Kweekschool Goenoeng Sarie dan Legenda Persib di Lembang

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Keadaan kelas di Kweekschool Goenoeng Sarie Lembang 1920-an. (Sumber: KITLV)
Keadaan kelas di Kweekschool Goenoeng Sarie Lembang 1920-an. (Sumber: KITLV)

Selamat untuk Persib Bandung atas kemenangannya tiga kali berturut-turut. Ada peribahasa mengatakan “ Kita tidak pernah tahu kapan kita sedang membuat sebuah kenangan”, mungkin inilah yang sedang dialami tim dan semua pecinta Persib Bandung.

Di Lembang ada beberapa pemain legendaris Persib Bandung, seperti Robby Darwis, Roy Darwis dan Tantan. Mereka adalah para pemain yang ikut menorehkan sejarah hebat pada Persib Bandung, namun, tahukah para pembaca semua bahwa mereka lahir dari sebuah lapangan sederhana di utara Pasar Panorama Lembang.

Lapangan sederhana itu bernama lapangan Gunung Sari. Di era 1990-an dan 2000-an, lapangan Gunung Sari ini tidak pernah sepi dari turnamen. Bahkan di lapangan ini juga diadakan upacara 17 Agustus yang dihadiri oleh pemerintah Kecamatan Lembang dan para perwakilan siswa sekolah di Lembang.

Namun, lapangan Gunung Sari kini telah tiada, oleh para pengembang kapitalis lapangan yang sarat akan sejarah ini diubah menjadi jajaran ruko-ruko, namun bagian belakangan ruko-ruko tersebut masih menjadi lahan kosong tak terjamah, semakin hari semakin kumuh tak terurus. Ilalang di mana-mana, bahkan diwarnai dengan tumpukan sampah.

Untuk generasi muda Lembang atau para pendatang dan pelancong, mereka tidak akan menyadari bahwa dahulu lahan tersebut adalah sebuah lapangan sederhana tempat berbagai turnamen di Kecamatan ini dilangsungkan, bahkan melahirkan 3 nama besar di Persib Bandung.

Mari kita mundur ke masa kolonial Belanda, lapangan Gunung Sari adalah sebuah lahan kosong pada awalnya yang dikelilingi oleh pemakaman umum pribumi tertua di Lembang yang bernama Pemakaman Tjijeruk. Pemakaman Tjikeruk ini dimulai dari kawasan selatan (sekarang pintu masuk Puskesmas Lembang), kawasan barat (Sendik BRI) hingga di bagian tengahnya yaitu lahan yang menjadi Pasar Panorama Lembang sekarang.

Pemakaman Tjijeruk dipindahkan pada 1972 ke pemakaman Sirna Rasa, Jayagiri, Lembang. dan semua kawasan pemakaman dijadikan pusat ekonomi warga. Yang asalnya pasar dan pusat ekonomi Lembang berada di kawasan pecinan (pasar Lama, kawasan Mandarin hingga sebelum alun-alun Lembang), harus pindah ke bekas area Pemakaman Tjijeruk.

Lalu pada perkembangannya dibuatlah lapangan sepak bola sederhana untuk kepentingan warga yang diberi nama Gunung Sari. Hingga saya mulai merisetnya dengan rasa penasaran, mengapa diberi nama Gunung Sari?

Teka-teki penamaan Gunung Sari saya temukan di saat saya sedang meriset kawasan Taman Junghuhn. Salah seorang juru pelihara Taman Junghuhn yaitu almarhum pak Asep mengatakan bahwa diberi nama Gunung Sari, karena dahulu ada sebuah sekolah yang letaknya tak jauh dari sana, sekolah itu bernama Gunung Sari.

Bermodalkan data tersebut saya terus mencari keberadaan sekolah tersebut hingga pada akhirnya saya mendapatkan salah satu foto keadaan ruangan kelas tempo dulu di Lembang yang menyebutkan bahwa kelas tersebut adalah salah satu kelas di Kweekschool Lembang. Kweekschool adalah sekolah pendidikan guru pada masa penjajahan, sekolah ini didirikan untuk mencetak tenaga pengajar pribumi. Dan biasanya sekolah ini memakai bahasa pengantar bahasa Belanda.

Hingga saya bertemu dengan paman saya yang kebetulan merupakan staf pengajar di Balai Latihan Kerja Lembang, ia pun mengatakan lokasi dari Kweekschool Goenoeng Sarie adalah di lokasi tempatnya bekerja. Saya pun berkeliling ke tempat paman dan oleh beberapa staf lainnya diterangkan dimana lokasi tepatnya Kweekschool Goenoeng Sarie itu berada.

