Official Persib Logo
1933
1933

Magot, dan Kesabaran Warga Bandung Mengurus Sampah Dapur

Uwes Fatoni
Ditulis oleh Uwes Fatoni diterbitkan Senin 25 Mei 2026, 12:10 WIB
Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)

Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)

Sabtu pagi, Hilya, anak saya yang masih kelas 2 SD berteriak dari dapur. "Ayah ada belatung di plastik tempat sampah." Saya segera beranjak dari depan laptop di kamar. Mata saya tertuju pada sampah yang terbungkus plastik hitam di ujung kanan dapur rumah. Bertumpuk, tidak dipilah, menyatu antara sampah organik, anorganik dan residu. Nampak ulat kecil, belatung berloncatan keluar.

Ini bukan yang pertama, sudah berulang beberapa kali. Saya berpikir, bagaimana caranya bisa menyelesaikan masalah sampah ini. Tidak cukup hanya memindahkan sampah tersebut ke tong sampah depan rumah ditutup rapat lalu menunggu truk sampah lewat mengambilnya.

Masalah sampah adalah masalah Kota Bandung. Sampah yang bertumpuk di tempat pembuangan sampah sementara Cijambe sering membuat kepala pening mencium baunya ketika lewat. Sampah juga bertumpuk di TPS Sarimukti yang kemudian viral di media sosial.

Masalah sampah harus diselesaikan dari dapur rumah kita sendiri. Sisa nasi, potongan sayur, kulit buah, tulang ikan, ampas makanan, dan berbagai sisa masakan yang setiap hari kita sisakan di rumah harus segera ditangani. Awalnya hanya sedikit. Tetapi jika dibiarkan dua atau tiga hari, baunya mulai menyengat. Tong sampah menjadi basah. Lalat berdatangan. Belatung muncul karena sampah organik terlalu lama tercampur dan tidak segera terangkut.

Saya melihat persoalan ini bukan hanya sebagai urusan rumah tangga, tetapi juga sebagai persoalan bersama. Banyak warga sudah berusaha menjaga kebersihan rumahnya. Sampah dikeluarkan dari dapur, dimasukkan ke kantong plastik, lalu diletakkan di tong sampah depan rumah. Masalahnya, setelah itu nasib sampah tidak selalu jelas. Jadwal pengambilan oleh petugas atau truk sampah kadang tidak menentu. Ketika terlambat diangkut, sampah organik membusuk, baunya menyebar, dan lingkungan menjadi tidak nyaman.

Sebagai warga biasa wajar kita ingin rumah bersih. Tetapi, sampah tidak selalu bisa cepat pergi, tidak bisa cepat dibuang. Di satu sisi, Kita ingin lingkungan sehat, tetapi kebiasaan memilah belum terbentuk kuat. Kita ingin Bandung menjadi kota yang nyaman, tetapi cara kita memperlakukan sampah sering kali masih sama: campur, bungkus, buang, lalu berharap ada orang lain yang mengangkutnya.

Saya kemudian teringat kehidupan di desa tempat orang tua tinggal yang lingkungannya masih asri, dikelilingi kolam ikan. Di desa sisa makanan rumah tangga tidak dianggap sampah. Nasi sisa diberikan kepada ayam. Daun-daun dan sisa sayuran bisa menjadi pakan ternak. Sebagian sisa dapur bahkan bisa masuk ke kolam untuk pakan ikan. Tidak semuanya berakhir sebagai limbah. Ada siklus yang lebih alami. Ada hubungan yang lebih dekat antara manusia, makanan, hewan, dan tanah.

Namun hidup di kota seperti Bandung berbeda. Lahan terbatas. Tidak ada rumah punya kandang ternak. Sangat jarang keluarga punya kolam ikan. Sampah organik yang seharusnya masih bisa dimanfaatkan akhirnya bercampur dengan plastik, tisu, kemasan, dan residu lain.

