Menelusuri Jejak Info Coblong, Media Akar Rumput yang Menjadi Jembatan Aspirasi dan Etalase UMKM Warga

Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Rabu 28 Jan 2026, 09:08 WIB
Devian Yusam, pengelola akun media sosial Info_Coblong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Devian Yusam, pengelola akun media sosial Info_Coblong. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Bagi warga Kecamatan Coblong, media bukan lagi sekadar soal berita nasional atau isu besar kota. Yang lebih dibutuhkan justru informasi tentang lingkungan terdekat mereka sendiri: aktivitas usaha kecil, persoalan fasilitas umum, hingga kejadian-kejadian yang berdampak langsung pada keseharian. Kebutuhan itulah yang sejak 2019 dijawab oleh Info Coblong, sebuah media berbasis media sosial yang tumbuh dari interaksi langsung dengan warga dan bertahan berkat kepercayaan yang dibangun dari waktu ke waktu.

Berangkat dari kegelisahan melihat banyaknya aktivitas usaha kecil dan persoalan warga yang kerap luput dari perhatian, Info Coblong lahir tanpa kantor, tanpa struktur redaksi formal, dan tanpa payung lembaga. Akun ini dikelola secara mandiri oleh Devian Yusam (41), yang sejak awal aktif di lingkungan kepemudaan dan organisasi kewilayahan di Coblong.

Tampilan akun instagram Info_Coblong. (Sumber: Info_Coblong)
Tampilan akun instagram Info_Coblong. (Sumber: Info_Coblong)

“Awalnya saya lihat di Coblong ini banyak UMKM, banyak PKL, tapi nggak semuanya punya media sosial. Akhirnya saya bantu lewat Info Coblong,” ujar Devian.

Seiring waktu, Info Coblong tidak hanya menjadi etalase promosi usaha warga. Akun ini berkembang menjadi ruang berbagi informasi kebencanaan, kriminalitas, hingga keluhan keseharian warga. Banjir, jalan rusak, hingga laporan lampu penerangan yang mati kerap muncul di lini masa Info Coblong, bersumber langsung dari warga sekitar.

Kepercayaan warga menjadi modal utama. Tak jarang, aduan pertama justru masuk melalui pesan langsung Instagram Info Coblong, bukan ke kanal resmi pemerintah. Posisi ini menempatkan Info Coblong di persimpangan: menjadi penampung keluhan sekaligus menjaga agar persoalan warga tidak memicu konflik baru.

“Kita sering ingetin warga, jangan langsung diviralin. Mediasi dulu sama RT atau RW. Kalau mau diposting, harus siap jadi sumber,” kata Devian.

Pilihan itu diambil bukan tanpa risiko. Sebagai media yang tidak memiliki badan hukum, kekhawatiran terhadap jerat Undang-Undang ITE kerap menghantui. Devian mengakui, posisi sebagai “media tanpa rumah” membuat perlindungan hukum menjadi samar ketika berhadapan dengan komplain atau tekanan.

“Kalau ada yang keberatan sama postingan, kita bingung berlindung ke siapa. Itu yang paling dikhawatirkan,” ujarnya.

Meski demikian, selama enam tahun berjalan, Info Coblong justru membangun relasi yang cukup dekat dengan berbagai pihak, mulai dari komunitas warga hingga aparat kewilayahan. Hubungan ini terjalin bukan karena kedekatan formal, melainkan karena konsistensi menyampaikan informasi dari lapangan.

Dalam praktiknya, Info Coblong juga memilih jalur yang berhati-hati dalam urusan promosi. UMKM rumahan dipromosikan secara gratis, sementara kerja sama berbayar dilakukan secara selektif. Prinsipnya sederhana: membantu usaha lokal tanpa membebani atau menciptakan kesan transaksional berlebihan.

Devian berharap Info Coblong mendapat pengakuan yang lebih jelas sebagai mitra wilayah. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Devian berharap Info Coblong mendapat pengakuan yang lebih jelas sebagai mitra wilayah. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

“Kita nggak mau kesannya datang buat minta-minta. Kalau mau konten, kirim konsepnya, kita bantu,” kata Devian.

