukan cuma punya musik, sejarah, atau kuliner, tapi juga punya karya sastra besar yang menjelaskan kota ini dengan sangat detail,” ujar Yusuf.

Baginya, Ateis bukan novel biasa. Buku yang pertama kali terbit pada 1949 itu dianggap sebagai salah satu karya penting sastra Indonesia, sekaligus dokumen sosial tentang Bandung era kolonial.

“Di novel itu disebut nama jalan, suasana kota, rumah tokoh, sampai cara orang berpikir pada masa itu. Saya selalu kepikiran, kenapa kota lain bisa menjadikan novel sebagai destinasi wisata, tapi Bandung belum? Padahal kita punya bahan yang kuat,” katanya.

Yusuf mengaku ide itu sudah lama mengendap sejak masa kuliah. Namun, baru sekarang ia punya cukup waktu untuk mewujudkannya.

“Kalau jujur, ini personal sekali. Saya selalu merasa akan menyesal seumur hidup kalau tidak pernah bikin acara ini. Minimal sekali saja, walking tour berdasarkan novel Ateis,” ucapnya sambil tersenyum.

Dalam diskusi itu, Hawe Setiawan menjelaskan bahwa Ateis memungkinkan pembaca melihat Bandung bukan hanya sebagai ruang fisik, tetapi juga ruang budaya dan pertarungan gagasan. Menurut Hawe, ketika membaca karya sastra secara serius, selalu muncul dorongan untuk berjalan, mencari, dan membayangkan ulang tempat-tempat yang tertulis di dalamnya.

“Kalau kita membaca Ateis, kita akan menemukan Bandung sebagai kota yang nyata. Ada Jalan Pungkur, Sasak Gantung, Kebon Manggu, Braga, Tegallega, stasiun, rumah-rumah tokoh, restoran, warung kopi, sampai ruang perlindungan saat perang. Artinya, novel ini menyimpan peta kota,” jelas Hawe.

Ia menambahkan, pembaca sebenarnya bisa merekonstruksi Bandung tempo dulu melalui detail-detail yang ditulis Achdiat.

“Bukan hanya jalannya, tapi juga benda-benda budayanya. Ada sepeda, radio, cara berpakaian, makanan, kebiasaan diskusi, bahkan bahasa yang dipakai. Jadi lewat satu novel, kita bisa melihat wajah Bandung pada zamannya,” katanya.

Hawe menilai inilah yang membuat Ateis tetap penting dibaca hari ini. Novel itu tak sekadar bicara soal agama seperti yang sering disangka banyak orang, melainkan pergulatan manusia modern di tengah perubahan zaman.

“Kebanyakan orang mengira dari judulnya ini novel tentang ateisme semata. Padahal lebih luas dari itu. Ini tentang benturan pemikiran, modernitas, cinta, identitas, dan kegelisahan manusia kota,” ujarnya.

Saat Jalan Kaki Menjadi Cara Merawat Kota

Gagasan mempertemukan sastra dan jalan kaki terasa makin hidup ketika Meiyama Nugraha dari Anti Leumpunk Leumpunk Club ikut berbagi cerita. Komunitas itu dikenal gemar menjelajahi sudut-sudut Bandung dengan berjalan kaki, menembus gang sempit, kampung padat, bantaran sungai, hingga jalur-jalur yang jarang diperhatikan warga kota sendiri.

Bagi Meiyama, kegiatan mereka mula-mula sederhana: olahraga sambil berkumpul. Namun lama-kelamaan, jalan kaki menjadi cara menjaga pertemanan dan mengenal Bandung lebih dekat.

“Awalnya sih kebutuhan olahraga. Tapi ke sananya yang utama itu silaturahmi tetap terjaga. Karena rata-rata teman-teman di Anti Leumpang sudah berteman mungkin 25 tahun, ada yang dari zaman SMA sampai sekarang. Jadi jalan kaki ini bikin tetap ketemu, ketawa bareng, sambil sehat,” ujarnya.

