Seni Lukis Jalanan di Braga Hidupkan Sejarah dan Ruang Publik Kota Bandung

Toni Hermawan
Ditulis oleh Toni Hermawan diterbitkan Selasa 16 Des 2025, 14:57 WIB
Ian seorang pelukis lokal dan karya lukisannya yang dipajang di trotoar Jalan Braga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)

Ian seorang pelukis lokal dan karya lukisannya yang dipajang di trotoar Jalan Braga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)

AYOBANDUNG.ID - Jalan Braga, yang terletak di jantung Kota Bandung, merupakan salah satu jalan paling ikonik dan bersejarah di Indonesia

Sejak era kolonial, Braga telah dikenal sebagai pusat hiburan dan kebudayaan. Berbagai bangunan bersejarah berdiri megah di sepanjang jalan ini, mencerminkan kejayaan masa lalu. Kini, seni lukis jalanan menambahkan lapisan baru dalam perjalanan sejarah dan budaya Jalan Braga, membuatnya semakin relevan dan menarik bagi generasi muda maupun wisatawan.

Dalam beberapa tahun terakhir, daya tarik Jalan Braga kian bertambah dengan hadirnya seni lukis yang menghiasi hampir setiap sudut jalan. Seni lukis jalanan di kawasan ini tidak hanya mempercantik visual kota, tetapi juga menghidupkan suasana dengan kreativitas yang beragam.

Seni lukis di Jalan Braga muncul sebagai bentuk ekspresi kreatif para seniman lokal. Beragam tema dihadirkan, mulai dari potret tokoh terkenal hingga karya abstraksi penuh warna, yang terpampang di dinding-dinding bangunan sepanjang jalan.

Galeri lukisan menghiasi salah satu sudut di Jalan Braga, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Galeri lukisan menghiasi salah satu sudut di Jalan Braga, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)

Di antara deretan lukisan tersebut, tampak seorang penjual lukisan di Jalan Braga, Kota Bandung, sedang duduk di samping karya-karyanya. Ia terlihat sibuk memainkan ponsel, sembari sesekali memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang.

Penjual lukisan tersebut adalah Ian (56), pelukis asal Garut yang turut menjajakan karyanya di Jalan Braga.

Ian mengaku telah banyak menjual lukisan realis dengan gaya yang beragam. Ia menyebutkan bahwa berjualan di Jalan Braga cukup menguntungkan karena karyanya relatif cepat terjual.

Ia juga bercerita mengenai harga lukisan yang dijualnya, yang dinilai sangat relatif. Ada lukisan yang dibanderol mulai dari Rp 100 ribu, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan pengerjaannya.

“Sangat relatif sih kalau lukisan, dari sejak pandangan, pembuatan, bahkan harga pun sangat relatif cuma yang jelas harga Rp 100 ribu juga ada,” ujarnya.

Ian berharap pemerintah dapat memberikan dukungan, terutama bantuan finansial, demi keberlangsungan para pelaku seni. Ia juga berharap dukungan tersebut dapat terus ditingkatkan.

Menurutnya, Jalan Braga merupakan lokasi yang sangat tepat sebagai pasar seni Bandung karena memiliki karakter serta nilai seni yang kuat.

“Harapan saya dengan keberadaan lukisan di Jalan Braga Mudah- mudahan dalam hal ini mungkin pemerintah membantu sama-sama mendukung dengan keberadaannya tersebut dan juga ada plisnya, ya kalau bisa support dengan finansialnya karena suntikan dana sungguh sangat memerlukan saya sebagai katakan UMKM, saya memerlukanlah support dari pemerintah yang sanggup bantu dengan finansialnya,” ucapnya.

Tata Sutaryat salah seorang pelukis di Jalan Braga yang sudah berpengalaman selama hampir 20 tahun. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Tata Sutaryat salah seorang pelukis di Jalan Braga yang sudah berpengalaman selama hampir 20 tahun. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)

Selain Ian, pelukis senior Tata Sutaryat (48) juga turut berbagi pandangannya. Ia mengungkapkan bahwa dirinya mulai menekuni dunia seni lukis secara serius sejak usia 20-an. Meski demikian, ketertarikannya terhadap seni lukis telah tumbuh sejak kecil karena pengaruh sang ayah.

