Papua Bukan Tanah Kosong, Tapi Terus Dianggap Tanah Tanpa Suara

7 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Kamis 21 Mei 2026, 19:31 WIB
Hofni Sibetai mahasiswa asal Papua menyampaikan pandangannya seusai nobar Pesta Babi di Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran, Rabu 20 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Hofni Sibetai mahasiswa asal Papua menyampaikan pandangannya seusai nobar Pesta Babi di Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran, Rabu 20 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Di aula Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran, suara tepuk tangan terdengar riuh beberapa kali setelah film dokumenter bertajuk Pesta Babi karya Dandhy Dwilaksono dan Cypri Paju Dale beres ditayangkan.

Film ini tidak hanya menampilkan bentang hutan Papua Selatan yang dibabat untuk Proyek Strategis Nasional (PSN) di bawah pemerintahan Prabowo Subianto, tetapi juga menampilkan wajah-wajah masyarakat adat yang perlahan-lahan kehilangan tanah, tempat tinggal, dan rasa aman yang mereka miliki.

Di tengah ruangan, Hofni Sibetai atau Opik (28), seorang mahasiswa magister Teknik Geologi Unpad dari Papua, menonton tanpa banyak berkomentar. Satu dua kali ia hanya tertawa kecil dan berbisik pada teman di sebelahnya ketika cuplikan para pejabat negara muncul di layar.

Opik merupakan masyarakat asli Papua, tepatnya di Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Papua. Distrik adalah sebutan kecamatan bagi wilayah Papua. Opik merupakan anak kedelapan dari tiga belas bersaudara. Sebelum menjadi mahasiswa magister Teknik Geologi di Unpad, Opik besar di Papua.

Ia bersekolah di SDN Inpres Adipura III, lalu melanjutkan di SMPN 3 Jayapura dan SMKN 3 Jayapura. Kemudian melanjutkan studi S1-nya di Teknik Geologi UGM. Hingga kini, ia menjadi mahasiswa magister semester dua di Teknik Geologi Unpad.

Ia bercerita, mahasiswa Papua yang ada di Unpad bisa terhitung jari. Di magister Teknik Geologi sendiri hanya ada dia dan satu orang lainnya. Momen nobar Pesta Babi ini adalah kali pertama baginya. Sebelum penayangan dimulai, ia mengatakan datang karena diajak teman untuk menonton dan ingin tahu juga.

“Yang paling realitas itu operasi militer sih. Itu memang benar-benar kenyataan di sana,” kata Opik saat diwawancarai seusai penayangan film.

Film dokumenter buatan Watchdoc ini mengangkat mengenai PSN yang ada di Papua Selatan. Megaproyek pangan dan energi ini meliputi pembabatan hutan seluas 2,5 juta hektare. Menurut temuan dari riset film ini, pembukaan lahan tersebut menjadi yang terbesar di dunia.

Hutan-hutan ini akan diubah menjadi 1,3 juta hektare sawah untuk swasembada beras, 560 ribu hektare tebu untuk bioethanol, 400 ribu hektare kelapa sawit untuk biodiesel, dan 380 ribu hektare untuk peternakan. Wilayah-wilayah yang terdampak dari PSN ini ada lima distrik, meliputi Distrik Ilwayab, Tanah Miring, Jagebob, Fofi, dan Waropko yang menjadi bagian dari ekspansi proyek ini.

Dalam film, tampak ekskavator menggulingkan pohon-pohon. Disebutkan jumlahnya mencapai 2.000 ekskavator yang diterjunkan dan dikirim dari Cina. Sebuah jalan sepanjang 135 kilometer pun dibangun.

Merespons hal tersebut, masyarakat tidak diam. Pohon-pohon diberi tanda cat merah sebagai penanda kawasan masyarakat adat yang ditolak keras untuk dikooptasi oleh perusahaan dan pemerintah.

