Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Sejarah Tol Cipularang, Jalan Cepat Pertama ke Bandung yang Dibangun dari Warisan Krisis

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Kamis 23 Okt 2025, 18:40 WIB
Tol Cipularang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Tol Cipularang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Sebelum Cipularang berdiri, Bandung terasa seperti dunia lain bagi warga Jakarta: jauh, berliku, namun lengang meskipun di akhir pekan. Tapi sejak tol ini dibuka, jarak psikologis itu lenyap. Bandung menjadi halaman belakang ibu kota, dan sebaliknya, Jakarta menjadi tempat pulang bagi banyak orang yang menetap di selatan. Dari kilometer nol hingga kilometer seratus, Cipularang menjadi semacam garis waktu yang memisahkan dua era: sebelum dan sesudah kecepatan.

Ketika seseorang menginjakkan kaki di gerbang Tol Cikampek menuju Bandung, barangkali tak banyak yang tahu bahwa jalan lurus nan mulus itu pernah terhenti di tengah jalan sejarah. Di atas aspal yang kini dilalui ribuan kendaraan tiap hari, tersimpan kisah panjang tentang ambisi negara, kegagalan, dan kebangkitan—serta sedikit bumbu mistis yang tak pernah benar-benar lenyap dari ingatan masyarakat. Nama resminya Jalan Tol Cikampek–Purwakarta–Padalarang, tapi orang-orang lebih suka menyebutnya dengan cara yang lebih singkat dan akrab: Tol Cipularang.

Tol sepanjang sekitar 54 kilometer ini ibarat pembuluh darah yang menghubungkan jantung ekonomi Jakarta dengan paru-paru budaya dan pendidikan Bandung. Waktu tempuh yang dulu mencapai tiga hingga empat jam lewat jalur Puncak kini bisa diselesaikan dalam satu setengah jam, asal tak macet dan rem mobil berfungsi baik di turunan legendaris KM 100. Tapi kisah tentang bagaimana tol ini lahir jauh lebih panjang daripada jarak yang ia hubungkan.

Ide awal mula tol ini muncul pada awal 1990-an, masa ketika Indonesia masih mabuk pembangunan. Pemerintah ingin menghubungkan Jakarta dengan Bandung lewat jalur yang lebih cepat dan modern, bukan jalan berkelok penuh truk di Subang atau Puncak. Maka lahirlah rencana yang kala itu terdengar futuristik: jalan tol Cikarang–Jonggol–Cianjur–Padalarang, atau disingkat Cigolarang.

Baca Juga: Dari Barak Tentara ke Istana, Sejarah Mobil Maung Pindad Buatan Bandung

Konsorsium Citra Ganesha gabungan Grup Citra milik keluarga Cendana, perusahaan Travalgar, dan Jasa Marga mendapat hak membangunnya pada 1991. Jalurnya dirancang berbelok ke selatan dari Tambun, melintasi Jonggol yang kala itu digadang-gadang bakal jadi ibu kota baru Indonesia. Tapi seperti banyak proyek besar di era Orde Baru, rencana itu lebih banyak hidup di papan gambar ketimbang di tanah lapang.

Selama lima tahun, konsorsium tidak berhasil menancapkan satu pun fondasi berarti. Lalu datanglah badai besar tahun 1997: krisis moneter. Rupiah tumbang, kontraktor kabur, dan proyek Cigolarang tenggelam bersama mimpi pemindahan ibu kota. Pada 2001, pemerintah mencabut izin konsorsium karena tak ada kemajuan berarti.

Selama bertahun-tahun, Bandung tetap menunggu. Jalan Puncak masih menjadi favorit pelancong, dan Purwakarta menjadi jalur utama logistik meski macet setiap akhir pekan. Sementara itu, industri tekstil, pariwisata, dan pendidikan di Bandung berkembang cepat, tapi akses menuju Jakarta tetap seperti jalan menuju masa lalu: padat, lama, dan penuh risiko.

Titik balik datang pada 2003. Pemerintah Megawati Soekarnoputri membutuhkan infrastruktur baru untuk menyambut Konferensi Asia-Afrika ke-50 di Bandung pada 2005. Ini bukan sekadar peringatan sejarah, tapi panggung diplomatik di mana Indonesia ingin menunjukkan kemajuan. Maka proyek tol yang lama mati suri itu dihidupkan lagi, kini dengan nama baru: Tol Cipularang.

Jasa Marga dipercaya untuk mengeksekusi pembangunan, bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Pengerjaan dibagi dua tahap. Tahap pertama, Cikampek–Sadang sepanjang 17 kilometer, dimulai pada 2002 dan selesai pada 2004 dengan biaya sekitar Rp745 miliar. Tahap kedua, Sadang–Padalarang sepanjang 41 kilometer, menyusul tak lama kemudian.

Pembangunan ini tidak mudah. Para insinyur harus menaklukkan medan pegunungan timur Jatiluhur—tanah labil, lembah curam, dan struktur batu yang keras kepala. Mereka membangun jembatan-jembatan megah seperti Cikubang sepanjang 520 meter, Cipada 720 meter, hingga Cisomang yang menjulang setinggi 100 meter di atas lembah hijau. Di titik ini, Cipularang bukan sekadar jalan tol; ia adalah karya arsitektur di tengah perbukitan Jawa Barat.

