Sejarah Flyover Pasupati Bandung, Gagasan Kolonial yang Dieksekusi Setelah Reformasi

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Senin 03 Nov 2025, 18:54 WIB
Flyover Pasupati Bandung. (Sumber: Ayobandung)

Flyover Pasupati Bandung. (Sumber: Ayobandung)

AYOBANDUNG.ID - Setiap kali kendaraan meluncur di atas Jembatan Layang Pasupati, suara mesin dan desing angin di lembah Cikapundung seolah menutupi sejarah panjang yang membentang lebih dari satu abad. Di bawah bentangan beton sepanjang 2,8 kilometer itu, tersimpan jejak para perencana, krisis politik, dan impian kota modern yang berkali-kali tertunda sebelum akhirnya menjadi nyata.

Sejarahnya bermula jauh sebelum Indonesia merdeka. Pada tahun 1920-an, Bandung masih menjadi kota resort bagi kaum elite Hindia Belanda. Mereka menyebutnya Paris van Java, sebuah kota pegunungan dengan taman-taman rapi dan udara sejuk, tempat pejabat kolonial beristirahat dari hiruk-pikuk Batavia. Namun, di balik keindahan itu, masalah klasik kota mulai terasa: kemacetan di kawasan lembah Cikapundung yang memisahkan wilayah barat dan timur kota.

Thomas Karsten, seorang arsitek dan perencana kota Belanda yang idealis, melihat celah itu sebagai tantangan. Dalam rancangan besar Autostrada, proyek ambisius untuk membangun jaringan jalan modern di Bandung, ia menyisipkan ide membangun jalan layang yang menghubungkan Pasteurweg (sekarang Jalan Pasteur) di barat dengan Dagoweg atau jalan Dago di timur. Rancangan itu bukan sekadar proyek transportasi, melainkan bagian dari visi kota taman yang terintegrasi dengan lanskap alam.

Karsten membayangkan sebuah jalan yang melayang di atas lembah, menghindari jalur padat di bawah seperti Pasir Kaliki, Cipaganti, dan Cihampelas. Namun, teknologi beton bertulang dan dana pembangunan di masa itu belum memungkinkan proyek semegah itu diwujudkan. Pemerintah kolonial pun lebih sibuk menggelontorkan anggaran ke Batavia, pusat administrasi Hindia Belanda.

Baca Juga: Sejarah Panjang ITB, Kampus Insinyur Impian Kolonial di Tanah Tropis

Beberapa sumber mencatat rancangan Karsten sempat disebut sebagai “Paspati”, sebuah nama yang kemudian dihindari karena berkonotasi “pas mati” dalam bahasa Sunda. Maka, lahirlah nama “Pasupati,” akronim dari Pasteur-Surapati, yang kelak lebih berterima dan menggambarkan fungsi utamanya: penghubung dua arteri kota Bandung.

Tapi setelah itu, rencana itu mengendap di laci sejarah selama puluhan tahun. Krisis ekonomi 1930-an dan Perang Dunia II menenggelamkan banyak proyek kolonial ambisius. Dan ketika Republik Indonesia berdiri pada 1945, mimpi itu masih sebatas sketsa tua di arsip perencana kota.

Baru Terealisasi Setelah Reformasi

Lompatan besar baru terjadi hampir delapan dekade kemudian. Pada awal 1990-an, Bandung kian padat. Jalan Pasteur, sebagai pintu utama dari arah Jakarta, macet saban akhir pekan. Lalu lintas di lembah Cikapundung menjadi mimpi buruk: kendaraan dari arah barat ke timur tersendat, sementara pembangunan kota terus bergerak. Para insinyur mulai menggali kembali arsip-arsip tua, dan nama “Pasupati” muncul lagi.

Tapi, ide besar butuh dana besar. Pemerintah Indonesia akhirnya menggandeng Kuwait Fund for Arab Economic Development (KFAED) untuk membiayai proyek senilai Rp 437 miliar. Sebuah langkah yang, di atas kertas, tampak menjanjikan. Meskipun di lapangan penuh drama.

Krisis moneter Asia 1998 menghantam keras. Ketika nilai rupiah terjun bebas dan Soeharto lengser, proyek yang baru disetujui itu langsung kena imbas: pinjaman dihentikan sementara. Dana mengering, alat berat berhenti bekerja, dan para pekerja pulang. Loan suspension dari Kuwait berlangsung dua kali, membuat proyek ini seperti mayat hidup: ada di daftar pembangunan nasional, tapi tak bergerak sedikit pun.

