Mars Renced Bergema di Lapas Majalengka

Muhammad Assegaf
Ditulis oleh Muhammad Assegaf diterbitkan Selasa 31 Mar 2026, 10:01 WIB
 (Foto: TIM Media Lapas Kelas II B Majengka)

(Foto: TIM Media Lapas Kelas II B Majengka)

D'Renced, band pop punk asal Majalengka ini kembali melakukan hal yang tidak biasa. Dengan mempertahankan narasi bahwa D'Renced adalah band yang secara terbuka melalui karyanya akan terus membawa ide, kritik dan gagasan yang berkelanjutan, maka D'Renced mencoba hal yang unik dalam merangkul kaum marjinal dengan cara membawakan lagu "Mars Renced" di Lapas.

Sabtu, 07 Februari 2026, D'Renced ikut berpartisipasi dalam kegiatan "Warga Binaan Majalengka Menulis" di lapas Kelas II B Majalengka. Program literasi ini diselenggarakan melalui kerjasama antara Padepokan Kirik Nguyuh dengan Lapas Kelas II B Majalengka, sebagai sarana bagi warga binaan untuk menulis dan bercerita tentang pengalaman hidup melalui pena dan kertas putih.

Perserta Menulis Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) menulis pengalaman pribadi. (Foto: Tim Media Lapas Kelas II B Majengka)
Perserta Menulis Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) menulis pengalaman pribadi. (Foto: Tim Media Lapas Kelas II B Majengka)

Karena kertas tidak pernah menghakimi, maka warga binaan merasa bebas bercerita secara jujur dan mampu menulis harapan agar bisa terekspos ke dunia luar, menjadi sebuah pelajaran bahwa harapan itu akan selalu ada, bahkan di dalam tembok yang dingin, terisolasi melalui suara-suara yang tidak pernah terdengar sekalipun. Di hari terakhir kegiatan, Band pop punk asal Majalengka ini membawakan lagu Mars Rence, dalam wawancara, Sugil sebagai vokalis menyampaikan "lagu ini berusaha membangkitkan kesadaran bahwa: “Kita tidak akan jadi besar kalau hanya mimpi, karena perubahan adalah diri kita sendiri" pangkasnya.

"Kami bawakan Mars Renced karena nadanya bersifat sederhana tapi liriknya kuat dan sangat bisa dinyanyikan bersama-sama, dibawakan secara akustik pun oke". Sambung Moga sebagai Gitaris. D’Renced sendiri memilliki 4 Personil diantaranya: Sugil (vokalis), Moga (Gitaris), Udok (Gitaris), dan Dje (Drummer), akan tetapi ketika di Lapas hanya Sugil dan Moga yang bisa tampil dan membawakannya secara akustik sekaligus menggemakan sebuah nada dengan penuh irama diiringi dengan tepuk tangan oleh Warga Binaan Pemasyarakatan dengan lirik demikian :

Karena kita takkan jadi besar hanya mimpi

Tapi keberanian melangkah hari ini

Bersama mereka yang juga percaya diri

Karena perubahan adalah kita sendiri

Penggalan kata dari Reff Mars Renced mengungkapkan realitas semu “antara mimpi dan angan-angan” banyak orang beranggapan bahwa mimpi sama dengan angan, mimpi yang kita pahami adalah sebuah tujuan nyata, yang dirangkai seraya melangkah dengan penuh kesadaran yang membuahkan sebuah progres, sedangkan angan-angan biasanya hanya berawal dari kata "andai" sambil mentolelir penundaan hingga diakhiri penyesalan.

Maka dalam prakteknya, melalui sebuah pena terciptalah kata kata yang tersusun menjadi sebuah nada. ada nada lembut, dan ada juga nada yang penuh amarah. Lirik D’Renced secara sadar mempunyai makna “karena perubahan adalah kita sendiri” menjadi sebuah tanda bahwa perubahan seperti roda yang terus berkelindan. Perubahan terbaik berasal dari dalam, bukan dari luar. Umpama anak ayam dalam cangkang telur, Jika perubahannya berasal dari dalam, maka pecahannya melahirkan progres hingga tercipta sebuah kehidupan, tapi apabila perubahannya berasal dari luar, maka sebuah penyesalan muncul diawali kata "andai" andai saja telurnya tidak terjatuh.

