Cara Anti Leumpunk Club Susur Sudut Tersembunyi Kota Bandung Pakai GPS Sungut dan Modal Tawa

8 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Jumat 22 Mei 2026, 08:47 WIB
Ayu dan Meiyama bersama rekannya di Anti Leumpunk Club di Lapangan Saparua, Kamis 21 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Ayu dan Meiyama bersama rekannya di Anti Leumpunk Club di Lapangan Saparua, Kamis 21 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Siang itu di Lapangan Saparua, tepat di depan Warung Aceh, menjadi titik finish anak-anak Anti Leumpunk Club. Tidak ada spanduk acara. Tidak ada panggung. Tidak ada rundown resmi. Hanya beberapa orang berkumpul seperti biasa, ngobrol, bercanda, lalu bersiap berjalan tanpa tahu pasti akan berakhir di mana.

“Jalan ka mana?”

“Enggak tahu.”

“Hanya Om Ama dan Allah yang tahu,” celetuk salah seorang anggota sambil memancing tawa yang lain.

Jawaban itu justru terdengar paling normal di lingkaran Anti Leumpunk Club.

Bagi sebagian orang, jalan kaki mungkin aktivitas sederhana: olahraga pagi, mengejar target langkah di aplikasi kesehatan, atau sekadar cara berpindah tempat. Sama seperti bagi orang luar, aktivitas itu mungkin terlihat sederhana: sekelompok orang berjalan kaki mengelilingi Bandung. Tapi bagi komunitas Anti Leumpunk Club, leumpang (jalan kaki) bukan sekadar berpindah tempat.

Berjalan berubah menjadi cara untuk tetap sehat, menjaga pertemanan, membaca dan mengenal lagi kota, bahkan menemukan ulang Bandung dari gang-gang yang jarang dilirik orang, sampai menemukan cerita-cerita absurd yang tidak direncanakan.

Dari susur gang, kampung kota, kebun, museum, sungai, hingga pernah salah melayat, semua pernah menjadi bagian dari perjalanan mereka.

Anti Leumpunk Club lahir bukan dari rapat komunitas formal atau proposal kegiatan. Awalnya bukan komunitas besar dengan visi muluk tentang budaya urban atau gerakan pejalan kaki. Jauh lebih sederhana: sekumpulan lingkaran pertemanan lama, banyak di antaranya berasal dari lingkungan musik independen dan tongkrongan punk Bandung, yang sama-sama terbiasa nongkrong di kawasan Saparua.

Nama “Anti Leumpunk” sendiri justru muncul dari candaan internal mereka.

“Karena awalnya itu kan banyak anak-anak di Saparua, anak band, anak tongkrongan dari ‘punk, punk’. Terus orang-orang teh pada jalan, pada leumpang. Jadi ya udah anti leumpunk. Lucu aja awalnya. Pengen jalan seseurian, sambil olahraga, sambil ketawa-ketawa. Enggak ada konsep gede,” jelas Meiyama, salah seorang yang paling dituakan di komunitasnya.

Dari candaan, aktivitas itu malah tumbuh jadi rutinitas. Dari sana, jalan kaki menjadi alasan untuk terus bertemu. Bukan nongkrong diam di satu tempat, tapi nongkrong yang bergerak.

Sekali jalan, jarak tempuh mereka bisa mencapai delapan kilometer. Kadang lebih. Kadang jalurnya dipenuhi tanjakan, kampung sempit, dan jalan yang bahkan belum pernah disadari keberadaannya oleh warga Bandung sendiri.

Akhir Desember 2023 menjadi titik awalnya, lalu mulai ramai memasuki Januari 2024. Pada masa-masa awal, jumlah mereka sedikit. Ayu, perempuan JELITA (jelang limapuluh tahun), sambil bercanda mengingat betul saat dirinya menjadi salah satu perempuan pertama yang ikut.

Ayu, salah satu perempuan pertama di Anti Leumpunk Club, menyebut leumpang bukan cuma olahraga, tapi juga ruang seseurian dan menjaga pertemanan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayu, salah satu perempuan pertama di Anti Leumpunk Club, menyebut leumpang bukan cuma olahraga, tapi juga ruang seseurian dan menjaga pertemanan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

“Awal mah sedikit. Aku awalnya perempuan sendiri. Paling banyak waktu itu 12 orang. Terus mulai masuk lagi, ada Umi, ada Ola, kadang bertiga, kadang berdua, kadang sendiri. Lama-lama banyak aja cewek-ceweknya,” kenangnya.

