Sejarah Flyover Pasupati Bandung, Gagasan Kolonial yang Dieksekusi Setelah Reformasi

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Flyover Pasupati Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Flyover Pasupati Bandung. (Sumber: Ayobandung)

AYOBANDUNG.ID - Setiap kali kendaraan meluncur di atas Jembatan Layang Pasupati, suara mesin dan desing angin di lembah Cikapundung seolah menutupi sejarah panjang yang membentang lebih dari satu abad. Di bawah bentangan beton sepanjang 2,8 kilometer itu, tersimpan jejak para perencana, krisis politik, dan impian kota modern yang berkali-kali tertunda sebelum akhirnya menjadi nyata.

Sejarahnya bermula jauh sebelum Indonesia merdeka. Pada tahun 1920-an, Bandung masih menjadi kota resort bagi kaum elite Hindia Belanda. Mereka menyebutnya Paris van Java, sebuah kota pegunungan dengan taman-taman rapi dan udara sejuk, tempat pejabat kolonial beristirahat dari hiruk-pikuk Batavia. Namun, di balik keindahan itu, masalah klasik kota mulai terasa: kemacetan di kawasan lembah Cikapundung yang memisahkan wilayah barat dan timur kota.

Thomas Karsten, seorang arsitek dan perencana kota Belanda yang idealis, melihat celah itu sebagai tantangan. Dalam rancangan besar Autostrada, proyek ambisius untuk membangun jaringan jalan modern di Bandung, ia menyisipkan ide membangun jalan layang yang menghubungkan Pasteurweg (sekarang Jalan Pasteur) di barat dengan Dagoweg atau jalan Dago di timur. Rancangan itu bukan sekadar proyek transportasi, melainkan bagian dari visi kota taman yang terintegrasi dengan lanskap alam.

Karsten membayangkan sebuah jalan yang melayang di atas lembah, menghindari jalur padat di bawah seperti Pasir Kaliki, Cipaganti, dan Cihampelas. Namun, teknologi beton bertulang dan dana pembangunan di masa itu belum memungkinkan proyek semegah itu diwujudkan. Pemerintah kolonial pun lebih sibuk menggelontorkan anggaran ke Batavia, pusat administrasi Hindia Belanda.

Baca Juga: Sejarah Panjang ITB, Kampus Insinyur Impian Kolonial di Tanah Tropis

Beberapa sumber mencatat rancangan Karsten sempat disebut sebagai “Paspati”, sebuah nama yang kemudian dihindari karena berkonotasi “pas mati” dalam bahasa Sunda. Maka, lahirlah nama “Pasupati,” akronim dari Pasteur-Surapati, yang kelak lebih berterima dan menggambarkan fungsi utamanya: penghubung dua arteri kota Bandung.

Tapi setelah itu, rencana itu mengendap di laci sejarah selama puluhan tahun. Krisis ekonomi 1930-an dan Perang Dunia II menenggelamkan banyak proyek kolonial ambisius. Dan ketika Republik Indonesia berdiri pada 1945, mimpi itu masih sebatas sketsa tua di arsip perencana kota.

Baru Terealisasi Setelah Reformasi

Lompatan besar baru terjadi hampir delapan dekade kemudian. Pada awal 1990-an, Bandung kian padat. Jalan Pasteur, sebagai pintu utama dari arah Jakarta, macet saban akhir pekan. Lalu lintas di lembah Cikapundung menjadi mimpi buruk: kendaraan dari arah barat ke timur tersendat, sementara pembangunan kota terus bergerak. Para insinyur mulai menggali kembali arsip-arsip tua, dan nama “Pasupati” muncul lagi.

Tapi, ide besar butuh dana besar. Pemerintah Indonesia akhirnya menggandeng Kuwait Fund for Arab Economic Development (KFAED) untuk membiayai proyek senilai Rp 437 miliar. Sebuah langkah yang, di atas kertas, tampak menjanjikan. Meskipun di lapangan penuh drama.

Krisis moneter Asia 1998 menghantam keras. Ketika nilai rupiah terjun bebas dan Soeharto lengser, proyek yang baru disetujui itu langsung kena imbas: pinjaman dihentikan sementara. Dana mengering, alat berat berhenti bekerja, dan para pekerja pulang. Loan suspension dari Kuwait berlangsung dua kali, membuat proyek ini seperti mayat hidup: ada di daftar pembangunan nasional, tapi tak bergerak sedikit pun.

Baca Juga: Sejarah Stadion Sidolig, Saksi Bisu Perjuangan Sepak Bola Bandung

Flyover Pasupati Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Flyover Pasupati Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Butuh diplomasi panjang antara Jakarta dan Kuwait City untuk menghidupkan kembali proyek itu. Di masa pemerintahan Megawati Soekarnoputri, dengan lobi lintas kementerian dan dukungan politik tingkat tinggi, KFAED akhirnya menyetujui renegosiasi. Pada 19 Juli 2003, proyek Pasupati resmi dilanjutkan.

