Gaya Hidup Demi 'Eksposur': Puncak Komedi Finansial dan Cara Waras biar Gak Tekor

3 menit baca
Deden Ibn Suja
Ditulis oleh Deden Ibn Suja diterbitkan
Kini, media sosial menjadi panggung global, tempat siapa pun bisa menampilkan diri, membentuk citra, dan menarik perhatian. (Sumber: Pexels/RDNE Stock project)
Kini, media sosial menjadi panggung global, tempat siapa pun bisa menampilkan diri, membentuk citra, dan menarik perhatian. (Sumber: Pexels/RDNE Stock project)

Zaman sekarang, definisi "kaya" sudah bergeser jauh. Dulu, orang kaya itu yang punya tanah berhektar-hektar tapi penampilannya cuma pakai kaos kutang dan sandal jepit di pasar. Sekarang? Belum dianggap kaya kalau belum bikin konten unboxing barang mewah, pamer saldo ATM, atau nongkrong di kafe estetik yang harga kopinya setara uang makan mahasiswa kosan selama tiga hari.

Katanya, hemat pangkal kaya. Tapi realitanya, zaman sekarang "gaya hidup adalah keinginan, dan eksposur adalah pangkal keborosan." Kita seringkali membeli barang yang tidak kita butuhkan, dengan uang yang belum tentu kita punya, demi memukau orang-orang yang sebenarnya tidak kita sukai di media sosial. Sebuah puncak komedi finansial, bukan?

Mari kita bedah fenomena ini dari sudut pandang yang agak serius, tapi tetap santai.

Ketika "Isi Dompet" Kalah Telak Sama "Isi Feed Instagram"

Kenapa sih kita hobi banget boros demi gaya hidup? Jawabannya satu: Eksposur.

Eksposur adalah candu baru. Kita rela bayar mahal bukan karena fungsi barangnya, tapi karena social validation (pengakuan sosial). Beli sepatu mahal bukan biar kaki nyaman, tapi biar pas difoto, logonya kelihatan jelas.

Padahal, rumus matematika finansial itu sederhana: kalau pengeluaran lebih besar dari pendapatan, itu bukan gaya hidup, tapi gaya-gayaan yang berujung maut. Hemat itu bukan berarti pelit, melainkan tahu rem. Tapi di era digital, rem itu sering blong karena silau melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna di layar HP.

Pandangan Filsuf Barat: Jangan Jadi Budak Persepsi Orang Lain

Jika kita membawa masalah "gaya hidup demi eksposur" ini ke meja kopi para filsuf Barat, mereka pasti akan geleng-geleng kepala.

Filsuf Yunani Kuno, Diogenes dari Sinope (tokoh aliran Sinisme), mungkin akan menertawakan kita paling keras. Diogenes adalah filsuf yang memilih tinggal di dalam tong kayu dan hanya memiliki satu jubah dan mangkuk. Ketika dia melihat seorang anak kecil minum langsung dengan tangannya, Diogenes membuang mangkuknya dan berkata, "Anak ini mengalahkanku dalam hal kesederhanaan."

Bagi filsuf Barat seperti Diogenes, atau bahkan Jean Baudrillard (filsuf modern Prancis), manusia modern itu terjebak dalam apa yang disebut Simulakra. Kita tidak lagi membeli barang karena nilai gunanya, melainkan karena "tanda" atau status yang melekat pada barang tersebut.

Kata Filsuf Barat: "Kamu merasa keren karena barang mewah itu? Padahal kamu cuma jadi budak dari opini orang lain yang sebenarnya gak peduli-peduli amat sama hidupmu."

Pandangan Islam: Hemat itu Keren, Boros itu Sahabat Setan

Dalam pandangan Islam, konsep finansial itu sangat tegas namun indah. Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya. Justru kaya itu bagus agar bisa banyak bersedekah. Yang dilarang keras adalah perilaku Tabzir(hambur-hambur uang untuk hal yang sia-sia) dan Israf (berlebih-lebihan).

Di dalam Al-Qur'an (QS. Al-Isra: 27), Allah secara blak-blakan menyebutkan:

"Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara setan."

Islam menawarkan konsep Qana'ah (merasa cukup dengan apa yang ada) dan Zuhud (tidak meletakkan dunia di dalam hati). Menariknya, Islam mengajarkan bahwa hemat adalah kunci kemandirian. Sahabat Nabi, Umar bin Khattab, pernah menegur orang yang membeli daging hanya karena dia sedang "ingin" makan daging, seraya berkata: "Apakah setiap kali kamu menginginkan sesuatu, kamu langsung membelinya?"

Kata Pandangan Islam: "Rem keinginanmu. Jangan sampai demi terlihat 'mewah' di mata manusia, kamu justru berteman akrab dengan setan karena hobi membuang-buang nikmat."

Hemat pangkal kaya itu mutlak, tapi di zaman sekarang, hemat itu butuh mental baja karena harus siap disebut "nggak asik" atau "kurang eksposur".

Ingat, eksposur di media sosial tidak bisa dipakai untuk bayar tagihan listrik atau biaya rumah sakit. Jadi, daripada sibuk memoles gaya hidup biar kelihatan high class padahal aslinya ngos-ngosan, mending pakai rumus hidup yang aman: Hiduplah sesuai kemampuan, bukan sesuai tuntutan netizen.

Lagipula, tidur nyenyak tanpa dikejar-kejar tagihan paylater itu jauh lebih mewah daripada dapet 10.000 likes di Instagram tapi sarapan tiap akhir bulan cuma pakai promag. Yuk, waras bareng-bareng! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)