Di sela perjalanan, Bandung bagi mereka tak pernah sekadar lintasan. Selalu ada cerita yang dibawa, meski kadang dengan gaya bercanda.

“Kalau kita jalan ke mana juga, biasanya ada dongeng soal tempat itu. Tentang gedung lama, kampung, sejarah kereta api, bangunan kolonial, atau cerita warga. Saya ceritain lagi ke anak-anak dalam bentuk humor. Mau percaya atau enggak juga enggak apa-apa, yang penting menikmati kotanya,” kata Meiyama sambil tertawa.

Ia mengaku justru lewat berjalan kaki, banyak peserta baru sadar bahwa kota yang mereka tinggali menyimpan banyak jalur tersembunyi.

“Kadang orang suka heran, kok dari sini bisa nyambung ke sana? Padahal di Bandung itu banyak gang yang saling terhubung. Kalau jalan kaki baru kelihatan semuanya nyambung. Jadi kota ini ternyata lebih dekat daripada yang kita kira,” tuturnya.

Menyusuri gang-gang tersembunyi Bandung bareng Anti Leumpunk Club, membuktikan kalau tiap jengkal kota punya cerita yang cuma bisa ditemukan dengan berjalan kaki. (Sumber: Instagram | Foto: Anti Leumpunk Club)
Menyusuri gang-gang tersembunyi Bandung bareng Anti Leumpunk Club, membuktikan kalau tiap jengkal kota punya cerita yang cuma bisa ditemukan dengan berjalan kaki. (Sumber: Instagram | Foto: Anti Leumpunk Club)

Gang Sempit, Warga Ramah, Kota yang Hidup

Rute Anti Leumpang Club tak selalu berada di jalan besar. Mereka kerap masuk ke kawasan padat penduduk yang selama ini sering dicap menyeramkan atau kumuh. Namun pengalaman di lapangan justru berbeda.

“Sebetulnya enggak banyak kendala kalau masuk gang. Selama kita ramah, senyum, bilang permisi, warga juga welcome. Kadang ibu-ibu yang lihat rombongan malah ketawa-ketawa. Mereka tahu kita cuma jalan-jalan dan olahraga,” ujar Meiyama.

Menurutnya, stereotip tentang kampung kota sering lahir dari orang yang tak pernah benar-benar masuk dan berinteraksi.

“Kayak Cicadas misalnya, orang bilang angker atau gimana. Tapi pas kita lewat sambil bercanda, santai, ya biasa saja. Orang-orang juga baik. Jadi kadang yang serem itu cuma bayangan orang luar,” katanya.

Rombongan mereka biasa berjalan delapan hingga sepuluh kilometer. Jika ada yang lelah, tidak ada paksaan untuk terus ikut.

“Kalau capek ya naik ojek, kalau mau pulang duluan juga bebas. Kita enggak mau nunjukin siapa paling kuat. Yang penting menyenangkan. Selama senang, orang bakal datang lagi,” ucapnya.

Bagi Meiyama, berjalan kaki memberi pengalaman yang tak mungkin didapat dari atas motor atau mobil. Kota bisa dibaca lebih lambat: suara pedagang, aroma warung, nama gang, percakapan warga, hingga detail bangunan yang sering lolos dari pandangan.

“Kalau naik kendaraan kan suka lewat begitu saja. Kalau jalan kaki kita jadi lihat, oh di sini ada mata air, di sini ada bekas penjara, di sini ada jalan kecil yang tembus ke tempat lain. Jadi Bandung itu banyak kejutan kalau dinikmati pelan-pelan,” katanya.

Ia juga mengakui pentingnya media sosial untuk menyebarkan semangat itu. Seusai berjalan, mereka kerap menulis cerita perjalanan dengan gaya ringan dan humor.

“Kadang saya suka nulis di Instagram soal rute hari itu. Bentuknya bodoran, tapi ada ceritanya. Biar orang tertarik, ternyata kalau jalan kaki tuh ada kisah di balik tiap tempat,” ujarnya.

