Saat Homeless Media jadi Rujukan Warga, Cerita di Balik Admin Akun Instagram info.sekeloa

7 menit baca
Gilang Fathu Romadhan
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan diterbitkan
Ilustrasi admin akun Instagram. (Sumber: Unsplash | Foto: Mourizal Zativa)
Ilustrasi admin akun Instagram. (Sumber: Unsplash | Foto: Mourizal Zativa)

AYOBANDUNG.ID — Di kawasan Coblong, Kota Bandung, kabar warga lebih cepat tersebar lewat grup WhatsApp dan unggahan Instagram ketimbang portal berita. Akun anonim yang kerap disebut homeless media hadir sebagai mata dan telinga warga setempat. Tanpa kantor redaksi, mereka menyalurkan kabar sehari-hari yang kerap dianggap sepele oleh media arus utama.

Akun Instagram @info.sekeloa adalah salah satu akun yang aktif membagikan informasi seputar Kecamatan Coblong, khususnya daerah Sekeloa. Mulai dari kabar tentang UMKM, jalan rusak, sampah, banjir hingga kriminalitas, semuanya terangkum dalam unggahan singkat yang mudah dicerna. Kini akun tersebut memiliki lebih dari 20 ribu pengikut.

Nazmi Hawang merupakan sosok dibalik akun tersebut. Pria keturunan Papua dan Sunda itu bukan hanya admin, melainkan juga pendiri akun yang jadi rujukan warga Sekeloa. Namun dibalik pencapaian itu, banyak pengorbanan yang telah ia lewati.

Ketika ditemui di pelataran kedai kopi di Jalan Sukasari, Sekeloa, Nazmi membagikan kisahnya. Sambil menikmati dimsum, ia membuka cerita dengan kata: iseng. Ya, akun info.sekeloa awalnya hanya ia garap sekadar iseng olehnya saat pertama kali dibuat pada 2019 silam. 

Kala itu, Nazmi hanya mengunggah sebuah postingan yang mengajak pengikut akun berinteraksi. Misalnya dengan menanyakan siapa yang pernah melewati gang tersebut atau membeli cuanki di sana. Postingannya memang terkesan ringan dan sepele, tapi ternyata informasi seperti itu yang dicari warganet.

"Awalnya gitu. Postingan-postingan receh, postingan-postingan biasa. Justru postingan itulah yang dicari masyarakat," kata pria berusia 32 tahun itu, Selasa, 26 Agustus 2025, malam.

Handphone jadi senjata utamanya untuk membesarkan nama info.sekeloa. Ketika tangannya mulai lihai mengedit foto atau video dan Ilmu dalam membaca algoritma Instagram sedikit demi sedikit bertambah, kabar buruk datang. Dia dipecat dari pekerjaannya sebagai office boy (OB) di salah satu kampus negeri ternama di Bandung.

Ia merasa terpuruk. Namun hal itu membuatnya menyadari sesuatu: kecintaan terhadap tempat tinggal yang begitu besar. Rasa bangga menjadi warga Sekeloa kian menggelembung. Nazmi jatuh cinta pada Sekeloa.

Perasaan ini yang kemudian memicu semangatnya untuk membantu masyarakat lewat media sosial. Seiring waktu, jumlah pengikut info.sekeloa semakin banyak. Laporan dari warga pun ikut bertambah. Warga semakin sering melaporkan kejadian kehilangan dompet, SIM, kucing, hingga kabar tentang tindak kriminal.

"Awalnya gitu, ini mah karena saya putra daerah, besar di sini (Sekeloa) jadi ingin membesarkan nama Sekeloa, biar masyarakat luas bisa tahu," ucapnya.

Dia mengaku sering dipandang sebelah mata, baik oleh netizen atau warga sekitar. Tapi ia tak menaruh hati. Ia terus melangkah maju. Alasannya karena niatnya yang baik dan tulus untuk memajukan Sekeloa. 

"Sampai sekarang juga masih ada yang nyinyir gitu," akunya.