Baca Juga: Sejarah Stadion Sidolig, Saksi Bisu Perjuangan Sepak Bola Bandung

Flyover Pasupati Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Flyover Pasupati Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Butuh diplomasi panjang antara Jakarta dan Kuwait City untuk menghidupkan kembali proyek itu. Di masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri, dengan lobi lintas kementerian dan dukungan politik tingkat tinggi, KFAED akhirnya menyetujui renegosiasi. Pada 19 Juli 2003, proyek Pasupati resmi dilanjutkan.

Pembangunan dimulai serius pada Oktober 2001 dan berlangsung hingga 2005, dengan PT Wijaya Karya dan PT Waskita Karya menggandeng kontraktor Kuwait, Combined Group Co. Tapi sekali lagi, tak semua berjalan mulus. Lahan di Tamansari, daerah padat penduduk di bawah trase jembatan, menjadi medan perlawanan. Puluhan keluarga menolak direlokasi, menuntut ganti rugi yang lebih layak. Pemerintah Kota Bandung harus turun tangan, menengahi sengketa yang berlarut-larut.

Di tengah semua itu, ada pula tantangan teknis. Lembah Cikapundung bukan tempat ramah bagi konstruksi berat. Curam, berangin, dan rawan gempa. Untuk itu, para insinyur memutuskan memakai teknologi cable stayed bridge atau jembatan gantung tanpa tiang tengah sepanjang 161 meter, menopang bentang utama dengan 19 kabel baja raksasa.

Baca Juga: Sejarah Tol Cipularang, Jalan Cepat Pertama ke Bandung yang Dibangun dari Warisan Krisis

Selain itu, ada pula inovasi anti-gempa: 76 unit Lock Up Device (LUD) buatan Prancis dipasang di bawah jembatan untuk menyerap getaran bumi. Ini adalah teknologi pertama di Indonesia yang diterapkan pada proyek publik besar. Setiap segmen beton precast seberat 80 hingga 140 ton diangkat perlahan, seperti potongan puzzle yang membentuk tubuh raksasa di atas lembah.

Pada awalnya, pemerintah menargetkan Pasupati rampung sebelum Konferensi Asia Afrika pada April 2005 unuk memamrkan simbol anyar Bandung baru di mata dunia. Tapi jadwal itu meleset. Uji coba baru dilakukan pada 26 Juni 2005, dan peresmian resmi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono digelar pada 12 Juli 2005.

Bukan hal yang mengejutkan bagi warga Bandung, yang sudah terbiasa dengan proyek besar yang molor. Tapi begitu jembatan itu dibuka, hasilnya langsung terasa: lalu lintas Pasteur–Surapati yang dulunya padat kini mengalir lancar. Warga menyambutnya dengan euforia. Malam hari, lampu-lampu di kabel jembatan menjadikan Pasupati seperti gelang cahaya raksasa yang melintang di langit kota.

Pemerintah Kota Bandung kemudian memanfaatkan ruang di bawah jembatan menjadi taman kota. Taman Pasupati—atau yang dikenal warga sebagai Taman Jomblo—menjadi simbol baru kota muda yang kreatif. Beton, yang biasanya dingin dan kaku, diubah menjadi ruang sosial yang hidup.

Waktu berjalan cepat. Pada 1 Maret 2022, di bawah kepemimpinan Ridwan Kamil, jembatan itu resmi berganti nama menjadi Jembatan Layang Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja. Nama baru itu adalah penghormatan untuk sosok besar asal Bandung, ahli hukum laut internasional yang memperjuangkan konsep Wawasan Nusantara di forum dunia.

Ridwan Kamil beralasan, perubahan nama ini bukan sekadar simbolik. Mochtar adalah figur yang “menyatukan” wilayah laut Indonesia, sebagaimana jembatan ini menghubungkan dua bagian kota yang lama terpisah. “Dua-duanya menghubungkan—satu daratan, satu lautan,” ujarnya dalam peresmian kala itu.