Ke depan, harapan Devian terbilang sederhana. Ia ingin Info Coblong memiliki pengakuan yang lebih jelas sebagai mitra kewilayahan, termasuk identitas resmi agar aktivitas peliputan dapat dilakukan dengan rasa aman.

“Pengen punya ID, setidaknya diakui kecamatan. Biar kalau liputan, warga juga tahu kita ini siapa,” ujarnya.

Di tengah riuhnya media dan tuntutan algoritma, Info Coblong memilih bertahan dengan cara yang mungkin terdengar kuno: membangun kepercayaan secara perlahan. Bukan soal seberapa viral sebuah unggahan, melainkan seberapa jauh informasi itu benar-benar sampai dan berguna bagi warga.

Berita Terkait

News Update

Beranda 04 Feb 2026, 09:42 WIB

Jika Kebun Binatang Bandung Hilang, Apa yang Tersisa dari Kota Ini?

Tempat ini merupakan rangkaian panjang sejarah dan ungkapan cinta warga kota yang telah terbangun sejak satu abad lalu.
Pegunjung memanfaatkan Kawasan Kebun Binatang Bandung yang rindang dan sejuk untuk berkumpul dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 09:39 WIB

Aan Merdeka Permana Penulis Spesialis Tema Padjadjaran

Yayasan Kebudayaan Rancagé menetapkan sastrawan Sunda senior Aan Merdeka Permana sebagai peraih Hadiah Jasa 2026.
Buku-buku karya Aan Merdeka Permana. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 08:04 WIB

Ngabuburit dari Masa ke Masa

Ngabuburit di kota Bandung mengalami pergeseran nilai dan aktifitas serta cara melakukannya.
Masjid Al-Jabar di Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Andry Sasongko)
Bandung 03 Feb 2026, 21:16 WIB

Misi Kemanusiaan dan Esensi CSR Berkelanjutan dalam Memulihkan Luka Bencana Cisarua

CSR berkelanjutan bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang hadir dan tetap ada hingga masyarakat benar-benar mampu berdiri kembali di atas kaki sendiri.
Dalam skenario bencana sebesar Cisarua, kecepatan respons adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa dan harapan. (Sumber: SANY Indonesia)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 19:40 WIB

Kisah Sentra Karangan Bunga Pasirluyu Bandung, Panen Rezeki saat Rajab dan Syaban

Jalan Pasirluyu Selatan Bandung berubah menjadi sentra karangan bunga. Bulan Rajab dan Syaban membawa lonjakan pesanan papan ucapan pernikahan dan hajatan.
Salah satu deretan toko bunga di Pasirluyu, Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 03 Feb 2026, 19:00 WIB

Info Ciumbuleuit, Homeless Media yang Hidup dari Kepercayaan Warga Sekitar

“Kalau sampai ada yang keberatan atau komplain, jujur saja bingung mau berlindung ke siapa. Kita kan nggak punya lembaga atau badan hukum,” tuturnya.
Pemilik dan pengelola akun Info Ciumbuleuit, Dio Rama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 18:19 WIB

UU ITE dan Ancaman Kebebasan Ekspresi: Menggugat Pelanggaran Asas Lex Certa

Menganalisis pelanggaran asas lex certa dalam UU ITE yang memicu chilling effect dan mengancam kebebasan berekspresi serta kualitas demokrasi di Indonesia.
Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 17:02 WIB

Lakon Kelaparan dan Kemiskinan Melalui Puasa Ramadan

Puasa itu mengajarkan menahan diri, zakat menyempurnakannya. Ia menumbuhkan kesadaran sosial dan kebahagiaan bagi sesama.
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:33 WIB

Sejarah Pasteur Bandung, Jejak Peradaban Ilmu Pengetahuan di Kota Kembang

Kawasan Pasteur Bandung tumbuh dari pusat riset vaksin kolonial menjadi simpul penting ilmu kesehatan nasional yang jejaknya masih bertahan hingga kini.
Suasana di Jalan Pasteur, Kota Bandung. Salah satu titik lalu lintas yang selalu padat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:31 WIB