Beberapa tanah adat dihargai Rp300 ribu per hektare. Mirisnya, dalam temuan film ini disebutkan bahwa gereja setempat tidak berpihak pada warga. Alih-alih ikut menyuarakan penolakan, mereka justru mendapat keuntungan dari konversi tanah adat tersebut.

Bagi Opik, banyak adegan dalam film tersebut terasa dekat dengan apa yang ia lihat dan rasakan di sana, terutama saat film menunjukkan banyaknya aparat bersenjata di Papua.

Dalam film disebutkan sebanyak 56.000 tentara dikerahkan. Hal ini sebanding dengan rasio 1:100 warga, di mana satu tentara menjaga 100 warga Papua. Bila dibandingkan dengan skala nasional, rasionya adalah 1:690, di mana satu tentara menjaga 690 warga.

“Di sana satu orang tentara menjaga 100 orang warga. Itu benar,” ucap Opik dengan logat timurnya.

Suasana nobar Pesta Babi di Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran yang dihadiri ratusan cibitas akademis, Rabu 20 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Suasana nobar Pesta Babi di Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran yang dihadiri ratusan cibitas akademis, Rabu 20 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

1.800 Salib Merah

Besar di Papua, Opik tumbuh dalam lingkungan di mana keluarga dihargai lebih dari perbedaan agama. Baginya, Papua dulunya adalah ruang hidup yang hangat dan sederhana.

“Kalau ada perayaan agama, semuanya ikut. Kami percaya kita punya cara berbeda untuk berdoa, tapi Tuhan tetap sama,” katanya sambil menunjukkan lebar senyumnya.

Ia masih ingat masa kecilnya di Pelabuhan Jayapura. Dulu, ikan-ikan banyak dijumpai di perairan sekitar. Anak-anak bisa langsung berenang dan menangkap ikan dari tepi pelabuhan. Kini, ia merasa laut semakin jauh dari kehidupan masyarakat. Nelayan pun harus menempuh satu dua kilometer untuk bisa menangkap ikan dari sana.

Film Pesta Babi menunjukkan perubahan serupa dalam skala yang lebih besar. Hutan dibuka untuk sawah, tebu, kelapa sawit, dan peternakan. Tanah adat sedikit demi sedikit beralih menjadi kawasan industri pangan dan energi. Papua dianggap tanah kosong, tanpa melibatkan pandangan dari warga setempat.

Dalam sesi diskusi setelah pemutaran film, Dosen Sosiologi Pedesaan dan Kebijakan Unpad, Tomi Setiawan, menyebut situasi tersebut sebagai akumulasi primitif.

Ini adalah proses di mana masyarakat dijauhkan dari sistem produksi dan tempat tinggal mereka sendiri. Beberapa kelompok mendapatkan keuntungan, sementara yang lainnya kehilangan banyak hal.

“Semurah-murahnya akumulasi kapital adalah dengan cara mengusir orang,” ujar Tomi saat duduk di meja pemateri ketika diskusi dimulai.

Film tersebut juga menampilkan 1.800 salib merah yang ditancapkan di berbagai wilayah adat. Ini menjadi simbol penolakan masyarakat terhadap proyek yang dianggap akan memberikan dampak ekologis buruk dan mengancam tanah nenek moyang mereka.

Seorang mahasiswi dari Papua yang hadir dalam diskusi menilai simbol tersebut sebagai ungkapan keputusasaan masyarakat adat.

“Mereka bangkit bukan karena merasa dilindungi gereja, tapi langsung ke Tuhan,” ucapnya saat moderator memberikan kesempatan berbicara kepada audiens yang hadir.

“Artinya, suara mereka selama ini tidak pernah didengar,” tambahnya dengan lantang.

Baginya, salib dalam film itu bukan hanya simbol agama. Ia menjadi pertanda kehilangan ruang aman, bahkan dari institusi yang selama ini dianggap sebagai pelindung oleh masyarakat Papua sendiri.

Lagu Lama Terulang: PLG, MIFEE, Food Estate, Kini PSN

Meski demikian, Opik tidak sepenuhnya menolak proses pembangunan. Ia mengakui bahwa Papua memerlukan kemajuan dan akses ekonomi yang lebih baik, dan ada yang harus dibayar untuk itu.

