Ketika Reformasi Mulai Bergulir

Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan Kamis 21 Mei 2026, 12:20 WIB
Sejumlah surat kabar menyoroti gelombang demonstrasi pada era Reformasi Mei 1998. (Sumber: Surat kabar Kedaulatan Rakyat dan Berita Buana | Foto: koleksi Kin Sanubary)

Sejumlah surat kabar menyoroti gelombang demonstrasi pada era Reformasi Mei 1998. (Sumber: Surat kabar Kedaulatan Rakyat dan Berita Buana | Foto: koleksi Kin Sanubary)

Mei 1998 menjadi salah satu periode paling menentukan dalam sejarah Indonesia sekaligus masa paling sibuk bagi dunia pers nasional. Hampir setiap pagi, kios-kios koran dipenuhi warga yang ingin mengetahui perkembangan terbaru situasi negara. Surat kabar, tabloid, dan majalah menurunkan berita utama tentang demonstrasi mahasiswa, krisis ekonomi, kerusuhan sosial, hingga desakan agar Presiden Soeharto mundur dari jabatannya.

Kata “Reformasi” mendadak hadir di mana-mana. Judul-judul besar memenuhi halaman depan media cetak. Foto mahasiswa yang menduduki gedung DPR/MPR tersebar luas. Wajah-wajah lelah demonstran, barikade aparat, asap kerusuhan, hingga lautan massa menjadi gambaran yang setiap hari menghiasi halaman koran.

Pada masa itu, media cetak memegang peranan sangat penting. Belum ada media sosial seperti sekarang. Informasi utama masyarakat berasal dari radio, televisi, dan terutama surat kabar. Orang-orang menunggu edisi pagi untuk mengetahui perkembangan terbaru di Jakarta dan berbagai kota lain yang ikut bergolak.

Di banyak daerah, satu eksemplar koran sering dibaca bergantian. Dari warung kopi, kampus, kantor, terminal, hingga pos ronda, berita tentang gerakan mahasiswa menjadi bahan pembicaraan utama masyarakat.

Di tengah tekanan Orde Baru yang masih terasa, pers mulai tampil lebih berani. Setelah bertahun-tahun berada dalam pengawasan ketat, media perlahan menemukan ruang untuk menyuarakan kritik secara terbuka. Editorial dan tajuk rencana dipenuhi tuntutan perubahan politik, pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), serta pentingnya demokrasi.

Mahasiswa menduduki Gedung MPR/DPR pada Mei 1998. (Sumber: Foto dimuat di surat kabar Jawa Pos edisi Mei 1998)
Mahasiswa menduduki Gedung MPR/DPR pada Mei 1998. (Sumber: Foto dimuat di surat kabar Jawa Pos edisi Mei 1998)

Majalah berita mingguan juga memainkan peran besar. Liputan mendalam mengenai krisis ekonomi, konflik elite politik, dan gelombang demonstrasi membuat masyarakat semakin memahami bahwa Indonesia sedang berada di titik genting sejarah.

Meski demikian, situasi pers saat itu belum sepenuhnya bebas. Trauma pembredelan masih membayangi. Banyak wartawan tetap bekerja dalam tekanan dan risiko tinggi. Mereka harus meliput demonstrasi, kerusuhan, hingga bentrokan aparat di lapangan. Tidak sedikit jurnalis yang mengalami intimidasi ketika menjalankan tugas.

Namun arus perubahan sulit dibendung. Setiap terbitan media cetak seperti menjadi saksi bahwa kekuasaan Orde Baru mulai kehilangan kendali. Kalimat “Lengserkan Soeharto” yang sebelumnya nyaris mustahil diucapkan secara terbuka, perlahan mulai terdengar di ruang publik.

Puncak ketegangan terjadi setelah Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998. Empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas tertembak ketika aparat membubarkan demonstrasi. Peristiwa itu memicu kemarahan publik dan menjadi titik balik gerakan Reformasi. Jakarta kemudian dilanda kerusuhan besar pada 13–15 Mei 1998. Toko-toko terbakar, pusat perdagangan dijarah, dan suasana ibu kota berubah mencekam.

Di tengah situasi tersebut, aparat memperketat penjagaan di kawasan Monas dan Istana Kepresidenan. Namun ribuan mahasiswa justru memusatkan aksi di kompleks DPR/MPR Senayan. Gedung yang selama puluhan tahun identik dengan kekuasaan negara berubah menjadi simbol perlawanan rakyat.

