Aan Merdeka Permana Penulis Spesialis Tema Padjadjaran

Dudung Ridwan
Ditulis oleh Dudung Ridwan diterbitkan Rabu 04 Feb 2026, 09:39 WIB
Buku-buku karya Aan Merdeka Permana. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Buku-buku karya Aan Merdeka Permana. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Yayasan Kebudayaan Rancagé menetapkan sastrawan Sunda senior Aan Merdeka Permana sebagai peraih Hadiah Jasa 2026. Hadiah Jasa adalah bentuk penghargaan dari kepada individu atau lembaga yang berjasa dalam pengembangan bahasa dan sastra daerah. Hadiah jasa diberikan sejak tahun 1990, tetapi terhenti tahun 2018. Mulai tahun 2025, memberikan kembali hadiah tersebut.

Tempat tinggal Kang Aan, sapaan akrab, penulis Aan Merdeka Permana, berada di kawasan Bandung timur. Kalau dari arah Cicaheum, teruslah hingga tiga kilometer lagi ke arah timur. Pas tikungan sebelum tanjakan Sukamiskin, berhentilah. Ada gang kecil ke kiri. Sebuah gang sempit, yang cukup untuk satu motor.

Rumah-rumah berimpitan di kanan kiri. Semakin ke dalam, semakin menanjak, dan semakin menyempit seperti leher botol. Kalau ada motor yang datang dari arah berlawanan, tampaknya salah satu harus berhenti mengalah. Nah, sekira 150 meter, tanyakan nama Pak Aan Wartawan, pasti orang-orang akan menunjukkan rumahnya.

Tepatnya rumah Kang Aan berada di Kampung Kertasari Kelurahan Karangpamulang Kecamatan Mandalajati, Kota Bandung. Dulu, kampung ini terkenal dengan sebutan Kampung Newblek. 

Di ruang kerja sekaligus ruang tamu itu penuh dengan buku dan naskah-naskah garapannya. Kursi sofa kesayangan Kang Aan masih ada. Kursi Sofa itulah tempatnya setiap hari duduk mengetik, menulis artikel, menulis naskah buku, dan lain-lain. 

Kemarin, Senin, 1 Februari 2026 ketika penulis mengabarkan lewat whats up bahwa Kang Aan dinyatakan sebagai pemenang Hadiah Jasa dari Yayasan Kebudayaan Rancage, ia tampak gembira sekali dan memperlihatkan sebuah foto saat ia sedang menulis di sofa kesayangannya di tengah tumpukan naskah-naskah. 

Ketika ditanya senang tidak mendengar kabar itu?

Nya atoh we. Maenya kudu ambeuk. Hadiah jang aki aki nu haben nulis taya kabosen,” jawabnya.

Dari sofa di rumah sempit warna merah itulah, lahir sejumlah karya tulis.  Ia menyebutkan bagaimana kegiatan sehari-harinya.

“Saya tidur setelah Isya. Bangun pukul dua malam. Mulai duduk di sofa itu. Buka laptop. Terus mengetik hingga ketemu Isya lagi. Saya baru beranjak kalau salat, mandi, makan. Begitu setiap hari.

Kalau ditanya sudah berapa banyak karya yang dihasilkan--saking banyaknya--ia lupa. 

“Kalau dikira-kira, ya sekitar 150 novel. Kalau carpon atau cerpen lebih dari 1.000 judul. Belum dihitung, satu novel itu ada yang 12 seri seperti misalnya Silalatu Gunung Salak.

Soal kualitas karya-karyanya, bagi Kang Aan itu bukan tujuan utama. Terserah ia mau disebut sastrawan atau bukan. Terserah ia mendapat cibiran atau sanjungan dari pengamat sastra. 

“Semua karya saya, saya serahkan kepada pembaca yang menilai. Saya percaya, setiap penulis mempunyai pasarnya sendiri. Ada yang suka buku-buku sastra. Begitu pun karya saya ada pembacanya sendiri. Yang penting saya bisa terus menulis. Sebab, kabisa saya ngan cuma menulis. Dapur saya ngebul karena saya menulis,” katanya.

Meskipun begitu, di antara karyanya Sasakala Bojong Emas meraih penghargaan “Hadiah Samsudi Rancage” pada tahun 2009 dari Yayasan Kebudayaan Rancage. Kang Aan sendiri meraih penghargaan Anugerah Budaya Nusantara dari Partai Amanat Nasional Tahun 2017.

