Magot, dan Kesabaran Warga Bandung Mengurus Sampah Dapur

8 menit baca
Uwes Fatoni
Ditulis oleh Uwes Fatoni diterbitkan Senin 25 Mei 2026, 12:10 WIB
Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)

Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)

Sabtu pagi, Hilya, anak saya yang masih kelas 2 SD berteriak dari dapur. "Ayah ada belatung di plastik tempat sampah." Saya segera beranjak dari depan laptop di kamar. Mata saya tertuju pada sampah yang terbungkus plastik hitam di ujung kanan dapur rumah. Bertumpuk, tidak dipilah, menyatu antara sampah organik, anorganik dan residu. Nampak ulat kecil, belatung berloncatan keluar.

Ini bukan yang pertama, sudah berulang beberapa kali. Saya berpikir, bagaimana caranya bisa menyelesaikan masalah sampah ini. Tidak cukup hanya memindahkan sampah tersebut ke tong sampah depan rumah ditutup rapat lalu menunggu truk sampah lewat mengambilnya.

Masalah sampah adalah masalah Kota Bandung. Sampah yang bertumpuk di tempat pembuangan sampah sementara Cijambe sering membuat kepala pening mencium baunya ketika lewat. Sampah juga bertumpuk di TPS Sarimukti yang kemudian viral di media sosial.

Masalah sampah harus diselesaikan dari dapur rumah kita sendiri. Sisa nasi, potongan sayur, kulit buah, tulang ikan, ampas makanan, dan berbagai sisa masakan yang setiap hari kita sisakan di rumah harus segera ditangani. Awalnya hanya sedikit. Tetapi jika dibiarkan dua atau tiga hari, baunya mulai menyengat. Tong sampah menjadi basah. Lalat berdatangan. Belatung muncul karena sampah organik terlalu lama tercampur dan tidak segera terangkut.

Saya melihat persoalan ini bukan hanya sebagai urusan rumah tangga, tetapi juga sebagai persoalan bersama. Banyak warga sudah berusaha menjaga kebersihan rumahnya. Sampah dikeluarkan dari dapur, dimasukkan ke kantong plastik, lalu diletakkan di tong sampah depan rumah. Masalahnya, setelah itu nasib sampah tidak selalu jelas. Jadwal pengambilan oleh petugas atau truk sampah kadang tidak menentu. Ketika terlambat diangkut, sampah organik membusuk, baunya menyebar, dan lingkungan menjadi tidak nyaman.

Sebagai warga biasa wajar kita ingin rumah bersih. Tetapi, sampah tidak selalu bisa cepat pergi, tidak bisa cepat dibuang. Di satu sisi, Kita ingin lingkungan sehat, tetapi kebiasaan memilah belum terbentuk kuat. Kita ingin Bandung menjadi kota yang nyaman, tetapi cara kita memperlakukan sampah sering kali masih sama: campur, bungkus, buang, lalu berharap ada orang lain yang mengangkutnya.

Saya kemudian teringat kehidupan di desa tempat orang tua tinggal yang lingkungannya masih asri, dikelilingi kolam ikan. Di desa sisa makanan rumah tangga tidak dianggap sampah. Nasi sisa diberikan kepada ayam. Daun-daun dan sisa sayuran bisa menjadi pakan ternak. Sebagian sisa dapur bahkan bisa masuk ke kolam untuk pakan ikan. Tidak semuanya berakhir sebagai limbah. Ada siklus yang lebih alami. Ada hubungan yang lebih dekat antara manusia, makanan, hewan, dan tanah.

Namun hidup di kota seperti Bandung berbeda. Lahan terbatas. Tidak ada rumah punya kandang ternak. Sangat jarang keluarga punya kolam ikan. Sampah organik yang seharusnya masih bisa dimanfaatkan akhirnya bercampur dengan plastik, tisu, kemasan, dan residu lain.