Presiden Soeharto menyatakan pengunduran diri dari jabatannya sebagai Presiden RI pada Mei 1998. (Sumber: Foto dimuat di tabloid berita ADIL edisi Mei 1998)
Presiden Soeharto menyatakan pengunduran diri dari jabatannya sebagai Presiden RI pada Mei 1998. (Sumber: Foto dimuat di tabloid berita ADIL edisi Mei 1998)

Pada 18 Mei 1998, mahasiswa berhasil menduduki gedung DPR/MPR. Foto-foto mahasiswa tidur di ruang sidang, berorasi, dan menyanyikan lagu perjuangan menjadi simbol kuat runtuhnya kewibawaan Orde Baru. Banyak orang mulai menyadari bahwa ini bukan lagi sekadar demonstrasi mahasiswa, melainkan krisis besar yang menggerus legitimasi kekuasaan.

Tekanan terhadap pemerintah datang dari berbagai arah. Dukungan politik terhadap Soeharto melemah. Sejumlah tokoh masyarakat meminta presiden mundur, bahkan beberapa menteri Kabinet Pembangunan VII memilih mengundurkan diri.

Hingga akhirnya, pada pagi 21 Mei 1998, hampir seluruh surat kabar memuat headline yang sama: Presiden Soeharto mengundurkan diri setelah 32 tahun berkuasa. Wakil Presiden B.J. Habibie kemudian dilantik sebagai presiden.

Tangis, sorak, dan rasa lega menyelimuti berbagai sudut negeri. Reformasi lahir dari keberanian mahasiswa, rakyat, dan mereka yang memilih melawan ketakutan.

Bagi dunia pers Indonesia, momen itu bukan sekadar pergantian kekuasaan. Reformasi menjadi awal lahirnya babak baru kebebasan pers, ditandai munculnya banyak media baru, ruang kritik yang lebih terbuka, serta kebebasan berpendapat yang jauh lebih luas dibanding sebelumnya.

Kini, puluhan tahun setelah peristiwa itu berlalu, halaman-halaman koran lama dari Mei 1998 tetap menjadi arsip sejarah yang berharga. Di dalamnya tersimpan jejak kegelisahan rakyat, keberanian mahasiswa, dan detik-detik runtuhnya Orde Baru.

Dari lembar-lembar surat kabar itulah kita dapat melihat bahwa Reformasi bukan hanya terjadi di jalanan, tetapi juga hidup dalam tinta, headline, dan berita yang setiap hari dibaca masyarakat Indonesia. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Beranda 21 Mei 2026, 21:21

Ekosistem Digital Kian Bising, Media Lokal Didorong Kembali ke Publik

Media lokal didorong kembali mengutamakan kepentingan publik di tengah ancaman AI, hilangnya trafik klik, dan maraknya buzzer di ruang digital.

Pembukaan Jateng Media Summit 2026, Kamis (21/5/2026). (Sumber: Suara.com | Foto: Budi Arista Romadhoni)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 20:34

Reformasi Dibungkam, Otoritarianisme Gaya Baru Bangkit Kembali

Pembatalan sepihak kegiatan peringatan 28 Tahun Reformasi di Jakarta bukan lagi sekadar persoalan administrasi hotel.

Peringatan 28 Tahun Reformasi 98 di Jakarta. (Foto: Dokumen pribadi)
Beranda 21 Mei 2026, 19:31

Papua Bukan Tanah Kosong, Tapi Terus Dianggap Tanah Tanpa Suara

Film Pesta Babi memperlihatkan Papua dari sudut yang jarang terlihat: ketakutan, kehilangan tanah, dan pembangunan yang meninggalkan luka.

Hofni Sibetai mahasiswa asal Papua menyampaikan pandangannya seusai nobar Pesta Babi di Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran, Rabu 20 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 19:03

Malam Jum’at Bukan Sekadar Baca Yasin: Menyelami Kedalaman Ritual Spiritual Warga NU

Ritual kebanyakan warga Nu membaca yasin pada malam jumat sudah menjadi sebuat tradisi

Seorang warga Bandung sedang membaca Alquran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 17:17

Cintapada, Padasuka, Padaasih, Toponim yang Merekam Kekayaan Alam dan Kekhawatiran

Kata 'pada' terdapat dalam berbagai kata dan sering terkait dengan makna alam, tempat, atau daerah.

Kampung Cipadakati di Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Peta: Google maps)
Wisata & Kuliner 21 Mei 2026, 16:00

Jelajah Kuliner Roti Bandung, dari Bakery Viral Kekinian hingga Toko Jadul Legendaris

Bandung punya banyak bakery populer, mulai dari artisan sourdough modern hingga toko roti jadul dengan resep yang hampir tidak berubah.

