Setahun Pendidikan Bermakna, Menanam Peradaban Lewat Tindakan Nyata

6 menit baca
Eka Nurmawati
Ditulis oleh Eka Nurmawati diterbitkan
Foto mengajar di SD Tewang Kadamba, Kalteng. (Foto: Eka)
Foto mengajar di SD Tewang Kadamba, Kalteng. (Foto: Eka)

Pendidikan bukan hanya ruang belajar dan kurikulum. Ia adalah nadi peradaban yang menyalurkan nilai, moral, dan arah kehidupan bangsa. Sejak awal berdirinya republik, pendidikan ditempatkan sebagai amanat konstitusional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. Dalam konteks itu, capaian pendidikan bukan sekadar statistik, melainkan cermin sejauh mana negara menjalankan janji ideologisnya terhadap rakyat.

Dalam satu tahun terakhir, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menunjukkan langkah nyata untuk mewujudkan cita-cita itu. Dengan anggaran Rp181,72 triliun yang dialokasikan untuk enam program prioritas, pemerintah berupaya menghadirkan layanan pendidikan yang lebih merata, inklusif, dan bermutu bagi seluruh anak Indonesia (Kemendikdasmen, 2025). Program ini bukan hanya soal angka di laporan, melainkan bukti bahwa negara terus bekerja memastikan pendidikan menjadi hak, bukan privilese.

Konteks global memperkuat urgensi ini. Dunia saat ini berada di tengah percepatan perubahan teknologi dan sosial yang sangat dinamis. Ketimpangan pendidikan bukan lagi masalah lokal, tetapi isu peradaban. Negara yang gagal menyiapkan generasi berpengetahuan akan tertinggal dalam kompetisi global. Karena itu, komitmen Kemendikdasmen untuk memastikan setiap anak Indonesia memiliki akses terhadap pendidikan berkualitas adalah langkah strategis yang tidak hanya berdampak pada masa kini, tetapi juga menentukan masa depan bangsa.

Pendidikan, dalam pandangan filosofis Ki Hajar Dewantara, adalah “daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, dan jasmani anak” (Dewantara, 1938). Makna ini menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar pengajaran, tetapi juga proses pembentukan manusia seutuhnya. Karena itu, arah kebijakan pendidikan nasional harus selalu berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.

Kemendikdasmen memahami pendidikan sebagai investasi peradaban. Setiap program diarahkan bukan hanya untuk memperbaiki fasilitas, tetapi membangun nilai dan sistem yang berkeadilan. Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 tentang percepatan digitalisasi pendidikan, misalnya, menjadi simbol adaptasi ideologis bangsa terhadap era baru pembelajaran. Melalui digitalisasi, lebih dari 285.000 sekolah dari PAUD hingga SKB kini dapat mengakses sumber belajar secara merata (Kemendikdasmen, 2025).

Langkah ini sekaligus menegaskan kemandirian bangsa dalam penguasaan ilmu pengetahuan. Pendidikan digital yang terbuka dan inklusif adalah wujud konkret pelaksanaan sila kelima Pancasila, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pada saat yang sama, digitalisasi pendidikan memperkuat daya saing nasional dan memperluas kesempatan bagi peserta didik di daerah untuk belajar tanpa batas ruang. Ketika setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, di situlah pendidikan menjadi alat pembebasan yang sejati.

Tujuh Capaian Nyata, Tujuh Pilar Kemajuan

Selama periode Oktober 2024 hingga Oktober 2025, Kemendikdasmen berhasil melaksanakan tujuh program strategis yang berdampak luas bagi sistem pendidikan nasional.

Pertama, program revitalisasi satuan pendidikan dengan anggaran Rp16,97 triliun yang melampaui target awal: dari 10.440 menjadi 15.523 sekolah yang direvitalisasi. Revitalisasi ini tidak hanya memperbaiki ruang kelas, tapi juga menghidupkan kembali semangat belajar dan ekonomi lokal melalui sistem swakelola masyarakat (Perdirjen PAUD, Dikdas, dan Dikmen, 2025).

Kedua, digitalisasi pendidikan yang membuka akses bagi siswa di seluruh daerah untuk belajar dari sumber yang sama. Langkah ini menjadi fondasi transformasi pendidikan modern dan menekan kesenjangan digital antardaerah (Inpres No.7/2025).

Ketiga, peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru dengan anggaran Rp13,2 triliun. Program ini mencakup tunjangan profesi bagi 785 ribu guru non-ASN, BSU bagi 253 ribu guru PAUD nonformal, serta sertifikasi PPG bagi 804 ribu guru (Kemendikdasmen, 2025). Guru yang sejahtera akan lebih fokus mengajar dan berinovasi di kelas, karena guru sejatinya adalah jantung pendidikan bangsa.

