Lebaran Haji Tempo Dulu

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Artikel pada salah satu koran yang terbit tahun 1936. (Sumber: Delpher.nl)
Artikel pada salah satu koran yang terbit tahun 1936. (Sumber: Delpher.nl)

Hari Raya Idul Adha pada tempo dulu lebih dikenal dengan nama Lebaran Haji, adalah sebuah ibadah umat Islam yang berlandaskan ketaatan Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan Allah SWT untuk menyembelih anak kesayangannya, yaitu Nabi Ismail. Ketika mereka telah tertunduk taat dan tetap akan menjalankan semua perintah Allah, Allah mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba ketika akan disembelih, lalu umat Islam mengabadikan kisah ketaatan ini dengan ibadah kurban, sebuah kisah yang berfondasi pada ketaatan seorang hamba kepada Tuhannya, bahwa apa-apa yang kita miliki di dunia ini sebetulnya hakikatnya adalah titipanNya.

Idul Adha berasal dari bahasa Arab, Id yang berarti hari raya atau sebuah perayaan, lalu Adha yang berarti kurban, sehingga mengandung arti Hari Raya Kurban. Selain untuk mengenang ketaatan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS, hari raya Idul Adha juga dikaitkan dengan puncak pelaksanaan ibadah haji, yang menandai berakhirnya ibadah haji yang dilaksanakan di tanah suci, maka pada Nusantara tempo dulu hari raya Idul Adha lebih terkenal dengan istilah “Lebaran Hadji”.

Di Nusantara, hari raya Idul Adha ini diwarnai dengan berbagai akulturasi budaya yang sangat kental. Biasanya ibadah ini dilakukan di masjid-masjid besar, alun-alun dan Kraton. Biasanya ibadah ini di masa lalu dilakukan juga sebagai sarana syiar Islam.

Apabila kali ini untuk menentukan hari raya Idul Adha, kita tinggal menunggu hasil sidang isbat pemerintah saja di televisi atau media sosial. Namun, di masa lalu umat Islam melakukan Rukyatul Hilal yaitu mengamati penampakan bulan sabit pertama secara langsung di ufuk, karena umat Islam menggunakan kalender Hijriyah atau kalender yang berdasarkan penanggalan Qamariyah / pergerakan bulan. Jika hilal terlihat, bulan baru ditetapkan, dengan menghitung 10 dari awal bulan tersebut maka ditetapkanlah tanggal 10 Zulhijah sebagai hari Raya Idul Adha.

Di masa lalu perayaan Lebaran Haji sangatlah ditunggu-tunggu warga, tercatat terdapat tiga budaya yang paling terkenal di Nusantara pada perayaan Lebaran Haji.

Pertama adalah Gerebeg Gunungan di kraton Yogyakarta. Arak-arakan hasil bumi oleh warga yang nantinya dibawa ke kauman atau masjid besar. Yang kedua adalah tradisi Meugang di Aceh, yaitu tradisi memasak menikmati hidangan daging bersama sanak keluarga. Dan yang ketiga adalah Manten sapi di Pasuruan, sapi-sapi kurban diperlakukan istimewa, didandani dengan kalung-kalung bunga, kain kafan dan sorban, lalu diarak berkeliling sebagai bentuk penghormatan.

Namun, pada umumnya di Nusantara ini Lebaran Haji suasananya diwarnai dengan ibadah-ibadah sunah, seperti puasa-puasa sunah, terutama puasa Arafah, ziarah kubur dan berkumpul bersama keluarga besar.

Karena masa kecil saya terkadang melakukan Lebaran Haji di Cirebon, maka yang saya ingat adalah budaya Gerebeg Agung yang rutin dilakukan Kraton Kanoman untuk merayakan hari raya Idul Adha. Prosesi Gerebeg Agung adalah Ziarah ke makam leluhur, karena buyut adalah bagian dari Kraton Kanoman, maka kami pun melakukan ziarah dengan cara berjalan beriringan ke makam Sunan Gunung Jati. Setelah itu dilakukan pembacaan doa dan kisah-kisah sejarah masa lalu, sambil membaca solawat yang dipimpin oleh penghulu Kraton untuk memuji asma Allah dan mengenang jasa pendahulu.

Di masa kolonial umat Islam sempat menghadapi tantangan birokrasi terkait pelaksanaan hari raya. Pada saat itu pemerintah kolonial melarang hari libur untuk Lebaran Haji bagi sekolah-sekolah, aturan ini terasa diskriminatif karena aturan dikeluarkan tanpa berdialog terlebih dahulu dengan para pemuka agama Islam.

Apabila di masa sekarang distribusi daging kurban dilakukan dengan pembagian kupon, dan warga mengantri untuk mendapatkannya dengan menukarkan kupon tersebut, di masa lalu pendistribusian daging kurban dilakukan sangat tradisional dan kekeluargaan. Daging biasanya dibungkus dengan pembungkus berbahan alami seperti anyaman daun kelapa atau daun jati, lalu dikirimkan kepada warga sekitar masjid besar, door to door sehingga tidak menimbulkan kericuhan seperti yang biasa terjadi sekarang.

Di Lembang pasca kemerdekaan, sebuah kisah lisan yang terlontar pada saya tentang kisah Lebaran Haji tahun 1950an terjadi di kawasan peternakan Baroe Adjak. Hewan kurban yang berupa kambing disembelih tidak jauh dari sebuah surau yang dibangun untuk para pekerja peternakan, lalu dibagikan kepada semua pegawai peternakan secara merata.

Selain itu di kawasan Cibedug, Cikole pun data lisan tentang kemeriahan Lebaran Haji tercipta dengan meriah. Warga saling bergotong-royong untuk memasak hidangan dari daging kurban tersebut, lalu makan bersama.

Lalu saya menemukan dua berita surat kabar terkait dengan Lebaran Haji di Bandung pada masa lalu. Yang pertama pada Het Nieuws van den Dag Voor Nederl-Indie, 16 April 1932 dan surat kabar Het Dagblad 29 Oktober 1946.

Pada dua artikel dari dua surat kabar tersebut dituliskan bahwa telah terjadi keramaian di Bandung menjelang Lebaran Haji. Sehingga ratusan wanita berbelanja kebutuhan untuk Hari raya dan berdesakan. Dan dalam keramaian tersebut ada salah seorang wanita yang tengah hamil besar sepertinya hendak melahirkan bayinya, dan dalam keramaian menjelang Lebaran Haji itulah sang wanita melahirkan bayi lelakinya dengan sehat. Lalu mereka pun akhirnya dibawa petugas ke klinik. Dalam artikel lainnya, ditulis bahwa Dewan Agama Bandunglah yang bertugas menetapkan hari raya ( melakukan pengamatan hilal ). (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)