Saat Hacker Bjorka Bikin Polisi Kelimpungan Tiga Kali

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Ilustrasi hacker Bjorka.
Ilustrasi hacker Bjorka.

AYOBANDUNG.ID - Pada awalnya, ia cuma desas-desus di forum gelap. Tapi begitu namanya muncul di BreachForums pada awal September 2022, orang-orang tahu sesuatu sedang terjadi. Seseorang dengan nama “Bjorka” menawarkan 1,3 miliar data registrasi kartu SIM milik warga Indonesia. Jumlahnya tidak masuk akal. Tapi di dunia siber, angka besar seperti itu justru terasa masuk akal.

Data itu disebut berasal dari sistem pemerintah. Hasil kebijakan wajib registrasi nomor telepon yang mewajibkan warga mengaitkan kartu SIM dengan KTP dan KK sejak 2017. Itu artinya, semua orang bisa saja telanjang digital di depan mata siapa pun yang mau membayar. Nama, alamat, nomor identitas, nomor kartu keluarga, semuanya tersedia.

Bjorka menjualnya murah, dan dengan cepat ia jadi legenda baru di dunia maya Indonesia. Ia bukan sekadar peretas, melainkan semacam seniman provokasi digital. Ia mengolok-olok pejabat, membocorkan data menteri, dan mengacaukan sistem informasi lembaga-lembaga negara sambil mengomentari isu politik yang sedang panas. Di tengah kenaikan harga BBM dan demonstrasi mahasiswa, ia seperti muncul untuk menabuh drum kekacauan.

Selamaa bulan September 2022, ia menyerang banyak target: Kominfo, Pertamina, PLN, bahkan BIN. Data pejabat negara dibocorkan satu per satu. Nama-nama besar seperti Joko Widodo, Luhut Pandjaitan, Erick Thohir dan Puan Maharani ikut menjadi korban doxxing, lengkap dengan sindiran-sindiran politik yang tajam. Di tengah naiknya harga BBM dan gelombang protes publik, Bjorka seperti memainkan peran antagonis yang justru mendapat simpati rakyat.

Orang-orang di internet memujanya. Ia seolah menjadi “Robin Hood digital” karena berani menelanjangi pemerintah. Padahal, apa yang ia lakukan tidak sesuci itu. Ia menjual data, menangguk uang, dan tetap bermain di wilayah abu-abu antara aktivisme dan kriminalitas. Tapi di negeri yang pemerintahnya gagap teknologi, citra heroik itu mudah sekali melekat.

Kominfo, BSSN, dan Polri kebakaran jenggot. Data publik bocor, pejabat jadi bahan olok-olok, dan kepercayaan masyarakat runtuh. Bjorka seperti menampar wajah negara dengan keyboard.

Baca Juga: Gaduh Kisah Vina Garut, Skandal Video Syur yang Bikin Geger

Dan negara pun mulai membalas.

Tak lama setelah kehebohan itu, seorang remaja di Cirebon tiba-tiba jadi tersangka bayangan. Namanya Muhammad Said Fikriyansyah. Umurnya baru tujuh belas tahun, tinggal di desa, dan masih sekolah. Tapi di dunia maya, rumor adalah bahan bakar paling murah untuk histeria. Tuduhan itu bermula dari akun Instagram @volt_anonym yang menyebut adanya kesamaan antara username msff di forum gelap dengan inisial remaja itu.

Remaja asal Desa Sumber itu langsung jadi sasaran. Namanya viral, fotonya beredar di grup-grup WhatsApp, dan keluarganya ketakutan. Polisi akhirnya turun tangan. Ia menyangkal semuanya: tak punya kemampuan hacking, tak punya perangkat canggih, bahkan internet di rumahnya sering putus.

Kasus Cirebon ini memperlihatkan satu hal: publik dan aparat sama-sama bingung membedakan rumor dan fakta di dunia digital. Bjorka tetap berkeliaran, sementara seorang remaja nyaris jadi tumbal.

Salah satu data yang dibocorkan Bjorka.
Salah satu data yang dibocorkan Bjorka.

Beberapa hari berselang, giliran seorang pemuda 21 tahun di Madiun bernama Muhammad Agung Hidayatullah ditangkap. Ia disebut sebagai admin atau “asisten” Bjorka karena menjual kanal Telegram yang dipakai sang hacker. Tapi ternyata, Agung hanyalah pedagang es dari Desa Banjarsari Kulon, Kecamatan Dagangan.

Penangkapannya jadi bahan tertawaan publik. Bjorka muncul lagi secara daring, membocorkan data baru, seolah ingin menegaskan bahwa polisi salah orang. Pemerintah mencoba menambal citra dengan membentuk tim gabungan yang melibatkan Polri, BIN, Kominfo, dan BSSN. Tapi hasilnya nihil.

