Melanjutkan Lebaranomics, Membuka Pintu Kesejahteraan Masyarakat Pesisir

6 menit baca
Sri Maryati
Ditulis oleh Sri Maryati diterbitkan
Ilustrasi kegiatan masyarakat pesisir (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Arditya Pramono)
Ilustrasi kegiatan masyarakat pesisir (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Arditya Pramono)

Ekonomi lebaran atau disebut Lebaranomics telah menjadi pemerataan perekonomian khas Indonesia yang tiada duanya di dunia. Daerah pedesaan hingga pesisir yang jumlah perputaran uangnya sangat kecil pada saat lebaran menjadi penuh gairah. Lebaran menjadi penopang utama ekonomi daerah pesisir melalui peningkatan konsumsi ikan dan pariwisata.

Lebaranomics telah memompa pertumbuhan ekonomi nasional kuartal I 2026 di angka 5,4–5,5%. Bahkan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memproyeksikan perputaran uang selama mudik Lebaran 2026 mencapai Rp148 triliun hingga Rp 161,9 triliun, yang didorong oleh pergerakan sekitar 143,9 juta pemudik.

Setelah lebaran usai, prinsip Lebaranomics perlu terus dilanjutkan karena memberi solusi untuk daerah pesisir yang selama ini menjadi kantong kemiskinan. Sungguh ironis, padahal sumber daya pesisir dan kelautan mestinya bisa mensejahterakan masyarakat pesisir. Kenapa pintu kemakmuran masyarakat belum juga terbuka lebar. Padahal perkembangan teknologi dan inovasi bisa menjadi kunci pembuka. Diharapkan Lebarannomics bisa berlanjut demi terbuka lebarnya pintu kemakmuran untuk masyarakat pesisir hingga seterusnya.

Momentum lebaran memberikan dampak campuran terhadap ekonomi masyarakat pesisir, dengan lonjakan konsumsi yang memperkuat daya tahan ekonomi, namun diiringi tantangan cuaca dan tekanan biaya melaut.

Ada lonjakan permintaan ikan. Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) permintaan ikan meningkat hingga 20 persen selama Ramadan dan Lebaran 2026, yang berpotensi menaikkan pendapatan nelayan dan pembudidaya. Libur Lebaran meningkatkan aktivitas di kawasan wisata pesisir yang membuka peluang ekonomi bagi pedagang lokal, pengelola wisata, dan penyedia jasa penginapan.

Namu ada hambatan untuk nelayan di beberapa wilayah (seperti Pantura) menghadapi tantangan penurunan pendapatan akibat tingginya tekanan lingkungan dan biaya operasional melaut yang tidak sebanding dengan hasil tangkapan. Kondisi hujan lebat dan cuaca ekstrem yang masih berlanjut di beberapa wilayah pesisir mengganggu aktivitas penangkapan ikan dan wisata.

Ilustrasi pemberdayaan ekonomi terhadap perempuan di pesisir oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) (Sumber: Media KKP)
Ilustrasi pemberdayaan ekonomi terhadap perempuan di pesisir oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) (Sumber: Media KKP)

Peran Perempuan Pesisir

Perempuan berperan penting untuk melanjutkan Lebaranomics agar bisa berkembang sepanjang tahun sehingga pintu kesejahteraan masyarakat pesisir bisa terus terbuka. Salah satu sektor usaha yang bisa dikembangkan adalah kegiatan istri nelayan melakukan budidaya perikanan, seperti lobster, udang dan sejenisnya. Selama ini benih lobster banyak di ekspor keluar negeri, ke Vietnam dan negara tetangga lainnya. Mesti bayi lobster itu dibudidayakan sendiri di dalam negeri oleh perempuan pesisir dengan bantuan teknologi tepat guna seperti menggunakan teknik Nanobubble, teknologi rumah dan pakan lobster.

Teknologi Nanobubble bisa dimanfaatkan untuk berbagai bidang. Mesin nanobubble menjadi teknologi generasi modern yang mampu memproduksi gelembung udara berukuran 80-200 nm. Teknologi nanobubble mampu meningkatkan kandungan gas (oksigen, karbondioksida, nitrogen, dll) di dalam ekosistem perairan.

Kondisi ini membuat proses transfer gas dalam air menjadi sangat efektif. Kandungan oksigen tinggi yang dihasilkan mesin nanobubble dapat mensuplai kebutuhan oksigen hewan air sehingga lebih sehat dan tumbuh dengan cepat.

Dengan terpenuhinya kebutuhan oksigen terlarut dalam kolam budidaya, maka padat tebar udang dapat ditingkatkan hingga jumlah yang maksimal. Keunggulan teknologi nanobubble telah dirasakan sendiri oleh para pembudidaya udang, seperti udang di kolam budidaya menjadi lebih aktif, lebih segar, sehat, tingkat survival rate meningkat dan mengurangi kematian.

Saatnya perempuan pesisir diberi insentif peralatan dan pelatihan untuk budidaya lobster air tawar, terutama jenis Cherax quadricarinatus, Jenis ini telah menjadi pilihan menarik bagi petani ikan di Indonesia. Lobster ini tidak hanya diminati sebagai udang hias karena penampilannya yang menarik, tetapi juga sebagai udang konsumsi yang memiliki nilai jual tinggi.Selama ini cara konvensional untuk pakan benih lobster adalah cacing sutra (Tubifex sp.) yang diberikan dua kali sehari.