Pada 26 April 2005, Tol Cipularang diresmikan penuh. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemudian menandainya kembali pada Juli tahun itu. Para delegasi KTT Asia-Afrika pun meluncur dari Jakarta ke Bandung dengan waktu tempuh yang lebih singkat dari masa penantian proyeknya sendiri.

Baca Juga: Sejarah Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung, Wariskan Beban Gunungan Utang ke China

Tapi, tak lama setelah euforia itu, bumi mulai berbicara.

Tol Cipularang. (Sumber: Ayobandung)
Tol Cipularang. (Sumber: Ayobandung)

Kecelakaan dan Legenda Gunung Hejo

Hanya beberapa bulan setelah dibuka, Tol Cipularang mulai retak—secara harfiah. Pada 28 November 2005, sebagian jalan di KM 91,6 Pasir Honje, Purwakarta amblas. Dua bulan kemudian, bagian lain di KM 96,8 mengalami nasib serupa. Pemerintah buru-buru memperbaiki dan melarang truk besar melintas demi mengurangi tekanan tanah. Larangan ini, yang bermula dari darurat teknis, kini menjadi kebijakan permanen.

Persoalan berikutnya datang dari arah kendaraan. Ruas KM 90–100, yang membentang di area pegunungan, menjadi titik paling rawan kecelakaan. Jalan dari arah Bandung menurun panjang dan licin ketika hujan, sementara arah sebaliknya menanjak curam. Banyak kendaraan kehilangan kendali.

Kasus paling terkenal terjadi pada 3 September 2011. Penyanyi dangdut Saipul Jamil mengalami kecelakaan tunggal di KM 97; istrinya meninggal di tempat. Bertahun-tahun kemudian, pada November 2024, kecelakaan beruntun kembali terjadi di KM 92. Sebuah truk pengangkut kardus kehilangan kendali dan menabrak belasan mobil, menewaskan satu orang dan melukai puluhan lainnya.

Pemerintah telah mencoba banyak cara untuk menekan angka kecelakaan: pembatasan kecepatan 80 km/jam di area curam, pemasangan rambu tambahan, hingga rest area baru di KM 72, 88, dan 97. Tapi tetap saja, Cipularang punya reputasi yang membuat pengemudi menurunkan gas secara naluriah begitu memasuki kilometer 90-an.

Pemcunya, mungkin karena jalan ini tidak hanya menembus bukit, tapi juga menembus sesuatu yang lebih dalam: kepercayaan dan mitos masyarakat.

Baca Juga: Sejarah Seblak, Kuliner Pedas Legendaris yang jadi Favorit Warga Bandung

Gunung Hejo di Kecamatan Darangdan, Purwakarta, misalnya. Gunung kecil ini dipercaya sebagai tempat keramat peninggalan Prabu Siliwangi, raja besar Pajajaran. Saat proyek tol dikerjakan, rencana awal menembus gunung itu dibatalkan. Alat berat sering rusak misterius, pekerja mengaku melihat bayangan, dan beberapa tewas karena jatuh. Akhirnya jalur diubah, memutar sedikit, seperti memberi penghormatan pada sesuatu yang tak kasat mata.

Cerita berkembang bahwa kecelakaan di tol ini bukan semata akibat rem blong, melainkan "tumbal" bagi penunggu gunung yang marah karena janji pembangunan musala di kaki gunung tak ditepati. Kisah ini terus beredar di forum daring dan kanal misteri, menjadikan Cipularang bukan hanya tol cepat, tapi juga tol paling angker di Indonesia.

Tentu saja, para insinyur punya penjelasan lain: kontur tanah di sana memang labil, dan kelembapan tinggi membuat aspal mudah bergeser. Tapi di negeri yang selalu menyimpan hubungan rumit antara sains dan supranatural, dua versi kebenaran bisa hidup berdampingan.

Terlepas dari mitosnya, Tol Cipularang telah mengubah wajah Jawa Barat. Sejak dibuka, ekonomi di sepanjang jalur ini tumbuh pesat. Purwakarta menjelma kawasan industri dan logistik. Bandung semakin ramai oleh wisatawan dari Jakarta yang bisa datang hanya untuk akhir pekan. Harga tanah di Lembang, Cimahi, hingga Padalarang melambung bersama arus kendaraan di tol ini.

Barang-barang dari pabrik di Bandung kini meluncur lebih cepat ke pelabuhan dan pasar Jakarta. Pemerintah bahkan berencana memperluas konektivitasnya lewat tol baru Sukabumi–Ciranjang–Padalarang (Sucilarang), bagian dari jaringan besar Purbaleunyi.

Kini, dua dekade setelah peresmiannya, Tol Cipularang masih berdiri sebagai salah satu jalur tersibuk dan paling vital di Indonesia. Setiap hari, ribuan kendaraan melintas membawa wisatawan, pekerja, dan cerita baru di atas jalan yang sama.

Di balik beton dan jembatan megahnya, ada kisah tentang ambisi yang sempat mati, krisis yang menunda, dan mitos yang menolak hilang. Tol Cipularang, pada akhirnya, bukan sekadar jalan raya—tapi catatan panjang tentang bagaimana Indonesia membangun kemajuan di atas tanah yang masih berbisik.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)