Seni Lukis Jalanan di Braga Hidupkan Sejarah dan Ruang Publik Kota Bandung

5 menit baca
Toni Hermawan
Ditulis oleh Toni Hermawan diterbitkan
Ian seorang pelukis lokal dan karya lukisannya yang dipajang di trotoar Jalan Braga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ian seorang pelukis lokal dan karya lukisannya yang dipajang di trotoar Jalan Braga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)

AYOBANDUNG.ID - Jalan Braga, yang terletak di jantung Kota Bandung, merupakan salah satu jalan paling ikonik dan bersejarah di Indonesia

Sejak era kolonial, Braga telah dikenal sebagai pusat hiburan dan kebudayaan. Berbagai bangunan bersejarah berdiri megah di sepanjang jalan ini, mencerminkan kejayaan masa lalu. Kini, seni lukis jalanan menambahkan lapisan baru dalam perjalanan sejarah dan budaya Jalan Braga, membuatnya semakin relevan dan menarik bagi generasi muda maupun wisatawan.

Dalam beberapa tahun terakhir, daya tarik Jalan Braga kian bertambah dengan hadirnya seni lukis yang menghiasi hampir setiap sudut jalan. Seni lukis jalanan di kawasan ini tidak hanya mempercantik visual kota, tetapi juga menghidupkan suasana dengan kreativitas yang beragam.

Seni lukis di Jalan Braga muncul sebagai bentuk ekspresi kreatif para seniman lokal. Beragam tema dihadirkan, mulai dari potret tokoh terkenal hingga karya abstraksi penuh warna, yang terpampang di dinding-dinding bangunan sepanjang jalan.

Galeri lukisan menghiasi salah satu sudut di Jalan Braga, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Galeri lukisan menghiasi salah satu sudut di Jalan Braga, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)

Di antara deretan lukisan tersebut, tampak seorang penjual lukisan di Jalan Braga, Kota Bandung, sedang duduk di samping karya-karyanya. Ia terlihat sibuk memainkan ponsel, sembari sesekali memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang.

Penjual lukisan tersebut adalah Ian (56), pelukis asal Garut yang turut menjajakan karyanya di Jalan Braga.

Ian mengaku telah banyak menjual lukisan realis dengan gaya yang beragam. Ia menyebutkan bahwa berjualan di Jalan Braga cukup menguntungkan karena karyanya relatif cepat terjual.

Ia juga bercerita mengenai harga lukisan yang dijualnya, yang dinilai sangat relatif. Ada lukisan yang dibanderol mulai dari Rp 100 ribu, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan pengerjaannya.

“Sangat relatif sih kalau lukisan, dari sejak pandangan, pembuatan, bahkan harga pun sangat relatif cuma yang jelas harga Rp 100 ribu juga ada,” ujarnya.

Ian berharap pemerintah dapat memberikan dukungan, terutama bantuan finansial, demi keberlangsungan para pelaku seni. Ia juga berharap dukungan tersebut dapat terus ditingkatkan.

Menurutnya, Jalan Braga merupakan lokasi yang sangat tepat sebagai pasar seni Bandung karena memiliki karakter serta nilai seni yang kuat.

“Harapan saya dengan keberadaan lukisan di Jalan Braga Mudah- mudahan dalam hal ini mungkin pemerintah membantu sama-sama mendukung dengan keberadaannya tersebut dan juga ada plisnya, ya kalau bisa support dengan finansialnya karena suntikan dana sungguh sangat memerlukan saya sebagai katakan UMKM, saya memerlukanlah support dari pemerintah yang sanggup bantu dengan finansialnya,” ucapnya.

Tata Sutaryat salah seorang pelukis di Jalan Braga yang sudah berpengalaman selama hampir 20 tahun. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Tata Sutaryat salah seorang pelukis di Jalan Braga yang sudah berpengalaman selama hampir 20 tahun. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)

Selain Ian, pelukis senior Tata Sutaryat (48) juga turut berbagi pandangannya. Ia mengungkapkan bahwa dirinya mulai menekuni dunia seni lukis secara serius sejak usia 20-an. Meski demikian, ketertarikannya terhadap seni lukis telah tumbuh sejak kecil karena pengaruh sang ayah.

