Papua Bukan Tanah Kosong, Tapi Terus Dianggap Tanah Tanpa Suara

7 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Hofni Sibetai mahasiswa asal Papua menyampaikan pandangannya seusai nobar Pesta Babi di Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran, Rabu 20 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Hofni Sibetai mahasiswa asal Papua menyampaikan pandangannya seusai nobar Pesta Babi di Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran, Rabu 20 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Di aula Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran, suara tepuk tangan terdengar riuh beberapa kali setelah film dokumenter bertajuk Pesta Babi karya Dandhy Dwilaksono dan Cypri Paju Dale beres ditayangkan.

Film ini tidak hanya menampilkan bentang hutan Papua Selatan yang dibabat untuk Proyek Strategis Nasional (PSN) di bawah pemerintahan Prabowo Subianto, tetapi juga menampilkan wajah-wajah masyarakat adat yang perlahan-lahan kehilangan tanah, tempat tinggal, dan rasa aman yang mereka miliki.

Di tengah ruangan, Hofni Sibetai atau Opik (28), seorang mahasiswa magister Teknik Geologi Unpad dari Papua, menonton tanpa banyak berkomentar. Satu dua kali ia hanya tertawa kecil dan berbisik pada teman di sebelahnya ketika cuplikan para pejabat negara muncul di layar.

Opik merupakan masyarakat asli Papua, tepatnya di Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Papua. Distrik adalah sebutan kecamatan bagi wilayah Papua. Opik merupakan anak kedelapan dari tiga belas bersaudara. Sebelum menjadi mahasiswa magister Teknik Geologi di Unpad, Opik besar di Papua.

Ia bersekolah di SDN Inpres Adipura III, lalu melanjutkan di SMPN 3 Jayapura dan SMKN 3 Jayapura. Kemudian melanjutkan studi S1-nya di Teknik Geologi UGM. Hingga kini, ia menjadi mahasiswa magister semester dua di Teknik Geologi Unpad.

Ia bercerita, mahasiswa Papua yang ada di Unpad bisa terhitung jari. Di magister Teknik Geologi sendiri hanya ada dia dan satu orang lainnya. Momen nobar Pesta Babi ini adalah kali pertama baginya. Sebelum penayangan dimulai, ia mengatakan datang karena diajak teman untuk menonton dan ingin tahu juga.

“Yang paling realitas itu operasi militer sih. Itu memang benar-benar kenyataan di sana,” kata Opik saat diwawancarai seusai penayangan film.

Film dokumenter buatan Watchdoc ini mengangkat mengenai PSN yang ada di Papua Selatan. Megaproyek pangan dan energi ini meliputi pembabatan hutan seluas 2,5 juta hektare. Menurut temuan dari riset film ini, pembukaan lahan tersebut menjadi yang terbesar di dunia.

Hutan-hutan ini akan diubah menjadi 1,3 juta hektare sawah untuk swasembada beras, 560 ribu hektare tebu untuk bioethanol, 400 ribu hektare kelapa sawit untuk biodiesel, dan 380 ribu hektare untuk peternakan. Wilayah-wilayah yang terdampak dari PSN ini ada lima distrik, meliputi Distrik Ilwayab, Tanah Miring, Jagebob, Fofi, dan Waropko yang menjadi bagian dari ekspansi proyek ini.

Dalam film, tampak ekskavator menggulingkan pohon-pohon. Disebutkan jumlahnya mencapai 2.000 ekskavator yang diterjunkan dan dikirim dari Cina. Sebuah jalan sepanjang 135 kilometer pun dibangun.

Merespons hal tersebut, masyarakat tidak diam. Pohon-pohon diberi tanda cat merah sebagai penanda kawasan masyarakat adat yang ditolak keras untuk dikooptasi oleh perusahaan dan pemerintah.

Beberapa tanah adat dihargai Rp300 ribu per hektare. Mirisnya, dalam temuan film ini disebutkan bahwa gereja setempat tidak berpihak pada warga. Alih-alih ikut menyuarakan penolakan, mereka justru mendapat keuntungan dari konversi tanah adat tersebut.

Bagi Opik, banyak adegan dalam film tersebut terasa dekat dengan apa yang ia lihat dan rasakan di sana, terutama saat film menunjukkan banyaknya aparat bersenjata di Papua.

Dalam film disebutkan sebanyak 56.000 tentara dikerahkan. Hal ini sebanding dengan rasio 1:100 warga, di mana satu tentara menjaga 100 warga Papua. Bila dibandingkan dengan skala nasional, rasionya adalah 1:690, di mana satu tentara menjaga 690 warga.

“Di sana satu orang tentara menjaga 100 orang warga. Itu benar,” ucap Opik dengan logat timurnya.

Suasana nobar Pesta Babi di Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran yang dihadiri ratusan cibitas akademis, Rabu 20 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Suasana nobar Pesta Babi di Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran yang dihadiri ratusan cibitas akademis, Rabu 20 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

1.800 Salib Merah

Besar di Papua, Opik tumbuh dalam lingkungan di mana keluarga dihargai lebih dari perbedaan agama. Baginya, Papua dulunya adalah ruang hidup yang hangat dan sederhana.

“Kalau ada perayaan agama, semuanya ikut. Kami percaya kita punya cara berbeda untuk berdoa, tapi Tuhan tetap sama,” katanya sambil menunjukkan lebar senyumnya.

Ia masih ingat masa kecilnya di Pelabuhan Jayapura. Dulu, ikan-ikan banyak dijumpai di perairan sekitar. Anak-anak bisa langsung berenang dan menangkap ikan dari tepi pelabuhan. Kini, ia merasa laut semakin jauh dari kehidupan masyarakat. Nelayan pun harus menempuh satu dua kilometer untuk bisa menangkap ikan dari sana.

