Bandung dalam Fiksi Sejarah

5 menit baca
Yogi  Esa Sukma Nugraha
Ditulis oleh Yogi Esa Sukma Nugraha diterbitkan
Buku Melukis Jalan Astana. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)
Buku Melukis Jalan Astana. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)

Sudah banyak tulisan yang menjadikan sejarah kota sebagai latar, tak terkecuali Bandung, yang juga tidak luput dari perhatian para penulis --termasuk fiksi. Setidaknya ada beberapa novel sejarah yang telah saya baca. Karena itu saya hendak mengulas sebagian di antaranya.

Boleh saja apabila tulisan ini diterima dengan rasa skeptis atau curiga. Karena pandangan dan pembacaan saya sangat mungkin terhalang bias selera. Mungkin lingkar pertemanan, atau ketidakmampuan melacak fiksi terbaik yang pernah ada.

"Soal bacaan tak perlu dipertentangkan," demikian kredo lawas yang kerap ditemui.

Saya kira ulasan fiksi punya arti penting. Sebab gudang pengetahuan dan bacaan seseorang akan mandeg ketika ia berhenti pada karya penulis yang itu-itu saja tanpa menemukan referensi yang lain. Dengan harapan pembaca menampilkan rekomendasi yang berbeda.

Oh, ya, tulisan ini terinspirasi dari beberapa orang yang sudah lebih dulu melakukan hal serupa, dengan beberapa literatur pilihannya. Ditopang ingatan seadanya dan dibantu beberapa bahan yang sudah dibaca, saya mencoba mengulas dua saja.

Masa Bergolak

Buku Masa Bergolak. (Sumber: Google Books)
Buku Masa Bergolak. (Sumber: Google Books)

Adalah buku Masa Bergolak karya M. A Salmun. Konon, buku ini pernah menang sayembara besar PN Balai Pustaka tahun 1966 dalam kategori hiburan bacaan dewasa. Sebetulnya latar belakangnya bukan hanya di Bandung. Tapi juga Bogor, dan Rajamandala.

Yang pasti buku ini menggambarkan suasana perjuangan mempertahankan kemerdekaan di tingkat lokal, terutama pada November 1945. Dan saya kira buku ini mampu memikat imajinasi pembaca. Diawali dengan kisah Mulyadi, yang sekaligus menjadi figur utama di buku ini. Ia adalah seorang pemuda yang hanyut dalam atmosfer revolusi.

Namanya populer di Kota Bandung. Sikapnya ramah. Suka menolong yang lemah. Bahkan dibilang sebagai komandan yang cekatan dan berwibawa. Selain itu, ia juga dikisahkan sebagai pemuda kelahiran Cianjur yang mahir bermain pencak silat dan menjadi pribadi yang taat menjalankan perintah agama.

Pendidikannya Sekolah Teknik Tinggi. Terakhir bekerja sebagai Pengawas Bangunan dan Pabrik di Kota Bandung, dan kelak menjadi sersan Mayor Tentara Keamanan Rakyat. Yang menarik dari buku ini adalah penekanannya pada lokalitas.

Berbagai momen yang ditulis menyertakan nama-nama tempat di Kota Bandung. Misalnya Gegerkalong (yang disebut saat perebutan Villa Isola), Cipaera, Situ Aksan, Ijan, Pungkur Kulon, Jalan Pangeran Sumedang (kini Jalan Otto Iskandardinata), sampai ke 'Verlengde Regentsweg' (sekarang Jalan Raden Dewi Sartika).

Ini menarik. Bahkan ada juga tempat lain semisal Jalan Ciateul, Pangarang, Sasak Gantung, Hotel Savoy Homann, Kebon Kalapa, Lengkong, dan Ciguriang. Satu hal yang agak serupa dengan realitas dalam sejarah ialah ketika menyajikan kisah tentang banjir Cikapundung di tahun itu. Bisa dilihat di halaman 29:

"Alangkah ngerinya pemandangan. Rakyat Pangarang yang kampungnya sedang dilanda Banjir Cikapundung dan sedang menyelamatkan diri dari bahaya air ... ditembaki oleh Gurkha, tanpa perikemanusiaan."