Baca Juga: Tergusur Kemajuan Teknologi, Loper Koran di Ambang Kepunahan

D’Renced salah satu Band Pop Punk di Majalengka

D’Renced merupakan salah satu band pop punk asal Majalengka yang eksistensinya sering dianggap sebagai gangguan karen lagunya yang merombak aturan lama. Melalui lrik lagu ciptaanya, D’Renced memiliki kebiasaan mendekontruksi fungsi musik menjadi sarana perlawanan yang sering disalahpahami, dianggap liriknya hanya sebatas “merusak” tapi ternyata spiritnya lebih luas lagi.

Lagu-lagunya seringkali membahas sebuah otoritas dan kekuasaan yang selama ini dianggap sudah mencapai titik final, padahal banyak fakta pahit di dalamnya. Begitulah cara D’Renced membuka ruang bagi pendengarnya untuk sama-sama berpikir, menyadari bahwa fakta yang pahit dan kepala terbuka akan membawa kemungkinan baru dalam memaknai sebuah perkara.

Secara langsung lirik lagu dari D’Renced mengajak pendengar untuk memahami suatu peristiwa yang paling pelik, dari kata-katanya yang tertuang melalui kesadaran emosional. Lirik juga memiliki hak untuk menyampaikan sebuah aspirasi yang berjalanan dinamis melalui sebuah keresahan. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Muhammad Assegaf
Pegiat Literasi

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 22 Mei 2026, 19:17

Senayan Bergema untuk Persib Sejak 1995 dan Kini 2026 

Kemenangan Persib Bandung selangkah lagi menuju juara Liga Super Indonesia 2026 membuat kenangan mendekat.

Sutiono Lamso dan Kekey Zakaria menjadi pahlawan kemenangan Persib pada partai final di Stadion Senayan, Jakarta. (Sumber: Tabloid Tribun Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 18:07

Gaya Hidup Demi 'Eksposur': Puncak Komedi Finansial dan Cara Waras biar Gak Tekor

Hemat pangkal kaya itu mutlak, tapi di zaman sekarang, hemat itu butuh mental baja!

Kini, media sosial menjadi panggung global, tempat siapa pun bisa menampilkan diri, membentuk citra, dan menarik perhatian. (Sumber: Pexels/RDNE Stock project)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 17:19

Lebaran Haji Tempo Dulu

Hari Raya Idul Adha pada tempo dulu lebih dikenal dengan nama Lebaran Haji.

Artikel pada salah satu koran yang terbit tahun 1936. (Sumber: Delpher.nl)
Beranda 22 Mei 2026, 15:02

Hutan di Papua Selatan yang Dincar untuk PSN Seluas 3,5 Juta Lapangan Sepakbola Standar FIFA

Film dokumenter Pesta Babi menyoroti 2,5 juta hektare hutan Papua yang masuk proyek pangan dan energi, setara 3,5 juta lapangan bola.

Tayangan di film Pesta Babi. (Sumber: Jubi TV)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 13:08

Urban Legend Rel Kereta Api: Bukan Setannya yang Budeg tapi Manusianya yang Bebal

Kadang manusia lebih setan dari setan itu sendiri. Satu tindakan impulsif atas pilihan pribadi sering kali justru mengkambinghitamkan mahluk di dunia lain.

Kereta Rel Listrik (KRL). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: TyewongX)
Wisata & Kuliner 22 Mei 2026, 11:14

Jelajah Pesona Green Canyon Karawang, Sungai Jernih di Tengah Tebing Lumut Hijau

Green Canyon Karawang menawarkan sungai jernih, tebing lumut hijau, canyoning, dan suasana alam sejuk di kawasan Pangkalan.

Green Canyon Karawang. (Sumber: KCIC)
Komunitas 22 Mei 2026, 08:47

Cara Anti Leumpunk Club Susur Sudut Tersembunyi Kota Bandung Pakai GPS Sungut dan Modal Tawa

Menatap Bandung dari gang sempit bersama Anti Leumpunk Club. Modal tanya warga dan saling ledek, jalan kaki 8 km jadi ruang sehat yang penuh tawa.

Ayu dan Meiyama bersama rekannya di Anti Leumpunk Club di Lapangan Saparua, Kamis 21 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 08:35

Buku, Keluarga, dan Literasi

Buku menjadi jendela dunia yang pertama kali dikenalkan dari rumah, sebelum anak mengenal ruang belajar yang lebih luas, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat.