Kegiatan budidaya lobster menimbulkan ironisme. Negara lain, seperti Vietnam justru meraup keuntungan besar dan menjadi pusat penghasil lobster terbesar di dunia. Padahal benihnya justru didatangkan dari Indonesia. Peraturan Menteri (Permen) Kelautan dan Perikanan Nomor 12 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Lobster, Kepiting, dan Rajungan justru menjelma menjadi faktor yang mendegradasi tata kelola dan budidaya lobster. Karena permen tersebut ternyata justru menimbulkan praktik korupsi dan modus penyelundupan.Tata kelola perlu menjaga kelestarian ekosistem lobster di berbagai daerah.  Tata kelola juga memerlukan aspek komunikasi yang berbentuk penyuluhan terpadu bagi para nelayan dan penangkap Benih Bening Lobster (BBL).

Pembenahan tata kelola budidaya lobster mesti menekankan aspek yang selama ini menjadi ancaman karena berpotensi terjadinya eksploitasi besar-besaran dari perusahaan penerima izin ekspor, serta terpinggirkannya para nelayan dan rusaknya habitat asli lobster. Bahkan  Asosiasi Nelayan Lobster Indonesia (ANLI) mengusulkan bahwa perusahaan yang tidak memberdayakan nelayan harus dicabut izinnya.

Sangat menyedihkan ketika melihat negara Vietnam, meskipun tidak banyak memiliki perairan yang ideal jika dibandingkan dengan Indonesia namun mampu menjadi eksportir besar lobster di dunia. Padahal teknologi Vietnam untuk membesarkan benih lobster asal Indonesia ternyata menggunakan teknologi tepat guna. Bukan teknologi canggih. Ironisnya benih lobster asal Indonesia itu juga bukan berasal dari budidaya breeding (pembenihan), melainkan banyak ditangkap nelayan di alam bebas. Benih-benih dari alam ini yang banyak dibutuhkan bagi petambak-petambak Vietnam untuk dibesarkan sebelum kemudian diekspor secara besar-besaran.

Breeding dan pembesaran atau fattening berbeda. Mestinya pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan membantu secara totalitas terhadap nelayan di Indonesia untuk  melakukan pembesarannya. Teknologi yang digunakan di Vietnam tidak terlalu sulit. Hanya perlu konsistensi untuk budidaya pembesaran.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono meresmikan modeling budidaya lobster di Batam. (Sumber: Media KKP)
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono meresmikan modeling budidaya lobster di Batam. (Sumber: Media KKP)

Agar terwujud optimalisasi kegiatan budidaya lobster, KKP melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) agar sosialisasi menerapkan inovasi teknologi pada kegiatan budidaya. Antara lain dengan membangun percontohan inovasi pakan pembesaran lobster pasir seperti yang telah ada di Desa Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Percontohan ini dikelola oleh kelompok masyarakat di lahan seluas 1.360 meter persegi. Kelompok ini melakukan kegiatan pembesaran lobster dalam tiga segmen, yaitu segmen 1 mulai ukuran benih bening lobster (BBL) hingga 10 gram; segmen 2 dengan ukuran 10 gram – 50 gram; dan segmen 3 dengan ukuran 50 gram atau 100 gram – 200 gram dengan waktu pemeliharaan sekitar 4 bulan.

Berdasarkan hasil percontohan selama lebih kurang 3 bulan, dengan inovasi pakan yang diberikan menghasilkan variasi survival rate (SR) pada segmen 1, 2 dan 3 berturut turut sejumlah 35 persen, 78,75 persen dan 98,25 persen. Berat akhir masing-masing 12,4 gram, 36 gram, dan 225 gram.

SR pada segmen I yang masih di bawah 50 persen diakibatkan oleh kondisi alam yang bergelombang saat penebaran dan pemeliharaan awal sehingga berpengaruh terhadap pemangsaan pakan yang diberikan, mengingat wadah budidaya yang berupa Keramba Jaring Apung (KJA) sangat terpengaruh oleh kondisi permukaan air.

Baca Juga: Mars Renced Bergema di Lapas Majalengka

Perlu inovasi teknologi pakan pembesaran lobster. Seperti yang dihasilkan oleh  Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan (BBRBLPP) Gondol, Bali.Lobster merupakan komoditas perikanan yang memiliki harga tinggi. Lobster ukuran konsumsi dengan berat sekitar 250 gram per ekor harganya dapat mencapai 500 ribu rupiah per kilogram. Sumber benihnya pun tersedia di alam. Untuk itu, perlu inovasi teknologi agar potensi yang ada dapat dikelola secara optimal.

Faktor penting dalam budidaya lobster adalah persoalan pakan. Untuk itu, formulasi pakan yang tepat dibutuhkan di setiap tahap budidaya. Lobster dengan masing-masing tahap perkembangan membutuhkan formulasi pakan yang berbeda-beda karena sangat bergantung pada kemampuan mereka menyerap pakan tadi. Kalau kecil, tentu saja butiran-butiran pakannya akan menjadi semakin halus.Tapi semakin besar, dia membutuhkan konten pakan yang sesuai, misalnya membutuhkan banyak kalsium pada saat dia tumbuh besar dan menumbuhkan cangkang.

Para ahli perikanan perlu melakukan riset untuk mengetahui perilaku lobster secara detail, seperti bagaimana tumbuh, bagaimana besar, dan bagaimana lobster menghadapi atau bersembunyi dari predator. Juga perlu desain ekosistem tiruan pada saat melakukan pembesaran lobster. Misalnya dengan menyiapkan konfigurasi atau pola bebatuan atau paving block yang berongga. Konfigurasi tersebut sebagai tiruan habitat lobster yang alami. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)