Apoteker Bertahan Melawan Penyalahgunaan Obat di Bandung tapi Tidak dengan Regulasinya

5 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Dari dulu eksistensi apoteker di masyarakat belum setenar dokter ataupun perawat dan profesi tenaga kesehatan lainnya. (Sumber: Pexels/Kaboompics.com)
Dari dulu eksistensi apoteker di masyarakat belum setenar dokter ataupun perawat dan profesi tenaga kesehatan lainnya. (Sumber: Pexels/Kaboompics.com)

Penyalahgunaan obat bukan isu baru yang bisa ditemukan di Indonesia begitu juga dengan temuannya di Kota Bandung. Beberapa tahun ke belakang bahkan saya pernah menemukan hal tersebut tidak jauh dari lingkungan tempat saya. Pertama saya pernah melihat secara langsung penggerebekan toko obat ilegal di daerah Palasari Cangkuang, Cibaduyut dan beberapa toko ilegal yang masih bertahan meski sangat terang-terangan menjual obat keras secara ilegal.

Bukan rahasia umum dalam pembahasan dunia farmasi jika toko obat ilegal tersebut bisa bertahan dengan dukungan oknum keamanan aparatur negara, beberapa preman dan oknum wartawan amplop. Selama setoran dan amplop kepada pihak terkait lancar maka lancar juga usahanya. Maka tidak heran ketika obat yang dijual harganya bisa melambung 3 sampai 10 kali lipat dari harga beli.

Kasus terbaru di tahun ini adalah penggerebekan rumah kontrakan di Perumahan Griya Bandung Indah (GBI). Dilansir dari ayobandung.com jika rumah kontrakan tersebut diduga kuat dijadikan tempat penyimpanan sementara sebelum obat-obatan di edarkan secara luas ke wilayah kabupaten Bandung. Sementara dilansir dari tribratanews juga telah ditemukan aksi penggerebekan di rumah pelaku di Rancasawo, Kelurahan Margasari sejumlah 600 butir obat terlarang dengan berbagai merk yang diedarkan tanpa izin resmi.

Bisnis ini memang sangat sulit diberantas hingga akarnya. Mereka bisa berkamuflase menjadi toko obat kuat, toko kelontong hingga berbagai toko minuman. Toko tersebut punya ciri khusus dan umumnya terdapat di bangunan yang mojok dan kumuh. Sekilas memang tidak menarik perhatian tapi jika diperhatikan dengan lebih jelas pada beberapa momen tertentu banyak pembeli dari anak muda dengan motor modifikasi. Tidak bermaksud mendeskritkan satu profesi tapi secara garis besar yang terlihat akan banyak pengamen remaja yang berkumpul disana.

Belum selesai dengan bisnis menjamur ini tiba-tiba BPOM mengeluarkan PerBPOM 2026 yang baru saja diterbitkan pada awal bulan Mei. Seperti kebanyakan peraturan pasti terdapat pro dan kontra. Tentu yang sangat terusik dari peraturan ini adalah mereka yang berprofesi apoteker dimana mereka dinaungi di bawah sumpah untuk tidak menggunakan pengetahuan kefarmasian demi kepentingan yang bertentangan dengan hukum dan kemanusiaan. Sejumlah besar apoteker marah karena peraturan tersebut hanya mempertimbangkan kemudahan akses tanpa melihat dampak terhadap keselamatan pasien.

Dari dulu eksistensi apoteker di masyarakat belum setenar dokter ataupun perawat dan profesi tenaga kesehatan lainnya. (Sumber: pexels/Artem Podrez)
Dari dulu eksistensi apoteker di masyarakat belum setenar dokter ataupun perawat dan profesi tenaga kesehatan lainnya. (Sumber: pexels/Artem Podrez)