Sejumlah karya Kang Aan di antaranya, buku Sunda: Silalatu Gunung Salak; Sasakala Bojong Emas; Pasukan Siluman H. Prawatasari; Sriman Sriwacana Palangka Raja; Rambut Kasih; Misteri Rawa Onom; Rusiah Pelet Marongge; Saritem. Buku Bahasa Indonesia: Senja Jatuh di Pajajaran; Kunanti di Gerbang Pakuan; Memburu Kitab Karatuan Sunda; Dendam Surawisesa; Gadis Tionghoa; Pangeran Nusantara Jaya.

Bakat yang Diturunkan dari Ayahnya

Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Menurut Kang Aan, ia menulis sejak SMP. Mungkin bakatnya itu diturunkan dari ayahnya yang suka menulis naskah drama di Gang Masjid, Cicadas. Selain itu, sejak SD, Kang Aan memang suka menonton drama Sunda di Cicadas. Dari menonton drama itulah, ia mengenal Pajajaran. Prabu Siliwangi. Dan ia mulai senang bercerita. Dari situlah, bakat menulisnya tumbuh.

Tulisan pertamanya tahun 1964-an berupa sajak dimuat di rubrik “Pertemuan Kecil” asuhan Saini KM di Pikiran Rakyat

“Waktu itu saya bangga sekali. Tulisan saya berjejer dengan sastrawan Yayat Hendayana dan Wahyu Wibisana.”

Setelah itu, carponnya dimuat di majalah Mangle. Temanya bukan tentang anak-anak, melainkan  tentang kesengsaraan seorang guru.

“Carpon itu sebenarnya bercerita tentang ayah saya yang merupakan seorang guru,” kenangnya.

Lalu, pergilah Kang Aan bersepeda mengambil honor ke majalah Mangle. Si sekretaris redaksinya, bertanya kepada Aan kecil mana surat kuasanya? Aan kecil waktu itu bingung surat kuasa apa sebab dia sendiri yang menulis carpon itu. Rupanya si sekred tidak percaya bahwa carpon itu dibuat oleh Kang Aan yang masih SMP.

Setelah itu, tulisan demi tulisan mengalir. Tahun 1974 Abdullah Mustafa, yang bekerja di Mangle, meminta Kang Aan untuk magang, membantunya di Mangle. Di Mangle, Kang Aan hanya bisa bertahan empat tahun.

Lalu, Kang Aan tahun 1978 pindah menjadi Redaktur Pelaksana koran Sipatahoenan. Kantor Sipatahoenan bertempat di Jalan Sumatra. Kini, kantor Paguyuban Pasundan. 

“Di Sipatahoenan gajinya lebih besar, tetapi lebih capek karena berupa koran harian. Jadi, harus kerja setiap hari,” kata Kang Aan. Di Sipatahoenan, Kang Aan digembleng oleh penulis-penulis besar.

Sama, di Sipatahoenan Kang Aan bertahan empat tahun hingga tahun 1982. Setelah itu, bergabung dengan Galura bersama Us Tiarsa, baik sebelum atau sesudah diambil alih oleh Pikiran Rakyat. “Di Pikiran Rakyat jadi tenaga magang selama 13 tahun. Tapi, setiap tulisan yang dimuat dibayar. Jadi gajinya terasa besar,” kata penulis yang tak lulus dari Akademi Bahasa Asing Jurusan Bahasa Jepang ini.

Di Grup Pikiran Rakyat, selain di Galura, juga membantu Kabar Priangan di Tasikmalaya. Pensiun di PR tahun 2007. Lalu, mendirikan Ujung Galuh yang karena kurang modal hanya bertahan 22 nomor.

Ide Menulis Tak Pernah Kering

Buku karya Aan M.P. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Buku karya Aan M.P. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Kang Aan setiap hari menulis. Tak peduli apakah tulisannya bakal dimuat/diterbitkan atau tidak. Yang penting menulis. Entahlah, idenya selalu ada. Tak pernah kering. Kalau tidak dituliskan hari itu, besok takut lupa. Katanya, di dalam pikiran ini antre berbagai ide yang belum tertuliskan. 

“Malah, saya takut mati karena belum semua ide ini tertuliskan semua,” kata Aan berseloroh.

Kang Aan tak pernah menawarkan tulisan ke penerbit, apalagi setelah ia pensiun dari Pikiran Rakyat. Ia fokus mendirikan Penerbit CV Pajajaran Mandiri untuk menampung tulisan-tulisannya. Lalu, buku-bukunya ia jual sendiri melalui facebook. 