Kegelisahan itu menjadi salah satu alasan DKM Masjid Baitul Mu’min Jatiendah Cilengkrang, di mana saya diberi kepercayaan untuk menjadi ketuanya, mendorong program Baitul Mu'min Mepeling, yaitu singkatan dari MEsjid PEduli LIngkungan. Bagi Saya, masjid tidak cukup hanya menjadi tempat salat. Masjid harus hadir sebagai pusat kebaikan, tempat jamaah belajar, berdiskusi, dan menemukan solusi untuk persoalan hidup sehari-hari, salah satunya adalah persoalan sampah.

Ketika Sabtu sore 23 Mei 2026 Majelis Ta'lim Baitul Mu'min (MTBM) mengadakan kegiatan pengajian rutin, Kamus, Kajian Muslimah saya lihat pas sekali kegiatan tersebut dengan program Baitul Mu'min Mepeling.

MTBM membuat acara pengajian dengan cara berbeda. Bila biasanya pengajian mengundang ustaz, kali ini mereka mengundang mahasiswa Sekolah Teknik Elektro dan Informatika STEI ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan magot BSF atau larva Black Soldier Fly. Para mahasiswa mendapatkan tugas dari kampusnya mengabdi dengan berbagi ilmu ke masyarakat, dan mereka memilih Masjid Baitul Mu'min sebagai tempat pengabdiannya.

Sore itu, ba'da Asar para ibu jamaah datang ke masjid dengan rasa ingin tahu. Sebagian mungkin belum benar-benar paham apa itu magot. Sebagian lagi sudah membayangkan bentuknya dan langsung merasa geli. Saya bisa memahami reaksi itu. Dalam pikiran banyak orang, magot mirip belatung. Sesuatu yang menjijikkan, muncul dari sampah busuk, dan sebaiknya dijauhi.

Namun justru di situlah pelajaran pentingnya. Mahasiswa ITB yang datang ke masjid tidak hanya membawa materi presentasi. Mereka datang bukan hanya menjelaskan teori, juga membawa langsung magot hidup. Mereka menjelaskan dengan bahasa yang sederhana tentang apa itu magot BSF, bagaimana siklus hidupnya, apa kebiasaan makannya, manfaatnya, hingga bagaimana cara merawatnya di rumah. Mereka menerangkan bahwa magot BSF bukan sekadar larva yang menjijikkan, tetapi makhluk kecil yang punya peran besar dalam mengurai sampah organik.

Saya memperhatikan wajah ibu-ibu ketika sesi praktik dimulai. Ada yang maju mendekat dengan penasaran. Ada yang tertawa sambil menutup mulut karena geli. Ada yang ingin melihat, tetapi badannya sedikit menjauh. Ada juga yang berani menunjuk langsung ke wadah magot sambil bertanya. Reaksi mereka jujur, spontan, dan sangat manusiawi. Di satu sisi mereka geli. Di sisi lain mereka antusias.

Bagi saya, pemandangan itu indah. Karena perubahan sering kali memang dimulai dari rasa tidak nyaman. Kita tidak akan berubah jika hanya menunggu semua terasa mudah dan menyenangkan. Kadang kita harus mendekati sesuatu yang awalnya membuat kita jijik, lalu belajar melihat manfaatnya dengan pikiran yang lebih terbuka.

Mahasiswa menjelaskan bahwa magot BSF memiliki siklus hidup mulai dari telur, larva, prepupa, pupa, hingga menjadi lalat dewasa. Pada fase larva, magot memiliki kemampuan besar untuk mengonsumsi sampah organik. Sisa nasi, sayuran, buah, dan bahan organik lain dapat diurai lebih cepat. Setelah tumbuh, magot bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak, unggas, atau ikan.

Penjelasan itu membuat saya kembali berpikir: ternyata alam sudah menyediakan cara untuk mengolah sisa makanan. Persoalannya bukan karena sampah tidak punya manfaat, tetapi karena kita belum cukup sabar memahaminya dan belum cukup tekun mengelolanya.

Bersabar dalam hidup di Bandung, bagi saya, bukan hanya sabar menghadapi macet, biaya hidup, atau jadwal truk sampah yang tidak pasti. Bersabar juga berarti mau mengubah kebiasaan sedikit demi sedikit. Tidak langsung marah pada keadaan, tetapi mencari cara agar keadaan bisa diperbaiki dari lingkungan terdekat.