Di sisi lain, beban pikiran tentang omongan orang lain kerap terhapus oleh ucapan sederhana dari warga yang terbantu. Tak jarang berkat postingan di Instagram info.sekeloa, barang atau hewan milik warga yang hilang bisa ditemukan. Ucapan sederhana yang membuatnya tersenyum kembali: terimakasih.

Pola kerja Nazmi dalam mengelola Instagram info.sekeloa hampir sama dengan jurnalistik. Ia mencari informasi, menanyakan kebenarannya, mengkonfirmasi, lalu mempublish-nya di media sosial. Meski begitu ia mengaku tak begitu paham soal produk jurnalistik. Ia hanya tahu bahwa dalam caption konten harus mencakup 5w+1h.

Selain itu, Nazmi sering merasa rendah diri ketika meliput suatu kejadian. Perasaan itu muncul ketika bertemu dengan seorang wartawan profesional yang datang lengkap dengan kartu pers, kamera, serta akses khusus. Sementara dirinya hanya berbekal ponsel dan keberanian, ia kerap bertanya-tanya apakah informasi yang dibagikannya pantas disebut berita.

Namun informasi yang ia bagikan kerap lebih cepat dari hasil kerja wartawan. Postingannya terkadang menampilkan peristiwa dan caption yang tak lebih dari 350 kata. Sebab yang terpenting, lanjut Nazmi, apakah kejadian itu benar-benar terjadi atau tidak. Sehingga tak jarang pula ia langsung mengecek ke lokasi kejadian.

"Sering saya datang langsung ke lokasi kejadian, misalnya ada kecelakan, saya ke sana terus nanya-nanya ke warga gimana kejadian, atau kalau ada polisi nanya ke polisi," katanya.

Dalam menjalankan akun info.sekeloa, ia lebih sering berperang batin. Apalagi terkait nyawa. Ia bercerita pernah mendapat laporan dari netizen soal penusukan ojek online di Dipatiukur. Kala itu kerabat korban menyebut telah membuat laporan kepolisian. Akan tetapi setelah beberapa waktu berlalu, pelaku tak kunjung tertangkap. Akhirnya ia memutuskan untuk meng-upload kasus tersebut.

Postingan tersebut kemudian viral di media sosial. Tak berselang lama, ia mendapat kabar kalau aparat keamanan berhasil menangkap pelaku. "Kadang saya heran, apakah memang harus viral dulu baru tertangkap pelakunya? Kan kasian korban dan keluarganya," ucapnya menggerutu.

Nazmi menambahkan, di era serba digital, hampir semua hal bisa terpantau. Namun, tak jarang ia menerima laporan lewat pesan langsung di Instagram yang justru berkaitan dengan masalah pribadi. Misalnya, ada seseorang yang mengeluhkan tetangganya karena berisik setiap malam. Padahal, menurutnya hal semacam itu tidak perlu dilaporkan, cukup diselesaikan dengan menegur langsung.

"Saya aja pernah dapat laporan kalau di salah satu kosan dekat rumah saya selalu berisik kalau malam. Menurut saya itu ngga perlu di up jadi saya pilih buat negus secara langsung," akunya.

Sebuah bisnis tidak akan berjalan tanpa modal. Bagi Nazmi, itu bukan masalah. Sebab mengurus akun info.sekeloa baginya sama dengan mencintai tempat ia tumbuh. Membantu warga sekitar yang kerap tak ditindaklanjuti oleh aparat setempat membuatnya puas hati. Sehingga masalah modal dan pendapatan bukan persoalan penting. 

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia menggunakan gaji dari pekerjaan yang ditekuninya. Agar tidak bentrok dengan pekerjaannya, kini Nazmi lebih memilah-milah isi konten terlebih dahulu. 

Keisengan itu kini berkembang menjadi ruang informasi warga. Semua dirangkum dengan gaya bahasa ringan, kadang diselipi humor, sehingga terasa dekat dengan keseharian pengikutnya. Kendati begitu, Nazmi memilih tetap anonim. Keputusan itu bukan karena takut, melainkan karena ingin menjaga fokus pada isu, bukan pada figur.