Kegelisahan itu menjadi salah satu alasan DKM Masjid Baitul Mu’min Jatiendah Cilengkrang, di mana saya diberi kepercayaan untuk menjadi ketuanya, mendorong program Baitul Mu'min Mepeling, yaitu singkatan dari MEsjid PEduli LIngkungan. Bagi Saya, masjid tidak cukup hanya menjadi tempat salat. Masjid harus hadir sebagai pusat kebaikan, tempat jamaah belajar, berdiskusi, dan menemukan solusi untuk persoalan hidup sehari-hari, salah satunya adalah persoalan sampah.

Ketika Sabtu sore 23 Mei 2026 Majelis Ta'lim Baitul Mu'min (MTBM) mengadakan kegiatan pengajian rutin, Kamus, Kajian Muslimah saya lihat pas sekali kegiatan tersebut dengan program Baitul Mu'min Mepeling.

MTBM membuat acara pengajian dengan cara berbeda. Bila biasanya pengajian mengundang ustaz, kali ini mereka mengundang mahasiswa Sekolah Teknik Elektro dan Informatika STEI ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan magot BSF atau larva Black Soldier Fly. Para mahasiswa mendapatkan tugas dari kampusnya mengabdi dengan berbagi ilmu ke masyarakat, dan mereka memilih Masjid Baitul Mu'min sebagai tempat pengabdiannya.

Sore itu, ba'da Asar para ibu jamaah datang ke masjid dengan rasa ingin tahu. Sebagian mungkin belum benar-benar paham apa itu magot. Sebagian lagi sudah membayangkan bentuknya dan langsung merasa geli. Saya bisa memahami reaksi itu. Dalam pikiran banyak orang, magot mirip belatung. Sesuatu yang menjijikkan, muncul dari sampah busuk, dan sebaiknya dijauhi.

Namun justru di situlah pelajaran pentingnya. Mahasiswa ITB yang datang ke masjid tidak hanya membawa materi presentasi. Mereka datang bukan hanya menjelaskan teori, juga membawa langsung magot hidup. Mereka menjelaskan dengan bahasa yang sederhana tentang apa itu magot BSF, bagaimana siklus hidupnya, apa kebiasaan makannya, manfaatnya, hingga bagaimana cara merawatnya di rumah. Mereka menerangkan bahwa magot BSF bukan sekadar larva yang menjijikkan, tetapi makhluk kecil yang punya peran besar dalam mengurai sampah organik.

Saya memperhatikan wajah ibu-ibu ketika sesi praktik dimulai. Ada yang maju mendekat dengan penasaran. Ada yang tertawa sambil menutup mulut karena geli. Ada yang ingin melihat, tetapi badannya sedikit menjauh. Ada juga yang berani menunjuk langsung ke wadah magot sambil bertanya. Reaksi mereka jujur, spontan, dan sangat manusiawi. Di satu sisi mereka geli. Di sisi lain mereka antusias.

Bagi saya, pemandangan itu indah. Karena perubahan sering kali memang dimulai dari rasa tidak nyaman. Kita tidak akan berubah jika hanya menunggu semua terasa mudah dan menyenangkan. Kadang kita harus mendekati sesuatu yang awalnya membuat kita jijik, lalu belajar melihat manfaatnya dengan pikiran yang lebih terbuka.

Mahasiswa menjelaskan bahwa magot BSF memiliki siklus hidup mulai dari telur, larva, prepupa, pupa, hingga menjadi lalat dewasa. Pada fase larva, magot memiliki kemampuan besar untuk mengonsumsi sampah organik. Sisa nasi, sayuran, buah, dan bahan organik lain dapat diurai lebih cepat. Setelah tumbuh, magot bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak, unggas, atau ikan.

Penjelasan itu membuat saya kembali berpikir: ternyata alam sudah menyediakan cara untuk mengolah sisa makanan. Persoalannya bukan karena sampah tidak punya manfaat, tetapi karena kita belum cukup sabar memahaminya dan belum cukup tekun mengelolanya.

Bersabar dalam hidup di Bandung, bagi saya, bukan hanya sabar menghadapi macet, biaya hidup, atau jadwal truk sampah yang tidak pasti. Bersabar juga berarti mau mengubah kebiasaan sedikit demi sedikit. Tidak langsung marah pada keadaan, tetapi mencari cara agar keadaan bisa diperbaiki dari lingkungan terdekat.