Tapi di benak warga, nama “Pasupati” tetap melekat. Mereka masih menyebutnya begitu, baik di peta digital maupun obrolan sehari-hari. Nama itu sudah menjadi bagian dari identitas Bandung layaknya Dago, Braga, dan Cihampelas.

Kini, dua puluh tahun sejak diresmikan, Jembatan Pasupati telah menjadi saksi perubahan wajah Bandung. Dari kota yang dulu sejuk dan tenang, kini penuh dengan lampu-lampu kendaraan dan gedung tinggi yang memantulkan cahaya malam.

Baca Juga: Sejarah Pindad, Pindah ke Bandung Gegara Perang Dunia

Di bawahnya, lalu lintas tak pernah berhenti. Di atasnya, angin selalu berhembus kencang, membawa kenangan panjang tentang impian yang sempat tertunda hampir satu abad—tentang kota yang selalu ingin bergerak maju, meski langkahnya sering terseok oleh politik, krisis, dan waktu.

Flyover Pasupati, atau apapun orang menyebutnya hari ini, tetap berdiri sebagai monumen dari daya tahan ide dan waktu. Sebuah jembatan yang bukan hanya menghubungkan dua ruas jalan, tapi juga dua era: Bandung yang dulu, dan Bandung yang sekarang.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Beranda 04 Feb 2026, 09:42 WIB

Jika Kebun Binatang Bandung Hilang, Apa yang Tersisa dari Kota Ini?

Tempat ini merupakan rangkaian panjang sejarah dan ungkapan cinta warga kota yang telah terbangun sejak satu abad lalu.
Pegunjung memanfaatkan Kawasan Kebun Binatang Bandung yang rindang dan sejuk untuk berkumpul dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 09:39 WIB

Aan Merdeka Permana Penulis Spesialis Tema Padjadjaran

Yayasan Kebudayaan Rancagé menetapkan sastrawan Sunda senior Aan Merdeka Permana sebagai peraih Hadiah Jasa 2026.
Buku-buku karya Aan Merdeka Permana. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 08:04 WIB

Ngabuburit dari Masa ke Masa

Ngabuburit di kota Bandung mengalami pergeseran nilai dan aktifitas serta cara melakukannya.
Masjid Al-Jabar di Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Andry Sasongko)
Bandung 03 Feb 2026, 21:16 WIB

Misi Kemanusiaan dan Esensi CSR Berkelanjutan dalam Memulihkan Luka Bencana Cisarua

CSR berkelanjutan bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang hadir dan tetap ada hingga masyarakat benar-benar mampu berdiri kembali di atas kaki sendiri.
Dalam skenario bencana sebesar Cisarua, kecepatan respons adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa dan harapan. (Sumber: SANY Indonesia)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 19:40 WIB

Kisah Sentra Karangan Bunga Pasirluyu Bandung, Panen Rezeki saat Rajab dan Syaban

Jalan Pasirluyu Selatan Bandung berubah menjadi sentra karangan bunga. Bulan Rajab dan Syaban membawa lonjakan pesanan papan ucapan pernikahan dan hajatan.
Salah satu deretan toko bunga di Pasirluyu, Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 03 Feb 2026, 19:00 WIB

Info Ciumbuleuit, Homeless Media yang Hidup dari Kepercayaan Warga Sekitar

“Kalau sampai ada yang keberatan atau komplain, jujur saja bingung mau berlindung ke siapa. Kita kan nggak punya lembaga atau badan hukum,” tuturnya.
Pemilik dan pengelola akun Info Ciumbuleuit, Dio Rama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 18:19 WIB

UU ITE dan Ancaman Kebebasan Ekspresi: Menggugat Pelanggaran Asas Lex Certa

Menganalisis pelanggaran asas lex certa dalam UU ITE yang memicu chilling effect dan mengancam kebebasan berekspresi serta kualitas demokrasi di Indonesia.
Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 17:02 WIB

Lakon Kelaparan dan Kemiskinan Melalui Puasa Ramadan

Puasa itu mengajarkan menahan diri, zakat menyempurnakannya. Ia menumbuhkan kesadaran sosial dan kebahagiaan bagi sesama.
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:33 WIB

Sejarah Pasteur Bandung, Jejak Peradaban Ilmu Pengetahuan di Kota Kembang

Kawasan Pasteur Bandung tumbuh dari pusat riset vaksin kolonial menjadi simpul penting ilmu kesehatan nasional yang jejaknya masih bertahan hingga kini.
Suasana di Jalan Pasteur, Kota Bandung. Salah satu titik lalu lintas yang selalu padat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:31 WIB