Dahulu sekolah itu terbuat dari bilik bambu dan panggung, namun memiliki ukiran kayu yang cantik ditambah kaca-kaca patri yang indah. Hanya terdapat 4 ruangan saja, yang kemungkinan 3 untuk kelas dan 1 untuk kantor dan ruang guru. Di depannya terdapat tiang besi untuk menaruh sepeda yang katanya dahulu dipakai untuk mengikat kuda-kuda peternakan Baroe Adjak. Sayangnya, saat Jepang datang sekolah ini dibakar habis tak tersisa.

Lalu kemudian saya kembali berselancar di situs-situs Belanda, mempelajari lebih dalam tentang Kweekschool Goenoeng Sarie. Sekolah ini ternyata didirikan oleh perguruan Neutral School, adalah sebuah lembaga perguruan yang netral tidak berafiliasi pada salah satu Gereja. Dan informasi lainnya yang saya dapat bahwa sekolah ini adalah pindahan dari Kweekschool Goenoeng Sahari Batavia yang didirikan pada 1912 dan mulai pindah ke Lembang pada 1920-an.

Sehingga semakin jelas akar dari penamaan Goenoeng Sarie adalah dari nama awal sekolah mereka dulu di Batavia pada 1912 yang bernama Kweekschool Goenoeng Sahari. Dan, kaitannya dengan lapangan sepak bola Gunung Sari adalah dahulu Kweekschool Goenoeng Sarie Lembang memang telah membuka lapangan sederhana yang lumayan jauh dari letak sekolah mereka, mereka memakai lapangan tersebut untuk mata pelajaran olahraga.

Pada tahun 1930-an, terdapat satu rumah bergaya klasik yang dibangun di timur lapangan, konon menurut warga yang saya temui di seputar rumah tua itu mengatakan bahwa, pemilik rumah tua itu adalah salah seorang guru dari Kweekschool Goenoeng Sarie. Ketika saya mencoba mencari siapakah nama guru tersebut, saya mulai mencari buku telepon Bandung tahun 1936 yang dapat diakses online, dan saya menemukan ada nama satu orang yang terafiliasi pada Kweekschool Goenoeng Sarie, ia bernama Directeur Ir. E. De Munck Mortier yang memiliki nomor telepon Lem 14 (penomoran nomor telepon pada masa kolonial biasanya tidak lebih dari 3 angka). Kemungkinan tuan Mortier ini adalah kepala sekolah dari Kweekschool Goenoeng Sarie Lembang dan sang pemilik rumah indah di timur lapangan bola Gunung Sari.

Kini, lapangan sarat sejarah itu tinggal kenangan, padahal jejaknya sangat penting bagi warga Lembang, karena sarat akan kisah pendidikan dan legenda tim kesayangan kita, Persib Bandung. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Tentang Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 31 Agu 2026, 17:25

Maut Menjemput Putri Diana, Dunia Berduka

Catatan Nostalgia dan In Memoriam 29 Tahun Kepergian “Lady Di”.

Berita kepergian Putri Diana menjadi perhatian utama berbagai media cetak di Indonesia, mencerminkan besarnya duka dan perhatian masyarakat terhadap sosok Princess of Wales tersebut. (Sumber: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 16:28

Sejarah Nama Bulan (Bagian 2)

Dua belas bulan yang kita kenal hari ini ternyata menyimpan jejak perubahan zaman, kekuasaan, dan cara manusia menata waktu.

Februa atau Lupercalia, suatu festival penyucian di Romawi Kuno. (Sumber: Wikimedia Commons)
Beranda 31 Agu 2026, 16:20

PLN Nusantara Power UP Cirata Overhaul Unit 5 dan 6 Demi Keandalan Pasokan Listrik

PLN Nusantara Power UP Cirata melakukan overhaul Unit 5 dan 6 PLTA Cirata untuk menjaga keandalan pasokan listrik pelanggan.

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat keandalan PLTA Cirata melalui overhaul Unit 5 dan Unit 6 demi pelayanan listrik pelanggan.
Beranda 31 Agu 2026, 16:13

Hari Pelanggan Nasional, PLN NP UP Cirata Perkuat Sinergi dengan Masyarakat Desa Ciroyom

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui Milangkala Desa Ciroyom ke-171 di Hari Pelanggan Nasional.