Menjaga Ingatan Kolektif

Di sisi lain, Hawe Setiawan melihat kegiatan seperti ini sebagai peluang besar bagi kota untuk menjaga ingatan kolektifnya. Menurutnya, nama-nama tempat di Bandung perlahan kehilangan makna karena warga tak lagi mengenali cerita di baliknya.

Ia mencontohkan banyak nama kawasan yang berubah bunyi dan terasa asing bagi generasi sekarang. Nama asli tersamarkan, sejarah memudar, dan kota perlahan kehilangan hubungan dengan masa lalunya sendiri.

“Lewat aktivitas jalan-jalan yang dikaitkan dengan literasi, saya kira ini bisa memelihara ingatan kolektif. Jadi tidak sampai terputus. Kalau sampai terputus, kota ini terancam kehilangan cerita,” katanya.

Hawe percaya, para pejalan kaki seperti Anti Leumpang sesungguhnya bisa menjadi pewaris kebudayaan. Mereka hadir di jalan, melihat langsung perubahan kota, lalu menyimpan atau menuliskan pengalamannya agar tak hilang begitu saja.

“Teman-teman yang hobi jalan-jalan ini bisa jadi pewaris kebudayaan yang menyelamatkan ingatan kolektif,” ujarnya.

Menurut Hawe, kota yang sehat bukan hanya kota yang rapi dan modern, tetapi kota yang memelihara kisahnya sendiri. Kisah itu idealnya diproduksi oleh warganya, bukan semata oleh buku resmi atau brosur wisata. Ia mendorong siapa pun yang berjalan kaki di Bandung untuk berani menulis, meski hanya catatan sederhana di media sosial.

“Jangan takut menulis. Tulis saja di Instagram, sebutkan nama tempat, nama jalan, nama bangunan. Itu pasti akan menghidupkan pikiran orang lain,” katanya.

Walking Tour sebagai Cara Baru Mengenal Bandung

Di tengah maraknya komunitas jalan kaki dan tren konten kota di media sosial, Yusuf melihat momentum itu tepat untuk membawa sastra keluar dari ruang sunyi. Menurutnya, anak muda hari ini sebenarnya tertarik berjalan kaki, asalkan diberi cerita.

“Kalau ngajak orang jalan kaki ke tempat biasa mungkin sudah sering. Tapi kalau bilang, ‘ayo kita telusuri jejak tokoh Hasan dalam novel Ateis,’ itu beda. Ada narasi yang bikin orang penasaran,” katanya.

Ia menilai walking tour berbasis sastra juga bisa menjadi cara baru untuk menghidupkan ingatan kota yang mulai terkikis pembangunan dan alih fungsi bangunan.

“Banyak orang protes trotoar jelek, kota gelap, bangunan lama hilang. Tapi bagaimana orang mau peduli kalau mereka sendiri jarang berjalan kaki? Paksa dulu orang berjalan. Setelah itu mereka akan melihat sendiri kondisi kota,” ujarnya.

Bagi Yusuf, walking tour bukan hanya wisata, tetapi latihan mencintai kota.

“Kalau orang sudah berjalan kaki, mereka tahu titik mana yang rusak, bangunan mana yang hilang, cerita mana yang nyaris dilupakan. Dari situ rasa memiliki bisa tumbuh,” tambahnya.

Sastra yang Menyentuh Generasi Baru

Diskusi sore itu memperlihatkan satu hal: sastra ternyata tidak selalu jauh dari generasi muda. Ia bisa hadir melalui obrolan santai, peta kota, langkah kaki, bahkan unggahan media sosial. Di tangan komunitas kreatif, buku tua yang dulu dianggap berat bisa berubah menjadi pengalaman baru yang relevan.

Yusuf pun berharap gagasan ini tak berhenti di satu forum.

“Ke depan mungkin ada podcast, konten digital, workshop, sampai tur jalan kaki sungguhan. Dan ini bukan milik saya atau lembaga tertentu. Siapa pun boleh melanjutkan. Yang penting Bandung mulai sadar kalau kota ini punya warisan cerita yang luar biasa,” katanya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)