Dengan kegiatan pelatihan magot ini, saya mellihat masjid menjadi ruang solusi. Masjid semestinya tidak hanya ramai ketika salat, tetapi harus juga ramai dengan gerakan sosial. Ada potensi besar yang belum dimanfaatkan. Jamaah datang bukan hanya membawa sajadah, tetapi juga membawa masalah hidup: sampah, ekonomi keluarga, pendidikan anak, kesehatan, dan lingkungan. Masjid harus cukup peka untuk menjawab sebagian dari persoalan itu.

Dalam pelatihan magot BSF tersebut, saya juga melihat bentuk pengorbanan kecil dari banyak pihak. Mahasiswa ITB mengorbankan waktu dan tenaga untuk datang ke masjid, menjelaskan ilmu yang mereka miliki kepada masyarakat. Ibu-ibu jamaah mengorbankan kenyamanan mereka, berani mendekati sesuatu yang awalnya membuat geli. Pengurus MTBM menyiapkan tempat dan membuka ruang belajar. Semua dilakukan bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk kebaikan lingkungan.

Pengorbanan dalam hidup di Bandung tidak selalu dramatis. Kadang bentuknya sangat sederhana: mau memilah sampah di dapur, mau menyediakan wadah khusus organik, mau belajar merawat magot, mau menahan rasa jijik, dan mau mencoba cara baru yang belum biasa dilakukan.

Setelah pelatihan selesai, semangat itu ternyata tidak berhenti. Saya dan beberapa jamaah mulai menyatakan komitmennya untuk mempraktikannya di rumah. Saya dan beberapa jamaah mulai memesan perlengkapan magot kits di marketplace. Saya mendorong semangat terus menyala. Dari yang semula hanya melihat persoalan sampah sebagai beban, saya mulai bersiap melihat magot sebagai makhluk bersahabat di rumah.

Tentu tidak langsung mudah. Magot kits yang dipesan harus menunggu beberapa hari. Ada rasa penasaran, tetapi juga ada bayangan geli. Bagaimana nanti jika magotnya loncat, keluar dari tempatnya. Lalu Hilya, kembali berteriak sambil lari karena geli melihat magot, seperti yang biasa dilakukannya ketika melihat belatung. Bagaimana juga jika baunya muncul? atau bagaimana jika gagal merawatnya? Di situlah proses belajar dimulai. Kita tidak mungkin mengubah lingkungan hanya dengan wacana. Harus ada percobaan. Harus ada keberanian untuk memulai.

Bulan Mei tahun ini menjadi momen khusus bagi saya sebagai warga Bandung. Bukan karena ada peristiwa besar yang megah, tetapi karena saya melihat harapan kecil tumbuh dari masjid. Saya melihat ibu-ibu jamaah yang awalnya geli mulai tertarik. Saya melihat mahasiswa datang berbagi ilmu. Saya melihat sampah dapur yang biasanya dianggap masalah mulai dicarikan solusi. Saya melihat bahwa perubahan kota bisa dimulai dari ruang yang sederhana: dapur rumah, halaman masjid, dan majelis taklim.

Bandung tentu tidak bisa bersih hanya oleh satu orang, satu masjid, atau satu pelatihan. Tetapi Bandung juga tidak akan berubah jika setiap orang menunggu pihak lain bergerak lebih dulu. Kesabaran kita diuji oleh sampah yang menumpuk. Pekerjaan kita adalah mengelolanya dengan cara yang lebih bertanggung jawab. Pengorbanan kita adalah meninggalkan kebiasaan lama yang praktis tetapi merusak.

Hidup di Bandung menuntut kita untuk bersabar, bekerja, dan berkorban. Bersabar menghadapi masalah kota yang tidak selalu selesai cepat. Bekerja melakukan hal kecil yang bisa kita mulai dari rumah. Berkorban meninggalkan kebiasaan lama demi lingkungan yang lebih sehat. Dan mungkin, untuk Bandung yang lebih bersih, langkah itu bisa dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: tidak lagi melihat sampah dapur sebagai akhir, tetapi sebagai awal dari kehidupan baru.