“Dewasa sih, sudah diperagakan diusia 20- an, memang dari kecil sudah dikenalkan dengan melukis, karena lihat bapak melukis,” ungkapnya.

Menurut Sutaryat, penerapan dan pengenalan seni sejak dini sangat penting, terutama di tengah meningkatnya minat generasi muda terhadap seni lukis saat ini.

Ia menuturkan bahwa anaknya sendiri juga telah mulai diperkenalkan dengan dunia seni lukis, baik melalui kegiatan workshop maupun fun painting, sebagai upaya menumbuhkan kreativitas dan kecintaan terhadap seni.

“Justru sekarang sudah mulai banyak minat dari anak muda, anak saya juga ngadain workshop, fun painting. Jadi lebih untuk bersenang-senang dengan Lukis, terus koleksi juga banyak yang beli itu anak muda sekarang,” ucapnya.

Sutaryat menjelaskan bahwa proses pembuatan sebuah lukisan membutuhkan waktu yang bervariasi. Untuk satu karya, rata-rata diperlukan waktu sekitar satu hingga dua minggu, tergantung media lukis yang digunakan.

“Rata-rata 1-2 minggu sih, pengerjaannya ada dari kanvas, ada yang akrilik, ada yang minyak, tapi kebanyakan di sini yang cat akrilik kalau yang pemandangan ini dari cat minyak,” ungkapnya.

Melalui karya seninya, Sutaryat berharap generasi muda semakin banyak mengapresiasi seni. Menurutnya, seni memiliki peran penting dalam membentuk estetika, cara pandang, dan gaya hidup masyarakat, serta mampu membawa perubahan positif.

“Untuk anak muda memang lebih banyak berapresiasi. Karena kedepan yang jadi meteran itu kan generasi sekarang, semua elemen di masyarakat itu lebih banyak sekarang lebih ke estetisnya, semua hal dengan seni, sebelum menyentuh ke teknologinya itu biasanya tampilan seninya dulu, makanya diharapkan lebih banyak berapresiasi di seni, karena seni itu bisa berperan untuk mengubah dunia, untuk mengubah cara hidup, mengubah sudut pandang, mengubah cara untuk mengubah dunia menjadi lebih baik,” ucapnya.

Sementara itu, Riswandi Sobana Kusuma (23), salah satu pengunjung asal Tasikmalaya, mengaku sangat menikmati keberadaan lukisan-lukisan di Jalan Braga. Ia tertarik untuk memperhatikan setiap karya yang dipajang sepanjang jalan.

“Indah banget karena orang-orang yang paham seni itu setitik atau sekecil coretan apapun sebagai makna, artinya bermakna,” ungkapnya.

Ia menilai lukisan-lukisan tersebut penting sebagai ciri khas kawasan Jalan Braga dan mengapresiasi kualitas karya yang ditampilkan.

“Penting banget itu sebagai ciri khas di Baraga, saya terkhususnya sebagai pengunjung asli Tasik bisa melihat dari mulai menelusuri sepanjang jalan braga bisa melihat lukisan yang dipajang dan itu bagus-bagus,” ucapnya.

Seorang pelukis di Jalan Braga sedang mengerjakan pesanan dari seorang wisatawan lokal. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Seorang pelukis di Jalan Braga sedang mengerjakan pesanan dari seorang wisatawan lokal. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)

Hal serupa disampaikan Dian Anggraeni (24), pengunjung lainnya. Ia mengaku tertarik melihat lukisan-lukisan yang dipajang di sepanjang jalan karena suasana klasik Braga terasa semakin hidup.

“Saya tertarik melihat lukisan di Jalan Braga karena suasananya unik, jalan yang klasik dipadukan dengan karya seni membuat pengalaman jalan-jalan jadi lebih hidup dan menyenangkan,” ucapnya.