Ilustrasi roti hits di Bandung.
Ayo Biz 21 Mei 2026, 15:38

Ketika QRIS Jadi ‘Game Changer’ Ekosistem Pembayaran Nasional, UMKM Terbantu Signifikan

QRIS adalah game changer dalam ekosistem pembayaran nasional.

Pegawai Cikopi Mang Eko saat melayani konsumen di Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 21 Mei 2026, 14:48

Dari Tragedi Sampah ke Konservasi, Wajah Baru Eks TPA Leuwigajah

Dua dekade setelah longsor maut 2005, eks TPA Leuwigajah kini dijadikan area konservasi di Cimahi.

Lahan eks TPA Leuwigajah. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 12:20

Ketika Reformasi Mulai Bergulir

Di tengah tekanan Orde Baru yang masih terasa, pers mulai tampil lebih berani.

Sejumlah surat kabar menyoroti gelombang demonstrasi pada era Reformasi Mei 1998. (Sumber: Surat kabar Kedaulatan Rakyat dan Berita Buana | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 09:21

Siswa Tahun 1980-an adalah Generasi Tangguh

Ketangguhan para siswa tahun 1980-an adalah jawaban dalam menangani bebagai permasalahan generasinya.

Ilustrasi siswa. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 08:32

Bandung Review, Membangun Kesadaran Kolektif

Hegemoni sosial seharusnya menjadi semangat untuk membangun kesadaran kolektif, dengan mengadopsi nilai-nilai lokal seperti someah, silih asah, silih asih dan silih asuh untuk membangun kota inklusif

Keramaian kawasan Cikapundung Bandung yang menjadi salah satu pusat aktivitas kota. (Foto: Agus Wahyudi)
Wisata & Kuliner 21 Mei 2026, 08:00

Panduan Wisata ke Kampung Turis Karawang, Oase Pedesaan di Balik Kota Industri

Kampung Turis Karawang menawarkan wisata alam, sawah terasering, waterpark, kuliner Sunda, hingga villa dan camping di kawasan Tegalwaru.

Kampung Turis Karawang.
Ayo Biz 20 Mei 2026, 20:38

Suara QRIS di Gang Sempit yang Menemani Dimsum Inmons Raup Omzet Rp350 Juta

Dimsum Inmons dari UMKM rumahan menjadi brand dengan omzet tidak kurang dari Rp 350 juta per bulan.

Ani Andriyani (baju merah; pemilik Dimsum Inmons) bersama para karyawannya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Biz 20 Mei 2026, 19:54

Perjalanan Dimsum Inmons dari Gang Sempit Cicadas ke Pasar Nasional

Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung yang lahir dari sebuah gang kecil, membuktikan bahwa konsistensi dan inovasi bisa mengantarkan produk lokal ke pasar yang jauh lebih luas.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung yang lahir dari sebuah gang kecil Cicadas. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 20 Mei 2026, 17:59

Cerita Iwong, Bobotoh yang Hidupkan Legenda Persib Lewat Patung Resin

Kisah Iwong, bobotoh asal Bandung yang membuat patung Bojan Hodak, Jajang Nurjaman, hingga Umuh Muhtar.

Iwong, Bobotoh Persib yang membuat patung Bojan Hodak, Jajang Nurjaman, Indra Tohir dan Umuh Muhtar. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 17:34

Bertahan di Dunia Praktisi yang Membedakan Mahasiswa Berdasarkan Alamamater

Almamater bukan salah satu tolak ukur bagi kualitas seorang mahasiswa.

Almamater bukan salah satu tolak ukur bagi kualitas seorang mahasiswa. Sehingga memberikan kesempatan yang sama dalam hal belajar adalah hak yang harus diberikan secara penuh tanpa membeda-bedakan. (Sumber: Sumber Gambar: Ilustrasi AI)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 15:21

Profil Dr. Dewi Turgarini: Pionir Wisata Gastronomi dan Pelestari Warisan Budaya Indonesia

Dalam diskursus pariwisata kontemporer di Indonesia, Dr. Dewi Turgarini, S.S., MM.Par., berdiri sebagai figur sentral yang mendefinisikan ulang makna kuliner tradisional.

Dr. Dewi Turgarini, S.S., MM.Par., figur sentral yang mendefinisikan ulang makna kuliner tradisional. (Sumber: UPI)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)