Ramadhan, Kemacetan, dan Ujian Tata Kelola Kota Bandung

4 menit baca
Aulia Rosdiana
Ditulis oleh Aulia Rosdiana diterbitkan
Kemacetan di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Kemacetan di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Menjelang waktu berbuka, antrean kendaraan di sekitar Alun-alun Bandung mengular hingga beberapa ruas jalan utama. Klakson bersahutan, pengendara saling mencari celah, sementara azan magrib tinggal menghitung menit.

Bulan Ramadhan selalu membawa nuansa yang berbeda yang dapat mengubah ritme kota bahkan pola gerak masyarakatnya. Waktu terasa lebih padat, jalanan lebih ramai, dan ruang publik lebih hidup. Namun di Bandung, perubahan itu sering kali disertai satu hal yang nyaris selalu hadir: kemacetan yang semakin terasa. Padahal, tanpa Ramadhan pun, Bandung sudah lama bergulat dengan persoalan mobilitas.

Merujuk pada TomTom Traffic Index 2025, tingkat kemacetan rata-rata di Bandung mencapai sekitar 64 persen, dengan waktu tempuh 10 kilometer yang bisa melampaui 30 menit. Angka tersebut menempatkan Bandung sebagai salah satu kota dengan tingkat kemacetan tertinggi di Indonesia. Artinya, bahkan tanpa festival atau agenda besar, sistem mobilitas kota ini sudah bekerja dalam tekanan yang tinggi.

Bandung memiliki potensi besar sebagai kota religi sekaligus kota kreatif, keramaian adalah konsekuensi dari daya tarik itu. Tetapi daya tarik tanpa kesiapan hanya akan memperlihatkan batas kapasitas kota. Dan tahun ini, dinamika mobilitas Ramadhan menjadi lebih menarik karena sebuah fenomena baru yang layak dicermati.

Momentum Festival dan Kesiapan Sistem Kota

Menurut berita di Harian Pikiran Rakyat, kegiatan Masjid Agung Ramadan Festival (MARF) pada rentang 6–15 Maret 2026 kembali digelar di Masjid Raya Bandung setelah vakum lebih dari satu dekade. Festival ini digagas sebagai bentuk kolaborasi antara pengurus masjid, Pemerintah Kota Bandung, dan BAZNAS, menyatukan kegiatan agama, budaya, seni, dan ekonomi dalam satu rangkaian acara.

Secara sosial dan ekonomi, ini tentu kabar baik. Ruang publik kembali hidup, interaksi warga meningkat, ruang temu komunitas, generasi muda dekat dengan nilai agama dan pelaku UMKM mendapatkan peluang perputaran ekonomi. Festival yang sempat terhenti kini kembali sebagai simbol kebangkitan untuk menyemarakan Ramadhan di jantung kota.

Namun di sinilah pertanyaan mendasarnya muncul: apakah sistem kota sudah cukup siap untuk menampung kebangkitan itu?

Keliru jika festival dijadikan kambing hitam. Masjid Agung Ramadan Festival bukan sumber masalah kemacetan. Kehadiran festival justru menjadi katalis yang memperlihatkan realitas struktural kota. Sebuah kaca pembesar yang menunjukkan batas kapasitas sistem transportasi yang sudah lama terasa. Tanpa penanganan yang komprehensif dan terintegrasi, setiap agenda besar di luar bulan Ramadhan pun berpotensi menimbulkan kepadatan serupa.

Kabar baiknya, pemerintah Kota Bandung tidak tinggal diam. Merujuk pada laporan PRFM News, Pemkot Bandung memprioritaskan pembenahan infrastruktur jalan serta penyempurnaan sistem lampu lalu lintas berbasis Automatic Traffic Control System (ATCS) dengan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Sistem ini diharapkan mampu mengatur waktu lampu lalu lintas secara adaptif berdasarkan kepadatan riil di lapangan. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan pembenahan sektor transportasi massal, penataan ulang angkot sebagai feeder BRT, hingga pembangunan infrastruktur seperti jalan layang, drainase, dan ruang terbuka hijau merupakan arah kebijakan yang tepat. Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa persoalan kemacetan disadari sebagai problem sistemik yang membutuhkan solusi terintegrasi.

Yang dibutuhkan sekarang adalah konsistensi dan percepatan implementasi. Reformasi sistem transportasi tidak boleh berhenti pada wacana atau perencanaan teknis semata. Masyarakat perlu mengawal agar program-program ini berjalan efektif, tepat waktu, dan benar-benar berdampak pada pengurangan kemacetan serta peningkatan kualitas hidup warga.

Baca Juga: Warungcontong, Warung yang Nasinya Dibungkus Daun Pisang Berbentuk Contong

Ramadhan sebagai Momentum Evaluasi Sistem

Ramadhan selalu dimaknai sebagai ruang evaluasi dan pengendalian diri. Setiap individu berupaya menata ulang ritme hidupnya. Menahan diri, mengatur waktu, dan meningkatkan kualitas ibadah. Dalam konteks kota, semangat yang sama seharusnya berlaku. Keramaian yang meningkat bukan sekadar konsekuensi musiman, tetapi momentum untuk menguji seberapa matang sistem tata kelola bekerja di bawah tekanan.

Teknologi seperti ATCS berbasis kecerdasan buatan dan pembenahan transportasi massal merupakan bagian dari solusi struktural. Namun sistem tidak pernah berdiri sendiri. Ketertiban di jalan raya tetap sangat ditentukan oleh perilaku warga. Parkir sembarangan, pelanggaran marka, serta kebiasaan menerobos simpang padat bukan persoalan kecil. Praktik-praktik tersebut memperbesar beban sistem yang kapasitasnya sudah terbatas.

Pada akhirnya, kemacetan bukan semata persoalan jumlah kendaraan, melainkan soal tata kelola dan budaya kolektif. Jika Ramadhan mengajarkan pengendalian diri, nilai tersebut juga relevan dalam penggunaan ruang publik. Tanpa kesadaran bersama, pembenahan teknis akan selalu tertinggal oleh kebiasaan yang tidak tertib.

Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)
Masjid Raya Bandung. (Sumber: Wikimedia)

Antara Momentum dan Kematangan

Kembalinya Ramadan Festival setelah lebih dari satu dekade menunjukkan bahwa tradisi dapat bangkit kembali. Pertumbuhan aktivitas sosial dan ekonomi merupakan tanda positif. Namun momentum tersebut perlu diiringi dengan penguatan sistem.

Posisi Bandung sebagai salah satu kota termacet dunia adalah pengingat bahwa perbaikan tidak bisa ditunda. Agenda pembenahan yang telah direncanakan perlu dikawal bersama agar menghasilkan perubahan nyata.

Ramadhan setiap tahun akan kembali. Agenda publik juga akan terus bertambah. Pertanyaannya bukan apakah kota akan ramai, melainkan apakah kota sudah cukup matang untuk mengelola keramaian tersebut.

Kualitas tata kelola dan kedisiplinan kolektif akan menentukan jawabannya. Bandung memiliki energi dan potensi. Yang dibutuhkan adalah konsistensi pelaksanaan kebijakan serta komitmen bersama untuk menjaga ruang kota tetap tertib dan layak huni.

Keramaian tidak harus identik dengan kekacauan. Dengan sistem yang kuat dan budaya disiplin yang tumbuh, keramaian justru dapat menjadi tanda kota yang hidup dan terkelola dengan baik. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)