Perjalanan Dimsum Inmons dari Gang Sempit Cicadas ke Pasar Nasional

8 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung yang lahir dari sebuah gang kecil Cicadas. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung yang lahir dari sebuah gang kecil Cicadas. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.ID — Tidak banyak usaha kuliner yang mampu bertahan dan tumbuh di tengah ketatnya persaingan bisnis makanan. Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung yang lahir dari sebuah gang kecil, membuktikan bahwa konsistensi dan inovasi bisa mengantarkan produk lokal ke pasar yang jauh lebih luas.

Semua bermula dari kebiasaan sederhana Ani Andriyani, perempuan kelahiran Bandung yang gemar makan di restoran ternama, namun tak jarang mempertanyakan harganya yang terlalu mahal. Dari rasa penasaran itulah muncul sebuah pertanyaan yang akhirnya mengubah hidupnya, untuk mencari jalan tengah antara kuliner yang ‘wah’ dengan harga yang tak bikin gelisah.

Saat ayobandung.id berkunjung ke gerainya di Gg. Sartika No.38, Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung, (12/5/2026) Ani menceritakan perjalanan uniknya. Dari yang awal kariernya bekerja sebagai HRD, sembari makeup artist, dan juga mendesain kerudung, sampai kemudian ia mantap mengembangkan usaha kuliner dengan modal awal hanya Rp5-10 jutaan.

“Dimsum Inmons bermula tahun 2017. Awalnya saya tertarik (wirausaha) ke dimsum karena saya makan ke salah satu restoran yang menurut saya mahal dan kok ini enak banget, ya? Saya suka banget makan dimsum, tapi saya gak mungkin sering ke sana (restoran mahal) dan saya juga gak mungkin sering bawa keluarga ke sana. Jadi saya pun ingin bagaimana caranya ya supaya dimsum seenak ini bisa dimakan oleh semua kalangan? Akhirnya saya bawa dimsum tersebut ke rumah, mulai nih eksplorasi selama 6 bulan. Saya coba taste-nya, menunya, saya tanya ke teman-teman tentang rasanya, tanpa saya ada base tata boga pada saat itu. Setelah 6 bulan mengulik dimsum. dan masih bekerja pada saat itu, saya memberanikan diri untuk buka dagangan online dari rumah,” kenang Ani tentang awal berdirinya Dimsum Inmons.

Dengan modal ketekunan dan konsistensi, Dimsum Inmons resmi berdiri dengan satu tagline yang kemudian menjadi identitasnya: "Rasa Mewah Harga Murah." Berdagang di gang sempit ternyata tidak menyurutkan niatnya. Malah Ani termotivasi untuk mencari solusi atas situasi ini.

“Dahulu saya belum punya uang buat bikin store. Akhirnya kita (usaha) di rumah, sedangkan rumah kita ini memang daerah gang. Memang dahulu yang ditakutkan itu tetangga komplain karena ada driver yang mungkin antre untuk ambil orderan, tetapi ya mau tak mau saya berpikir bahwa punya usaha itu tidak harus bikin tempat besar dulu. Jadi ketika mau bermimpi, bermimpi dulu yang kecil, nanti akan jadi besar. Makanya saya walaupun hanya di dalam gang, tetapi saya bisa bermimpi bahwa suatu saat pasti bisa besar untuk punya store sendiri. Walaupun sempat terjadi polemik terlalu banyak yang antre, kita sampaikan agar para driver ini hanya ambil order-an lalu pergi. Jadi tidak ada yang boleh nongkrong; dan akhirnya itu jadi selesai masalahnya,” imbuh Ani.

Membangun Fondasi

Sampel menu Dimsum Inmons. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Sampel menu Dimsum Inmons. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Sejak awal, Ani menyadari bahwa cita rasa saja tidak cukup. Lantas ia segera mengurus aspek legal usahanya, mulai dari Nomor Induk Berusaha (NIB), pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) ke Kemenkumham Kanwil Jawa Barat, hingga sertifikat halal MUI. Uji mutu di laboratorium pun dilakukan dengan pendampingan Dinas Koperasi dan UMKM Kota Bandung.

