Magot, dan Kesabaran Warga Bandung Mengurus Sampah Dapur

8 menit baca
Uwes Fatoni
Ditulis oleh Uwes Fatoni diterbitkan
Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)
Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)

Sabtu pagi, Hilya, anak saya yang masih kelas 2 SD berteriak dari dapur. "Ayah ada belatung di plastik tempat sampah." Saya segera beranjak dari depan laptop di kamar. Mata saya tertuju pada sampah yang terbungkus plastik hitam di ujung kanan dapur rumah. Bertumpuk, tidak dipilah, menyatu antara sampah organik, anorganik dan residu. Nampak ulat kecil, belatung berloncatan keluar.

Ini bukan yang pertama, sudah berulang beberapa kali. Saya berpikir, bagaimana caranya bisa menyelesaikan masalah sampah ini. Tidak cukup hanya memindahkan sampah tersebut ke tong sampah depan rumah ditutup rapat lalu menunggu truk sampah lewat mengambilnya.

Masalah sampah adalah masalah Kota Bandung. Sampah yang bertumpuk di tempat pembuangan sampah sementara Cijambe sering membuat kepala pening mencium baunya ketika lewat. Sampah juga bertumpuk di TPS Sarimukti yang kemudian viral di media sosial.

Masalah sampah harus diselesaikan dari dapur rumah kita sendiri. Sisa nasi, potongan sayur, kulit buah, tulang ikan, ampas makanan, dan berbagai sisa masakan yang setiap hari kita sisakan di rumah harus segera ditangani. Awalnya hanya sedikit. Tetapi jika dibiarkan dua atau tiga hari, baunya mulai menyengat. Tong sampah menjadi basah. Lalat berdatangan. Belatung muncul karena sampah organik terlalu lama tercampur dan tidak segera terangkut.

Saya melihat persoalan ini bukan hanya sebagai urusan rumah tangga, tetapi juga sebagai persoalan bersama. Banyak warga sudah berusaha menjaga kebersihan rumahnya. Sampah dikeluarkan dari dapur, dimasukkan ke kantong plastik, lalu diletakkan di tong sampah depan rumah. Masalahnya, setelah itu nasib sampah tidak selalu jelas. Jadwal pengambilan oleh petugas atau truk sampah kadang tidak menentu. Ketika terlambat diangkut, sampah organik membusuk, baunya menyebar, dan lingkungan menjadi tidak nyaman.

Sebagai warga biasa wajar kita ingin rumah bersih. Tetapi, sampah tidak selalu bisa cepat pergi, tidak bisa cepat dibuang. Di satu sisi, Kita ingin lingkungan sehat, tetapi kebiasaan memilah belum terbentuk kuat. Kita ingin Bandung menjadi kota yang nyaman, tetapi cara kita memperlakukan sampah sering kali masih sama: campur, bungkus, buang, lalu berharap ada orang lain yang mengangkutnya.

Saya kemudian teringat kehidupan di desa tempat orang tua tinggal yang lingkungannya masih asri, dikelilingi kolam ikan. Di desa sisa makanan rumah tangga tidak dianggap sampah. Nasi sisa diberikan kepada ayam. Daun-daun dan sisa sayuran bisa menjadi pakan ternak. Sebagian sisa dapur bahkan bisa masuk ke kolam untuk pakan ikan. Tidak semuanya berakhir sebagai limbah. Ada siklus yang lebih alami. Ada hubungan yang lebih dekat antara manusia, makanan, hewan, dan tanah.

Namun hidup di kota seperti Bandung berbeda. Lahan terbatas. Tidak ada rumah punya kandang ternak. Sangat jarang keluarga punya kolam ikan. Sampah organik yang seharusnya masih bisa dimanfaatkan akhirnya bercampur dengan plastik, tisu, kemasan, dan residu lain.

Kegelisahan itu menjadi salah satu alasan DKM Masjid Baitul Mu’min Jatiendah Cilengkrang, di mana saya diberi kepercayaan untuk menjadi ketuanya, mendorong program Baitul Mu'min Mepeling, yaitu singkatan dari MEsjid PEduli LIngkungan. Bagi Saya, masjid tidak cukup hanya menjadi tempat salat. Masjid harus hadir sebagai pusat kebaikan, tempat jamaah belajar, berdiskusi, dan menemukan solusi untuk persoalan hidup sehari-hari, salah satunya adalah persoalan sampah.