"Kalau orang tahu siapa adminnya, nanti malah jadi sorotan pribadi. Padahal yang penting kan masalah warga yang harus cepat ditangani," ujarnya.

Kerap diremehkan oleh media arus utama, @info.sekeloa justru menemukan ironi. Tak jarang, unggahannya diambil media besar untuk dijadikan bahan berita. Bagi Nazmi, hal itu menunjukkan bahwa informasi lokal yang dianggap remeh pun sesungguhnya punya nilai yang lebih luas. 

"Media yang baik itu bukan soal besar kecilnya kantor, tapi seberapa bermanfaat buat warga,” tegasnya.

Keberadaan akun ini lambat laun membentuk ekosistem informasi berbasis komunitas. Warga merasa punya saluran alternatif untuk menyuarakan keluhan sekaligus mencari solusi. Dari persoalan jalan berlubang hingga pencurian motor, semua mendapat tempat di @info.sekeloa.

Tampilan instagram @info.sekaloa
Tampilan instagram @info.sekaloa

Meski Isu Tak Berat, Nazmi Sempat Diteror

Permasalahan di tingkat kecamatan sesungguhnya banyak, tapi tak semua tersentuh media arus utama, kata Nazmi. Mulai dari persoalan administratif, konflik warga, sampai isu pelayanan publik. Di tengah kondisi itu, akun Instagram @info.sekeloa hadir menawarkan wajah lain jurnalisme: dekat dengan warga, tapi tetap kritis pada isu sekitar.

Ia mengaku kurang sepakat dengan istilah homeless media. Menurutnya, kata yang lebih tepat adalah jurnalisme warga atau media daerah, istilah yang juga akrab di kalangan penggiat media sejenis. 

“Kalau saya turun langsung ke lapangan, itu lebih pede. Nggak was-was. Soalnya banyak isu yang dianggap sepele, padahal warga butuh tahu,” ujar Nazmi.

Nazmi menilai, media warga seperti yang ia kelola bukan sekadar soal membagikan informasi cepat, melainkan juga soal keberanian. Ia sadar, intervensi terhadap jurnalis bisa menimpa siapa saja, bukan hanya wartawan media besar. 

"Saya kadang mikir, kalau ngangkat kasus korupsi atau isu sensitif, ngeri juga. Siapa sih adminnya? Orang gampang di-tracking, apalagi akun kecil kayak gini," tuturnya.

Meski demikian, ia memilih untuk terus meliput dengan caranya sendiri. Bagi Nazmi, Sekeloa adalah kawasan strategis. Lokasinya dekat Gedung Sate, pusat pemerintahan Jawa Barat, sehingga kerap jadi titik lalu lintas isu besar, mulai dari demo, kecelakaan, hingga kegiatan politik.

Keteguhannya itu pun diikuti oleh pelatihan-pelatihan yang dapat meningkatkan ilmu jurnalistiknya. Dalam hati kecilnya, ia menyadari pola kerjanya seperti jurnalis. Namun dia tak ingin disebut seperti itu.

"Walaupun bukan wilayah Sekeloa, kalau ada kejadian besar di Gedung Sate atau sekitar Dago, pasti saya angkat. Dekat, dan warga juga butuh tahu," bebernya.

Namun, konten @info.sekeloa tak melulu soal peristiwa. Justru yang membuatnya berbeda adalah cara menyoroti hal-hal kecil di sekitar. Nazmi kerap masuk ke gang-gang sempit untuk menemukan cerita lokal: UMKM rumahan, lapangan tempat anak-anak bermain, hingga perkampungan yang menyimpan sejarah. 

"Kalau monumen mah semua orang tahu. Tapi di gang, ada cerita warga yang jarang diekspos. Itu yang bikin orang merasa punya kedekatan," ucapnya.

Awalnya, Nazmi hanya fokus pada Sekeloa. Kini, perlahan, jangkauannya meluas ke kelurahan dan kecamatan sekitar. Ia juga sempat berkolaborasi dengan akun serupa, seperti @info.coblong, untuk memperkuat jaringan informasi lokal. Akan tetapi informasi seputar Sekeloa tetap ia prioritaskan dan fakta selalu dikedepankan.