Ani mengaku beruntung bertemu dengan rekan-rekan pejuang UMKM, karena dari merekalah ia jadi tahu bahwa syarat administrasi usaha itu penting dan kudu diurus. Ia bertemu dengan ekosistemnya di RUMAH BUMN Bandung.

Namun sebelum syarat-syarat administrasi wirausaha yang terlengkapi, ketelitian berniaga pun jadi patokan utama untuk membangun usaha secara bertahap. Ani beralasan, banyak UMKM yang sekadar melejit di awal lalu hilang tenggelam karena kurangnya manajemen risiko. Maka untuk mengembangkan Dimsum Inmons kudu memperkuat fondasinya terlebih dahulu, termasuk mempelajari dinamika pasar.

“Setelah saya buka usaha itu langsung terasa mulai ada income. Tetapi bagaimana caranya setelah saya resign dari pekerjaan bisa punya pendapatan yang setara? Setelah 2-3 bulan naik income-nya, karena kita sudah pelajari dahulu market-nya. Dan untuk ekosistem awal konsumennya ini justru saya tidak target lokal, karena untuk area lokal Cicadas itu tidak mungkin mereka mau beli dimsum yang harganya saat itu Rp 13 ribu per porsi, mereka lebih baik beli nasi. Oleh karena itu pas awal itu kita promo area sekitar hanya Rp 10, agar mereka tahu dulu taste-nya,” sambungnya

Seiring persentase penjualan yang terus meningkat, Ani tidak tidak terlena. Ia mulai merekrut tim sosial media untuk menggencarkan promosi, juga menambah personel untuk menambah kuantitas produk. Sampai kemudian ia pun mendapatkan peta konsumennya.

“Akhirnya produksi saya sustain, terus juga di sosial media saya mulai up. Nah, dari situ saya mulai belajar, ternyata market saya dengan range harga segini cocok untuk yang gaji di bawah Rp5 juta. Mereka bisa beli,” papar wanita kelahiran 1982 itu.

Di sisi produk, inovasi terus bergulir. Salah satu terobosan yang paling diingat pelanggan adalah penggunaan saus ubi Cilembu sebagai pendamping dimsum. Pastinya ini jadi sebuah sentuhan lokal yang membedakan Inmons dari kompetitor. 

“Saya mempelajari apa sih kekurangan dari mayoritas pengusaha dimsum, apa kelemahan mereka yang harus saya tutupi? Ternyata dari kebanyakan mereka menu-nya itu tidak pernah lebih dari 10-15 varian. Dari situ, kelebihan kita punya lebih dari 80 varian, yang kemudian bisa jadi support untuk para pengusaha dimsum lainnya agar tidak perlu produksi dan cukup ngambil dari kita. Selain itu, kita bikin daya tarik juga agar mereka mau memilih Dimsum Inmons, kita bikin sausnya dari ubi Cilembu, karena kita ingin menegaskan bahwa orang Bandung bisa bikin dimsum yang khas,” ucap Ani.

Suaminya turut bergabung mengelola operasional sebagai COO dan mengawasi kualitas produksi. Prinsip kekeluargaan pun diterapkan dalam manajemen tim, evaluasi kerja dilakukan santai, bahkan sambil makan bersama.

Kerja keras itu mulai berbuah. Pada 2019, Dimsum Inmons meraih Grab Award kategori penjualan terbaik, sebuah pengakuan pertama dari platform digital yang kala itu mulai diandalkan untuk distribusi.

Pun elama pandemi COVID-19, ketika kebanyakan UMKM justru gulung tikar dan banting setir, Dimsum Inmons malah mengalami lonjakan omzet sampai 300 persen.

Lompatan besar terjadi pada 2022 ketika Dimsum Inmons dinobatkan sebagai Juara 1 UMKM Award Kota Bandung kategori kuliner, menyisihkan sekitar 10.000 peserta hingga tersaring menjadi 5 besar.

Tidak berhenti di situ, Ani mendaftarkan diri ke program BRIncubator Batch 2 milik BRI. Sebuah program inkubasi yang mempertemukan pelaku UMKM dengan mentor bisnis berpengalaman. Dari sekitar 300 pendaftar, Dimsum Inmons masuk ke dalam 50 UMKM terpilih, dan pada 2023 keluar sebagai Juara 1 BRIncubator. Di sana Ani belajar membuat business plan, pitching ke investor, manajemen SDM, hingga strategi pemasaran digital.