Keempat, Program Indonesia Pintar (PIP) dan Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) yang menjangkau 18,5 juta siswa dan 4.679 pelajar dari daerah 3T. Program ini memperkecil kesenjangan sosial dan ekonomi serta menurunkan risiko putus sekolah (Bappenas, 2024).

Kelima, Program Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) dan tunjangan guru ASN dengan total Rp129,3 triliun menjamin kegiatan belajar mengajar tetap berjalan tanpa hambatan. Ini adalah langkah krusial menjaga stabilitas pendidikan nasional.

Keenam, program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yang menanamkan disiplin, kebersihan, dan gaya hidup sehat sejak dini. Pendidikan karakter ini menjadi penyeimbang antara aspek kognitif dan moral.

Ketujuh, reformasi sistem Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang dinilai 88% orang tua lebih baik dibanding PPDB sebelumnya (Katadata Insight Center, 2025; DetikEdu, 2025). Sistem baru ini memperkuat kepercayaan publik dan membuktikan bahwa kebijakan pendidikan kini makin berkeadilan.

Ketujuh capaian tersebut menunjukkan bahwa arah kebijakan Kemendikdasmen bukan semata administratif, tetapi strategis dan berdampak langsung. Setiap program bersinggungan dengan dimensi ideologi, sosial, ekonomi, hingga kesehatan masyarakat. Dengan pendekatan lintas sektor ini, pendidikan tidak lagi berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Baca Juga: Enam Akar Asal-usul Agama

Bersama murid-murid SD Tewang Kadamba, Kalteng (Foto: Andani)
Bersama murid-murid SD Tewang Kadamba, Kalteng (Foto: Andani)

Capaian ini menandai babak baru hubungan antara negara dan rakyat dalam bidang pendidikan. Secara ekonomi, revitalisasi sekolah berbasis swakelola membuka lapangan kerja baru dan menggerakkan ekonomi lokal. Secara sosial, pemerataan pendidikan mengikis jurang antara kota dan desa. Dan secara politik, capaian ini memperkuat legitimasi pemerintah sebagai pelaksana amanat konstitusi di bidang pendidikan (Jurnal Edukatif, 2023).

Namun yang lebih penting adalah dampak ideologisnya. Pendidikan bermutu memperkuat daya tahan bangsa terhadap disrupsi global. Ia menumbuhkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual. Dengan begitu, pembangunan manusia menjadi pondasi bagi kedaulatan negara.

Lebih jauh, capaian pendidikan selama satu tahun terakhir juga menjadi ruang pembuktian bahwa kolaborasi antar elemen bangsa dapat berjalan harmonis. Pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat kini mulai memiliki kesadaran yang sama: bahwa pendidikan bukan hanya urusan anggaran, melainkan proses membangun keadaban kolektif. Ketika masyarakat mulai merasakan manfaat langsung dari kebijakan, maka pendidikan tidak lagi menjadi slogan, melainkan gerakan bersama menuju bangsa yang tercerahkan.

Pendidikan yang berdampak juga memperkuat identitas bangsa di tengah derasnya arus globalisasi nilai. Di tengah dunia yang makin kompetitif dan individualistik, sistem pendidikan Indonesia harus tetap berakar pada karakter kebangsaan yang menghormati keberagaman. Di sinilah pentingnya menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan keteguhan nilai-nilai luhur.

Capaian satu tahun terakhir adalah bukti bahwa arah pendidikan nasional sudah menuju jalur yang benar. Namun pekerjaan besar belum selesai. Tantangannya kini adalah memastikan keberlanjutan, transparansi, dan kolaborasi lintas sektor agar semua program tetap berdampak.

Pertama, tata kelola pendidikan perlu diperkuat agar setiap rupiah dari APBN tersalurkan dengan efektif dan transparan. Kedua, sistem evaluasi berbasis data harus terus dikembangkan agar kebijakan tidak berhenti di pelaporan, tetapi terukur dampaknya. Ketiga, kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat sipil perlu diperluas, karena pendidikan adalah tanggung jawab bersama (Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 2022).

Kemendikdasmen juga perlu memperkuat ekosistem data pendidikan nasional yang terintegrasi serta memperluas kerja sama lintas kementerian untuk menyelaraskan pendidikan dengan pembangunan ekonomi lokal. Program revitalisasi sekolah, misalnya, bisa menjadi model sinergi antara pendidikan, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat (Kemendikdasmen, 2025). Selain itu, peningkatan kapasitas kepala sekolah dan guru sebagai pemimpin pembelajaran perlu terus didorong agar sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga pusat tumbuhnya karakter, moral, dan nilai-nilai kebangsaan.

Sebagaimana diungkapkan Ki Hajar Dewantara, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pendidikannya.” Capaian Kemendikdasmen selama satu tahun terakhir adalah pondasi penting menuju Indonesia Emas 2045. Namun pondasi itu hanya akan kokoh bila api pendidikan terus dijaga, dengan semangat, kejujuran, dan cinta terhadap ilmu pengetahuan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)