Meski kini semakin terbuka, Anti Leumpunk tetap mempertahankan karakter lamanya yaitu absurd, spontan, dan tidak terlalu banyak aturan.

Mereka berjalan dua kali seminggu: Selasa dan Kamis. Sudah lebih dari dua tahun berjalan tanpa benar-benar bolong. Bagi mereka, jalan kaki bukan aktivitas serius yang penuh aturan. Ada olahraga di dalamnya, ada eksplorasi kota, tapi ada pula unsur paling penting: seseurian.

“Si Anti Leumpunk teh olahraga, eksplor kota, sama seseurian,” ujar Ayu.

Konsistensi menjadi salah satu hal yang membuat komunitas ini bertahan.

“Enggak pernah bolong,” kata Meiyama.

Selalu ada yang berjalan. Selalu ada yang hadir. Perlahan, orang-orang baru mulai datang.

Sebagian dari teman, sebagian dari teman yang mengajak teman, sebagian lagi datang karena melihat media sosial mereka.

“Dari algoritma,” kata salah satu anggota sambil tertawa.

Rute? Tidak pernah benar-benar pasti. Tidak ada peta resmi. Tidak ada itinerary rinci.

Mereka tidak memakai konsep hiking rapi atau trail map lengkap. Kalau jalur alam memakai GPS digital, Anti Leumpunk punya istilah sendiri: GPS sungut (mulut).

Alias bertanya ke warga.

“Pak, ieu tembusna ka mana? (Pak jalan ini tembus kemana)”

“Pak, kalau lewat sini keluar ke mana?”

Metode navigasi sederhana itu sering berujung pada pengalaman tak terduga.

Kadang mereka masuk kebun. Kadang nyasar. Kadang justru menemukan jalur baru.

“Kita mah trabas kebon (menerabas kebun),” kata mereka sambil tertawa.

Di tengah budaya nongkrong kota besar yang semakin mahal dan serba konsumtif, Anti Leumpunk menawarkan bentuk kebersamaan yang nyaris sederhana: sekali jalan, ngobrol, bercanda. Tapi justru dari kesederhanaan itu lahir ikatan yang kuat.

Meiyama mengakui, sebagian besar orang-orang di lingkaran ini sudah berteman sejak lama. Ada yang saling kenal lebih dari dua dekade, bahkan sejak era SMA, masa skena musik independen, tongkrongan, hingga fase hidup yang berubah satu per satu.

“Orang makin tua teh circle makin berkurang, itu mah pasti. Nah kita mah gimana caranya supaya silaturahmi tetap kejaga. Ada aktivitas yang bisa dikerjain bareng. Awalnya dari teman-teman lama, iya. Tapi akhirnya malah nambah terus, orang baru masuk terus.”

Meiyama menilai budaya berjalan kaki bisa menjadi cara sederhana untuk tetap sehat sekaligus mengenal kembali sudut-sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Meiyama menilai budaya berjalan kaki bisa menjadi cara sederhana untuk tetap sehat sekaligus mengenal kembali sudut-sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Bagi Anti Leumpunk, Bandung bukan cuma jalan besar, mal, atau pusat kota. Ada lapisan lain yang tersembunyi di balik gang-gang kecil dan kampung kota. Mereka menyusuri Dago, Cigadung, Cicadas, Sukamantri, Tahura, hingga area-area yang jarang masuk daftar wisata kota.

Kadang mereka masuk museum secara spontan.

“Eh, ke museum yuk, masuk yuk,” ujar Ayu menirukan kebiasaan mereka.

Tidak selalu ada riset panjang sebelum berangkat. Kadang mereka mencari informasi lewat Google, kadang bertanya langsung pada penjaga tempat.

“Pak, ieu saha? (ini siapa?)” katanya.

Rasa ingin tahu sering muncul justru setelah langkah kaki bergerak. Pengalaman berjalan kaki membuat mereka melihat Bandung dengan cara berbeda.

“Udah puluhan tahun tinggal di Bandung, tapi kadang orang enggak tahu kampung kota di tengah kotanya sendiri,” ujar Meiyama.

Masuk gang. Keluar di gang lain. Tembus ke jalan yang tak disangka. Mengenali arah utara, selatan, jalur alternatif, sampai tahu bahwa di balik kawasan padat kota masih ada ruang-ruang yang belum banyak dikenali.

