Ketika Reformasi Mulai Bergulir

3 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Sejumlah surat kabar menyoroti gelombang demonstrasi pada era Reformasi Mei 1998. (Sumber: Surat kabar Kedaulatan Rakyat dan Berita Buana | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Sejumlah surat kabar menyoroti gelombang demonstrasi pada era Reformasi Mei 1998. (Sumber: Surat kabar Kedaulatan Rakyat dan Berita Buana | Foto: koleksi Kin Sanubary)

Mei 1998 menjadi salah satu periode paling menentukan dalam sejarah Indonesia sekaligus masa paling sibuk bagi dunia pers nasional. Hampir setiap pagi, kios-kios koran dipenuhi warga yang ingin mengetahui perkembangan terbaru situasi negara. Surat kabar, tabloid, dan majalah menurunkan berita utama tentang demonstrasi mahasiswa, krisis ekonomi, kerusuhan sosial, hingga desakan agar Presiden Soeharto mundur dari jabatannya.

Kata “Reformasi” mendadak hadir di mana-mana. Judul-judul besar memenuhi halaman depan media cetak. Foto mahasiswa yang menduduki gedung DPR/MPR tersebar luas. Wajah-wajah lelah demonstran, barikade aparat, asap kerusuhan, hingga lautan massa menjadi gambaran yang setiap hari menghiasi halaman koran.

Pada masa itu, media cetak memegang peranan sangat penting. Belum ada media sosial seperti sekarang. Informasi utama masyarakat berasal dari radio, televisi, dan terutama surat kabar. Orang-orang menunggu edisi pagi untuk mengetahui perkembangan terbaru di Jakarta dan berbagai kota lain yang ikut bergolak.

Di banyak daerah, satu eksemplar koran sering dibaca bergantian. Dari warung kopi, kampus, kantor, terminal, hingga pos ronda, berita tentang gerakan mahasiswa menjadi bahan pembicaraan utama masyarakat.

Di tengah tekanan Orde Baru yang masih terasa, pers mulai tampil lebih berani. Setelah bertahun-tahun berada dalam pengawasan ketat, media perlahan menemukan ruang untuk menyuarakan kritik secara terbuka. Editorial dan tajuk rencana dipenuhi tuntutan perubahan politik, pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), serta pentingnya demokrasi.

Mahasiswa menduduki Gedung MPR/DPR pada Mei 1998. (Sumber: Foto dimuat di surat kabar Jawa Pos edisi Mei 1998)
Mahasiswa menduduki Gedung MPR/DPR pada Mei 1998. (Sumber: Foto dimuat di surat kabar Jawa Pos edisi Mei 1998)

Majalah berita mingguan juga memainkan peran besar. Liputan mendalam mengenai krisis ekonomi, konflik elite politik, dan gelombang demonstrasi membuat masyarakat semakin memahami bahwa Indonesia sedang berada di titik genting sejarah.

Meski demikian, situasi pers saat itu belum sepenuhnya bebas. Trauma pembredelan masih membayangi. Banyak wartawan tetap bekerja dalam tekanan dan risiko tinggi. Mereka harus meliput demonstrasi, kerusuhan, hingga bentrokan aparat di lapangan. Tidak sedikit jurnalis yang mengalami intimidasi ketika menjalankan tugas.

Namun arus perubahan sulit dibendung. Setiap terbitan media cetak seperti menjadi saksi bahwa kekuasaan Orde Baru mulai kehilangan kendali. Kalimat “Lengserkan Soeharto” yang sebelumnya nyaris mustahil diucapkan secara terbuka, perlahan mulai terdengar di ruang publik.

Puncak ketegangan terjadi setelah Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998. Empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas tertembak ketika aparat membubarkan demonstrasi. Peristiwa itu memicu kemarahan publik dan menjadi titik balik gerakan Reformasi. Jakarta kemudian dilanda kerusuhan besar pada 13–15 Mei 1998. Toko-toko terbakar, pusat perdagangan dijarah, dan suasana ibu kota berubah mencekam.

Di tengah situasi tersebut, aparat memperketat penjagaan di kawasan Monas dan Istana Kepresidenan. Namun ribuan mahasiswa justru memusatkan aksi di kompleks DPR/MPR Senayan. Gedung yang selama puluhan tahun identik dengan kekuasaan negara berubah menjadi simbol perlawanan rakyat.

Presiden Soeharto menyatakan pengunduran diri dari jabatannya sebagai Presiden RI pada Mei 1998. (Sumber: Foto dimuat di tabloid berita ADIL edisi Mei 1998)
Presiden Soeharto menyatakan pengunduran diri dari jabatannya sebagai Presiden RI pada Mei 1998. (Sumber: Foto dimuat di tabloid berita ADIL edisi Mei 1998)

Pada 18 Mei 1998, mahasiswa berhasil menduduki gedung DPR/MPR. Foto-foto mahasiswa tidur di ruang sidang, berorasi, dan menyanyikan lagu perjuangan menjadi simbol kuat runtuhnya kewibawaan Orde Baru. Banyak orang mulai menyadari bahwa ini bukan lagi sekadar demonstrasi mahasiswa, melainkan krisis besar yang menggerus legitimasi kekuasaan.

Tekanan terhadap pemerintah datang dari berbagai arah. Dukungan politik terhadap Soeharto melemah. Sejumlah tokoh masyarakat meminta presiden mundur, bahkan beberapa menteri Kabinet Pembangunan VII memilih mengundurkan diri.

Hingga akhirnya, pada pagi 21 Mei 1998, hampir seluruh surat kabar memuat headline yang sama: Presiden Soeharto mengundurkan diri setelah 32 tahun berkuasa. Wakil Presiden B.J. Habibie kemudian dilantik sebagai presiden.

Tangis, sorak, dan rasa lega menyelimuti berbagai sudut negeri. Reformasi lahir dari keberanian mahasiswa, rakyat, dan mereka yang memilih melawan ketakutan.

Bagi dunia pers Indonesia, momen itu bukan sekadar pergantian kekuasaan. Reformasi menjadi awal lahirnya babak baru kebebasan pers, ditandai munculnya banyak media baru, ruang kritik yang lebih terbuka, serta kebebasan berpendapat yang jauh lebih luas dibanding sebelumnya.

Kini, puluhan tahun setelah peristiwa itu berlalu, halaman-halaman koran lama dari Mei 1998 tetap menjadi arsip sejarah yang berharga. Di dalamnya tersimpan jejak kegelisahan rakyat, keberanian mahasiswa, dan detik-detik runtuhnya Orde Baru.

Dari lembar-lembar surat kabar itulah kita dapat melihat bahwa Reformasi bukan hanya terjadi di jalanan, tetapi juga hidup dalam tinta, headline, dan berita yang setiap hari dibaca masyarakat Indonesia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)