Ketika Sabtu sore 23 Mei 2026 Majelis Ta'lim Baitul Mu'min (MTBM) mengadakan kegiatan pengajian rutin, Kamus, Kajian Muslimah saya lihat pas sekali kegiatan tersebut dengan program Baitul Mu'min Mepeling.

MTBM membuat acara pengajian dengan cara berbeda. Bila biasanya pengajian mengundang ustaz, kali ini mereka mengundang mahasiswa Sekolah Teknik Elektro dan Informatika STEI ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan magot BSF atau larva Black Soldier Fly. Para mahasiswa mendapatkan tugas dari kampusnya mengabdi dengan berbagi ilmu ke masyarakat, dan mereka memilih Masjid Baitul Mu'min sebagai tempat pengabdiannya.

Sore itu, ba'da Asar para ibu jamaah datang ke masjid dengan rasa ingin tahu. Sebagian mungkin belum benar-benar paham apa itu magot. Sebagian lagi sudah membayangkan bentuknya dan langsung merasa geli. Saya bisa memahami reaksi itu. Dalam pikiran banyak orang, magot mirip belatung. Sesuatu yang menjijikkan, muncul dari sampah busuk, dan sebaiknya dijauhi.

Namun justru di situlah pelajaran pentingnya. Mahasiswa ITB yang datang ke masjid tidak hanya membawa materi presentasi. Mereka datang bukan hanya menjelaskan teori, juga membawa langsung magot hidup. Mereka menjelaskan dengan bahasa yang sederhana tentang apa itu magot BSF, bagaimana siklus hidupnya, apa kebiasaan makannya, manfaatnya, hingga bagaimana cara merawatnya di rumah. Mereka menerangkan bahwa magot BSF bukan sekadar larva yang menjijikkan, tetapi makhluk kecil yang punya peran besar dalam mengurai sampah organik.

Saya memperhatikan wajah ibu-ibu ketika sesi praktik dimulai. Ada yang maju mendekat dengan penasaran. Ada yang tertawa sambil menutup mulut karena geli. Ada yang ingin melihat, tetapi badannya sedikit menjauh. Ada juga yang berani menunjuk langsung ke wadah magot sambil bertanya. Reaksi mereka jujur, spontan, dan sangat manusiawi. Di satu sisi mereka geli. Di sisi lain mereka antusias.

Bagi saya, pemandangan itu indah. Karena perubahan sering kali memang dimulai dari rasa tidak nyaman. Kita tidak akan berubah jika hanya menunggu semua terasa mudah dan menyenangkan. Kadang kita harus mendekati sesuatu yang awalnya membuat kita jijik, lalu belajar melihat manfaatnya dengan pikiran yang lebih terbuka.

Mahasiswa menjelaskan bahwa magot BSF memiliki siklus hidup mulai dari telur, larva, prepupa, pupa, hingga menjadi lalat dewasa. Pada fase larva, magot memiliki kemampuan besar untuk mengonsumsi sampah organik. Sisa nasi, sayuran, buah, dan bahan organik lain dapat diurai lebih cepat. Setelah tumbuh, magot bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak, unggas, atau ikan.

Penjelasan itu membuat saya kembali berpikir: ternyata alam sudah menyediakan cara untuk mengolah sisa makanan. Persoalannya bukan karena sampah tidak punya manfaat, tetapi karena kita belum cukup sabar memahaminya dan belum cukup tekun mengelolanya.

Bersabar dalam hidup di Bandung, bagi saya, bukan hanya sabar menghadapi macet, biaya hidup, atau jadwal truk sampah yang tidak pasti. Bersabar juga berarti mau mengubah kebiasaan sedikit demi sedikit. Tidak langsung marah pada keadaan, tetapi mencari cara agar keadaan bisa diperbaiki dari lingkungan terdekat.

Dengan kegiatan pelatihan magot ini, saya mellihat masjid menjadi ruang solusi. Masjid semestinya tidak hanya ramai ketika salat, tetapi harus juga ramai dengan gerakan sosial. Ada potensi besar yang belum dimanfaatkan. Jamaah datang bukan hanya membawa sajadah, tetapi juga membawa masalah hidup: sampah, ekonomi keluarga, pendidikan anak, kesehatan, dan lingkungan. Masjid harus cukup peka untuk menjawab sebagian dari persoalan itu.