Dengan kegiatan pelatihan magot ini, saya mellihat masjid menjadi ruang solusi. Masjid semestinya tidak hanya ramai ketika salat, tetapi harus juga ramai dengan gerakan sosial. Ada potensi besar yang belum dimanfaatkan. Jamaah datang bukan hanya membawa sajadah, tetapi juga membawa masalah hidup: sampah, ekonomi keluarga, pendidikan anak, kesehatan, dan lingkungan. Masjid harus cukup peka untuk menjawab sebagian dari persoalan itu.

Dalam pelatihan magot BSF tersebut, saya juga melihat bentuk pengorbanan kecil dari banyak pihak. Mahasiswa ITB mengorbankan waktu dan tenaga untuk datang ke masjid, menjelaskan ilmu yang mereka miliki kepada masyarakat. Ibu-ibu jamaah mengorbankan kenyamanan mereka, berani mendekati sesuatu yang awalnya membuat geli. Pengurus MTBM menyiapkan tempat dan membuka ruang belajar. Semua dilakukan bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk kebaikan lingkungan.

Pengorbanan dalam hidup di Bandung tidak selalu dramatis. Kadang bentuknya sangat sederhana: mau memilah sampah di dapur, mau menyediakan wadah khusus organik, mau belajar merawat magot, mau menahan rasa jijik, dan mau mencoba cara baru yang belum biasa dilakukan.

Setelah pelatihan selesai, semangat itu ternyata tidak berhenti. Saya dan beberapa jamaah mulai menyatakan komitmennya untuk mempraktikannya di rumah. Saya dan beberapa jamaah mulai memesan perlengkapan magot kits di marketplace. Saya mendorong semangat terus menyala. Dari yang semula hanya melihat persoalan sampah sebagai beban, saya mulai bersiap melihat magot sebagai makhluk bersahabat di rumah.

Tentu tidak langsung mudah. Magot kits yang dipesan harus menunggu beberapa hari. Ada rasa penasaran, tetapi juga ada bayangan geli. Bagaimana nanti jika magotnya loncat, keluar dari tempatnya. Lalu Hilya, kembali berteriak sambil lari karena geli melihat magot, seperti yang biasa dilakukannya ketika melihat belatung. Bagaimana juga jika baunya muncul? atau bagaimana jika gagal merawatnya? Di situlah proses belajar dimulai. Kita tidak mungkin mengubah lingkungan hanya dengan wacana. Harus ada percobaan. Harus ada keberanian untuk memulai.

Bulan Mei tahun ini menjadi momen khusus bagi saya sebagai warga Bandung. Bukan karena ada peristiwa besar yang megah, tetapi karena saya melihat harapan kecil tumbuh dari masjid. Saya melihat ibu-ibu jamaah yang awalnya geli mulai tertarik. Saya melihat mahasiswa datang berbagi ilmu. Saya melihat sampah dapur yang biasanya dianggap masalah mulai dicarikan solusi. Saya melihat bahwa perubahan kota bisa dimulai dari ruang yang sederhana: dapur rumah, halaman masjid, dan majelis taklim.

Bandung tentu tidak bisa bersih hanya oleh satu orang, satu masjid, atau satu pelatihan. Tetapi Bandung juga tidak akan berubah jika setiap orang menunggu pihak lain bergerak lebih dulu. Kesabaran kita diuji oleh sampah yang menumpuk. Pekerjaan kita adalah mengelolanya dengan cara yang lebih bertanggung jawab. Pengorbanan kita adalah meninggalkan kebiasaan lama yang praktis tetapi merusak.

Hidup di Bandung menuntut kita untuk bersabar, bekerja, dan berkorban. Bersabar menghadapi masalah kota yang tidak selalu selesai cepat. Bekerja melakukan hal kecil yang bisa kita mulai dari rumah. Berkorban meninggalkan kebiasaan lama demi lingkungan yang lebih sehat. Dan mungkin, untuk Bandung yang lebih bersih, langkah itu bisa dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: tidak lagi melihat sampah dapur sebagai akhir, tetapi sebagai awal dari kehidupan baru.