Pihak lain yang terdampak dengan peraturan ini juga mereka yang memiliki bisnis swasta di bidang farmasi. Secara hukum dan regulasi mereka diatur secara ketat. Harus memenuhi izin bangunan, izin apotek yang dalam prosesnya butuh uang banyak. Dalam operasionalnya dalam pengadaan obat mereka dibatasi dengan izin seorang apoteker, sp khusus untuk obat prekusor dan oot yang punya efek mempengaruhi kesadaran. Sementara peraturan baru ini membuka peluang bagi swalayan modern untuk menyediakan obat tersebut tanpa sp khusus dan pengawasan tenaga farmasi. Padahal hal ini jelas bertentangan dengan UU Kesehatan No.17 Tahun 2023 yang menyebutkan

Praktik Kefarmasian-termasuk pengelolaan dan pelayanan kefarmasian harus dilakukan oleh Tenaga Kefarmasian

Pernyataan tersebut jelas mencederai tenaga kesehatan yang menurut BPOM tenaga pelatihan non farmasi dibutuhkan karena jumlah tenaga kesehatan farmasi yang terbatas. Padahal jauh lebih dalam banyak S1 Farmasi yang menganggur karena regulasi yang tidak memperkenankannya mendapat STR (Surat Tanda Registrasi). Jelas hal ini menjadi ketimpangan bagi pemilik usaha apotek dan juga mahasiswa penerus di jurusan farmasi.

Alih-alih memperbanyak akses penjualan obat di luar wewenangan tenaga farmasi saya rasa justru peraturan ini akan semakin mempermudah akses masyarakat yang sudah terbiasa menyalahgunakan obat untuk mabuk-mabukan. Bayangkan saja ketika apotek harus membatasi jumlah pembelian mextril hanya 2-3 strip di swalayan modern masyarakat bisa membeli obat tersebut sebanyak 1-2 box atau tidak ada aturan jelas yang menaunginya.

Sistem pemerintahan kita memang sangat senang bersaing dengan rakyatnya. Masyarakat dituntut mandiri membuka lapangan kerja karena pemerintah masih juga belum mengeluarkan 19 juta lapangan kerja. Namun regulasi mereka yang ngaco sering berimbas besar terhadap kalangan menengah yang coba untuk memperbaiki ekonomi masyarakat. Tak hanya dibebani oleh pajak pengusaha farmasi juga berperang dengan apotek Desa dibawah naungan koperasi merah putih. Juga tidak jauh berbeda ketika apotek desa boleh membuat apotek planel atau cabang tanpa harus menambah jumlah apoteker. Dan jelas hal ini semakin membuat buram wajah kesehatan di Indonesia.

Beberapa apoteker yang saya tahu sering memberi edukasi kesehatan melalui media sosial juga bertindak untuk memprotes aturan tersebut karena tidak sesuai dengan tujuan etis dunia kesehatan. Jika setelah diperjuangkan peraturan tersebut masih saja berlaku dan tidak direvisi saya yakin bukan Indonesia emas yang akan datang tapi "Selamat Datang Indonesia Plenger 2045".

Selain ketimpangan di dunia nyata ada hal menarik yang seringkali luput dari akar permasalahan dunia farmasi yaitu sistem pendidikan dan budaya lingkungan profesionalitas yang masih saja menerapkan diskriminasi baik terhadap karyawan atau mahasiswanya. Terlihat remeh tapi ini menjadi akar penting karena saling berkesinambungan dengan dunia praktisi hari ini.

Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam pendidikan kesehatan seringkali muncul kasus lewat pemberitaan bagaimana senioritas berperan penting terhadap mental dan nyawa calon mahasiswa kesehatan. Plonco, sindiran, diskriminasi menjadi makanan sehari-hari hampir di sebagian besar dunia pendidikan dan dunia setengah profesional yaitu ketika magang. Bagaimana mungkin calon penerus masa depan bisa adil kepada pasien jika sehari-hari mereka mendapat penindasan, kesempatan belajar yang tidak merata dan dipandang hanya karena almamater saja.

Maka jangan heran ketika pembelajaran buruk yang dipupuk bisa termanifestasikan kepada para pemangku kebijakan hari ini. Karena sistem pendidikan dan dunia praktisi kita secara tersirat mengatakan "Kalau kamu mau aman-kamu mau enak- yaudah jadi yang menyimpang saja". Dan itulah faktanya yang bersinar di dunia kesehatan selalu mereka yang justru mengobrak-abrik regulasi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)