Saya pulang ke rumah saya coba jelaskan manfaat magot ini pada Hilya, anak saya. Saya tunjukan video rekaman pelatihan yang ditayangkan sebelumnya secara live di channel youtube Masjid Baitul Mu'min https://www.youtube.com/watch?v=Wr_X8qb1XUs.

Ketika muncul gambar magot yang bergerak di wadah dan nampak ibu-ibu jamaah kegelian melihatnya, Ia berkata "Yah, kalau nanti magot yang ayah pesan sudah datang, Aku boleh ikut merawatnya juga kan? Aku tidak takut. Aku berani, tidak akan lari dan teriak lagi. Aku kasih aja magotnya makanan. Jadi mereka tidak akan loncat-loncat kan?" Saya pun meresponnya dengan tersenyum dan memberikan acungan 2 jempol. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Uwes Fatoni
Tentang Uwes Fatoni
Dosen dan peneliti kajian komunikasi di UIN SGD Bandung. Traveler pengagum keindahan dan keunikan Indonesia.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Jun 2026, 13:10

Hak Siar Piala Dunia oleh TVRI, Ekonomi Nobar dan Pengembangan Konten Lokal

Potensi ekonomi nobar yang luar biasa, mesti dikelola lebih baik dengan berbagai kreativitas masyarakat. 

Suasana nonton bareng Piala Dunia 2026 di Taman Film, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ananda Muhammad Firdaus)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 11:04

Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

Karya-karya mahasiswa arkeologi tentang Kota Bandung

Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:31

Mengenang Ny. Liem: Maestro Boga dari Kota Kembang dan Legacy di Industri Tata Boga Indonesia

Ny. Liem menempati posisi penting sebagai pionir yang menetapkan standar emas dalam seni pembuatan kue dan pastry.

Produk kemasan dari toko Ny. Liem di Jln. Naripan No.52, Kb. Pisang, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Google Maps Review | Foto: Elvita Yuli)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 09:19

Peran para Pendukung Tim Lokal di Kota Bandung Terhadap Keberlangsungan Persib

Menelaah faktor keberhasilan Maung Bandung pada periode terbaru di era sepakbola modern.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jun 2026, 08:40

Biaya Parkir: Faktor Kecil yang Ternyata Menentukan Pilihan Kita Saat Belanja

Biaya parkir ternyata ikut menentukan pilihan tempat belanja kita. Kecil tapi berdampak besar pada persepsi, kepuasan, dan loyalitas konsumen.

Keputusan Konsumen untuk belanja goyah karena adanya parkir (Foto: muhammad yogi)
Bandung 15 Jun 2026, 21:16

Kolaborasi Bekali Kopi Bersama Petani Lembang Dorong Peningkatan Ekonomi dan Regenerasi Sektor Kopi

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting.

Bagi Bekali Kopi, fokus di lapangan tidak hanya tertuju pada kualitas produk tapi juga pada keberlanjutan sektor kopi yang menjadi perhatian penting. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 18:19

UMKM 'Jangan Cuma Dagang' untuk Berkembang, Belajar dari Perjalanan Bisnis Kebab Factory

Bagi Widya, Rumah BUMN Bandung bukan sekadar tempat pelatihan.

Widya Ratna Puspita, pemilik KebabFactory.id, di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 17:27

Perjalanan Sate Maranggi sebagai Kuliner Khas Kabupaten Purwakarta

Lebih dari sekadar nilai gastronomi, Sate Maranggi mengandung nilai-nilai sosial sebagai pemersatu masyarakat Purwakarta.

Sate Maranggi khas Purwakarta (Sumber: Dokumentasi milik pribadi)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 16:44

Panduan Wisata Kuliner Empal Gentong Cirebon, Jejak Sejarah Kota Pelabuhan dalam Semangkuk Kuah

Kenali sejarah empal gentong Cirebon, perbedaannya dengan empal asem, rekomendasi warung legendaris, serta tips menikmati hidangan khas ini.

Empal gentong, kuliner khas Cirebon. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Biz 15 Jun 2026, 16:40

Punya Varian Produk Tak Biasa, Kebab Factory Bisa Ekspor ke Malaysia dan Singapura berkat 'Ide Anak'

Perjalanan Kebab Factory, UMKM Kota Bandung yang terkenal dengan produk uniknya.