Saya pulang ke rumah saya coba jelaskan manfaat magot ini pada Hilya, anak saya. Saya tunjukan video rekaman pelatihan yang ditayangkan sebelumnya secara live di channel youtube Masjid Baitul Mu'min https://www.youtube.com/watch?v=Wr_X8qb1XUs.

Ketika muncul gambar magot yang bergerak di wadah dan nampak ibu-ibu jamaah kegelian melihatnya, Ia berkata "Yah, kalau nanti magot yang ayah pesan sudah datang, Aku boleh ikut merawatnya juga kan? Aku tidak takut. Aku berani, tidak akan lari dan teriak lagi. Aku kasih aja magotnya makanan. Jadi mereka tidak akan loncat-loncat kan?" Saya pun meresponnya dengan tersenyum dan memberikan acungan 2 jempol. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Uwes Fatoni
Tentang Uwes Fatoni
Dosen dan peneliti kajian komunikasi di UIN SGD Bandung. Traveler pengagum keindahan dan keunikan Indonesia.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Mei 2026, 12:10

Magot, dan Kesabaran Warga Bandung Mengurus Sampah Dapur

Majelis Ta'lim Baitul Mu'min membuat acara pengajian mengundang mahasiswa ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan magot BSF atau larva Black Soldier Fly.

Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)
Beranda 25 Mei 2026, 10:17

Bandung Berpesta Semalaman untuk Persib, Petugas dan Warga Lokal Bersihkan Sampah Sejak Pagi Buta

Pas datang tadi mah kondisinya kacau, Kang. Pabalatak pisan. Plastik, botol minuman, bungkus makanan, bekas flare, pokokna loba pisan.

Handoyo bersama warga dan unsur kewilayahan ikut turun membersihkan sampah bekas konvoi di kawasan Pasupati, Senin 25 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 10:16

Persib, Bobotoh, dan Komunikasi Kota yang Membiru

Persib juara bukan sekadar prestasi, tetapi peristiwa komunikasi publik. Konvoi bobotoh menjadi bahasa kolektif yang membangun identitas, emosi, dan solidaritas kota.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 25 Mei 2026, 09:45

Support System yang Membentuk Ekosistem: Potret UMKM Bandung Hari Ini

Seperti inilah cara ekosistem UMKM di bawah binaan BRI menjalani arah bisnis yang sehat.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 09:07

Banyak Followers dan Following, api Nol Postingan: Fenomena Silent User di Instagram

Fenomena akun Instagram tanpa postingan (tren Zero Post) menunjukkan perubahan cara generasi muda memandang privasi, eksistensi, dan tekanan sosial di era media digital.

Ilustrasi profil Instagram dengan banyak followers dan following tetapi feed kosong tanpa postingan. (Sumber: Dok. Penulis)
Beranda 25 Mei 2026, 08:24

Cerita Warga Setelah Konvoi Persib Usai

Konvoi juara Persib menyisakan cerita berbeda bagi warga Bandung, dari petugas kebersihan, ojol, hingga pedagang kecil yang kebanjiran pembeli.

Hendi Suhendi bersama petugas kebersihan lainnya menyisir kawasan pusat Kota Bandung usai perayaan kemenangan Persib. Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wisata & Kuliner 24 Mei 2026, 20:27

5 Oleh-Oleh Bandung Favorit yang Selalu Ramai Pembeli, Wajib Dibawa Pulang

Wisata ke Bandung belum lengkap tanpa membawa pulang oleh-oleh favorit seperti bolu bakar, abon gulung, dan dessert kekinian.

Bolu Bakar Tunggal, salah satu oleh-oleh legendaris Bandung.
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 18:05

Meminjam Semangat Bobotoh Persib untuk Perubahan Indonesia

Perubahan besar sering kali dimulai dari akumulasi kecil seperti loyalitas, suportivitas, humanitas dan solidaritas dan semua itu bisa kita lihat dari antuasiasme Bobotoh Persib

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 16:03

Muslihat pada Buku ‘Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda’

Penting saya melanjutkan tulisan terkait Hari Lahir Tatar Sunda.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan peserta memeriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 13:07

Kaum Rebahan Menolak Punah: Kemalasan adalah Sumber Penderitaan Nyata

Menderita karena lelahnya belajar dan berproses itu cuma sementara. ketika kamu menguasai skill baru disitu kebanggaan.