Hikayat Indische Partij, Partai Politik Pertama yang Lahir dari Bandung

Didirikan di Bandung pada 1912, Indische Partij menjadi organisasi politik pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan penuh dari kekuasaan kolonial Belanda.
Logo Indische Partij.
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 15:13 WIB

Di Tengah Tekanan Zaman, Seni Menjadi Cara Bertahan

Di tengah kecemasan, kisah “Nihilist Penguin” bertemu tekanan hidup kota. Dari luka personal lahir Florist Project dan lagu “Cemas”, seni yang tak menggurui, tapi menemani manusia belajar bertahan.
Belajar dan menanamkan cinta pada anak-anak (Sumber: Arsip Penulis, Ekspedisi Nusantara Jaya 2016)
Bandung 03 Feb 2026, 12:52 WIB

Berlari Menjemput Cahaya Pendidikan: Jejak Kebaikan di Balik DH Run 2026

Di balik kemeriahan medali dan garis finis, DH Run 2026 membawa misi sosial yang menyentuh akar kehidupan.
Konferensi pers DH Run 2026 yang membawa misi sosial untuk menyentuh akar kehidupan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 12:43 WIB

Raih Hadiah Jasa Rancage, Aan M.P. Sebut KDM Tidak Senang Bantu Sastrawan Miskin

Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa.
Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 11:11 WIB

Tema Ayo Netizen Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Tema ini menjadi ajakan terbuka bagi para penulis Ayo Netizen untuk mengirim tulisan terbaik.
Ayo Netizen Ayobandung.id mengangkat tema "Bandung Raya dan Bulan Puasa: Tradisi, Ekonomi, dan Realita Saat Ini" untuk edisi Februari 2026. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan AI ChatGPT)
Bandung 03 Feb 2026, 10:58 WIB

Dari Kaki Lima ke Ruko Lantai Tiga: Strategi Awug Cibeunying Bertahan di Tengah Zaman

Rizky turut serta menjaga kualitas dan kuantitas awug supaya tetap terjaga meski pasang-surut perubahan zaman telah dihadapi bersama keluarga besarnya selama membangun bisnis ini.
Kios Awug Cibeunying. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 09:36 WIB

Kian Banyak Tertemper Kereta Api, Perlintasan Sebidang Titik Paling Mematikan

Setelah perlintasan sebidang dibangun jalan layang atau terowongan, ternyata kebijakan daerah sangat lemah.
Perlintasan sebidang di Cimindi yang sangat rawan. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Bandung 03 Feb 2026, 09:19 WIB

Digitalisasi Jejak Karbon: Menakar Teknologi Berkelanjutan dalam Layanan Pelanggan Singapore Airlines

Penumpang dan pelanggan kargo SIA dapat menghitung dan mengimbangi emisi karbon penerbangan mereka, baik sebelum maupun setelah terbang.
Maskapai Singapore Airlines. (Sumber: Singapore Air)
Beranda 03 Feb 2026, 07:12 WIB

Di Antapani, Komunitas Temu Tumbuh Menjadi Tempat Pulang bagi Percakapan yang Jujur

Nilai-nilai dalam kacamata tuntutan masyarakat inilah yang kemudian memantik kecenderungan rasa cemas manusia di masa kini.
Komunitas Temu Tumbuh membuka ruang diskusi yang aman dan nyaman untuk saling berbagi dan bertumbuh. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 19:47 WIB

Susah Payah Menjaga Tertib Bahasa Dicengkram Mesin Algoritma

Standar Bahasa Indonesia perlahan tidak lagi dibentuk oleh komunitas diskusi, melainkan oleh mesin berbasis data global.
Ilustrasi bahasa mesin yang menentukan algoritma. (Sumber: Sketsa oleh ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 17:43 WIB

Quo Vadis BKKBN dalam Kepungan Patologi Sosial

Jika fenomena YOLO, FOMO, dan FOPO dihubungkan, muncul gambaran yang lebih luas mengenai bagaimana komunikasi digital mempengaruhi kesehatan mental individu.
Ilustrasi perubahan perilaku generasi milenial dan Z. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)