“Kampung kota di Bandung teh banyak pisan,” kata Meiyama.

Bagi mereka, Anti Leumpunk bukan sekadar komunitas olahraga. Ada eksplor kota. Ada humor. Ada ruang pertemanan. Bahkan love language mereka pun terbilang unik.

“Papoyok-poyok weh (meledek). Semakin dipoyok semakin tanda sayang. Love language kita emang agak unik,” ujar Ayu.

Hubungan yang cair itu juga yang membuat orang baru perlahan bisa bertahan. Tidak ada seleksi anggota. Tidak ada syarat khusus. Datang saja ikut jalan. Kalau cocok, biasanya akan datang lagi.

“Sering-sering ikut jalan aja. Lama-lama cair sendiri. Tapi tergantung orangnya juga. Ada yang suka, ada yang enggak. Kalau enggak ikut terus lihat postingan anak-anak lagi jalan, malah jadi sirik. Ih rame-rame fotoan, aku enggak ikut,” kata Ayu.

Dari sekadar aktivitas jalan kaki, relasi yang terbentuk pun berkembang. Ada kerja sama dengan kedai, ada koneksi baru, ada ruang pertemanan yang terus bertambah.

“Awalnya mah enggak kepikiran bakal jadi kieu (begini),” kata Meiyama.

Meski santai, ritme mereka tidak main-main. Sekali jalan bisa mencapai delapan kilometer. Kadang lebih. Banyak orang awalnya mengira kegiatan ini hanya jalan santai biasa. Kenyataannya, tanjakan, kampung kota, jalur sempit, sampai rute mendadak adalah menu reguler. Tapi justru di situlah Bandung dibaca ulang. Kadang yang ditemukan bukan sekadar lokasi baru, tapi cara baru melihat Bandung.

“Olahraga dapat. Seseurian (ketawa) dapat. Eksplor kota dapat. Kadang kita jadi tahu ternyata di sini ada bangunan bersejarah, ternyata ada museum ini, ada kampung itu.”

Mengenal Bandung Lebih Intim

Bagi Meiyama, Bandung sebenarnya cocok untuk budaya berjalan kaki.

Tidak sempurna memang. Trotoar rusak masih ada. Jalur pejalan kaki belum ideal. Tapi kota ini masih menyimpan banyak ruang yang bisa dijelajahi.

“Bandung cocok buat jalan kaki. Kita sebagai orang Bandung tahu jalan alternatif, jalan tikus, area-area yang masih nyaman. Kadang naik motor macet, tapi karena pernah leumpang (jalan kaki) jadi tahu jalur tembus,” tukasnya.

Lebih jauh lagi, mereka melihat budaya jalan kaki bisa punya dampak yang lebih luas. Mulai dari pengurangan kemacetan sampai membangun kedekatan warga dengan kotanya sendiri.

“Harapannya mah budaya jalan makin gede. Kayak ada bike to work, siapa tahu ada walk to work. Jalan ke sekolah, jalan ke kerja. Siapa tahu bisa ngurangin cerita Bandung kota macet.”

Baginya, kebiasaan berjalan bisa menjadi salah satu cara melihat ulang hubungan warga dengan kota. Bukan soal tren, bukan soal validasi, tetapi tentang kedekatan dengan ruang hidup sehari-hari.

Namun, seperti komunitas berbasis pertemanan lainnya, yang paling membuat Anti Leumpunk bertahan bukan rute atau konten media sosial. Meski penuh cerita hangat, perjalanan mereka juga dipenuhi momen absurd.

Salah satunya kisah salah melayat. Ceritanya bermula ketika mereka hendak datang ke rumah seorang teman yang istrinya meninggal dunia. Lokasi sudah dibagikan. Mereka berjalan masuk melalui gang. Di tengah jalan, seseorang melihat bendera kuning.

“Oh, geus deukeut (sudah dekat),” pikir mereka.

Rombongan belasan orang masuk, menyalami seorang ibu, mengucapkan belasungkawa. Ternyata, rekan lainnya yang sudah berada di rumah duka mengabari dan menanyakan mereka ada di mana. Rupanya, anak-anak salah rumah. Orang yang mereka cari berada di lokasi lain.

“Ternyata salah titik.”

“Tapi ya begitu selalu ada cerita baru,” kata Meiyama sambil tertawa mengingat kejadian itu.

