AYOBANDUNG.ID - Siang itu di Lapangan Saparua, tepat di depan Warung Aceh, menjadi titik finish anak-anak Anti Leumpunk Club. Tidak ada spanduk acara. Tidak ada panggung. Tidak ada rundown resmi. Hanya beberapa orang berkumpul seperti biasa, ngobrol, bercanda, lalu bersiap berjalan tanpa tahu pasti akan berakhir di mana.
“Jalan ka mana?”
“Enggak tahu.”
“Hanya Om Ama dan Allah yang tahu,” celetuk salah seorang anggota sambil memancing tawa yang lain.
Jawaban itu justru terdengar paling normal di lingkaran Anti Leumpunk Club.
Bagi sebagian orang, jalan kaki mungkin aktivitas sederhana: olahraga pagi, mengejar target langkah di aplikasi kesehatan, atau sekadar cara berpindah tempat. Sama seperti bagi orang luar, aktivitas itu mungkin terlihat sederhana: sekelompok orang berjalan kaki mengelilingi Bandung. Tapi bagi komunitas Anti Leumpunk Club, leumpang (jalan kaki) bukan sekadar berpindah tempat.
Berjalan berubah menjadi cara untuk tetap sehat, menjaga pertemanan, membaca dan mengenal lagi kota, bahkan menemukan ulang Bandung dari gang-gang yang jarang dilirik orang, sampai menemukan cerita-cerita absurd yang tidak direncanakan.
Dari susur gang, kampung kota, kebun, museum, sungai, hingga pernah salah melayat, semua pernah menjadi bagian dari perjalanan mereka.
Anti Leumpunk Club lahir bukan dari rapat komunitas formal atau proposal kegiatan. Awalnya bukan komunitas besar dengan visi muluk tentang budaya urban atau gerakan pejalan kaki. Jauh lebih sederhana: sekumpulan lingkaran pertemanan lama, banyak di antaranya berasal dari lingkungan musik independen dan tongkrongan punk Bandung, yang sama-sama terbiasa nongkrong di kawasan Saparua.
Nama “Anti Leumpunk” sendiri justru muncul dari candaan internal mereka.
“Karena awalnya itu kan banyak anak-anak di Saparua, anak band, anak tongkrongan dari ‘punk, punk’. Terus orang-orang teh pada jalan, pada leumpang. Jadi ya udah anti leumpunk. Lucu aja awalnya. Pengen jalan seseurian, sambil olahraga, sambil ketawa-ketawa. Enggak ada konsep gede,” jelas Meiyama, salah seorang yang paling dituakan di komunitasnya.
Dari candaan, aktivitas itu malah tumbuh jadi rutinitas. Dari sana, jalan kaki menjadi alasan untuk terus bertemu. Bukan nongkrong diam di satu tempat, tapi nongkrong yang bergerak.
Sekali jalan, jarak tempuh mereka bisa mencapai delapan kilometer. Kadang lebih. Kadang jalurnya dipenuhi tanjakan, kampung sempit, dan jalan yang bahkan belum pernah disadari keberadaannya oleh warga Bandung sendiri.
Akhir Desember 2023 menjadi titik awalnya, lalu mulai ramai memasuki Januari 2024. Pada masa-masa awal, jumlah mereka sedikit. Ayu, perempuan JELITA (jelang limapuluh tahun), sambil bercanda mengingat betul saat dirinya menjadi salah satu perempuan pertama yang ikut.

“Awal mah sedikit. Aku awalnya perempuan sendiri. Paling banyak waktu itu 12 orang. Terus mulai masuk lagi, ada Umi, ada Ola, kadang bertiga, kadang berdua, kadang sendiri. Lama-lama banyak aja cewek-ceweknya,” kenangnya.
Meski kini semakin terbuka, Anti Leumpunk tetap mempertahankan karakter lamanya yaitu absurd, spontan, dan tidak terlalu banyak aturan.
Mereka berjalan dua kali seminggu: Selasa dan Kamis. Sudah lebih dari dua tahun berjalan tanpa benar-benar bolong. Bagi mereka, jalan kaki bukan aktivitas serius yang penuh aturan. Ada olahraga di dalamnya, ada eksplorasi kota, tapi ada pula unsur paling penting: seseurian.
“Si Anti Leumpunk teh olahraga, eksplor kota, sama seseurian,” ujar Ayu.
Konsistensi menjadi salah satu hal yang membuat komunitas ini bertahan.
“Enggak pernah bolong,” kata Meiyama.