Menurut Dian, lukisan-lukisan di Jalan Braga memiliki kualitas yang baik, karakter yang kuat, serta menunjukkan kemampuan dan gaya masing-masing pelukis.

“Kualitas lukisan di Jalan Braga menurut saya cukup bagus, banyak karya yang detail dan punya karakter kuat, saya bisa melihat bahwa para pelukisnya memang punya kemampuan dan gaya masing-masing,” tutupnya.

Berita Terkait

Braga dan Kopi Legenda

Ayo Netizen 17 Okt 2025, 14:20 WIB
Braga dan Kopi Legenda

News Update

Beranda 04 Feb 2026, 11:56 WIB

Ironi Co-firing Biomassa PLTU di Jawa Barat, Klaim Transisi Energi dan Dampaknya bagi Warga

Skema yang diklaim lebih ramah lingkungan ini dinilai belum sepenuhnya menjawab persoalan mendasar, terutama dampak lingkungan dan kesehatan warga yang hidup berdampingan dengan PLTU.
Ilustrasi PLTU. (Sumber: Bruno Miguel / Unsplash)
Beranda 04 Feb 2026, 09:42 WIB

Jika Kebun Binatang Bandung Hilang, Apa yang Tersisa dari Kota Ini?

Tempat ini merupakan rangkaian panjang sejarah dan ungkapan cinta warga kota yang telah terbangun sejak satu abad lalu.
Pegunjung memanfaatkan Kawasan Kebun Binatang Bandung yang rindang dan sejuk untuk berkumpul dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 09:39 WIB

Aan Merdeka Permana Penulis Spesialis Tema Padjadjaran

Yayasan Kebudayaan Rancagé menetapkan sastrawan Sunda senior Aan Merdeka Permana sebagai peraih Hadiah Jasa 2026.
Buku-buku karya Aan Merdeka Permana. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 08:04 WIB

Ngabuburit dari Masa ke Masa

Ngabuburit di kota Bandung mengalami pergeseran nilai dan aktifitas serta cara melakukannya.
Masjid Al-Jabar di Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Andry Sasongko)
Bandung 03 Feb 2026, 21:16 WIB

Misi Kemanusiaan dan Esensi CSR Berkelanjutan dalam Memulihkan Luka Bencana Cisarua

CSR berkelanjutan bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang hadir dan tetap ada hingga masyarakat benar-benar mampu berdiri kembali di atas kaki sendiri.
Dalam skenario bencana sebesar Cisarua, kecepatan respons adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa dan harapan. (Sumber: SANY Indonesia)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 19:40 WIB

Kisah Sentra Karangan Bunga Pasirluyu Bandung, Panen Rezeki saat Rajab dan Syaban

Jalan Pasirluyu Selatan Bandung berubah menjadi sentra karangan bunga. Bulan Rajab dan Syaban membawa lonjakan pesanan papan ucapan pernikahan dan hajatan.
Salah satu deretan toko bunga di Pasirluyu, Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 03 Feb 2026, 19:00 WIB

Info Ciumbuleuit, Homeless Media yang Hidup dari Kepercayaan Warga Sekitar

“Kalau sampai ada yang keberatan atau komplain, jujur saja bingung mau berlindung ke siapa. Kita kan nggak punya lembaga atau badan hukum,” tuturnya.
Pemilik dan pengelola akun Info Ciumbuleuit, Dio Rama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 18:19 WIB

UU ITE dan Ancaman Kebebasan Ekspresi: Menggugat Pelanggaran Asas Lex Certa

Menganalisis pelanggaran asas lex certa dalam UU ITE yang memicu chilling effect dan mengancam kebebasan berekspresi serta kualitas demokrasi di Indonesia.
Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 17:02 WIB

Lakon Kelaparan dan Kemiskinan Melalui Puasa Ramadan

Puasa itu mengajarkan menahan diri, zakat menyempurnakannya. Ia menumbuhkan kesadaran sosial dan kebahagiaan bagi sesama.
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:33 WIB

