Separuh Kehidupan untuk Kemacetan di Kota Bandung

Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan Rabu 06 Mei 2026, 18:29 WIB
Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)

Berbicara mengenai kemacetan di kota Bandung memang tidak lepas dari topik hangat juga krusial yang justru sulit terselesaikan. Kian hari rasanya lonjakan penggunaan motor kian meningkat. Sebagai masyarakat Bandung yang harus melewati area Rancamanyar untuk bermobilisasi—saya merasakan betul bagaimana ledakan kendaraan bisa terlihat saat hujan terus mengguyur seluruh area di Kota Bandung.

Air yang meluap dari sungai Citarum menjadikan beberapa akses tertutup sehingga banyak masyarakat yang mencari jalan pintas dengan melewati jalan tikus. Masalahnya jalan alternatif yang bisa dilalui melalui perkampungan itu sangat terbatas lebarnya. Bahkan sesekali mobil yang keluar dari perumahan warga terhambat karena jalan dipenuhi oleh sejumlah pemotor yang hingar-bingar mengejar waktu untuk tidak telat masuk sekolah atau bekerja.

Kemacetan di Kawasan Rancamanyar rasanya seperti sudah menjadi gaya hidup yang mau tidak mau harus dijalani. Kemacetan tidak terjadi saat hujan datang melanda tapi pada setiap kesempatan dan hari-hari padat lainnya seperti senin-sabtu- minggu. 15 menit cukup berarti bagi masyarakat yang tinggal di daerah Rancamanyar—karena jia telat saja beberapa menit maka bisa saja terjebat kemacetan satu hingga 2 jam.

Beberapa tahun terakhir ketika kuliah di Kawasan Cibiru rasanya pergi kuliah adalah hukuman kecil yang harus dijalani setiap hari. Tidak hanya armada transportasi umum yang sulit—terbatasnya jumlah DAMRI pun bisa menjadi penybab terjebaknya macet di jam rawan.

Tidak pernah terbayang oleh saya jika kini harus mengalami lagi kemacetan dengan melintasi sepanjang jalan seokarno hatta. Setelah saya memutuskan kembali mengambil pendidikan profesi apoteker di salah satu kampus yang tidak jauh dari Kawasan Cibiru.

Ketika kuliah dimulai jam 08:00 maka saya harus berangkat pukul 05:30 dari Rancamanyar supaya tidak terdampak macet dan telat masuk perkuliahan. Selepas pulang kuliah dari kampus sekitar jam 14:30 maka saya bisa saja sampai rumah 2 jam setelahnya yaitu jam 16:30. Namun estimasi ini bisa saja meleset karena perkuliahan saya bersamaan dengan bulan Ramadhan. Saya bahkan pernah sampai rumah pukul 18:30 karena kemacetan yang melonjak dua kali lipat dari hari biasanya.

Jujur sih rasanya sedikit melelahkan harus menghabiskan waktu panjang di tengah kemacetan kota bandung. Rasanya hidup hanya bergumul di suara knalpot racing dan asap kendaraan. Unttuk menuju rumah, pertama saya harus menggunakan angkot Cicadas- Cibiru yang seringkali ngetem lama karena penumpangnya tidak begitu banyak. Jaraknya menuju samsat kurang lebih 8 kilo dengan estimasi 18 menit hingga 30 menit. Selanjutnya menggunakan angkot 08 menuju arah Cibaduyut dengan jarak 5.4 kilo tapi angkot ini menjadi rekor terlama untuk ngetem. 30 menit baru bisa dikatakan cepat karena biasanya 45-60 menit sambil sesekali terhenti oleh lampu merah. Selanjutnya kembali menggunakan angkot 08 tapi menuju jembatan rancamanyar sekitar 6.4 kilo dengan estimasi 30- 60 menit—belum ditambah kemacetan rutin yang sering terjadi di sepanjang Cibaduyut-Cangkuang-Rancamanyar. Titik terakhir biasanya menggunakan satu kali lagi angkot. Namun semenjak tahun 2020 angkot ini sudah bangkrut tidak lagi beroperasi. Jadi biasanya saya berjalan kaki kalau dirasa badan masih segar tapi kalau sudah cape biasanya saya mau tidak mau menggunakan gojek.

Bergumul dengan kemacetan memang tidak mudah—selain waktu banyak terbuang saya juga sering tertidur di transportasi umum. Saya selalu membayangkan jika transportasi umum di Bandung beranjak lebih baik. Saya selalu membayangkan jalananan kota Bandung seperti di luar negeri—terintegrasi dengan baik. Mengurangi kendaraan bermotor dan memaksimalkan bus untuk mobilitas yang jauh juga membiasakan jalan kaki untuk jarak yang dekat. Trotoar tidak lagi dijadikan lahan parkir liar, tempat berjualan, atau sesekali berubah menjadi jalan bagi para kendaraan roda dua ketika macet datang melanda.

Saya selalu membayangkan betapa indahnya trotoar lebar yang ramah dengan pejalan kaki, tidak lagi berlubang dan dipenuhi dengan gunungan sampah di sepanjang jalan. Mendapat sinar matahari yang cukup saat pagi dan mendapat penerangan cukup di saat malam hari.

Nyatanya mimpi itu terasa sangat sulit terwujud karena sebagian besar masyarakat sangat suka dengan hal-hal praktis dan salah satunya menggunakan motor untuk mobilisasi. Bahkan motor bukan hanya sebagai sebuah kebutuhan tapi sebagai ajang kompetisi untuk berlomba memiliki motor keluaran baru. Motor tidak hanya sebagai kendaran atau alat untuk menunjukkan eksistensi diri.

Bahkan satu-satunya harapan saya yaitu Damri Cibiru-Cibereum—kini akses dan jumlahnya semakin terbatas. Padahal dengan damri saya tidak pernah mempermasalahkan kemacetan kota bandung karena damri adalah salah satu transportasi yang nyaman untuk beristirahat sejenak. Lewat damri kadang saya menemukan banyak makna hidup bahwa setiap dari kita punya lelahnya masing-masing. Tapi karena kita saling melihat satu sama lain dan memahami makna perjuangan tiap orang tanpa harus mengungkapkan. Meski lelah kita tetap bisa istirahat sejenak dalam damri yang sejuk oleh ac. Dan secara magical kita telah saling menguatkan untuk bertahan dan melanjutkan hidup sebagaimana takdir menuntun kita semua.

Entah kapan kemacetan Bandung akan terselesaikan. Satu hal yang pasti ketenangan yang selalu digaungkan oleh masyarakat bandung dan mereka yang berasal dari luar kota yang selalu mengagung-agungkan kedamaian tentang kota bandung. Saya hanya ingin menyuarakan bahwa bandung tak lagi sama. Kemacetan sudah terlalu banyak merampas kedamaian dan ketenangan itu tidak akan didapat secara utuh selama kita tidak bersinergi dengan baik untuk menjaga kota bandung. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)