Bagi Nazmi, menjaga aliran informasi warga sama pentingnya dengan menjaga kepercayaan. Itu karena di tengah banjir kabar di media sosial, selalu ada risiko bias dan hoax yang bisa menyesatkan. Ia paham betul, informasi yang salah bisa memecah belah masyarakat.

Pada momen itu, gema pesan dari lagu Disinformasi karya grup musik Seringai terasa begitu tepat: disinformasi, memecah belah. Melalui akun Instagram @info.sekeloa, Nazmi memilih jalannya sendiri, menyaring kabar, merangkul warga, dan membuktikan bahwa media yang tumbuh dari gang sempit mampu memberi arti besar bagi warga sekitar.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Jul 2026, 21:02

Stamp Hunting di Kota Kembang: Fenomena Demam “Museum Passport” dan Candu Baru Kaum Metropolis Bandung

Siapa sangka selembar kertas dan ketukan tinta bisa memicu adrenalin sedahsyat ini? Di Jakarta, demam stamp hunting sudah lebih dulu meledak. Sekarang fenomenanya menular ke Kota Bandung.

Para Stamp Hunter Peserta Komunitas Cerita Bunda Lintas Generasi Berfoto di Museum KAA (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 19:06

Ketika Pelajar Diminta Pulang Cepat, Apakah Bandung Menjadi Lebih Aman?

Jika seorang pelajar dianggap aman hanya karena berada di rumah setelah pukul 21.00, lalu bagaimana dengan keamanan kota setelah jam itu?

Warga berlalu lalang di kawasan Asia Afrika, Kota Bandung, pada malam hari. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ditya Rafi Muttaqin/Magang)
Linimasa 24 Jul 2026, 18:41

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari

Seni ukir kayu menjadi cara warga Kampung Bunisakti, Arjasari, memperkenalkan daerahnya. Beragam ukiran bernilai seni diproduksi dengan teknik khas.

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 18:33

5 'Warung' Sarapan di Pilihan Bandung, dari Kedai Legendaris hingga Hidden Gem

Jelajahi 5 kedai sarapan favorit di Bandung dengan pilihan menu rumahan, panorama asri, hingga hidden gem yang cocok untuk memulai hari.

Sajian di Sepiring Pagi.
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 17:15

Di Balik Kampanye Digital Jakarta International Marathon 2025: Analisis Merek Air Mineral Nasional

Membedah hal-hal yang tidak terlihat di balik kampanye digital.

Ilustrasi. (Sumber: AI)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 16:18

Pesta Kesenian Bali sebagai Bukti Apresiasi Seni yang Perlu Ditularkan ke Provinsi Lain

Ketika suatu festival seni dapat memberi inspirasi bagi daerah lain.

Pertunjukan Pesta Kesenian Bali tahun 2026 (Sumber: Youtube: Disbud Prov. Bali)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:27

Mega Korupsi Era 90-an Skandal Bapindo dan Eddy Tansil Mengguncang Indonesia

Pengusaha bernama lengkap Edy Tansil (Tan Tjoa Ing) dituntut hukuman penjara seumur hidup serta diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp800 miliar.

Surat kabar Bandung Pos edisi akhir Juli 1994 yang menampilkan berita utama mengenai kasus mega korupsi Eddy Tansil. (Sumber: Foto dan koleksi surat kabar Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:10

Modernisasi Berkebaya yang Berbudaya

Tidak dapat ditawar lagi dengan berkebaya. Kebaya sudah menjadi identitas yang sangat penting bagi Indonesia.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 14:17

Telusur Arca Derenten: Ikonografi Durga-Agastya, Omon-Omon dari Kebun Binatang ke Museum Kota

Pengejawantahan arkeolog sebagai 'detektif masa lalu': mengkaji ikonografi Arca batu, menelusuri jejak hilangnya, hingga mengurai urgensi lembaga Museum Kota

Pintu masuk kebun binatang Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 13:40

Pentingnya Patuh Minum Obat Hipertensi: Penyuluhan Mahasiswa PKPA UMB di Puskesmas Cibiru

Kegiatan kolaborasi yang dilakukan oleh mahasiswa dan praktisi fasilitas pelayanan kesehatan di puskesmas dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup pasien di puskesmas cibiru.

