Ramadhan, Kemacetan, dan Ujian Tata Kelola Kota Bandung

Aulia Rosdiana
Ditulis oleh Aulia Rosdiana diterbitkan Kamis 26 Feb 2026, 15:04 WIB
Kemacetan di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Kemacetan di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Menjelang waktu berbuka, antrean kendaraan di sekitar Alun-alun Bandung mengular hingga beberapa ruas jalan utama. Klakson bersahutan, pengendara saling mencari celah, sementara azan magrib tinggal menghitung menit.

Bulan Ramadhan selalu membawa nuansa yang berbeda yang dapat mengubah ritme kota bahkan pola gerak masyarakatnya. Waktu terasa lebih padat, jalanan lebih ramai, dan ruang publik lebih hidup. Namun di Bandung, perubahan itu sering kali disertai satu hal yang nyaris selalu hadir: kemacetan yang semakin terasa. Padahal, tanpa Ramadhan pun, Bandung sudah lama bergulat dengan persoalan mobilitas.

Merujuk pada TomTom Traffic Index 2025, tingkat kemacetan rata-rata di Bandung mencapai sekitar 64 persen, dengan waktu tempuh 10 kilometer yang bisa melampaui 30 menit. Angka tersebut menempatkan Bandung sebagai salah satu kota dengan tingkat kemacetan tertinggi di Indonesia. Artinya, bahkan tanpa festival atau agenda besar, sistem mobilitas kota ini sudah bekerja dalam tekanan yang tinggi.

Bandung memiliki potensi besar sebagai kota religi sekaligus kota kreatif, keramaian adalah konsekuensi dari daya tarik itu. Tetapi daya tarik tanpa kesiapan hanya akan memperlihatkan batas kapasitas kota. Dan tahun ini, dinamika mobilitas Ramadhan menjadi lebih menarik karena sebuah fenomena baru yang layak dicermati.

Momentum Festival dan Kesiapan Sistem Kota

Menurut berita di Harian Pikiran Rakyat, kegiatan Masjid Agung Ramadan Festival (MARF) pada rentang 6–15 Maret 2026 kembali digelar di Masjid Raya Bandung setelah vakum lebih dari satu dekade. Festival ini digagas sebagai bentuk kolaborasi antara pengurus masjid, Pemerintah Kota Bandung, dan BAZNAS, menyatukan kegiatan agama, budaya, seni, dan ekonomi dalam satu rangkaian acara.

Secara sosial dan ekonomi, ini tentu kabar baik. Ruang publik kembali hidup, interaksi warga meningkat, ruang temu komunitas, generasi muda dekat dengan nilai agama dan pelaku UMKM mendapatkan peluang perputaran ekonomi. Festival yang sempat terhenti kini kembali sebagai simbol kebangkitan untuk menyemarakan Ramadhan di jantung kota.

Namun di sinilah pertanyaan mendasarnya muncul: apakah sistem kota sudah cukup siap untuk menampung kebangkitan itu?

Keliru jika festival dijadikan kambing hitam. Masjid Agung Ramadan Festival bukan sumber masalah kemacetan. Kehadiran festival justru menjadi katalis yang memperlihatkan realitas struktural kota. Sebuah kaca pembesar yang menunjukkan batas kapasitas sistem transportasi yang sudah lama terasa. Tanpa penanganan yang komprehensif dan terintegrasi, setiap agenda besar di luar bulan Ramadhan pun berpotensi menimbulkan kepadatan serupa.

Kabar baiknya, pemerintah Kota Bandung tidak tinggal diam. Merujuk pada laporan PRFM News, Pemkot Bandung memprioritaskan pembenahan infrastruktur jalan serta penyempurnaan sistem lampu lalu lintas berbasis Automatic Traffic Control System (ATCS) dengan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Sistem ini diharapkan mampu mengatur waktu lampu lalu lintas secara adaptif berdasarkan kepadatan riil di lapangan. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan pembenahan sektor transportasi massal, penataan ulang angkot sebagai feeder BRT, hingga pembangunan infrastruktur seperti jalan layang, drainase, dan ruang terbuka hijau merupakan arah kebijakan yang tepat. Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa persoalan kemacetan disadari sebagai problem sistemik yang membutuhkan solusi terintegrasi.

Yang dibutuhkan sekarang adalah konsistensi dan percepatan implementasi. Reformasi sistem transportasi tidak boleh berhenti pada wacana atau perencanaan teknis semata. Masyarakat perlu mengawal agar program-program ini berjalan efektif, tepat waktu, dan benar-benar berdampak pada pengurangan kemacetan serta peningkatan kualitas hidup warga.

Baca Juga: Warungcontong, Warung yang Nasinya Dibungkus Daun Pisang Berbentuk Contong

Ramadhan sebagai Momentum Evaluasi Sistem

Ramadhan selalu dimaknai sebagai ruang evaluasi dan pengendalian diri. Setiap individu berupaya menata ulang ritme hidupnya. Menahan diri, mengatur waktu, dan meningkatkan kualitas ibadah. Dalam konteks kota, semangat yang sama seharusnya berlaku. Keramaian yang meningkat bukan sekadar konsekuensi musiman, tetapi momentum untuk menguji seberapa matang sistem tata kelola bekerja di bawah tekanan.