Selalu ada yang berjalan. Selalu ada yang hadir. Perlahan, orang-orang baru mulai datang.
Sebagian dari teman, sebagian dari teman yang mengajak teman, sebagian lagi datang karena melihat media sosial mereka.
“Dari algoritma,” kata salah satu anggota sambil tertawa.
Rute? Tidak pernah benar-benar pasti. Tidak ada peta resmi. Tidak ada itinerary rinci.
Mereka tidak memakai konsep hiking rapi atau trail map lengkap. Kalau jalur alam memakai GPS digital, Anti Leumpunk punya istilah sendiri: GPS sungut (mulut).
Alias bertanya ke warga.
“Pak, ieu tembusna ka mana? (Pak jalan ini tembus kemana)”
“Pak, kalau lewat sini keluar ke mana?”
Metode navigasi sederhana itu sering berujung pada pengalaman tak terduga.
Kadang mereka masuk kebun. Kadang nyasar. Kadang justru menemukan jalur baru.
“Kita mah trabas kebon (menerabas kebun),” kata mereka sambil tertawa.
Di tengah budaya nongkrong kota besar yang semakin mahal dan serba konsumtif, Anti Leumpunk menawarkan bentuk kebersamaan yang nyaris sederhana: sekali jalan, ngobrol, bercanda. Tapi justru dari kesederhanaan itu lahir ikatan yang kuat.
Meiyama mengakui, sebagian besar orang-orang di lingkaran ini sudah berteman sejak lama. Ada yang saling kenal lebih dari dua dekade, bahkan sejak era SMA, masa skena musik independen, tongkrongan, hingga fase hidup yang berubah satu per satu.
“Orang makin tua teh circle makin berkurang, itu mah pasti. Nah kita mah gimana caranya supaya silaturahmi tetap kejaga. Ada aktivitas yang bisa dikerjain bareng. Awalnya dari teman-teman lama, iya. Tapi akhirnya malah nambah terus, orang baru masuk terus.”

Bagi Anti Leumpunk, Bandung bukan cuma jalan besar, mal, atau pusat kota. Ada lapisan lain yang tersembunyi di balik gang-gang kecil dan kampung kota. Mereka menyusuri Dago, Cigadung, Cicadas, Sukamantri, Tahura, hingga area-area yang jarang masuk daftar wisata kota.
Kadang mereka masuk museum secara spontan.
“Eh, ke museum yuk, masuk yuk,” ujar Ayu menirukan kebiasaan mereka.
Tidak selalu ada riset panjang sebelum berangkat. Kadang mereka mencari informasi lewat Google, kadang bertanya langsung pada penjaga tempat.
“Pak, ieu saha? (ini siapa?)” katanya.
Rasa ingin tahu sering muncul justru setelah langkah kaki bergerak. Pengalaman berjalan kaki membuat mereka melihat Bandung dengan cara berbeda.
“Udah puluhan tahun tinggal di Bandung, tapi kadang orang enggak tahu kampung kota di tengah kotanya sendiri,” ujar Meiyama.
Masuk gang. Keluar di gang lain. Tembus ke jalan yang tak disangka. Mengenali arah utara, selatan, jalur alternatif, sampai tahu bahwa di balik kawasan padat kota masih ada ruang-ruang yang belum banyak dikenali.
“Kampung kota di Bandung teh banyak pisan,” kata Meiyama.
Bagi mereka, Anti Leumpunk bukan sekadar komunitas olahraga. Ada eksplor kota. Ada humor. Ada ruang pertemanan. Bahkan love language mereka pun terbilang unik.
“Papoyok-poyok weh (meledek). Semakin dipoyok semakin tanda sayang. Love language kita emang agak unik,” ujar Ayu.
Hubungan yang cair itu juga yang membuat orang baru perlahan bisa bertahan. Tidak ada seleksi anggota. Tidak ada syarat khusus. Datang saja ikut jalan. Kalau cocok, biasanya akan datang lagi.
“Sering-sering ikut jalan aja. Lama-lama cair sendiri. Tapi tergantung orangnya juga. Ada yang suka, ada yang enggak. Kalau enggak ikut terus lihat postingan anak-anak lagi jalan, malah jadi sirik. Ih rame-rame fotoan, aku enggak ikut,” kata Ayu.
Dari sekadar aktivitas jalan kaki, relasi yang terbentuk pun berkembang. Ada kerja sama dengan kedai, ada koneksi baru, ada ruang pertemanan yang terus bertambah.
“Awalnya mah enggak kepikiran bakal jadi kieu (begini),” kata Meiyama.