“Dewasa sih, sudah diperagakan diusia 20- an, memang dari kecil sudah dikenalkan dengan melukis, karena lihat bapak melukis,” ungkapnya.

Menurut Sutaryat, penerapan dan pengenalan seni sejak dini sangat penting, terutama di tengah meningkatnya minat generasi muda terhadap seni lukis saat ini.

Ia menuturkan bahwa anaknya sendiri juga telah mulai diperkenalkan dengan dunia seni lukis, baik melalui kegiatan workshop maupun fun painting, sebagai upaya menumbuhkan kreativitas dan kecintaan terhadap seni.

“Justru sekarang sudah mulai banyak minat dari anak muda, anak saya juga ngadain workshop, fun painting. Jadi lebih untuk bersenang-senang dengan Lukis, terus koleksi juga banyak yang beli itu anak muda sekarang,” ucapnya.

Sutaryat menjelaskan bahwa proses pembuatan sebuah lukisan membutuhkan waktu yang bervariasi. Untuk satu karya, rata-rata diperlukan waktu sekitar satu hingga dua minggu, tergantung media lukis yang digunakan.

“Rata-rata 1-2 minggu sih, pengerjaannya ada dari kanvas, ada yang akrilik, ada yang minyak, tapi kebanyakan di sini yang cat akrilik kalau yang pemandangan ini dari cat minyak,” ungkapnya.

Melalui karya seninya, Sutaryat berharap generasi muda semakin banyak mengapresiasi seni. Menurutnya, seni memiliki peran penting dalam membentuk estetika, cara pandang, dan gaya hidup masyarakat, serta mampu membawa perubahan positif.

“Untuk anak muda memang lebih banyak berapresiasi. Karena kedepan yang jadi meteran itu kan generasi sekarang, semua elemen di masyarakat itu lebih banyak sekarang lebih ke estetisnya, semua hal dengan seni, sebelum menyentuh ke teknologinya itu biasanya tampilan seninya dulu, makanya diharapkan lebih banyak berapresiasi di seni, karena seni itu bisa berperan untuk mengubah dunia, untuk mengubah cara hidup, mengubah sudut pandang, mengubah cara untuk mengubah dunia menjadi lebih baik,” ucapnya.

Sementara itu, Riswandi Sobana Kusuma (23), salah satu pengunjung asal Tasikmalaya, mengaku sangat menikmati keberadaan lukisan-lukisan di Jalan Braga. Ia tertarik untuk memperhatikan setiap karya yang dipajang sepanjang jalan.

“Indah banget karena orang-orang yang paham seni itu setitik atau sekecil coretan apapun sebagai makna, artinya bermakna,” ungkapnya.

Ia menilai lukisan-lukisan tersebut penting sebagai ciri khas kawasan Jalan Braga dan mengapresiasi kualitas karya yang ditampilkan.

“Penting banget itu sebagai ciri khas di Baraga, saya terkhususnya sebagai pengunjung asli Tasik bisa melihat dari mulai menelusuri sepanjang jalan braga bisa melihat lukisan yang dipajang dan itu bagus-bagus,” ucapnya.

Seorang pelukis di Jalan Braga sedang mengerjakan pesanan dari seorang wisatawan lokal. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Seorang pelukis di Jalan Braga sedang mengerjakan pesanan dari seorang wisatawan lokal. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)

Hal serupa disampaikan Dian Anggraeni (24), pengunjung lainnya. Ia mengaku tertarik melihat lukisan-lukisan yang dipajang di sepanjang jalan karena suasana klasik Braga terasa semakin hidup.

“Saya tertarik melihat lukisan di Jalan Braga karena suasananya unik, jalan yang klasik dipadukan dengan karya seni membuat pengalaman jalan-jalan jadi lebih hidup dan menyenangkan,” ucapnya.

Menurut Dian, lukisan-lukisan di Jalan Braga memiliki kualitas yang baik, karakter yang kuat, serta menunjukkan kemampuan dan gaya masing-masing pelukis.

“Kualitas lukisan di Jalan Braga menurut saya cukup bagus, banyak karya yang detail dan punya karakter kuat, saya bisa melihat bahwa para pelukisnya memang punya kemampuan dan gaya masing-masing,” tutupnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)