Baca Juga: Sejarah Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, dari Zaman SBY Sampai Bikin Jepang Kecele

Bjorka menghilang, lalu muncul lagi dengan kebocoran data paspor jutaan warga. Ia lenyap, lalu datang kembali dengan data pelanggan PLN, KPU, hingga BIN. Ia seperti arwah yang keluar masuk jaringan pemerintah sesukanya.

Di balik semua itu, rumor terus beredar. Ada yang bilang ia tinggal di Polandia. Ada yang bilang ia bukan satu orang, tapi jaringan. Ada juga yang percaya bahwa ia hanya simbol—nama kosong yang bisa dipakai siapa pun untuk membuktikan betapa rapuhnya sistem keamanan negara.

Terlepas dari apa pun kebenarannya, Bjorka telah membuat Indonesia terlihat seperti rumah digital dengan pintu terbuka lebar. Siapa pun bisa masuk, membawa apa pun, dan keluar tanpa ketahuan.

Tiga tahun berlalu. Orang sudah mulai lupa soal Bjorka. Sampai akhirnya, pada akhir September 2025, polisi mengumumkan mereka telah menangkapnya di Minahasa, Sulawesi Utara.

Pelakunya disebut berinisial WFT, 22 tahun, dropout sekolah menengah, belajar komputer sendiri. Polisi menyebut ia sebagai pengendali akun Bjorka di dark web dan pelaku peretasan jutaan data nasabah bank swasta. Ia juga dituduh memeras manajer bank dengan data itu. Polisi berpose di depan kamera, memamerkan wajah pelaku dan barang bukti komputer butut yang katanya digunakan untuk menyerang sistem keuangan.

Semua media memuat berita itu besar-besaran. "Bjorka Tertangkap di Sulawesi,” tulis judul-judulnya. Negara seperti menemukan pahlawan baru—bukan karena menangkap penjahat siber, tapi karena berhasil menutupi luka harga diri digitalnya.

Tapi euforia itu tak bertahan lama.

Beberapa hari setelah pengumuman penangkapan, dunia maya kembali geger. Akun Bjorka muncul lagi. Kali ini dengan serangan yang jauh lebih memalukan.

Ia membocorkan data pribadi 341 ribu personel Polri: nama, pangkat, satuan tugas, nomor ponsel, dan alamat email. Data itu benar. Para pakar keamanan siber membenarkan keasliannya. Polisi kehilangan muka. Orang yang baru saja ditangkap di Minahasa ternyata bukan Bjorka.

Kebocoran itu seperti tamparan telak di wajah institusi penegak hukum. Polisi yang baru saja bersorak karena mengklaim kemenangan, mendadak menjadi korban. WFT tetap ditahan, tapi publik tahu ia hanya kambing hitam berikutnya.

Bjorka seperti tahu cara paling kejam untuk mempermalukan negara. Ia menunggu momen ketika aparat merasa paling percaya diri, lalu menyerang dari balik layar dengan ketenangan yang sinis.

Sebuah unggahan lantas muncul di situs gelap: data pribadi 341.000 personel Polri bocor. Nama, pangkat, satuan, nomor ponsel, alamat email—semuanya tumpah ke publik.

Sejak itu, tak ada lagi yang benar-benar yakin apakah Bjorka adalah satu orang, kelompok, atau bahkan semacam persona yang bisa diambil siapa pun. Ia bisa muncul di mana saja, dengan gaya berbeda, tapi tetap membawa pesan yang sama: sistem keamanan negara ini tidak lebih kuat dari pagar bambu di musim hujan.

Baca Juga: Hikayat Ledakan Bom ATM Dipatiukur Bandung 2011, Kado Pahit Ultah Polisi

Tiga kali polisi kelimpungan, tiga kali pula negara belajar bahwa memburu hacker bukan seperti mengejar pencuri ayam. Bjorka tidak bisa ditangkap dengan cara konvensional. Ia bukan sosok yang duduk di depan satu komputer menunggu disergap. Ia bayangan di jaringan, bergerak di antara celah sistem yang dibiarkan bocor bertahun-tahun.

Setiap kali pemerintah merasa telah menang, ia muncul lagi dan membuktikan sebaliknya. Bjorka menjadi simbol kegagalan sistem keamanan digital Indonesia—negara yang gemar mengumpulkan data warganya, tapi tak tahu bagaimana melindunginya.

Ia bukan sekadar hacker. Ia semacam cermin. Di dalamnya, kita melihat wajah negara yang kikuk, aparat yang panik, dan sistem yang bolong di mana-mana. Ia muncul, membuat gaduh, lalu menghilang.

Dan entah di mana sekarang, mungkin ia sedang tersenyum di balik layar, membaca berita tentang dirinya sendiri, sementara aparat masih sibuk memeriksa komputer orang yang tak bersalah.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)