Reformasi Dibungkam, Otoritarianisme Gaya Baru Bangkit Kembali

Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan Kamis 21 Mei 2026, 20:34 WIB
Peringatan 28 Tahun Reformasi 98 di Jakarta. (Foto: Dokumen pribadi)

Peringatan 28 Tahun Reformasi 98 di Jakarta. (Foto: Dokumen pribadi)

Pembatalan sepihak kegiatan peringatan 28 Tahun Reformasi di Jakarta bukan lagi sekadar persoalan administrasi hotel. Peristiwa ini memperlihatkan sesuatu yang lebih serius: bangkitnya kembali watak otoritarianisme Orde Baru dengan wajah yang lebih halus, lebih rapi, tetapi tetap menakutkan.

Kegiatan yang digagas aktivis 98, akademisi, mahasiswa, dan kelompok pekerja itu sedianya menjadi ruang refleksi atas perjalanan Reformasi. Panitia bahkan telah memperoleh surat konfirmasi resmi penggunaan tempat dari Naraya Hotel & Resort serta menyelesaikan seluruh pembayaran. Namun hanya sehari kemudian, acara mendadak dibatalkan tanpa alasan yang jelas.

Yang paling problematis adalah pengakuan panitia bahwa pihak hotel sebelumnya menyebut adanya “pihak lain” yang meminta acara tersebut dibatalkan. Identitas pihak itu tidak pernah dijelaskan. Tetapi justru di situlah letak bahayanya.
Otoritarianisme tidak selalu hadir dalam bentuk larangan terbuka, penangkapan massal, atau sensor resmi seperti pada masa Orde Baru. Dalam demokrasi yang mulai mengalami kemunduran, represi bekerja dengan cara yang lebih samar: tekanan informal, intimidasi tidak langsung, pembatalan ruang diskusi, hingga penciptaan rasa takut agar masyarakat melakukan sensor terhadap dirinya sendiri.

Cara seperti ini mengingatkan publik pada pola kekuasaan Orde Baru yang menjadikan stabilitas sebagai alasan untuk mengontrol ruang publik. Bedanya, kini pembungkaman tidak lagi selalu dilakukan secara terang-terangan oleh negara, melainkan melalui jejaring kekuasaan yang bekerja di belakang layar—melibatkan tekanan politik, kepentingan ekonomi, aparat, hingga ketakutan institusi terhadap risiko tertentu.

Ironisnya, forum yang dibatalkan itu justru membahas Reformasi 1998—sebuah tonggak sejarah yang lahir untuk mengakhiri praktik otoritarianisme, korupsi, kolusi, nepotisme, serta dominasi militer dalam kehidupan sipil.
Dulu mahasiswa turun ke jalan karena negara terlalu mencampuri kehidupan warga. Kini, setelah 28 tahun Reformasi, publik kembali menyaksikan bagaimana ruang diskusi dapat dibatalkan hanya karena ada “pihak lain” yang merasa terganggu.

Ini bukan sekadar pembatalan acara. Ini adalah gejala bahwa demokrasi Indonesia sedang bergerak mundur.

Kondisi tersebut semakin terasa ketika kritik publik mulai diposisikan sebagai ancaman, aktivisme sipil dicurigai, dan ruang-ruang diskusi dipersempit. Dalam situasi seperti ini, negara tampak ingin mempertahankan citra stabilitas, tetapi mengorbankan kebebasan sipil yang justru menjadi inti demokrasi.

Lebih berbahaya lagi, generasi muda yang tidak mengalami langsung Orde Baru perlahan mulai hidup dalam situasi yang mirip: rasa takut untuk berbicara, kecemasan terhadap kritik, dan normalisasi pembungkaman atas nama ketertiban.

Padahal Reformasi tidak diperjuangkan untuk melahirkan demokrasi prosedural semata. Reformasi lahir agar warga negara memiliki keberanian untuk berbicara, mengkritik, dan mengawasi kekuasaan tanpa rasa takut.
Karena itu, pembatalan kegiatan ini harus dibaca sebagai alarm serius. Sebab sejarah menunjukkan, otoritarianisme tidak pernah datang secara tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan melalui pembiaran terhadap intimidasi, normalisasi pembungkaman, dan ketakutan masyarakat untuk mempertanyakan kekuasaan.

Dan ketika ruang refleksi Reformasi saja mulai dibungkam, mungkin yang sedang kita saksikan bukan sekadar kemunduran demokrasi, melainkan kembalinya Orde Baru—dengan wajah yang berbeda.

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Abah Omtris
Tentang Abah Omtris
Musisi balada juga aktif di berbagai komunitas lainnya

Berita Terkait

News Update

Beranda 21 Mei 2026, 21:21

Ekosistem Digital Kian Bising, Media Lokal Didorong Kembali ke Publik

Media lokal didorong kembali mengutamakan kepentingan publik di tengah ancaman AI, hilangnya trafik klik, dan maraknya buzzer di ruang digital.

Pembukaan Jateng Media Summit 2026, Kamis (21/5/2026). (Sumber: Suara.com | Foto: Budi Arista Romadhoni)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 20:34

Reformasi Dibungkam, Otoritarianisme Gaya Baru Bangkit Kembali

Pembatalan sepihak kegiatan peringatan 28 Tahun Reformasi di Jakarta bukan lagi sekadar persoalan administrasi hotel.

Peringatan 28 Tahun Reformasi 98 di Jakarta. (Foto: Dokumen pribadi)
Beranda 21 Mei 2026, 19:31

Papua Bukan Tanah Kosong, Tapi Terus Dianggap Tanah Tanpa Suara

Film Pesta Babi memperlihatkan Papua dari sudut yang jarang terlihat: ketakutan, kehilangan tanah, dan pembangunan yang meninggalkan luka.