“Saya mendukung programnya. Tapi yang harus diperhatikan itu input masalahnya bagaimana, dampaknya bagaimana,” katanya.

Ia berpendapat bahwa pembangunan harus berjalan beriringan dengan komunikasi yang setara dengan komunitas adat. Dalam pandangannya, sering kali konflik timbul karena masyarakat hanya dipandang sebagai objek pembangunan, bukan sebagai pihak yang diajak berdiskusi.

“Kalau ada komunikasi yang seimbang, tidak mungkin ada konflik,” ucapnya sambil menaikkan sudut alisnya.

Menurut Opik, masyarakat di Papua sebenarnya tidak menolak perubahan. Mereka hanya mendambakan kehidupan yang lebih adil. Banyak keluarga berharap agar aset yang diberikan kepada perusahaan dapat ditukar dengan pendidikan atau kesejahteraan yang nyata bagi anak-anak mereka.

Namun, kenyataannya di lapangan sering kali tidak sesuai dengan harapan. Dalam film tersebut, komunitas adat berulang kali mempertanyakan janji pembangunan yang dianggap tidak pernah benar-benar sampai kepada mereka.

“Mereka bilang, ‘Saya sudah kasih cinta semua tapi dikhianati juga’,” tutur Opik meniru ucapan warga yang ia dengar langsung saat berada di Papua Selatan.

Di sisi lain, proyek serupa sebelumnya pernah gagal di berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari proyek PLG atau Pengembangan Lahan Gambut seluas satu juta hektare pada era Soeharto di Kalimantan, MIFEE atau Merauke Integrated Food and Energy Estate pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, hingga proyek food estate singkong di Kalimantan Tengah pada era Joko Widodo.

Meski begitu, proyek pangan kali ini diulang kembali dengan ukuran yang lebih besar di Papua Selatan di bawah pemerintahan Prabowo Subianto.

Film ini kemudian memperlihatkan pesta babi sebagai simbol penting bagi komunitas adat Papua. Seekor babi dipelihara selama 10 tahun untuk sebuah upacara adat.

Babi bukan hanya sekadar hewan ternak, tetapi juga bagian dari relasi sosial, solidaritas, dan cara masyarakat berhubungan dengan alam.

“Pesta babi itu merupakan bentuk konsolidasi,” ucap narator di salah satu scene Pesta Babi.

Ditutup oleh Soho Mukang

Bagi Opik, menonton Pesta Babi membangkitkan rasa yang bercampur aduk. Ada rasa marah, sedih, dan sekaligus lega karena masih ada individu yang berani menyuarakan kondisi Papua melalui film.

“Masih ada orang-orang yang mau menyuarakan kebenaran. Walau lewat film, mereka tetap bersuara bahwa ini salah,” katanya.

Di akhir pemutaran, ruangan kembali dipenuhi tepuk tangan. Lagu Soho Mukang yang dibawakan oleh Awyu Bersatu menjadi penutup dalam film dokumenter Pesta Babi.

Opik hanya duduk diam memperhatikan layar yang perlahan kosong. Ia menyadari bahwa Papua bukan hanya cerita tentang konflik atau pembangunan. Di sana terdapat rumah, keluarga, dan masa depan yang sedang diperjuangkan.

“Untuk kemajuan memang ada harga yang harus dibayar,” ucapnya perlahan.

“Tapi jangan terlalu rakus. Kita juga harus pikir generasi berikutnya,” pungkasnya di akhir wawancara.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 13:10

Hak Siar Piala Dunia oleh TVRI, Ekonomi Nobar dan Pengembangan Konten Lokal

Potensi ekonomi nobar yang luar biasa, mesti dikelola lebih baik dengan berbagai kreativitas masyarakat. 

Suasana nonton bareng Piala Dunia 2026 di Taman Film, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ananda Muhammad Firdaus)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)