Mahasiswa PKPA Universitas Muhammadiyah Bandung sedang melaksanakan Penyuluhan di Puskesmas Cibiru. Kamis (23/6/2026). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Indri Wahyuni A)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 13:22

Lontong Goreng Gasibu, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Gedung Sate Bandung

Cari sarapan enak di Bandung? Lontong Goreng Gasibu menawarkan lontong goreng hangat dan tahu Sumedang dengan harga mulai Rp4.000 di kawasan Lapangan Gasibu.

Lontong Goreng Gasibu. (Sumber: Instagram @hayulahgaskeun)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 10:22

Sate, Sang Mahakarya Kuliner Nusantara: Dari Warisan Budaya hingga Diplomasi Rasa Dunia

Indonesia boleh dibilang merupakan "Negeri Seribu Sate".

Pedagang sate. (Sumber: Pexels | Foto: nourrie zein)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 07:55

Kesantunan Berdigital bagi Anak

Kecerdasan buatan tidak boleh membatasi proses tumbuh kembang anak.

Orang tua dan anaknya. (Sumber: Pexels/Lgh_9)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 19:42

Gunung Alit Telah Lahir di Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu

Gunung Alit ini lahir di sisi utara Kawah Ratu Gunung Tangkubanparahu.

Gunung Alit lahir di dalam Kawah Ratu pascaletusan Juli–Agustus 2019. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 18:02

Serunya Belajar di Alam Bebas

Pendidikan terbaik bukan selalu tentang seberapa cepat anak mampu membaca, menulis, berhitung. Melainkan ketika anak tumbuh menjadi manusia yang rasa ingin tahunya tetap hidup, hatinya tetap lembut

Asyiknya Kakang naik Bebek Gowes di Pondok Tandang Bakti Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Ahad (31/5/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 17:00

Hari Anak Nasional: Kenalkan Proses Kreatif Sejak Dini Lewat Program Little Creator

Kreativitas di segala bidang kehidupan adalah kunci masa depan anak.

Program Kreator Cilik yang diselenggarakan oleh Omochatoys menekankan proses kreatif sejak usia dini (Foto: dok Omochatoys)
Wisata & Kuliner 23 Jul 2026, 16:22

Wahana Pilihan TMII, dari Kereta Gantung hingga Drone Show Gratis

Rencanakan kunjungan ke TMII dengan panduan wahana terbaik, lengkap dengan tiket, museum pilihan, Jagat Satwa Nusantara, dan tips berkunjung hemat.

Museum Indonesia TMII. (Sumber: TMII)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 16:21

Hari Anak Nasional: Sudahkah Anak-Anak Indonesia Merdeka?

Apakah anak-anak layak dikatakan sudah merdeka? jika rasa aman, nyaman dan hak-hak dasar dalam hidup mereka belum sepenuhnya bisa ditunaikan.

Seorang anak sekolah di Aceh yang menyebrangi jembatan tali menuju sekolah. (Sumber: Generated AI (Terinspirasi dari Video Asli di Aceh))
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 15:11

Hari Anak Nasional Menjadi Momen Tumbuhnya Generasi Kuat dan Cerdas

Seharusnya peringatan Hari Anak Nasional dijadikan momentum penting untuk membangun anak-anak yang kuat dan cerdas.

Butuh kerjasama dan partisipasi dari berbagai pihak dalam rangka mewujudkan pendidikan terbaik bagi anak-anak negeri ini. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 14:39

Ketika Kritik Tenggelam dalam Kebisingan

Status quo tidak selalu bertahan karena kritik dibungkam, tetapi karena perhatian kita terlalu mudah dialihkan.

Sebuah pagelaran seni dog-dog di tengah sebuah aksi. (Foto: Dokumen pribadi)