Cerita itu kemudian menjadi salah satu kisah internal yang terus diingat. Absurd, memalukan, tapi justru memperlihatkan dinamika komunitas yang dekat satu sama lain.

Bukan tentang target olahraga. Bukan soal menjadi komunitas besar. Bahkan bukan soal membuat gerakan sosial besar-besaran, membuat gerakan formal, atau menyentuh hal-hal panas tentang kebijakan kota. Mereka hanya ingin terus berjalan: tetap sehat, tetap berteman, tetap mengenal kota.

“Ke depannya? Tetap gini aja. Enggak usah dibawa ke politik, enggak usah capek. Yang jelas ada manfaatnya. Sehat dapat, silaturahmi kejaga, kota makin dikenal. Itu aja cukup.”

Di Bandung yang semakin padat, macet, dan bergerak terlalu cepat, Anti Leumpunk Club memilih ritme yang lebih lambat. Mereka berjalan, masuk gang, nyasar sedikit, ketawa banyak.

Lalu menemukan bahwa kadang, untuk mengenal kota sendiri, orang memang perlu melambatkan langkah.

Untuk orang-orang yang masih malu bergabung, pesan mereka sederhana.

“Datang aja,” kata Ayu. “Enggak usah malu-malu.”

Sebab di Anti Leumpunk, semua orang pada dasarnya hanya sedang berjalan. Mencari sehat, mencari cerita, dan mungkin, tanpa sadar, sedang mencari cara untuk tetap dekat dengan kotanya sendiri.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Bandung 08 Jun 2026, 19:34

Menilik Eksistensi Dawa Rempah, Racikan Minuman Herbal Tradisional dengan Sentuhan Modern

Gaya hidup sehat turut menjadi tren kekinian yang santer digandrungi oleh masyarakat di masa kini. Salah satu caranya lewat menjaga kesehatan dan kebugaran.

Dawa Rempah (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:31

Hari Laut Sedunia, Masih Adakah Prospek Galangan Kapal di Jabar?

Masih sedikit industri galangan kapal di Jabar. Padahal provinsi ini memiliki sebelas pelabuhan yang bisa digunakan sebagai prasarana galangan kapal.

Ilustrasi Hari Laut Sedunia 2026, pemandangan Pantai Jayanti di Kecamatan Cidaun. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Muhammad Ikhsan)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:01

Polemik Penggusuran Perumahan Warga di Anyer Dalam akibat Pembangunan oleh KAI

Perumahan Warga di Anyer Dalam digusur untuk pembangunan yang dilakukan oleh oleh KAI merupakan kejadian yang terjadi 5 tahun yang lalu.

Foto Grafiti Bekas 2021 di Tembok Menyusuri di Jalan Serang menyusuri Jalan Anyer Dalam, 17 April 2026. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hikmat Nur Hidayat)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 17:29

Polemik SPPG Sukabumi: Antara Harapan Gizi dan Alarm Nyata bagi Gen Z

Tercatat sudah tiga kali gelombang unjuk rasa terjadi di pertengahan tahun ini.

Dokumentasi demo SPPG Sukabumi
Beranda 08 Jun 2026, 17:04

Bandung Pernah Jadi Kiblat Musik Indie, Kini Para Musisi Berusaha Merebutnya Kembali

Bandung pernah menjadi salah satu pusat musik independen Indonesia. Melalui Bandung Music Indie, para musisi kini berupaya membangun kembali ruang bersama dan semangat kolektif yang mulai memudar.

Atmosfer hangat dan akrab mewarnai gelaran Bandung Music Indie saat musisi lintas generasi dan penikmat musik bertemu dalam satu ruang yang sama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 16:53

Gedung BAT Cirebon, Pusat Industri yang Kini Hidup sebagai Cagar Budaya Kota

Bukan hanya bangunan kosong, Gedung BAT Cirebon merupakan saksi bisu kejayaan industri kolonial di Kota Cirebon.

Potret Gedung BAT Cirebon saat ini (Sumber: siceppot.cirebonkota.go.id)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 15:07

Gor Saparua sebagai Ruang Ekspresi Anak Muda dan Panggung Musik Kota Bandung

Satu tempat yang sekarang banyak dipakai orang untuk mencurahkan keringat selama 1990-an-2000-an.