Seseorang sedang asyik membaca (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Beranda 21 Mei 2026, 21:21

Ekosistem Digital Kian Bising, Media Lokal Didorong Kembali ke Publik

Media lokal didorong kembali mengutamakan kepentingan publik di tengah ancaman AI, hilangnya trafik klik, dan maraknya buzzer di ruang digital.

Pembukaan Jateng Media Summit 2026, Kamis (21/5/2026). (Sumber: Suara.com | Foto: Budi Arista Romadhoni)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 20:34

Reformasi Dibungkam, Otoritarianisme Gaya Baru Bangkit Kembali

Pembatalan sepihak kegiatan peringatan 28 Tahun Reformasi di Jakarta bukan lagi sekadar persoalan administrasi hotel.

Peringatan 28 Tahun Reformasi 98 di Jakarta. (Foto: Dokumen pribadi)
Beranda 21 Mei 2026, 19:31

Papua Bukan Tanah Kosong, Tapi Terus Dianggap Tanah Tanpa Suara

Film Pesta Babi memperlihatkan Papua dari sudut yang jarang terlihat: ketakutan, kehilangan tanah, dan pembangunan yang meninggalkan luka.

Hofni Sibetai mahasiswa asal Papua menyampaikan pandangannya seusai nobar Pesta Babi di Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran, Rabu 20 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 19:03

Malam Jum’at Bukan Sekadar Baca Yasin: Menyelami Kedalaman Ritual Spiritual Warga NU

Ritual kebanyakan warga Nu membaca yasin pada malam jumat sudah menjadi sebuat tradisi

Seorang warga Bandung sedang membaca Alquran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 17:17

Cintapada, Padasuka, Padaasih, Toponim yang Merekam Kekayaan Alam dan Kekhawatiran

Kata 'pada' terdapat dalam berbagai kata dan sering terkait dengan makna alam, tempat, atau daerah.

Kampung Cipadakati di Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Peta: Google maps)
Wisata & Kuliner 21 Mei 2026, 16:00

Jelajah Kuliner Roti Bandung, dari Bakery Viral Kekinian hingga Toko Jadul Legendaris

Bandung punya banyak bakery populer, mulai dari artisan sourdough modern hingga toko roti jadul dengan resep yang hampir tidak berubah.

Ilustrasi roti hits di Bandung.
Ayo Biz 21 Mei 2026, 15:38

Ketika QRIS Jadi ‘Game Changer’ Ekosistem Pembayaran Nasional, UMKM Terbantu Signifikan

QRIS adalah game changer dalam ekosistem pembayaran nasional.

Pegawai Cikopi Mang Eko saat melayani konsumen di Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 21 Mei 2026, 14:48

Dari Tragedi Sampah ke Konservasi, Wajah Baru Eks TPA Leuwigajah

Dua dekade setelah longsor maut 2005, eks TPA Leuwigajah kini dijadikan area konservasi di Cimahi.

Lahan eks TPA Leuwigajah. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 12:20

Ketika Reformasi Mulai Bergulir

Di tengah tekanan Orde Baru yang masih terasa, pers mulai tampil lebih berani.

Sejumlah surat kabar menyoroti gelombang demonstrasi pada era Reformasi Mei 1998. (Sumber: Surat kabar Kedaulatan Rakyat dan Berita Buana | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 09:21

Siswa Tahun 1980-an adalah Generasi Tangguh

Ketangguhan para siswa tahun 1980-an adalah jawaban dalam menangani bebagai permasalahan generasinya.

Ilustrasi siswa. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 08:32

Bandung Review, Membangun Kesadaran Kolektif

Hegemoni sosial seharusnya menjadi semangat untuk membangun kesadaran kolektif, dengan mengadopsi nilai-nilai lokal seperti someah, silih asah, silih asih dan silih asuh untuk membangun kota inklusif

Keramaian kawasan Cikapundung Bandung yang menjadi salah satu pusat aktivitas kota. (Foto: Agus Wahyudi)
Wisata & Kuliner 21 Mei 2026, 08:00

Panduan Wisata ke Kampung Turis Karawang, Oase Pedesaan di Balik Kota Industri

Kampung Turis Karawang menawarkan wisata alam, sawah terasering, waterpark, kuliner Sunda, hingga villa dan camping di kawasan Tegalwaru.

Kampung Turis Karawang.