Teknologi seperti ATCS berbasis kecerdasan buatan dan pembenahan transportasi massal merupakan bagian dari solusi struktural. Namun sistem tidak pernah berdiri sendiri. Ketertiban di jalan raya tetap sangat ditentukan oleh perilaku warga. Parkir sembarangan, pelanggaran marka, serta kebiasaan menerobos simpang padat bukan persoalan kecil. Praktik-praktik tersebut memperbesar beban sistem yang kapasitasnya sudah terbatas.

Pada akhirnya, kemacetan bukan semata persoalan jumlah kendaraan, melainkan soal tata kelola dan budaya kolektif. Jika Ramadhan mengajarkan pengendalian diri, nilai tersebut juga relevan dalam penggunaan ruang publik. Tanpa kesadaran bersama, pembenahan teknis akan selalu tertinggal oleh kebiasaan yang tidak tertib.

Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)

Antara Momentum dan Kematangan

Kembalinya Ramadan Festival setelah lebih dari satu dekade menunjukkan bahwa tradisi dapat bangkit kembali. Pertumbuhan aktivitas sosial dan ekonomi merupakan tanda positif. Namun momentum tersebut perlu diiringi dengan penguatan sistem.

Posisi Bandung sebagai salah satu kota termacet dunia adalah pengingat bahwa perbaikan tidak bisa ditunda. Agenda pembenahan yang telah direncanakan perlu dikawal bersama agar menghasilkan perubahan nyata.

Ramadhan setiap tahun akan kembali. Agenda publik juga akan terus bertambah. Pertanyaannya bukan apakah kota akan ramai, melainkan apakah kota sudah cukup matang untuk mengelola keramaian tersebut.

Kualitas tata kelola dan kedisiplinan kolektif akan menentukan jawabannya. Bandung memiliki energi dan potensi. Yang dibutuhkan adalah konsistensi pelaksanaan kebijakan serta komitmen bersama untuk menjaga ruang kota tetap tertib dan layak huni.

Keramaian tidak harus identik dengan kekacauan. Dengan sistem yang kuat dan budaya disiplin yang tumbuh, keramaian justru dapat menjadi tanda kota yang hidup dan terkelola dengan baik. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Aulia Rosdiana
ASN di Pusat Pembelajaran dan Strategi Kebijakan Talenta ASN Nasional LAN RI

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 13 Apr 2026, 18:07

Lalap: Rahasia Kesehatan dan Identitas Budaya di Meja Makan Sunda

Tradisi mengonsumsi tumbuhan segar atau lalab (lalap) adalah denyut nadi kebudayaan yang selama ini lebih banyak berpindah melalui tutur lisan.

Lalapan dan sambal terasi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Bandung 13 Apr 2026, 18:06

Mencicipi 'The Best Dirty Latte in Town' di CO,MA Coffee Matter, Coffee Shop dengan Bakery Paling 'Niat' di Bandung

Menjadi pusat gravitasi komunitas kreatif, Coffee Matter hadir bukan hanya membawa aroma biji kopi pilihan, melainkan sebuah ekosistem gaya hidup yang inklusif.

CO,MA Coffee Matter hadir bukan hanya membawa aroma biji kopi pilihan, melainkan sebuah ekosistem gaya hidup yang inklusif. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Wisata & Kuliner 13 Apr 2026, 17:00

Panduan Wisata Capolaga Subang, Surga Tiga Curug dan Camping di Kebun Teh

Wisata Capolaga Subang menawarkan tiga curug, camping ground, dan trekking kebun teh dengan suasana alam sejuk dan asri.

Salah satu curug yang ada di Wisata Alam Capolaga. (Sumber: subang.go.id)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 16:11

Bandung dalam Novel ‘Dilan ITB 1997’

Mari kita telusuri jejak-jejak Dilan dan Ancika di Bandung tahun 1997.

Poster film 'Dilan ITB 1997'. (Sumber: Falcon Pictures)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 15:12

Ketik, Kurir, dan Kupon

Setiap kata yang ditulis dengan sungguh-sungguh selalu menemukan jalan bersama untuk menjadi ilmu, rezeki, dan kenangan yang tak pernah benar-benar selesai.

Ayobandung.id dengan bangga mengumumkan 10 netizen terpilih dengan kontribusi terbaik di kanal AYO NETIZEN (Sumber: Unsplash/Bram Naus)
Linimasa 13 Apr 2026, 14:00

Sejarah dan Kontroversi Konversi Gas Elpiji di Indonesia

Program konversi minyak tanah ke LPG sejak 2007 mengubah pola energi rumah tangga, namun menyisakan kontroversi, kecelakaan, dan polemik kebijakan

Sejumlah warga mengantre untuk membeli gas elpiji di Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 12:43

Potret Bandung Era 90-an dalam Kenangan 

Bandung pada awal 1990-an adalah kota yang bergerak dengan irama pelan.