Ada tokoh lain yang saya kira juga menarik. Ia sahabat Mulyadi; namanya Mintarsih. Umurnya tiga tahun lebih muda. Anak Haji Subani, pemilik kebun teh dan kina yang kaya raya di Sukanagara, Cianjur selatan.

Mintarsih adalah gadis yang sederhana hidupnya. Tidak manja. Meski bisa saja ia memilih gaya hidup mewah jika melihat latar belakang orang-tuanya. Tapi ia tidak ingin 'menonjol' di antara rakyat kebanyakan.

Dalam buku, Mintarsih dicatat sebagai pribadi yang senang tinggal di Gang Ijan, bersama yang lainnya. Kini ia meninggalkan pekerjaannya sebagai pengacara. Menggabungkan diri dengan para pejuang, sebagai "penghubung" antarsektor.

Ia melakukan praktik "bunuh diri kelas", dan tentu saja ia bergerak dengan segala kelicinan dan taktik yang beragam. Sebab kalau diketahui NICA atau kaki tangannya, pasti ia ditawan atau ditembak mati seketika itu juga. Begitulah kira-kira.

Tentu saja masih banyak tokoh lain yang belum disebut dalam ulasan singkat ini. Mengingat keterbatasan waktu dan ruang, kita lanjut ke buku selanjutnya, yang memberi ruang pada sejarah zaman Orba.

Melukis Jalan Astana

Buku Melukis Jalan Astana. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)
Buku Melukis Jalan Astana. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Yogi Esa Sukma Nugraha)

Buku ini mengambil latar era 80an. Melukis Jalan Astana. Begitu Iman Herdiana memberi judul bukunya. Ia mengajak kita menyelami Bandung pada masa Orde Baru. Ada beberapa hal yang bisa kita cermati dari buku ini.

Pertama, pembangunan. Kedua, perburuan. Misal, operasi petrus (penembakan misterius) yang dibahas secara penuh. Menjadi kisah kelam zaman itu. Publik diingatkan bahwa situasi tidak baik-baik saja, untuk sebagian kalangan.

Desa Astana merupakan nama yang dipilih sebagai tempat. Kala itu, pada era 1980an, pemerintah Orde Baru gencar menjalankan program Repelita. Wacana pembangunan infrastruktur dicanangkan. Menjadi penanda modernitas.

Ironisnya, di balik itu, ada operasi petrus. Kebijakan rahasia untuk "membersihkan kelompok yang dianggap mengganggu. Mereka dikenal sebagai gali (gabungan anak liar), bromocorah, atau orang bertato. Dalam buku ini tercatat nama-nama seperti Agus Begal, Sule, dan Hendra Doleng yang terseret menjadi korban.

Mereka diburu dengan kejam. Ditembak. Disayat. Kadang mayatnya dibuang begitu saja. Kadang di Sungai Cikapundung, trotoar, atau pintu rumah. Operasi semacam ini diklaim demi stabilitas. Menjadi bukti betapa mudahnya menyingkirkan mereka yang papa.

Tokoh sentral novel ini namanya Samoja. Ia seorang seniman desa, yang turut merasakan dampak petrus. Ia juga memimpin pergerakan warga Astana terhadap penutupan jalan desa untuk proyek pembangunan. Menggunakan seni sebagai bentuk protes, melalui petisi dan pameran lukisan. Namun, perjuangannya dianggap mengancam kekuasaan, menjadikannya target penculikan, serupa dengan nasib para gali.

Ini memperlihatkan betapa rapuhnya kebebasan berpendapat di masa Orde Baru. Kritik terhadap kebijakan bisa berujung petaka. Novel ini juga menyentil fenomena SDSB (Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah), semacam judi legal yang diharap bisa mendatangkan kekayaan bagi warga Astana; bisa keluar dari kemiskinan. Namun, pada praktiknya sungguh punya dampak sosial yang besar.

Ada semacam kontradiksi antara janji manis kemajuan dan realitas yang dialami kaum menengah ke bawah. Saya kira itulah yang membuat kisah di dalam Melukis Jalan Astana relevan. Ia memuat apa yang terjadi kurleb 40 tahun lalu. Namun isu yang dibahas terasa aktual. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)