Pembangunan dimulai serius pada Oktober 2001 dan berlangsung hingga 2005, dengan PT Wijaya Karya dan PT Waskita Karya menggandeng kontraktor Kuwait, Combined Group Co. Tapi sekali lagi, tak semua berjalan mulus. Lahan di Tamansari, daerah padat penduduk di bawah trase jembatan, menjadi medan perlawanan. Puluhan keluarga menolak direlokasi, menuntut ganti rugi yang lebih layak. Pemerintah Kota Bandung harus turun tangan, menengahi sengketa yang berlarut-larut.

Di tengah semua itu, ada pula tantangan teknis. Lembah Cikapundung bukan tempat ramah bagi konstruksi berat. Curam, berangin, dan rawan gempa. Untuk itu, para insinyur memutuskan memakai teknologi cable stayed bridge atau jembatan gantung tanpa tiang tengah sepanjang 161 meter, menopang bentang utama dengan 19 kabel baja raksasa.

Baca Juga: Sejarah Tol Cipularang, Jalan Cepat Pertama ke Bandung yang Dibangun dari Warisan Krisis

Selain itu, ada pula inovasi anti-gempa: 76 unit Lock Up Device (LUD) buatan Prancis dipasang di bawah jembatan untuk menyerap getaran bumi. Ini adalah teknologi pertama di Indonesia yang diterapkan pada proyek publik besar. Setiap segmen beton precast seberat 80 hingga 140 ton diangkat perlahan, seperti potongan puzzle yang membentuk tubuh raksasa di atas lembah.

Pada awalnya, pemerintah menargetkan Pasupati rampung sebelum Konferensi Asia Afrika pada April 2005 unuk memamrkan simbol anyar Bandung baru di mata dunia. Tapi jadwal itu meleset. Uji coba baru dilakukan pada 26 Juni 2005, dan peresmian resmi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono digelar pada 12 Juli 2005.

Bukan hal yang mengejutkan bagi warga Bandung, yang sudah terbiasa dengan proyek besar yang molor. Tapi begitu jembatan itu dibuka, hasilnya langsung terasa: lalu lintas Pasteur–Surapati yang dulunya padat kini mengalir lancar. Warga menyambutnya dengan euforia. Malam hari, lampu-lampu di kabel jembatan menjadikan Pasupati seperti gelang cahaya raksasa yang melintang di langit kota.

Pemerintah Kota Bandung kemudian memanfaatkan ruang di bawah jembatan menjadi taman kota. Taman Pasupati—atau yang dikenal warga sebagai Taman Jomblo—menjadi simbol baru kota muda yang kreatif. Beton, yang biasanya dingin dan kaku, diubah menjadi ruang sosial yang hidup.

Waktu berjalan cepat. Pada 1 Maret 2022, di bawah kepemimpinan Ridwan Kamil, jembatan itu resmi berganti nama menjadi Jembatan Layang Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja. Nama baru itu adalah penghormatan untuk sosok besar asal Bandung, ahli hukum laut internasional yang memperjuangkan konsep Wawasan Nusantara di forum dunia.

Ridwan Kamil beralasan, perubahan nama ini bukan sekadar simbolik. Mochtar adalah figur yang “menyatukan” wilayah laut Indonesia, sebagaimana jembatan ini menghubungkan dua bagian kota yang lama terpisah. “Dua-duanya menghubungkan—satu daratan, satu lautan,” ujarnya dalam peresmian kala itu.

Tapi di benak warga, nama “Pasupati” tetap melekat. Mereka masih menyebutnya begitu, baik di peta digital maupun obrolan sehari-hari. Nama itu sudah menjadi bagian dari identitas Bandung layaknya Dago, Braga, dan Cihampelas.

Kini, dua puluh tahun sejak diresmikan, Jembatan Pasupati telah menjadi saksi perubahan wajah Bandung. Dari kota yang dulu sejuk dan tenang, kini penuh dengan lampu-lampu kendaraan dan gedung tinggi yang memantulkan cahaya malam.

Baca Juga: Sejarah Pindad, Pindah ke Bandung Gegara Perang Dunia

Di bawahnya, lalu lintas tak pernah berhenti. Di atasnya, angin selalu berhembus kencang, membawa kenangan panjang tentang impian yang sempat tertunda hampir satu abad—tentang kota yang selalu ingin bergerak maju, meski langkahnya sering terseok oleh politik, krisis, dan waktu.

Flyover Pasupati, atau apapun orang menyebutnya hari ini, tetap berdiri sebagai monumen dari daya tahan ide dan waktu. Sebuah jembatan yang bukan hanya menghubungkan dua ruas jalan, tapi juga dua era: Bandung yang dulu, dan Bandung yang sekarang.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)