Reformasi Dibungkam, Otoritarianisme Gaya Baru Bangkit Kembali

2 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan
Peringatan 28 Tahun Reformasi 98 di Jakarta. (Foto: Dokumen pribadi)
Peringatan 28 Tahun Reformasi 98 di Jakarta. (Foto: Dokumen pribadi)

Pembatalan sepihak kegiatan peringatan 28 Tahun Reformasi di Jakarta bukan lagi sekadar persoalan administrasi hotel. Peristiwa ini memperlihatkan sesuatu yang lebih serius: bangkitnya kembali watak otoritarianisme Orde Baru dengan wajah yang lebih halus, lebih rapi, tetapi tetap menakutkan.

Kegiatan yang digagas aktivis 98, akademisi, mahasiswa, dan kelompok pekerja itu sedianya menjadi ruang refleksi atas perjalanan Reformasi. Panitia bahkan telah memperoleh surat konfirmasi resmi penggunaan tempat dari Naraya Hotel & Resort serta menyelesaikan seluruh pembayaran. Namun hanya sehari kemudian, acara mendadak dibatalkan tanpa alasan yang jelas.

Yang paling problematis adalah pengakuan panitia bahwa pihak hotel sebelumnya menyebut adanya “pihak lain” yang meminta acara tersebut dibatalkan. Identitas pihak itu tidak pernah dijelaskan. Tetapi justru di situlah letak bahayanya.
Otoritarianisme tidak selalu hadir dalam bentuk larangan terbuka, penangkapan massal, atau sensor resmi seperti pada masa Orde Baru. Dalam demokrasi yang mulai mengalami kemunduran, represi bekerja dengan cara yang lebih samar: tekanan informal, intimidasi tidak langsung, pembatalan ruang diskusi, hingga penciptaan rasa takut agar masyarakat melakukan sensor terhadap dirinya sendiri.

Cara seperti ini mengingatkan publik pada pola kekuasaan Orde Baru yang menjadikan stabilitas sebagai alasan untuk mengontrol ruang publik. Bedanya, kini pembungkaman tidak lagi selalu dilakukan secara terang-terangan oleh negara, melainkan melalui jejaring kekuasaan yang bekerja di belakang layar—melibatkan tekanan politik, kepentingan ekonomi, aparat, hingga ketakutan institusi terhadap risiko tertentu.

Ironisnya, forum yang dibatalkan itu justru membahas Reformasi 1998—sebuah tonggak sejarah yang lahir untuk mengakhiri praktik otoritarianisme, korupsi, kolusi, nepotisme, serta dominasi militer dalam kehidupan sipil.
Dulu mahasiswa turun ke jalan karena negara terlalu mencampuri kehidupan warga. Kini, setelah 28 tahun Reformasi, publik kembali menyaksikan bagaimana ruang diskusi dapat dibatalkan hanya karena ada “pihak lain” yang merasa terganggu.

Ini bukan sekadar pembatalan acara. Ini adalah gejala bahwa demokrasi Indonesia sedang bergerak mundur.

Kondisi tersebut semakin terasa ketika kritik publik mulai diposisikan sebagai ancaman, aktivisme sipil dicurigai, dan ruang-ruang diskusi dipersempit. Dalam situasi seperti ini, negara tampak ingin mempertahankan citra stabilitas, tetapi mengorbankan kebebasan sipil yang justru menjadi inti demokrasi.

Lebih berbahaya lagi, generasi muda yang tidak mengalami langsung Orde Baru perlahan mulai hidup dalam situasi yang mirip: rasa takut untuk berbicara, kecemasan terhadap kritik, dan normalisasi pembungkaman atas nama ketertiban.

Padahal Reformasi tidak diperjuangkan untuk melahirkan demokrasi prosedural semata. Reformasi lahir agar warga negara memiliki keberanian untuk berbicara, mengkritik, dan mengawasi kekuasaan tanpa rasa takut.
Karena itu, pembatalan kegiatan ini harus dibaca sebagai alarm serius. Sebab sejarah menunjukkan, otoritarianisme tidak pernah datang secara tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan melalui pembiaran terhadap intimidasi, normalisasi pembungkaman, dan ketakutan masyarakat untuk mempertanyakan kekuasaan.

Dan ketika ruang refleksi Reformasi saja mulai dibungkam, mungkin yang sedang kita saksikan bukan sekadar kemunduran demokrasi, melainkan kembalinya Orde Baru—dengan wajah yang berbeda.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Abah Omtris
Tentang Abah Omtris
Musisi balada juga aktif di berbagai komunitas lainnya

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)