Kebab ice cream mellowberry, salah satu varian produk Kebab Faktory di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung, (5/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 15:54

Wayang Wong: Kesenian Unik yang Mengganti Peran Boneka Menggunakan Manusia

Tentang wayang wong, salah satu kesenian tradisional Jawa yang menggabungkan tari, musik, dan drama.

Wayang Wong Ramayana. (Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 13:17

Hijrah, Ubah, dan Arah

Hijrah digital bukanlah tentang meninggalkan teknologi, melainkan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk mendekat pada nilai-nilai kebaikan.

Diskusi Film "Hijrah Digital" Ajak Mahasiswa Refleksi Literasi Digital dan Peran AI dalam Keberagamaan (Sumber: instagram @moeslimah_produktif)
Beranda 15 Jun 2026, 13:02

Jejak Ksatria di Gang Maksudi: Menjaga Amanah, Menghidupkan Nadi Ekonomi Negeri

Kisah Hasan, seorang kurir JNE di Bandung yang sempat dibegal saat berteduh karena hujan, namun kini sudah kembali bekerja berkat bantuan dari tempatnya bekerja.

Kepala Cabang Utama JNE Bandung Iyus Rustandi menyerahkan bantuan sepeda motor baru kepada Hasan sebagai bentuk nyata komitmen dan kepedulian perusahaan terhadap keselamatan karyawannya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Linimasa 15 Jun 2026, 12:58

Ketika Selisih Harga BBM Terasa Sampai Akhir Bulan

Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat banyak pengendara memilih antre demi mendapatkan Pertalite.

Pengendara rela mengantre lebih panjang di SPBU setelah kenaikan harga BBM Pertamax. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 15 Jun 2026, 11:45

Itinerary Wisata Yogyakarta 1–2 Hari, Destinasi, Kuliner, dan Budget Lengkap

Jelajahi Yogyakarta berdasarkan pembagian kawasan wisata agar perjalanan lebih nyaman. Cocok untuk liburan singkat satu hingga dua hari.

Tugu Jogja, ikon Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 11:28

Dulu Pakai Ritual, Kini Pakai Kimia: Perubahan Praktik Bertani di Desa Pamoyanan

Perjalanan pertanian Desa Pamoyanan merekam pergeseran dari sistem kepercayaan Sunda Buhun menuju metode pertanian modern yang dianggap lebih efektif dan rasional.

Foto Hamparan sawah di Desa Pamoyanan, Cianjur Selatan, pada 21 Maret 2026. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Nadhil Ayudiya Az Zahra)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 09:59

Potensi Ulat Sutra Solusi Masalah Bahan Baku Industri Tekstil

Mengatasi krisis bahan baku industri tekstil dengan ulat sutra.

Industri rakyat berbasis benang sutra binaan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha di Desa Cipondok Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya. (Foto: Humas PGE)
Beranda 15 Jun 2026, 09:46

Jejak Persib di Kota Bandung, Jalan-jalan Bobotoh Menyusuri Memori yang Nyaris Dilupakan

Bobotoh menyusuri jejak sejarah Persib di berbagai sudut Kota Bandung, mengungkap kisah, tempat, dan memori yang nyaris terlupakan oleh waktu.

Peserta Bobotoh Story Walk menyusuri jalanan Bandung sambil mendengarkan kisah-kisah yang membentuk sejarah Persib. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Linimasa 15 Jun 2026, 08:43

Layangan Adu, Hobi yang Tidak Lekang oleh Usia

Layangan adu tetap digemari lintas usia dan menjadi ruang silaturahmi para pehobinya.

Layangan adu, hobi yang tak mengenal usia. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Jun 2026, 08:40

Sinergi Batalyon Pangan dengan Petani Mengatasi Deflasi Komoditas Pertanian

Eksistensi Yonif TP sebaiknya turut menyelesaikan masalah hilir komoditas pertanian hingga ke pasar induk atau pasar tradisional serta pasar modern.

Bimtek Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kemampuan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP). (Foto: dok Puspen TNI)