“Di Rumah BUMN Bandung saat itu yang paling saya pelajari ialah masalah SDM, finance, terus juga tentang digital marketing, dan itu kan semuanya terpakai ilmunya untuk wirausaha. Setelah itu ada BRIncubator, kita juara 1, dan kita dilihat banget oleh BRI sebagai UMKM yang sustain, yang kemudian kita dibawa oleh mereka ke berbagai event. Paling terasa dari manfaat program dan acara BRI ini lebih ke branding produk dan personal branding. Dari situ kita mulai scale up,” ucap Ani. 

Produksi, Distribusi, dan Ekspansi

Pada 2023 Dimsum Inmons terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator. (Sumber: Dokumentasi Narasumber)
Pada 2023 Dimsum Inmons terpilih sebagai Juara 1 BRIncubator. (Sumber: Dokumentasi Narasumber)

Memasuki tahun 2023-2026, Dimsum Inmons bukan lagi sekadar warung gang. Kapasitas produksi tumbuh signifikan, mencapai 2.500 kilogram per bulan dengan tim sekitar 37 orang. Sistem penggajian bulanan diterapkan, berbeda dari kebanyakan usaha kuliner sejenis.

Jaringan distribusi pun meluas. Mitra dan reseller Dimsum Inmons kini tersebar di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan, Sumatera, hingga Sulawesi. Di Bandung sendiri, sejumlah cabang telah hadir di berbagai titik, termasuk di Karang Tinggal, Kiaracondong, dan Summarecon Pasar Sinpasa Gedebage.

Dari sisi produk, varian menu terus berkembang dari 6 menu di awal berdiri, melewati 60 menu pada 2023, hingga kini mencapai 80+ varian (mulai dari Dicoba (Dimsum Oncom Bandung), Drakor (Dimsum Rasa Korea), Siceba (Siomay Cengek Domba), hingga Dimsum Mentai). Selain dimsum, hadir pula lini makanan berat dan varian minuman.

Dimsum Inmons juga mulai masuk ke ekosistem yang lebih besar, bekerja sama dengan sejumlah HoReCa (Hotel, Restoran, Catering) dan retail modern market, sekaligus hadir di berbagai marketplace digital seperti GoFood, GrabFood, Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop.

“Dari awal kita konsep jualannya online, kemudian muncul berbagai permintaan untuk buka store offline, dan lama-lama kita membuka jaringan reseller dan kemitraan. Kita sekarang berperan sebagai supplier dan store, dengan store kita saat ini ada 6 dan akan bertambah lagi. Selama 9 tahun ini, dari yang awalnya di daerah sini hanya saya seorang pemain dimsum, sekarang sudah hampir ada 38 kompetitor. Tapi mau gak mau bisnis seperti itu dan kompetitor itu penting agar kita tidak terlena. Sekarang market kita harus makin luas, karena pesaing kita ialah orang-orang terdekat. Kita pun berpikir bagaimana caranya kompetitor tetap bermunculan, tetapi apa yang mereka cari? Ternyata mereka mencari supplier dan saya akhirnya merasa harus sustain di sini,” tegas Ani.

***

Hari ini, Dimsum Inmons berdiri sebagai salah satu UMKM kuliner paling dikenal di Kota Bandung. Visi jangka panjangnya jelas: menjadi dimsum pilihan utama di Indonesia.

“UMKM itu harus tetap punya branding yang kuat dan tetap harus didampingi, karena kita inginnya bukan sekadar brand lokal dengan ekosistem yang terus meluas. Oleh karena itu, kita perlu wadah seperti Rumah BUMN dan program-program seperti dari BRI. Secara personal, mungkin untuk 5 tahun ke depan, saya ingin B2B tidak hanya di Bandung, inginnya ada spot agent yang merambah sampai luar Bandung Raya,” pungkas Ani.

Perjalanan Dimsum Inmons adalah cermin nyata bahwa sebuah usaha yang dimulai dari gang sempit sekalipun, dengan modal riset mandiri dan inovasi pada produk, bisa tumbuh melampaui batas gang sempit tempat ia lahir. Kini omzet Ani tidak kurang dari Rp 350 juta per bulan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)