Gor Saparua Bandung. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Zikri)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 12:00

Perempuan yang Menjerit-Membuncah Keheningan Malam Kota Bandung

Bahkan di keheningan malam pun perempuan selalu ramai dengan isi kepalanya.

Suasana alam di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: KOSONGDANSATU)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 10:41

Ibu Kota di Bawah Hujan Plastik: Bagaimana Peran Pemerintah dalam Mengatasinya?

Hujan mikroplastik di Ibu Kota dan pernah menjadi berita hangat pada 2025 akhir tahun.

Banjir akibat hujan deras di Jakarta. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:43

Fenomena Geologi Mata Air Asin dalam Memori Kolektif dan Toponimi Desa Ciuyah

Fenomena mata air asin di Desa Ciuyah, Kab. Sumedang, berasal dari air laut purba (connate water).

Kondisi terkini situs mata air asin purba (connate water) di Desa Ciuyah, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, saat didokumentasikan pada 28 Maret 2026 pukul 10.50 WIB. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Fatia Siti Biladi)
Wisata & Kuliner 08 Jun 2026, 09:42

Panduan Wisata Sea World: Dunia Bawah Laut yang Bisa Dijelajahi dalam 3 Jam

Panduan lengkap Sea World Ancol mulai dari harga tiket, Antasena Tunnel, feeding shark, Jellyfish Sphere, hingga tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Sea World Indonesia. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:02

Rompi "Psikolog Klinis" di Puskesmas: Niat Baik yang Menabrak Aturan

Pemasangan rompi bertuliskan "Psikolog Klinis" di puskesmas menuai sorotan. Di balik niat baik meningkatkan layanan, ada aturan profesi yang dipertanyakan.

Seorang warga berkonsultasi dengan psikolog di Puskesmas Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Rabu 13 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 08:26

Wujudkan Optimasi Pajak Bumi dan Bangunan dengan Drone  

Mengelola Pajak Bumi dan Bangunan dengan drone sangat efektif untuk melakukan pemetaan udara, pemutakhiran data blok, dan penilaian properti secara presisi.

Demo drone produksi Iter Aero di Kabupaten Subang terkait dengan bidang perkebunan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 19:05

Bangsa Penghafal: Ketika Pancasila Dipisahkan dari Tradisi Berpikir yang Melahirkannya

Pancasila tidak lahir dari hafalan. Ia lahir dari pergulatan pemikiran yang panjang. Ironisnya, bangsa yang mewarisinya justru semakin terbiasa menghafal daripada memahami.

Bung Karno (Foto: Dokumen Historia.ID)
Bandung 07 Jun 2026, 18:19

Dari K-Pop hingga Kuliner, Mengintip Cara Bandung dan Korea Selatan Ubah Hubungan Kultural Jadi Peluang Bisnis Kreatif

Dari kegemaran menikmati musik hingga tren produk kecantikan, adaptasi kultural ini perlahan tapi pasti membuka ruang-ruang usaha baru yang melibatkan para pelaku industri kreatif lokal.

“Oullim Korea: Rhythm & Recipes” yang memadati 23 Paskal Shopping Center, Bandung, pada 5–7 Juni 2026.
Bandung 07 Jun 2026, 15:04

Dari Tren Jadi Cuan, Kisah Mawaru Matcha Ekspansi Ratusan Gerai Lewat Minuman Kalcer

Gelombang hype yang mengakar dari tren makanan hingga minuman kalcer masa kini seperti dessert, kopi, sampai matcha greentea, kian menarik respons positif masyarakat.

Mawaru Matcha. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 07 Jun 2026, 09:41

Riwayat Cibiru, Pusat Kesenian Hingga Kemacetan

Cibiru dikenal karena kemacetannya, tetapi kawasan ini juga menjadi rumah bagi benjang dan wayang golek.

Kondisi kemacetan di Cibiru, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 07 Jun 2026, 08:33

Jelajah Yogyakarta untuk Pemula: Destinasi, Kuliner, dan Itinerary Pilihan

Panduan lengkap untuk pertama kali ke Yogyakarta, mulai dari transportasi, tempat menginap, wisata budaya, hingga kuliner khas yang wajib dicoba.

Tugu Jogja. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 07:09

Menelusuri Jejak Bioskop Capitol di Sukabumi

mengenai bioskop capitol di sukabumi, yang pernah menjadi pusat hiburan masyarakat ditahun 90-an

Bioskop Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. (Sumber: Dokumentasi Penulis)