Film Pesta Babi menunjukkan perubahan serupa dalam skala yang lebih besar. Hutan dibuka untuk sawah, tebu, kelapa sawit, dan peternakan. Tanah adat sedikit demi sedikit beralih menjadi kawasan industri pangan dan energi. Papua dianggap tanah kosong, tanpa melibatkan pandangan dari warga setempat.

Dalam sesi diskusi setelah pemutaran film, Dosen Sosiologi Pedesaan dan Kebijakan Unpad, Tomi Setiawan, menyebut situasi tersebut sebagai akumulasi primitif.

Ini adalah proses di mana masyarakat dijauhkan dari sistem produksi dan tempat tinggal mereka sendiri. Beberapa kelompok mendapatkan keuntungan, sementara yang lainnya kehilangan banyak hal.

“Semurah-murahnya akumulasi kapital adalah dengan cara mengusir orang,” ujar Tomi saat duduk di meja pemateri ketika diskusi dimulai.

Film tersebut juga menampilkan 1.800 salib merah yang ditancapkan di berbagai wilayah adat. Ini menjadi simbol penolakan masyarakat terhadap proyek yang dianggap akan memberikan dampak ekologis buruk dan mengancam tanah nenek moyang mereka.

Seorang mahasiswi dari Papua yang hadir dalam diskusi menilai simbol tersebut sebagai ungkapan keputusasaan masyarakat adat.

“Mereka bangkit bukan karena merasa dilindungi gereja, tapi langsung ke Tuhan,” ucapnya saat moderator memberikan kesempatan berbicara kepada audiens yang hadir.

“Artinya, suara mereka selama ini tidak pernah didengar,” tambahnya dengan lantang.

Baginya, salib dalam film itu bukan hanya simbol agama. Ia menjadi pertanda kehilangan ruang aman, bahkan dari institusi yang selama ini dianggap sebagai pelindung oleh masyarakat Papua sendiri.

Lagu Lama Terulang: PLG, MIFEE, Food Estate, Kini PSN

Meski demikian, Opik tidak sepenuhnya menolak proses pembangunan. Ia mengakui bahwa Papua memerlukan kemajuan dan akses ekonomi yang lebih baik, dan ada yang harus dibayar untuk itu.

“Saya mendukung programnya. Tapi yang harus diperhatikan itu input masalahnya bagaimana, dampaknya bagaimana,” katanya.

Ia berpendapat bahwa pembangunan harus berjalan beriringan dengan komunikasi yang setara dengan komunitas adat. Dalam pandangannya, sering kali konflik timbul karena masyarakat hanya dipandang sebagai objek pembangunan, bukan sebagai pihak yang diajak berdiskusi.

“Kalau ada komunikasi yang seimbang, tidak mungkin ada konflik,” ucapnya sambil menaikkan sudut alisnya.

Menurut Opik, masyarakat di Papua sebenarnya tidak menolak perubahan. Mereka hanya mendambakan kehidupan yang lebih adil. Banyak keluarga berharap agar aset yang diberikan kepada perusahaan dapat ditukar dengan pendidikan atau kesejahteraan yang nyata bagi anak-anak mereka.

Namun, kenyataannya di lapangan sering kali tidak sesuai dengan harapan. Dalam film tersebut, komunitas adat berulang kali mempertanyakan janji pembangunan yang dianggap tidak pernah benar-benar sampai kepada mereka.

“Mereka bilang, ‘Saya sudah kasih cinta semua tapi dikhianati juga’,” tutur Opik meniru ucapan warga yang ia dengar langsung saat berada di Papua Selatan.

Di sisi lain, proyek serupa sebelumnya pernah gagal di berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari proyek PLG atau Pengembangan Lahan Gambut seluas satu juta hektare pada era Soeharto di Kalimantan, MIFEE atau Merauke Integrated Food and Energy Estate pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, hingga proyek food estate singkong di Kalimantan Tengah pada era Joko Widodo.

Meski begitu, proyek pangan kali ini diulang kembali dengan ukuran yang lebih besar di Papua Selatan di bawah pemerintahan Prabowo Subianto.

Film ini kemudian memperlihatkan pesta babi sebagai simbol penting bagi komunitas adat Papua. Seekor babi dipelihara selama 10 tahun untuk sebuah upacara adat.

Babi bukan hanya sekadar hewan ternak, tetapi juga bagian dari relasi sosial, solidaritas, dan cara masyarakat berhubungan dengan alam.

“Pesta babi itu merupakan bentuk konsolidasi,” ucap narator di salah satu scene Pesta Babi.

Ditutup oleh Soho Mukang

Bagi Opik, menonton Pesta Babi membangkitkan rasa yang bercampur aduk. Ada rasa marah, sedih, dan sekaligus lega karena masih ada individu yang berani menyuarakan kondisi Papua melalui film.

“Masih ada orang-orang yang mau menyuarakan kebenaran. Walau lewat film, mereka tetap bersuara bahwa ini salah,” katanya.

Di akhir pemutaran, ruangan kembali dipenuhi tepuk tangan. Lagu Soho Mukang yang dibawakan oleh Awyu Bersatu menjadi penutup dalam film dokumenter Pesta Babi.

Opik hanya duduk diam memperhatikan layar yang perlahan kosong. Ia menyadari bahwa Papua bukan hanya cerita tentang konflik atau pembangunan. Di sana terdapat rumah, keluarga, dan masa depan yang sedang diperjuangkan.

“Untuk kemajuan memang ada harga yang harus dibayar,” ucapnya perlahan.

“Tapi jangan terlalu rakus. Kita juga harus pikir generasi berikutnya,” pungkasnya di akhir wawancara.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)