Sejarah Pasteur Bandung, Jejak Peradaban Ilmu Pengetahuan di Kota Kembang

Kawasan Pasteur Bandung tumbuh dari pusat riset vaksin kolonial menjadi simpul penting ilmu kesehatan nasional yang jejaknya masih bertahan hingga kini.
Suasana di Jalan Pasteur, Kota Bandung. Salah satu titik lalu lintas yang selalu padat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:31 WIB

Hikayat Indische Partij, Partai Politik Pertama yang Lahir dari Bandung

Didirikan di Bandung pada 1912, Indische Partij menjadi organisasi politik pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan penuh dari kekuasaan kolonial Belanda.
Logo Indische Partij.
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 15:13 WIB

Di Tengah Tekanan Zaman, Seni Menjadi Cara Bertahan

Di tengah kecemasan, kisah “Nihilist Penguin” bertemu tekanan hidup kota. Dari luka personal lahir Florist Project dan lagu “Cemas”, seni yang tak menggurui, tapi menemani manusia belajar bertahan.
Belajar dan menanamkan cinta pada anak-anak (Sumber: Arsip Penulis, Ekspedisi Nusantara Jaya 2016)
Bandung 03 Feb 2026, 12:52 WIB

Berlari Menjemput Cahaya Pendidikan: Jejak Kebaikan di Balik DH Run 2026

Di balik kemeriahan medali dan garis finis, DH Run 2026 membawa misi sosial yang menyentuh akar kehidupan.
Konferensi pers DH Run 2026 yang membawa misi sosial untuk menyentuh akar kehidupan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 12:43 WIB

Raih Hadiah Jasa Rancage, Aan M.P. Sebut KDM Tidak Senang Bantu Sastrawan Miskin

Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa.
Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 11:11 WIB

Tema Ayo Netizen Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Tema ini menjadi ajakan terbuka bagi para penulis Ayo Netizen untuk mengirim tulisan terbaik.
Ayo Netizen Ayobandung.id mengangkat tema "Bandung Raya dan Bulan Puasa: Tradisi, Ekonomi, dan Realita Saat Ini" untuk edisi Februari 2026. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan AI ChatGPT)
Bandung 03 Feb 2026, 10:58 WIB

Dari Kaki Lima ke Ruko Lantai Tiga: Strategi Awug Cibeunying Bertahan di Tengah Zaman

Rizky turut serta menjaga kualitas dan kuantitas awug supaya tetap terjaga meski pasang-surut perubahan zaman telah dihadapi bersama keluarga besarnya selama membangun bisnis ini.
Kios Awug Cibeunying. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 09:36 WIB

Kian Banyak Tertemper Kereta Api, Perlintasan Sebidang Titik Paling Mematikan

Setelah perlintasan sebidang dibangun jalan layang atau terowongan, ternyata kebijakan daerah sangat lemah.
Perlintasan sebidang di Cimindi yang sangat rawan. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Bandung 03 Feb 2026, 09:19 WIB

Digitalisasi Jejak Karbon: Menakar Teknologi Berkelanjutan dalam Layanan Pelanggan Singapore Airlines

Penumpang dan pelanggan kargo SIA dapat menghitung dan mengimbangi emisi karbon penerbangan mereka, baik sebelum maupun setelah terbang.
Maskapai Singapore Airlines. (Sumber: Singapore Air)
Beranda 03 Feb 2026, 07:12 WIB

Di Antapani, Komunitas Temu Tumbuh Menjadi Tempat Pulang bagi Percakapan yang Jujur

Nilai-nilai dalam kacamata tuntutan masyarakat inilah yang kemudian memantik kecenderungan rasa cemas manusia di masa kini.
Komunitas Temu Tumbuh membuka ruang diskusi yang aman dan nyaman untuk saling berbagi dan bertumbuh. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 19:47 WIB

Susah Payah Menjaga Tertib Bahasa Dicengkram Mesin Algoritma

Standar Bahasa Indonesia perlahan tidak lagi dibentuk oleh komunitas diskusi, melainkan oleh mesin berbasis data global.
Ilustrasi bahasa mesin yang menentukan algoritma. (Sumber: Sketsa oleh ChatGPT)