PLN Nusantara Power UP Cirata berpartisipasi dalam Milangkala Desa Ciroyom ke-171 sebagai wujud sinergi bersama masyarakat dan lingkungan.
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 14:24

Rijsttafel Hidangan Perpaduan Belanda dan Nusantara di Priangan

Nikmati kelezatan Rijsttafel, tradisi kuliner unik era kolonial di Priangan. Perpaduan harmonis antara kemewahan rasa Belanda dan autentisitas rempah Nusantara dalam satu meja

Keluarga C.H. Japing dalam sebuah acara rijsttafel bersama Bibi Jet dan Paman Jan Breeman di Bandung. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Christoffel Hendrik)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 13:01

Medsos, Buku, dan Rindu

Algoritma semakin pandai mengenali, harusnya semakin pandai mengenali diri sendiri. Termasuk waktu berhenti pada satu video, apa dirasakan setelah menontonnya, dan nilai apa yang diambil hikmahnya.

Kaligrafi nama Nabi Muhammad berbentuk hati (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 11:09

Ketika Rumput Habis, Bagaimana Mitigasi Pakan Ternak?

Berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) membuat program massal sistem mitigasi bencana untuk hewan ternak maupun hewan liar.

Ilustrasi kondisi ternak rakyat ketika musim kemarau ekstrim. (Sumber: dikreasi denganvGemini | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 31 Agu 2026, 10:30

Pernah Jadi Pintu Masuk Ratusan Ribu Wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara Kini Bangkit Lagi

Dulu jadi pintu gerbang ratusan ribu wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara sempat mati suri akibat pandemi dan pencabutan status internasional.

Suasana bandara saat pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 09:14

Manajemen Dapur Umum dan Menu Ideal untuk Korban Bencana Alam

Perencanaan dan pemilihan lokasi dapur umum harus bebas dari risiko bencana susulan.

Ilustrasi aktivitas dapur umum untuk korban bencana alam. (Sumber: by AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 08:13

Sisi Lain Sang Jenderal: Menelusuri Makna Filosofis dan Tradisi di Balik Kuliner Favorit Soeharto

Kegemaran kuliner Presiden ke-2 RI, Soeharto, tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang berakar di Desa Kemusuk.

Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 20:52

Ketika Seniman Memilih untuk Tidak Diam, Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kelaziman

Ketika kezaliman menjadi kelaziman, diam bukan lagi netral. Manifesto Seniman Bandung adalah ajakan untuk bersuara—bukan sekadar nyinyir dari kejauhan.

Aliansi Bandung Ngagoak mengadakan aksi ekspresi seni di Kebun Seni Jalan Tamansari 56 Bandung. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 18:14

Menciptakan Kembali Televisi Pendidikan

Televisi pendidikan sebagai proyek nasional pun sudah seharusnya menjadi keputusan pemerintah.

Ilustrasi televisi. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 16:45

Cerita Tomakur Milik KWT Desa Nagarawangi Terpilih untuk Pendaftaran Legalitas Merek

Tomakur milik KWT Desa Nagarawangi terpilih mendapat pendampingan pendaftaran merek melalui program KKN UNINUS untuk memperkuat legalitas dan identitas produk UMKM.

Sosialisasi dan Pendampingan Proses Pendaftaran HKI (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 14:11

Kedaulatan di Atas Meja Makan: Diplomasi Kuliner Sukarno pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung

Sukarno menegaskan visi bahwa "kemerdekaan dimulai dari lidah"—sebuah manifestasi dari prinsip Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Momen jamuan makan malam resmi pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 19 April 1955. (Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 12:04

Sehat untuk Semua, Warga Desa Nagarawangi Ikuti CKG dan Edukasi Pertolongan Pertama

Warga Nagarawangi mengikuti CKG dan edukasi kesehatan, mulai dari pertolongan pertama dalam situasi darurat hingga kesehatan psikologis anak dan remaja bersama Puskesmas Rancakalong.

Kegiatan Pelaksanaan Program "Sehat  untuk Semua Warga Desa Nagarawangi" (KKN UNINUS Kel.5&6) (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 18:08

Menerapkan Pompa Submersible Tenaga Surya untuk Atasi Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan ( Karhutla ) di berbagai wilayah dihadang masalah klasik yakni titik api jauh dari sumber air dan listrik.

Ilustrasi penggunaan sistem pompa untuk atasi karhutla (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)