Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

4 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan Selasa 26 Mei 2026, 14:04 WIB
Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan, Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)

Membuka kembali perjalanan Persib Bandung melalui kliping surat kabar lama selalu menghadirkan rasa yang sulit dijelaskan. Aroma kertas koran yang mulai menguning, foto hitam putih yang sedikit buram, serta potongan berita dari berbagai harian dan majalah seakan menjadi mesin waktu yang membawa kita kembali ke sebuah masa ketika sepak bola Indonesia hidup dengan gairah yang luar biasa.

Dan dari sekian banyak kisah besar Persib, ada satu pertandingan yang sampai hari ini tetap dikenang dengan penuh haru yaitu final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Peristiwa itu bukan sekadar pertandingan sepak bola semata, bisa dikatakan juga sebagai peristiwa kebudayaan.

Perayaan besar rakyat terhadap olahraga yang mereka cintai.

Sejak dini hari, ribuan bobotoh mulai bergerak menuju Jakarta dari berbagai penjuru Jawa Barat. Kereta api penuh sesak oleh rombongan berbaju biru. Terminal-terminal dipadati bus antarkota yang membawa harapan. Truk terbuka, colt bak, hingga sepeda motor menjadi kendaraan perjuangan menuju Senayan. Jalan-jalan menuju ibu kota berubah menjadi iring-iringan manusia yang datang dengan satu keyakinan: menyaksikan Persib mengangkat trofi juara.

Ketika siang tiba, Stadion Utama Senayan menjelma menjadi lautan biru yang nyaris tak bertepi. Stadion yang saat itu berkapasitas sekitar 110 ribu penonton tak lagi mampu menampung antusiasme publik. Orang-orang memadati setiap sudut tribun, berdiri di lintasan atletik, bahkan duduk di tepi lapangan demi bisa menyaksikan duel dua raksasa Perserikatan tersebut.

Suasana itu begitu luar biasa hingga kemudian dicatat dalam buku resmi Asian Football Confederation terbitan 1987 sebagai salah satu pertandingan sepak bola amatir dengan jumlah penonton terbesar di dunia. Dunia menoleh ke Indonesia. Dunia melihat bagaimana sepak bola mampu menyatukan ratusan ribu orang dalam satu stadion dengan gairah yang nyaris tak masuk akal.

Bintang Persib Ajat Sudrajat terkecoh gerak tipu Sunardi B, komandan barisan pertahanan PSMS. (Sumber: koleksi Kin Sanubary | Foto: kliping dari tabloid olahraga BOLA edisi Februari 1983)
Bintang Persib Ajat Sudrajat terkecoh gerak tipu Sunardi B, komandan barisan pertahanan PSMS. (Sumber: koleksi Kin Sanubary | Foto: kliping dari tabloid olahraga BOLA edisi Februari 1983)

Namun di balik kemegahan suasana itu, pertandingan berjalan dengan tensi yang sangat menegangkan.

PSMS tampil tajam sejak menit awal. Musimin Sidik dua kali membobol gawang Persib pada menit ke-14 dan 35. Skor 0-2 membuat sisi tribun bobotoh mendadak terdiam. Bayang-bayang kegagalan mulai terasa begitu dekat.

Tetapi justru dalam keadaan itulah karakter Maung Bandung terlihat.

Tidak ada pemain Persib yang menyerah. Tidak ada kepala yang tertunduk. Memasuki babak kedua, tekanan demi tekanan terus dilancarkan ke pertahanan PSMS. Harapan mulai kembali hidup ketika Iwan Sunarya sukses memperkecil ketertinggalan melalui tendangan penalti pada menit ke-65. Gol itu seperti menyulut api di seluruh penjuru stadion.

Sorak-sorai bobotoh kembali bergemuruh. Senayan yang sempat sunyi perlahan hidup lagi. Para pemain Persib bermain dengan semangat yang nyaris tak mengenal lelah. Lalu, sepuluh menit kemudian, lahirlah salah satu momen paling magis dalam sejarah Persib. Ajat Sudrajat melepaskan tandukan jarak jauh yang mengejutkan semua orang. Bola meluncur deras ke dalam gawang PSMS. Skor berubah menjadi 2-2.

Senayan meledak.

Ribuan bobotoh bersorak histeris. Orang-orang berpelukan dengan sesama yang bahkan tidak mereka kenal. Dari situasi yang nyaris mustahil, Persib berhasil bangkit dan menghidupkan kembali harapan.

Pertandingan akhirnya harus ditentukan melalui adu penalti. Di titik itulah drama mencapai puncaknya. Persib harus menerima kenyataan kalah tipis 3-4, dan trofi juara kembali jatuh ke tangan PSMS.

Namun anehnya, kekalahan itu justru dikenang dengan penuh kebanggaan.

Bobotoh tetap pulang dengan kepala tegak. Tidak ada kemarahan yang berubah menjadi kekacauan. Yang tersisa hanyalah rasa hormat terhadap perjuangan para pemain yang bertarung habis-habisan hingga detik terakhir.

Kapten Persib Adeng Hudaya dan kapten PSMS Medan mengangkat Piala Juara Divisi Utama Perserikatan 1985. (Sumber: kliping dari tabloid olahraga BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Kapten Persib Adeng Hudaya dan kapten PSMS Medan mengangkat Piala Juara Divisi Utama Perserikatan 1985. (Sumber: kliping dari tabloid olahraga BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)

Final 1985 mengajarkan satu hal penting

Persib bukan hanya tentang kemenangan.

Persib adalah keberanian untuk bangkit ketika tertinggal. Persib adalah keyakinan untuk terus melawan meski keadaan tidak berpihak. Persib adalah tentang harga diri, loyalitas, dan perjuangan yang tidak pernah selesai hanya karena peluit akhir berbunyi.

Dan sejarah kemudian membuktikan semuanya. Luka di Senayan 1985 justru menjadi bahan bakar kebangkitan. Setahun kemudian, Persib Bandung kembali ke Senayan dan berhasil merebut gelar juara Perserikatan 1986 setelah menaklukkan Perseman Manokwari. Kekalahan berubah menjadi pelajaran. Tekanan berubah menjadi kekuatan. Air mata berubah menjadi sejarah.

Kini, ketika perjalanan Persib di musim Liga Super Indonesia 2026 menghadirkan kebanggaan baru lewat gelar hattrick juara tiga musim berturut-turut, kisah Senayan 1985 terasa kembali hidup. Sepak bola selalu menghadirkan tekanan, tantangan, dan keraguan. Tetapi Persib berkali-kali membuktikan bahwa klub ini lahir untuk bangkit.

Bobotoh generasi hari ini sesungguhnya mewarisi semangat yang sama dari Senayan 1985 tetap percaya, tetap mendukung, dan tetap berdiri bersama Persib dalam keadaan apa pun.

Karena sejarah besar tidak hanya dibangun oleh kemenangan.

Sejarah besar lahir dari perjuangan yang tidak pernah berhenti.

Dan di antara gemuruh stadion, nyanyian tribun, serta ribuan kenangan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi, kisah Senayan 1985 akan selalu hidup sebagai salah satu bab paling emosional dalam perjalanan panjang Maung Bandung. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)
Ayo Netizen 14 Jun 2026, 19:00

Di Era Digital Kita Hidup dalam Situasi Alone Together

Di era digital, kita telah terjebak dengan hubungan teknologi dalam berkoneksi dengan sesama.

Ilustrasi teknologi digital di sekitar generasi muda saat ini. (Sumber: Pexels/Ron Lach)