Hofni Sibetai mahasiswa asal Papua menyampaikan pandangannya seusai nobar Pesta Babi di Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran, Rabu 20 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 19:03

Malam Jum’at Bukan Sekadar Baca Yasin: Menyelami Kedalaman Ritual Spiritual Warga NU

Ritual kebanyakan warga Nu membaca yasin pada malam jumat sudah menjadi sebuat tradisi

Seorang warga Bandung sedang membaca Alquran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 17:17

Cintapada, Padasuka, Padaasih, Toponim yang Merekam Kekayaan Alam dan Kekhawatiran

Kata 'pada' terdapat dalam berbagai kata dan sering terkait dengan makna alam, tempat, atau daerah.

Kampung Cipadakati di Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Peta: Google maps)
Wisata & Kuliner 21 Mei 2026, 16:00

Jelajah Kuliner Roti Bandung, dari Bakery Viral Kekinian hingga Toko Jadul Legendaris

Bandung punya banyak bakery populer, mulai dari artisan sourdough modern hingga toko roti jadul dengan resep yang hampir tidak berubah.

Ilustrasi roti hits di Bandung.
Ayo Biz 21 Mei 2026, 15:38

Ketika QRIS Jadi ‘Game Changer’ Ekosistem Pembayaran Nasional, UMKM Terbantu Signifikan

QRIS adalah game changer dalam ekosistem pembayaran nasional.

Pegawai Cikopi Mang Eko saat melayani konsumen di Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 21 Mei 2026, 14:48

Dari Tragedi Sampah ke Konservasi, Wajah Baru Eks TPA Leuwigajah

Dua dekade setelah longsor maut 2005, eks TPA Leuwigajah kini dijadikan area konservasi di Cimahi.

Lahan eks TPA Leuwigajah. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 12:20

Ketika Reformasi Mulai Bergulir

Di tengah tekanan Orde Baru yang masih terasa, pers mulai tampil lebih berani.

Sejumlah surat kabar menyoroti gelombang demonstrasi pada era Reformasi Mei 1998. (Sumber: Surat kabar Kedaulatan Rakyat dan Berita Buana | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 09:21

Siswa Tahun 1980-an adalah Generasi Tangguh

Ketangguhan para siswa tahun 1980-an adalah jawaban dalam menangani bebagai permasalahan generasinya.

Ilustrasi siswa. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 08:32

Bandung Review, Membangun Kesadaran Kolektif

Hegemoni sosial seharusnya menjadi semangat untuk membangun kesadaran kolektif, dengan mengadopsi nilai-nilai lokal seperti someah, silih asah, silih asih dan silih asuh untuk membangun kota inklusif

Keramaian kawasan Cikapundung Bandung yang menjadi salah satu pusat aktivitas kota. (Foto: Agus Wahyudi)
Wisata & Kuliner 21 Mei 2026, 08:00

Panduan Wisata ke Kampung Turis Karawang, Oase Pedesaan di Balik Kota Industri

Kampung Turis Karawang menawarkan wisata alam, sawah terasering, waterpark, kuliner Sunda, hingga villa dan camping di kawasan Tegalwaru.

Kampung Turis Karawang.
Ayo Biz 20 Mei 2026, 20:38

Suara QRIS di Gang Sempit yang Menemani Dimsum Inmons Raup Omzet Rp350 Juta

Dimsum Inmons dari UMKM rumahan menjadi brand dengan omzet tidak kurang dari Rp 350 juta per bulan.

Ani Andriyani (baju merah; pemilik Dimsum Inmons) bersama para karyawannya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Biz 20 Mei 2026, 19:54

Perjalanan Dimsum Inmons dari Gang Sempit Cicadas ke Pasar Nasional

Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung yang lahir dari sebuah gang kecil, membuktikan bahwa konsistensi dan inovasi bisa mengantarkan produk lokal ke pasar yang jauh lebih luas.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung yang lahir dari sebuah gang kecil Cicadas. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 20 Mei 2026, 17:59

Cerita Iwong, Bobotoh yang Hidupkan Legenda Persib Lewat Patung Resin

Kisah Iwong, bobotoh asal Bandung yang membuat patung Bojan Hodak, Jajang Nurjaman, hingga Umuh Muhtar.

Iwong, Bobotoh Persib yang membuat patung Bojan Hodak, Jajang Nurjaman, Indra Tohir dan Umuh Muhtar. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 17:34

Bertahan di Dunia Praktisi yang Membedakan Mahasiswa Berdasarkan Alamamater

Almamater bukan salah satu tolak ukur bagi kualitas seorang mahasiswa.

Almamater bukan salah satu tolak ukur bagi kualitas seorang mahasiswa. Sehingga memberikan kesempatan yang sama dalam hal belajar adalah hak yang harus diberikan secara penuh tanpa membeda-bedakan. (Sumber: Sumber Gambar: Ilustrasi AI)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 15:21

Profil Dr. Dewi Turgarini: Pionir Wisata Gastronomi dan Pelestari Warisan Budaya Indonesia

Dalam diskursus pariwisata kontemporer di Indonesia, Dr. Dewi Turgarini, S.S., MM.Par., berdiri sebagai figur sentral yang mendefinisikan ulang makna kuliner tradisional.

Dr. Dewi Turgarini, S.S., MM.Par., figur sentral yang mendefinisikan ulang makna kuliner tradisional. (Sumber: UPI)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)