“Ada saja pembelinya. Kebanyakan dari luar daerah,” katanya. 

Tapi ada juga  penerbit lain yang datang. Ia tinggal menyodorkan naskah yang sudah ada. 

“Saya tidak menawarkan tulisan ke koran. Suka tidak dikasih tahu apakah itu terbit atau tidak. Malah, tahunya kata orang. Kecuali kalau redakturnya yang minta, saya kasih.”

Baca Juga: Lakon Kelaparan dan Kemiskinan Melalui Puasa Ramadan

Menurutnya, ia pernah menulis tiga novel dalam dua hari. Ketika itu ada yang pesan buku banyak. Pembelinya berjanji akan membeli semua judul bukunya, termasuk di antaranya buku yang baru dibuat berupa judulnya saja. 

“Saya menulis tiga novel selama dua hari. Dua hari itu, saya ngagudrud we ngeutik. Tidak beranjak dari kursi sofa. Untung setiap novel isinya tak terlalu panjang, berupa novelet. Ya, 70 halamanan lah,” jelasnya.

Selama 50 tahun jadi penulis, ia tidak pernah merasa kaya. “Tapi, keluarga saya tidak mati karena kurang makan.” (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dudung Ridwan
Tentang Dudung Ridwan
Jurnalis dan Pengamat Bulutangkis

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 15 Feb 2026, 18:35 WIB

Ramadan dan Energi Spiritual bagi Integritas ASN

Ramadan sebagai energi spiritual untuk memperkuat integritas ASN melalui kejujuran, pengendalian diri, dan empati demi pelayanan publik yang mampu.
Ilustrasi ASN. (Sumber: indonesia.go.id)
Bandung 15 Feb 2026, 17:21 WIB

Menjemput Hari Raya di Kota Kembang: Cerita dari Kerumunan Berburu ‘Baju Bedug’

Ada satu pemandangan yang mencuri perhatian di pertengahan Februari ini, yakni kerumunan muslimah yang menyemut demi tradisi berburu "baju bedug" lebih awal.
Gelaran Lozy Big Warehouse Sale Vol. 7 Bandung yang berlangsung pada 14 hingga 16 Februari 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Bandung 15 Feb 2026, 15:33 WIB

Kisah Kembang Tahu Pak Maman Bertahan sejak 1996 di Tengah Zaman yang Terus Berubah

Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani.
Maman Rahman, seorang pedagang jajanan kembang tahu yang sudah berjualan sejak tahun 1996. Hampir genap 30 tahun lamanya usaha kuliner tradisional itu dirinya jalani. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 15:22 WIB

Dari Ngabeubeurang sampai Lilikuran Ramadan di Tatar Sunda

Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan.
Berikut lima istilah Sunda yang hampir selalu terdengar menjelang, selama, hingga akhir Ramadan. (Sumber: Ilusrtasi dibuat dengan ChatGPT)
Bandung 15 Feb 2026, 14:45 WIB

Melenggang dari 1989, Begini Cara Nasi Goreng Zebbotz Bertahan hingga Tiga Dekade

Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz.
Bukan anak kemarin sore merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan kelanggengan usaha nasi goreng Zebbotz. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 15 Feb 2026, 14:27 WIB

Sentra Keramik Kiaracondong Tinggal Bersisa Satu Tungku

Dari sekitar 30 pengrajin yang dahulu memenuhi kawasan ini, kini hanya tersisa satu tungku yang masih aktif menghasilkan panas untuk membakar.
Deretan keramik Haji Oma yang siap untuk dijual. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 11:40 WIB

Viaduct: Landmark Kota Bandung dan Kisah Cinta Soekarno

Di sekitar daerah tersebut pun ada Jalan yang cukup pendek yang dinamakan Jalan Viaduct. yang menghubungkan Viaduct ke Jalan Braga. 
Viaduct menghubungkan Jalan Suniaraja dengan Jalan Braga. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 15 Feb 2026, 08:49 WIB

Haji Oma: Napas Terakhir Keramik Kiaracondong

Satu per satu rekan dan kerabat Dikdik menyerah. Pabrik-pabrik ditutup, tungku-tungku dipadamkan. Kini, dari sekitar 30 pengrajin yang pernah berjaya, hanya satu yang masih bertahan.
Dikdik Gumilar meneruskan usaha ayahnya sebagai pembuat keramik yang terkenal dengan sebutan Keramik Haji Oma. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 15 Feb 2026, 07:26 WIB

