Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

4 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan, Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)

Membuka kembali perjalanan Persib Bandung melalui kliping surat kabar lama selalu menghadirkan rasa yang sulit dijelaskan. Aroma kertas koran yang mulai menguning, foto hitam putih yang sedikit buram, serta potongan berita dari berbagai harian dan majalah seakan menjadi mesin waktu yang membawa kita kembali ke sebuah masa ketika sepak bola Indonesia hidup dengan gairah yang luar biasa.

Dan dari sekian banyak kisah besar Persib, ada satu pertandingan yang sampai hari ini tetap dikenang dengan penuh haru yaitu final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Peristiwa itu bukan sekadar pertandingan sepak bola semata, bisa dikatakan juga sebagai peristiwa kebudayaan.

Perayaan besar rakyat terhadap olahraga yang mereka cintai.

Sejak dini hari, ribuan bobotoh mulai bergerak menuju Jakarta dari berbagai penjuru Jawa Barat. Kereta api penuh sesak oleh rombongan berbaju biru. Terminal-terminal dipadati bus antarkota yang membawa harapan. Truk terbuka, colt bak, hingga sepeda motor menjadi kendaraan perjuangan menuju Senayan. Jalan-jalan menuju ibu kota berubah menjadi iring-iringan manusia yang datang dengan satu keyakinan: menyaksikan Persib mengangkat trofi juara.

Ketika siang tiba, Stadion Utama Senayan menjelma menjadi lautan biru yang nyaris tak bertepi. Stadion yang saat itu berkapasitas sekitar 110 ribu penonton tak lagi mampu menampung antusiasme publik. Orang-orang memadati setiap sudut tribun, berdiri di lintasan atletik, bahkan duduk di tepi lapangan demi bisa menyaksikan duel dua raksasa Perserikatan tersebut.

Suasana itu begitu luar biasa hingga kemudian dicatat dalam buku resmi Asian Football Confederation terbitan 1987 sebagai salah satu pertandingan sepak bola amatir dengan jumlah penonton terbesar di dunia. Dunia menoleh ke Indonesia. Dunia melihat bagaimana sepak bola mampu menyatukan ratusan ribu orang dalam satu stadion dengan gairah yang nyaris tak masuk akal.

Bintang Persib Ajat Sudrajat terkecoh gerak tipu Sunardi B, komandan barisan pertahanan PSMS. (Sumber: koleksi Kin Sanubary | Foto: kliping dari tabloid olahraga BOLA edisi Februari 1983)
Bintang Persib Ajat Sudrajat terkecoh gerak tipu Sunardi B, komandan barisan pertahanan PSMS. (Sumber: koleksi Kin Sanubary | Foto: kliping dari tabloid olahraga BOLA edisi Februari 1983)

Namun di balik kemegahan suasana itu, pertandingan berjalan dengan tensi yang sangat menegangkan.

PSMS tampil tajam sejak menit awal. Musimin Sidik dua kali membobol gawang Persib pada menit ke-14 dan 35. Skor 0-2 membuat sisi tribun bobotoh mendadak terdiam. Bayang-bayang kegagalan mulai terasa begitu dekat.

Tetapi justru dalam keadaan itulah karakter Maung Bandung terlihat.

Tidak ada pemain Persib yang menyerah. Tidak ada kepala yang tertunduk. Memasuki babak kedua, tekanan demi tekanan terus dilancarkan ke pertahanan PSMS. Harapan mulai kembali hidup ketika Iwan Sunarya sukses memperkecil ketertinggalan melalui tendangan penalti pada menit ke-65. Gol itu seperti menyulut api di seluruh penjuru stadion.

Sorak-sorai bobotoh kembali bergemuruh. Senayan yang sempat sunyi perlahan hidup lagi. Para pemain Persib bermain dengan semangat yang nyaris tak mengenal lelah. Lalu, sepuluh menit kemudian, lahirlah salah satu momen paling magis dalam sejarah Persib. Ajat Sudrajat melepaskan tandukan jarak jauh yang mengejutkan semua orang. Bola meluncur deras ke dalam gawang PSMS. Skor berubah menjadi 2-2.

Senayan meledak.

Ribuan bobotoh bersorak histeris. Orang-orang berpelukan dengan sesama yang bahkan tidak mereka kenal. Dari situasi yang nyaris mustahil, Persib berhasil bangkit dan menghidupkan kembali harapan.

Pertandingan akhirnya harus ditentukan melalui adu penalti. Di titik itulah drama mencapai puncaknya. Persib harus menerima kenyataan kalah tipis 3-4, dan trofi juara kembali jatuh ke tangan PSMS.

Namun anehnya, kekalahan itu justru dikenang dengan penuh kebanggaan.

Bobotoh tetap pulang dengan kepala tegak. Tidak ada kemarahan yang berubah menjadi kekacauan. Yang tersisa hanyalah rasa hormat terhadap perjuangan para pemain yang bertarung habis-habisan hingga detik terakhir.

Kapten Persib Adeng Hudaya dan kapten PSMS Medan mengangkat Piala Juara Divisi Utama Perserikatan 1985. (Sumber: kliping dari tabloid olahraga BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Kapten Persib Adeng Hudaya dan kapten PSMS Medan mengangkat Piala Juara Divisi Utama Perserikatan 1985. (Sumber: kliping dari tabloid olahraga BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)

Final 1985 mengajarkan satu hal penting

Persib bukan hanya tentang kemenangan.

Persib adalah keberanian untuk bangkit ketika tertinggal. Persib adalah keyakinan untuk terus melawan meski keadaan tidak berpihak. Persib adalah tentang harga diri, loyalitas, dan perjuangan yang tidak pernah selesai hanya karena peluit akhir berbunyi.

Dan sejarah kemudian membuktikan semuanya. Luka di Senayan 1985 justru menjadi bahan bakar kebangkitan. Setahun kemudian, Persib Bandung kembali ke Senayan dan berhasil merebut gelar juara Perserikatan 1986 setelah menaklukkan Perseman Manokwari. Kekalahan berubah menjadi pelajaran. Tekanan berubah menjadi kekuatan. Air mata berubah menjadi sejarah.

Kini, ketika perjalanan Persib di musim Liga Super Indonesia 2026 menghadirkan kebanggaan baru lewat gelar hattrick juara tiga musim berturut-turut, kisah Senayan 1985 terasa kembali hidup. Sepak bola selalu menghadirkan tekanan, tantangan, dan keraguan. Tetapi Persib berkali-kali membuktikan bahwa klub ini lahir untuk bangkit.

Bobotoh generasi hari ini sesungguhnya mewarisi semangat yang sama dari Senayan 1985 tetap percaya, tetap mendukung, dan tetap berdiri bersama Persib dalam keadaan apa pun.

Karena sejarah besar tidak hanya dibangun oleh kemenangan.

Sejarah besar lahir dari perjuangan yang tidak pernah berhenti.

Dan di antara gemuruh stadion, nyanyian tribun, serta ribuan kenangan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi, kisah Senayan 1985 akan selalu hidup sebagai salah satu bab paling emosional dalam perjalanan panjang Maung Bandung. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)