Ilustrasi kaum rebahan. (Sumber: Pexels | Foto: bi8ie)
Mayantara 24 Mei 2026, 10:50

Deepfake, Anonimitas, dan Perubahan Wajah Ruang Publik Digital

Perubahan ini merupakan bagian dari karakter media baru atau new media.

Ilustrasi anonimitas. (Sumber: Pexels | Foto: Anete Lusina)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 09:41

Encib Bangkit Lagi Tahun 1980-an

Tahun 1986 adalah saat kebangkitan kembali Persib saat tampil sebagai juara Perserikatan tahun 1986'

Bobotoh Persib tahun 1985-an. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Princelg22)
Beranda 23 Mei 2026, 08:49

Persib di Ambang Juara, Pedagang Kecil Otista Bersiap "Lebaran"

Euforia Persib menuju juara membawa berkah bagi pedagang kecil di Otista. Penjual jersey dan bendera ikut panen rezeki dari ramainya warga menyambut pesta juara.

Deretan lapak penjual jersey dan bendera Persib di kawasanTegalega Kota Bandung, Jumat, 22 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 19:17

Senayan Bergema untuk Persib Sejak 1995 dan Kini 2026 

Kemenangan Persib Bandung selangkah lagi menuju juara Liga Super Indonesia 2026 membuat kenangan mendekat.

Sutiono Lamso dan Kekey Zakaria menjadi pahlawan kemenangan Persib pada partai final di Stadion Senayan, Jakarta. (Sumber: Tabloid Tribun Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 18:07

Gaya Hidup Demi 'Eksposur': Puncak Komedi Finansial dan Cara Waras biar Gak Tekor

Hemat pangkal kaya itu mutlak, tapi di zaman sekarang, hemat itu butuh mental baja!

Kini, media sosial menjadi panggung global, tempat siapa pun bisa menampilkan diri, membentuk citra, dan menarik perhatian. (Sumber: Pexels/RDNE Stock project)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 17:19

Lebaran Haji Tempo Dulu

Hari Raya Idul Adha pada tempo dulu lebih dikenal dengan nama Lebaran Haji.

Artikel pada salah satu koran yang terbit tahun 1936. (Sumber: Delpher.nl)
Beranda 22 Mei 2026, 15:02

Hutan di Papua Selatan yang Dincar untuk PSN Seluas 3,5 Juta Lapangan Sepakbola Standar FIFA

Film dokumenter Pesta Babi menyoroti 2,5 juta hektare hutan Papua yang masuk proyek pangan dan energi, setara 3,5 juta lapangan bola.

Tayangan di film Pesta Babi. (Sumber: Jubi TV)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 13:08

Urban Legend Rel Kereta Api: Bukan Setannya yang Budeg tapi Manusianya yang Bebal

Kadang manusia lebih setan dari setan itu sendiri. Satu tindakan impulsif atas pilihan pribadi sering kali justru mengkambinghitamkan mahluk di dunia lain.

Kereta Rel Listrik (KRL). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: TyewongX)
Wisata & Kuliner 22 Mei 2026, 11:14

Jelajah Pesona Green Canyon Karawang, Sungai Jernih di Tengah Tebing Lumut Hijau

Green Canyon Karawang menawarkan sungai jernih, tebing lumut hijau, canyoning, dan suasana alam sejuk di kawasan Pangkalan.

Green Canyon Karawang. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 09:41

Bandung: Kota Ramah Pejalan Kaki dan Disabilitas yang Masih Sebatas Slogan

Trotoar Bandung masih dipenuhi puing proyek, parkir liar, dan aktivitas lain yang mengurangi hak pejalan kaki serta aksesibilitas penyandang disabilitas.

Kondisi trotoar di Jalan Pungkur, Kota Bandung dipenuhi puing galian proyek utilitas, Kamis (21/5/2026) pagi. (Foto: Arif Budiman)