Puasa 2026 di Bandung: Imlek & Cap Go Meh, Rabu Abu & Masa Pra Paskah, Nyepi & Lebaran

Tahun 2026 menjadi tahun yang unik secara religius, spiritual, dan kultural di Indonesia, termasuk di Bandung.
Pasar Cihapit. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Beranda 14 Feb 2026, 19:20 WIB

Bandung Review Membaca Risiko Cekungan, Gempa, dan Masa Depan Kota

Program ini awalnya digagas di Pustaka Selasar. Namun karena jumlah peserta kerap melebihi kapasitas, diskusi dipindahkan ke ruang yang lebih besar.
Geografiwan kawakan T Bachtiar di Bandung Review #006. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bandung 14 Feb 2026, 13:19 WIB

Alasan Mengapa Bandung Menjadi Kunci Strategis Bagi Pertumbuhan Industri Purifikasi di Indonesia

Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat.
Bandung bukan hanya sebagai pasar, melainkan sebagai barometer pertumbuhan industri home appliances berbasis teknologi kesehatan di Jawa Barat. (Sumber: Coway)
Beranda 14 Feb 2026, 12:36 WIB

Cekungan Bandung: Catatan tentang Kota Kreatif yang Berdiri di Tengah Ancaman Geologis dan Minimnya Mitigasi

Namun di bawah beton dan aspal, tersimpan endapan lumpur puluhan ribu tahun yang menjadi fondasi kehidupan sekaligus potensi risiko.
Titi Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Nasional Indonesia dan anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 14 Feb 2026, 06:43 WIB

Di Sekitar PLTU, Warga Menanggung Risiko di Balik Pasokan Listrik

Selama batu bara masih menjadi tulang punggung sistem energi nasional, risiko paparan polusi terhadap warga di sekitar PLTU akan terus ada.
Peneliti Trend Asia, Bayu Maulana, menjelaskan bahwa Toxic 20 memetakan PLTU dengan tingkat pencemaran tertinggi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 21:23 WIB

Sebelum Kamu ‘Ngabuburit’, Kenalan Dulu dengan Bahasa Lokal yang Penuh Tradisi

Kata-kata itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan penanda kebersamaan.
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 18:32 WIB

Asyik Numpeng

Dari sebakul nasi kuning itulah, Ramadan dimulai, hadir menyapa kaum muslimin.
Ilustrasi Tumpeng, Masakan Khas Indonesia yang Memiliki Banyak Filosofi. (Sumber: Unsplash | Foto: Inna Safa)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 15:55 WIB

Laladon, Endapan Ingatan dari Gempa 1699

Nama geografis Laladon, bertalian erat dengan kejadian gempa bumi besar yang mengambrolkan dinding utara Gunung Salak.
Desa Laladon di Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra Satelit Google maps)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 14:03 WIB

Munggahan dan 4 Kata yang Menandai Datangnya Ramadan di Indonesia

Selain munggahan, ada empat kata lainnya yang sering dipakai untuk menyambut bulan Ramadan.
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Beranda 13 Feb 2026, 11:09 WIB

Di Balik Toxic 20: Gugatan, Transparansi Data, dan Desakan Transisi Energi yang Lebih Adil

Dampak PLTU tidak hanya dirasakan langsung oleh warga sekitar, tetapi juga secara tidak langsung oleh wilayah lain, termasuk Kota Bandung.
Amplifikasi Isu dan Diskusi Publik Toxic 20 Jawa Barat di Gedung Indonesia Menggugat, 10 Februari 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 13 Feb 2026, 10:02 WIB

Dampak PLTU: Cerita Warga tentang Laut yang Menyempit, Sawah yang Melemah, dan Hutan yang Perlahan Terbuka

Kisah mereka datang dari wilayah berbeda, tetapi memiliki benang merah yang sama: perubahan lingkungan dan rasa cemas yang terus tumbuh.
Ilustrasi PLTU, bagi warga sekitar, cerobong itu adalah penanda perubahan yang tidak mereka minta. (Sumber: Unsplash | Foto: Marek Piwnicki)
Ayo Netizen 13 Feb 2026, 09:39 WIB

Betapa Pentingnya Belajar Menulis Copywriting

Sejak dulu, menulis membantu manusia mengabadikan ide dan mendorong kemajuan ilmu.
Rizki Sanjaya sedang memaparkan materi kepada para peserta Workshop Seni Menulis Copywriting. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)