Dalam pelatihan magot BSF tersebut, saya juga melihat bentuk pengorbanan kecil dari banyak pihak. Mahasiswa ITB mengorbankan waktu dan tenaga untuk datang ke masjid, menjelaskan ilmu yang mereka miliki kepada masyarakat. Ibu-ibu jamaah mengorbankan kenyamanan mereka, berani mendekati sesuatu yang awalnya membuat geli. Pengurus MTBM menyiapkan tempat dan membuka ruang belajar. Semua dilakukan bukan untuk kepentingan pribadi, tetapi untuk kebaikan lingkungan.

Pengorbanan dalam hidup di Bandung tidak selalu dramatis. Kadang bentuknya sangat sederhana: mau memilah sampah di dapur, mau menyediakan wadah khusus organik, mau belajar merawat magot, mau menahan rasa jijik, dan mau mencoba cara baru yang belum biasa dilakukan.

Setelah pelatihan selesai, semangat itu ternyata tidak berhenti. Saya dan beberapa jamaah mulai menyatakan komitmennya untuk mempraktikannya di rumah. Saya dan beberapa jamaah mulai memesan perlengkapan magot kits di marketplace. Saya mendorong semangat terus menyala. Dari yang semula hanya melihat persoalan sampah sebagai beban, saya mulai bersiap melihat magot sebagai makhluk bersahabat di rumah.

Tentu tidak langsung mudah. Magot kits yang dipesan harus menunggu beberapa hari. Ada rasa penasaran, tetapi juga ada bayangan geli. Bagaimana nanti jika magotnya loncat, keluar dari tempatnya. Lalu Hilya, kembali berteriak sambil lari karena geli melihat magot, seperti yang biasa dilakukannya ketika melihat belatung. Bagaimana juga jika baunya muncul? atau bagaimana jika gagal merawatnya? Di situlah proses belajar dimulai. Kita tidak mungkin mengubah lingkungan hanya dengan wacana. Harus ada percobaan. Harus ada keberanian untuk memulai.

Bulan Mei tahun ini menjadi momen khusus bagi saya sebagai warga Bandung. Bukan karena ada peristiwa besar yang megah, tetapi karena saya melihat harapan kecil tumbuh dari masjid. Saya melihat ibu-ibu jamaah yang awalnya geli mulai tertarik. Saya melihat mahasiswa datang berbagi ilmu. Saya melihat sampah dapur yang biasanya dianggap masalah mulai dicarikan solusi. Saya melihat bahwa perubahan kota bisa dimulai dari ruang yang sederhana: dapur rumah, halaman masjid, dan majelis taklim.

Bandung tentu tidak bisa bersih hanya oleh satu orang, satu masjid, atau satu pelatihan. Tetapi Bandung juga tidak akan berubah jika setiap orang menunggu pihak lain bergerak lebih dulu. Kesabaran kita diuji oleh sampah yang menumpuk. Pekerjaan kita adalah mengelolanya dengan cara yang lebih bertanggung jawab. Pengorbanan kita adalah meninggalkan kebiasaan lama yang praktis tetapi merusak.

Hidup di Bandung menuntut kita untuk bersabar, bekerja, dan berkorban. Bersabar menghadapi masalah kota yang tidak selalu selesai cepat. Bekerja melakukan hal kecil yang bisa kita mulai dari rumah. Berkorban meninggalkan kebiasaan lama demi lingkungan yang lebih sehat. Dan mungkin, untuk Bandung yang lebih bersih, langkah itu bisa dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: tidak lagi melihat sampah dapur sebagai akhir, tetapi sebagai awal dari kehidupan baru.

Saya pulang ke rumah saya coba jelaskan manfaat magot ini pada Hilya, anak saya. Saya tunjukan video rekaman pelatihan yang ditayangkan sebelumnya secara live di channel youtube Masjid Baitul Mu'min https://www.youtube.com/watch?v=Wr_X8qb1XUs.

Ketika muncul gambar magot yang bergerak di wadah dan nampak ibu-ibu jamaah kegelian melihatnya, Ia berkata "Yah, kalau nanti magot yang ayah pesan sudah datang, Aku boleh ikut merawatnya juga kan? Aku tidak takut. Aku berani, tidak akan lari dan teriak lagi. Aku kasih aja magotnya makanan. Jadi mereka tidak akan loncat-loncat kan?" Saya pun meresponnya dengan tersenyum dan memberikan acungan 2 jempol. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)