Hikayat Indische Partij, Partai Politik Pertama yang Lahir dari Bandung

Didirikan di Bandung pada 1912, Indische Partij menjadi organisasi politik pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan penuh dari kekuasaan kolonial Belanda.
Logo Indische Partij.
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 15:13 WIB

Di Tengah Tekanan Zaman, Seni Menjadi Cara Bertahan

Di tengah kecemasan, kisah “Nihilist Penguin” bertemu tekanan hidup kota. Dari luka personal lahir Florist Project dan lagu “Cemas”, seni yang tak menggurui, tapi menemani manusia belajar bertahan.
Belajar dan menanamkan cinta pada anak-anak (Sumber: Arsip Penulis, Ekspedisi Nusantara Jaya 2016)
Bandung 03 Feb 2026, 12:52 WIB

Berlari Menjemput Cahaya Pendidikan: Jejak Kebaikan di Balik DH Run 2026

Di balik kemeriahan medali dan garis finis, DH Run 2026 membawa misi sosial yang menyentuh akar kehidupan.
Konferensi pers DH Run 2026 yang membawa misi sosial untuk menyentuh akar kehidupan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 12:43 WIB

Raih Hadiah Jasa Rancage, Aan M.P. Sebut KDM Tidak Senang Bantu Sastrawan Miskin

Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa.
Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 11:11 WIB

Tema Ayo Netizen Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Tema ini menjadi ajakan terbuka bagi para penulis Ayo Netizen untuk mengirim tulisan terbaik.
Ayo Netizen Ayobandung.id mengangkat tema "Bandung Raya dan Bulan Puasa: Tradisi, Ekonomi, dan Realita Saat Ini" untuk edisi Februari 2026. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan AI ChatGPT)
Bandung 03 Feb 2026, 10:58 WIB

Dari Kaki Lima ke Ruko Lantai Tiga: Strategi Awug Cibeunying Bertahan di Tengah Zaman

Rizky turut serta menjaga kualitas dan kuantitas awug supaya tetap terjaga meski pasang-surut perubahan zaman telah dihadapi bersama keluarga besarnya selama membangun bisnis ini.
Kios Awug Cibeunying. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 09:36 WIB

Kian Banyak Tertemper Kereta Api, Perlintasan Sebidang Titik Paling Mematikan

Setelah perlintasan sebidang dibangun jalan layang atau terowongan, ternyata kebijakan daerah sangat lemah.
Perlintasan sebidang di Cimindi yang sangat rawan. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Bandung 03 Feb 2026, 09:19 WIB

Digitalisasi Jejak Karbon: Menakar Teknologi Berkelanjutan dalam Layanan Pelanggan Singapore Airlines

Penumpang dan pelanggan kargo SIA dapat menghitung dan mengimbangi emisi karbon penerbangan mereka, baik sebelum maupun setelah terbang.
Maskapai Singapore Airlines. (Sumber: Singapore Air)
Beranda 03 Feb 2026, 07:12 WIB

Di Antapani, Komunitas Temu Tumbuh Menjadi Tempat Pulang bagi Percakapan yang Jujur

Nilai-nilai dalam kacamata tuntutan masyarakat inilah yang kemudian memantik kecenderungan rasa cemas manusia di masa kini.
Komunitas Temu Tumbuh membuka ruang diskusi yang aman dan nyaman untuk saling berbagi dan bertumbuh. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 19:47 WIB

Susah Payah Menjaga Tertib Bahasa Dicengkram Mesin Algoritma

Standar Bahasa Indonesia perlahan tidak lagi dibentuk oleh komunitas diskusi, melainkan oleh mesin berbasis data global.
Ilustrasi bahasa mesin yang menentukan algoritma. (Sumber: Sketsa oleh ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 17:43 WIB

Quo Vadis BKKBN dalam Kepungan Patologi Sosial

Jika fenomena YOLO, FOMO, dan FOPO dihubungkan, muncul gambaran yang lebih luas mengenai bagaimana komunikasi digital mempengaruhi kesehatan mental individu.
Ilustrasi perubahan perilaku generasi milenial dan Z. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)