Eksistensi Koran dan Bapak Loper di Penghujung Era Digital

3 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Koran sepertinya menolak hilang di telan sejarah. Bersama dengan mereka yang menyebarkan literasi lewat penjual koran. Begitu juga mereka bertahan hidup di Kota Metropolitan (Sumber: Generated AI dari foto asli | Foto: Dias Ashari)
Koran sepertinya menolak hilang di telan sejarah. Bersama dengan mereka yang menyebarkan literasi lewat penjual koran. Begitu juga mereka bertahan hidup di Kota Metropolitan (Sumber: Generated AI dari foto asli | Foto: Dias Ashari)

Sore itu disebuah apotek yang berada di pusat kota- saya sedang berkonsultasi dengan penjaga apotek.

"Teh korannya mau ?"

"Sebentar yah pak" jawab saya karena tanggung sedang bertransaksi dengan penjaga apotek.

Meski tidak melihat secara langsung tapi sudut mata saya menangkap sebuah bayangan bapak tersebut berdiri 5 meter dari saya sambil dengan wajah penuh harap. Bukan karena ingin dikasihani tapi harapan dan kebahagiaan bahwa dirinya bisa menyambung hidup untuk sehari ke depan.

"Boleh pak, saya mau tribun satu."

" Satu aja teh ? gak sama Radar Bandungnya aja"

" Boleh pak, jadi berapa?"

"6000 teh" sambil mengusap peluhnya menggunakan sapu tangan karena sore itu cuaca Bandung memang panas.

Saya pun memberikan uang Rp.10.000 nominalnya memang tidak besar dan saya lebihkan sedikit bukan untuk mengasihani beliau tapi rasa terimakasih saya karena beliau tidak menyerah dengan kehidupannya.

Koran memang pernah berjaya pada masanya. Ada satu hal yang masih saya ingat terkait pengalaman saya dengan koran saat kecil. Waktu saya SD saya menantikan koran bukan untuk mencari informasi supaya pintar tapi kesukaan saya terhadap PERCIL (Peer Kecil) salah satu rubik yang ada di koran PR hari minggu.

Kiriman cerita pendek dari anak-anak Bandung lain yang berhasil terpajang di halaman utama. Beberapa puisi, rubik mewarnai, menggambar hingga cerita prestasi akademik anak-anak yang berhasil tumbuh dan berkembang memanfaatkan potensinya untuk ajang sebuah perlombaan.

Setelah bertambah usia saya baru menyadari bahwa potongan puzzle itu membentuk diri saya di hari ini. Saya rasa literasi memang tidak bisa secara instan dirasakan tapi dia tumbuh mengakar ke bawah untuk membuat pondasi yang kuat. Begitu akarnya kuat dia bertumbuh seperti pohon bambu- kadang tidak membutuhkan banyak cahaya dan air untuk tumbuh. Ia menjulang sedikit demi sedikit setiap harinya.

Meski hari ini eksistensi koran cetak sudah mulai ditinggalkan pembacanya tapi saya masih menjadi salah satu penggemar setianya. Saya rasa dalam dunia digital tidak bisa kita menolak keberadaannya karena kemungkinan besar kita bisa tergerus zaman. Namun koran cetak juga tidak seharusnya ditinggalkan karena ia mampu menghadirkan tulisan yang mendalam. Jadi menurut saya keduanya menjadi fleksibilitas saja ketika kita butuh informasi yang cepat maka kita bisa menggunakan koran digital tapi ketika kita butuh informasi yang lebih mendalam dan kaya dengan makna maka membaca koran cetak sesekali bukan hal tabu di penghujung dunia digital ini.

Membaca koran cetak di pagi hari sambil duduk di kursi pelataran teras sambil sesekali menyeruput kopi atau teh bisa mengurangi distraksi. Pelan, berjalan lambat maka kita akan menemukan bahwa di percepatan dunia ini kita bisa melihat sisi lain dari dunia. Seorang ibu yang berjualan kue untuk membantu perekonomian keluarga, bapak penjual lap yang mondar-mandir menawarkan jualannya hingga bapak koran yang mungkin saja lelah tapi dia tidak menyerah menawarkan barang antik yaitu "koran" di era sebagian besar masyarakat mulai meningalkan jejaknya.

Mungkin kita sering menemui penjual yang menawarkan jasa atau barang yang kita tidak butuh. Tapi sesekali cobalah membeli apa yang mereka tawarkan bukan karena kasihan tapi rasa terimakasih kita kepada mereka yang tetap memilih bertahan di negara yang bahkan tidak pernah melihat keberadaan mereka secara manusiawi.

Bapak koran yang sore itu masih membawa setumpukan koran dan harapan yang masih terjaga. Menjadi bukti nyata bahwa bukan saja mereka hampir tergerus zaman tapi antusiasme mereka hidup yang perlu kita teladani. Juga keberadaan mereka yang perlu terus disuarakan agar para pemangku kebijakan bisa ramah terhadap perekonomian mereka. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)