Separuh Kehidupan untuk Kemacetan di Kota Bandung

4 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Berbicara mengenai kemacetan di kota Bandung memang tidak lepas dari topik hangat juga krusial yang justru sulit terselesaikan. Kian hari rasanya lonjakan penggunaan motor kian meningkat. Sebagai masyarakat Bandung yang harus melewati area Rancamanyar untuk bermobilisasi—saya merasakan betul bagaimana ledakan kendaraan bisa terlihat saat hujan terus mengguyur seluruh area di Kota Bandung.

Air yang meluap dari sungai Citarum menjadikan beberapa akses tertutup sehingga banyak masyarakat yang mencari jalan pintas dengan melewati jalan tikus. Masalahnya jalan alternatif yang bisa dilalui melalui perkampungan itu sangat terbatas lebarnya. Bahkan sesekali mobil yang keluar dari perumahan warga terhambat karena jalan dipenuhi oleh sejumlah pemotor yang hingar-bingar mengejar waktu untuk tidak telat masuk sekolah atau bekerja.

Kemacetan di Kawasan Rancamanyar rasanya seperti sudah menjadi gaya hidup yang mau tidak mau harus dijalani. Kemacetan tidak terjadi saat hujan datang melanda tapi pada setiap kesempatan dan hari-hari padat lainnya seperti senin-sabtu- minggu. 15 menit cukup berarti bagi masyarakat yang tinggal di daerah Rancamanyar—karena jia telat saja beberapa menit maka bisa saja terjebat kemacetan satu hingga 2 jam.

Beberapa tahun terakhir ketika kuliah di Kawasan Cibiru rasanya pergi kuliah adalah hukuman kecil yang harus dijalani setiap hari. Tidak hanya armada transportasi umum yang sulit—terbatasnya jumlah DAMRI pun bisa menjadi penybab terjebaknya macet di jam rawan.

Tidak pernah terbayang oleh saya jika kini harus mengalami lagi kemacetan dengan melintasi sepanjang jalan seokarno hatta. Setelah saya memutuskan kembali mengambil pendidikan profesi apoteker di salah satu kampus yang tidak jauh dari Kawasan Cibiru.

Ketika kuliah dimulai jam 08:00 maka saya harus berangkat pukul 05:30 dari Rancamanyar supaya tidak terdampak macet dan telat masuk perkuliahan. Selepas pulang kuliah dari kampus sekitar jam 14:30 maka saya bisa saja sampai rumah 2 jam setelahnya yaitu jam 16:30. Namun estimasi ini bisa saja meleset karena perkuliahan saya bersamaan dengan bulan Ramadhan. Saya bahkan pernah sampai rumah pukul 18:30 karena kemacetan yang melonjak dua kali lipat dari hari biasanya.

Jujur sih rasanya sedikit melelahkan harus menghabiskan waktu panjang di tengah kemacetan kota bandung. Rasanya hidup hanya bergumul di suara knalpot racing dan asap kendaraan. Unttuk menuju rumah, pertama saya harus menggunakan angkot Cicadas- Cibiru yang seringkali ngetem lama karena penumpangnya tidak begitu banyak. Jaraknya menuju samsat kurang lebih 8 kilo dengan estimasi 18 menit hingga 30 menit. Selanjutnya menggunakan angkot 08 menuju arah Cibaduyut dengan jarak 5.4 kilo tapi angkot ini menjadi rekor terlama untuk ngetem. 30 menit baru bisa dikatakan cepat karena biasanya 45-60 menit sambil sesekali terhenti oleh lampu merah. Selanjutnya kembali menggunakan angkot 08 tapi menuju jembatan rancamanyar sekitar 6.4 kilo dengan estimasi 30- 60 menit—belum ditambah kemacetan rutin yang sering terjadi di sepanjang Cibaduyut-Cangkuang-Rancamanyar. Titik terakhir biasanya menggunakan satu kali lagi angkot. Namun semenjak tahun 2020 angkot ini sudah bangkrut tidak lagi beroperasi. Jadi biasanya saya berjalan kaki kalau dirasa badan masih segar tapi kalau sudah cape biasanya saya mau tidak mau menggunakan gojek.

Bergumul dengan kemacetan memang tidak mudah—selain waktu banyak terbuang saya juga sering tertidur di transportasi umum. Saya selalu membayangkan jika transportasi umum di Bandung beranjak lebih baik. Saya selalu membayangkan jalananan kota Bandung seperti di luar negeri—terintegrasi dengan baik. Mengurangi kendaraan bermotor dan memaksimalkan bus untuk mobilitas yang jauh juga membiasakan jalan kaki untuk jarak yang dekat. Trotoar tidak lagi dijadikan lahan parkir liar, tempat berjualan, atau sesekali berubah menjadi jalan bagi para kendaraan roda dua ketika macet datang melanda.

Saya selalu membayangkan betapa indahnya trotoar lebar yang ramah dengan pejalan kaki, tidak lagi berlubang dan dipenuhi dengan gunungan sampah di sepanjang jalan. Mendapat sinar matahari yang cukup saat pagi dan mendapat penerangan cukup di saat malam hari.

Nyatanya mimpi itu terasa sangat sulit terwujud karena sebagian besar masyarakat sangat suka dengan hal-hal praktis dan salah satunya menggunakan motor untuk mobilisasi. Bahkan motor bukan hanya sebagai sebuah kebutuhan tapi sebagai ajang kompetisi untuk berlomba memiliki motor keluaran baru. Motor tidak hanya sebagai kendaran atau alat untuk menunjukkan eksistensi diri.

Bahkan satu-satunya harapan saya yaitu Damri Cibiru-Cibereum—kini akses dan jumlahnya semakin terbatas. Padahal dengan damri saya tidak pernah mempermasalahkan kemacetan kota bandung karena damri adalah salah satu transportasi yang nyaman untuk beristirahat sejenak. Lewat damri kadang saya menemukan banyak makna hidup bahwa setiap dari kita punya lelahnya masing-masing. Tapi karena kita saling melihat satu sama lain dan memahami makna perjuangan tiap orang tanpa harus mengungkapkan. Meski lelah kita tetap bisa istirahat sejenak dalam damri yang sejuk oleh ac. Dan secara magical kita telah saling menguatkan untuk bertahan dan melanjutkan hidup sebagaimana takdir menuntun kita semua.

Entah kapan kemacetan Bandung akan terselesaikan. Satu hal yang pasti ketenangan yang selalu digaungkan oleh masyarakat bandung dan mereka yang berasal dari luar kota yang selalu mengagung-agungkan kedamaian tentang kota bandung. Saya hanya ingin menyuarakan bahwa bandung tak lagi sama. Kemacetan sudah terlalu banyak merampas kedamaian dan ketenangan itu tidak akan didapat secara utuh selama kita tidak bersinergi dengan baik untuk menjaga kota bandung. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 12:24

Ayam Bekakak: Eksplorasi Gastronomi, Akar Historis, dan Filosofi Budaya Sunda

Dalam peta kuliner Tatar Pasundan, Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam) bukan sekadar sajian pemuas lapar.

Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam), hidangan ayam panggang utuh khas Tatar Pasundan. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: amrufm)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 11:19

Sesi Cukur Malam

Berkisah pembicaraan dua orang sobat, tukang cukur dan pelanggannya yang seorang dosen. Mereka menggosipkan mengenai kesialan-kesialan nasib karib mereka semasa SMA.

Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)