Meski santai, ritme mereka tidak main-main. Sekali jalan bisa mencapai delapan kilometer. Kadang lebih. Banyak orang awalnya mengira kegiatan ini hanya jalan santai biasa. Kenyataannya, tanjakan, kampung kota, jalur sempit, sampai rute mendadak adalah menu reguler. Tapi justru di situlah Bandung dibaca ulang. Kadang yang ditemukan bukan sekadar lokasi baru, tapi cara baru melihat Bandung.
“Olahraga dapat. Seseurian (ketawa) dapat. Eksplor kota dapat. Kadang kita jadi tahu ternyata di sini ada bangunan bersejarah, ternyata ada museum ini, ada kampung itu.”
Mengenal Bandung Lebih Intim
Bagi Meiyama, Bandung sebenarnya cocok untuk budaya berjalan kaki.
Tidak sempurna memang. Trotoar rusak masih ada. Jalur pejalan kaki belum ideal. Tapi kota ini masih menyimpan banyak ruang yang bisa dijelajahi.
“Bandung cocok buat jalan kaki. Kita sebagai orang Bandung tahu jalan alternatif, jalan tikus, area-area yang masih nyaman. Kadang naik motor macet, tapi karena pernah leumpang (jalan kaki) jadi tahu jalur tembus,” tukasnya.
Lebih jauh lagi, mereka melihat budaya jalan kaki bisa punya dampak yang lebih luas. Mulai dari pengurangan kemacetan sampai membangun kedekatan warga dengan kotanya sendiri.
“Harapannya mah budaya jalan makin gede. Kayak ada bike to work, siapa tahu ada walk to work. Jalan ke sekolah, jalan ke kerja. Siapa tahu bisa ngurangin cerita Bandung kota macet.”
Baginya, kebiasaan berjalan bisa menjadi salah satu cara melihat ulang hubungan warga dengan kota. Bukan soal tren, bukan soal validasi, tetapi tentang kedekatan dengan ruang hidup sehari-hari.
Namun, seperti komunitas berbasis pertemanan lainnya, yang paling membuat Anti Leumpunk bertahan bukan rute atau konten media sosial. Meski penuh cerita hangat, perjalanan mereka juga dipenuhi momen absurd.
Salah satunya kisah salah melayat. Ceritanya bermula ketika mereka hendak datang ke rumah seorang teman yang istrinya meninggal dunia. Lokasi sudah dibagikan. Mereka berjalan masuk melalui gang. Di tengah jalan, seseorang melihat bendera kuning.
“Oh, geus deukeut (sudah dekat),” pikir mereka.
Rombongan belasan orang masuk, menyalami seorang ibu, mengucapkan belasungkawa. Ternyata, rekan lainnya yang sudah berada di rumah duka mengabari dan menanyakan mereka ada di mana. Rupanya, anak-anak salah rumah. Orang yang mereka cari berada di lokasi lain.
“Ternyata salah titik.”
“Tapi ya begitu selalu ada cerita baru,” kata Meiyama sambil tertawa mengingat kejadian itu.
Cerita itu kemudian menjadi salah satu kisah internal yang terus diingat. Absurd, memalukan, tapi justru memperlihatkan dinamika komunitas yang dekat satu sama lain.
Bukan tentang target olahraga. Bukan soal menjadi komunitas besar. Bahkan bukan soal membuat gerakan sosial besar-besaran, membuat gerakan formal, atau menyentuh hal-hal panas tentang kebijakan kota. Mereka hanya ingin terus berjalan: tetap sehat, tetap berteman, tetap mengenal kota.
“Ke depannya? Tetap gini aja. Enggak usah dibawa ke politik, enggak usah capek. Yang jelas ada manfaatnya. Sehat dapat, silaturahmi kejaga, kota makin dikenal. Itu aja cukup.”
Di Bandung yang semakin padat, macet, dan bergerak terlalu cepat, Anti Leumpunk Club memilih ritme yang lebih lambat. Mereka berjalan, masuk gang, nyasar sedikit, ketawa banyak.
Lalu menemukan bahwa kadang, untuk mengenal kota sendiri, orang memang perlu melambatkan langkah.
Untuk orang-orang yang masih malu bergabung, pesan mereka sederhana.
“Datang aja,” kata Ayu. “Enggak usah malu-malu.”
Sebab di Anti Leumpunk, semua orang pada dasarnya hanya sedang berjalan. Mencari sehat, mencari cerita, dan mungkin, tanpa sadar, sedang mencari cara untuk tetap dekat dengan kotanya sendiri.