Bus DAMRI jadul di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 13 Apr 2026, 10:24

Intelektual, Masyarakat Sipil, dan Perubahan Sosial

Di tengah kondisi yang tidak pasti saat ini, kita membutuhkan intelektual yang mampu berpikir jernih, masyarakat sipil yang kuat, dan keberanian untuk melakukan perubahan sosial.

Calon jemaah haji saat kegiatan pelepasan manasik haji di Masjid Pusat Dakwah Islam (Pusdai), Kota Bandung, Rabu (1/4/2026). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Komunitas 13 Apr 2026, 09:11

Masagi Tjibogo, Kekuatan Warga Lokal Mengolah Sampah Hingga Produknya Tembus Pasar Global

Komunitas Masagi Tjibogo mengolah sampah berbasis budaya lokal, membangun kesadaran warga, sekaligus menciptakan produk bernilai ekonomi yang menembus pasar global.

Abang Oyong yang sudah memasuki usia 80-an membantu membuat karpet hasil olahan sampah di Komunitas Masagi Tjibogo. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Komunitas 13 Apr 2026, 05:25

Bandung Berpuisi Buka Panggung, Siapa Saja Bisa Bersuara Lewat Kata

Komunitas Bandung Berpuisi menghadirkan panggung terbuka melalui Open Mic Vol. 17 sebagai ruang ekspresi bagi siapa saja untuk membacakan karya, sekaligus mendekatkan puisi kepada masyarakat.

Puluhan penampil memeriahkan Open Mic Vol. 17 Bandung Berpuisi untuk mengekspresikan karya dan merayakan puisi secara langsung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Sejarah 12 Apr 2026, 14:38

Sejarah Letusan Galunggung 1982, Sembilan Bulan Bencana Vulkanik di Jawa Barat

Letusan Galunggung 1982 berlangsung sembilan bulan, memicu pengungsian massal, kerusakan luas, dan menjadi salah satu bencana vulkanik terbesar di Jawa Barat.

Letusan Galunggung 1982. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 12 Apr 2026, 13:26

4 Ide Cerita untuk Kamu yang Merasa 'Terasing' di Bandung Kampung Halamanmu

Kita berdiri di kota tempat lahir, tapi merasa seperti tamu.

Wisata kuda tunggang di kawasan Jalan Cilaki, Kota Bandung, Rabu 25 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 12 Apr 2026, 09:39

Hikayat Kampung Adat Mahmud, Penyebaran Islam hingga Larangan Menabuh Gong

Kampung Adat Mahmud di Bandung menyimpan sejarah penyebaran Islam, tradisi rumah panggung, dan larangan menabuh gong yang masih dijaga.

Kampung Mahmud, Bandung. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 12 Apr 2026, 08:52

Bandung Era 1990-an dalam Ingatan Anak Kost

Bandung era 90-an, bagi saya, bukan sekadar kenangan. Ia adalah rumah yang selalu bisa saya kunjungi, kapan saja, dalam ingatan.

Anak kost era 1990-an, bersahabat dengan Erwan Setiawan, kini Wagub Jawa Barat. Kenangan sederhana yang tak lekang waktu. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 11 Apr 2026, 08:51

JPO Berkarat dan Berlubang Membahayakan Pelajar di Batas Kota Bandung–Cimahi, Tanggung Jawab Siapa?

JPO di Jalan Amir Machmud rusak parah: lantai berlubang, berkarat, dan tanpa atap pelindung, membahayakan pejalan kaki terutama pelajar.

Pelejar berjalan di JPO di Jalan Amir Machmud, perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, Jumat, 10 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 20:01

Antara Bandung yang Kubayangkan dan Kenyataan yang Kutemui

Bagi banyak orang, Bandung selalu punya tempat istimewa dalam imajinasi.

Jalan Asia-Afrika, depan Alun-Alun Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Suci Firda)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 18:23

WFH sebagai Cermin Budaya Kerja Aparatur

Hilangnya kehadiran fisik dalam WFH menantang organisasi untuk membangun sistem penilaian kerja yang berbasis output dan tanggung jawab.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Bandung 10 Apr 2026, 16:36

Mengenal Dongmoon Dimsum, Ikon Kuliner Baru di Pasar Cihapit yang Viral Lewat Varian Mentai

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum tetap kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung.

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ikon 10 Apr 2026, 15:17

Sejarah Istana Cipanas, Warisan Kolonial di Kaki Gunung Gede Pangrango

Istana Cipanas bermula dari rumah singgah abad ke-18, berkembang menjadi istana kepresidenan yang menyimpan jejak kolonial, perang, hingga keputusan penting negara

Lukisan Istana Cipanas, Cianjur, tahun 1880-1890-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:26

Jelajah Wisata Pangalengan dengan Pilihan Tempat Menginapnya

Pangalengan punya sejarah penginapan panjang, dari Berghotel hingga glamping modern di Rahong dan Situ Cileunca dengan nuansa alam yang menenangkan.

Muara Rahong Hills, salah satu glamping tempat menginap wisatawan di Pangalengan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)