Islam Pemerintah: Menggeliat Berpotensi Mencederai Keragaman Umat

4 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Berbagai Pakaian Muslimah, Pakaian Warga yang Jadi Penumpang Angkot (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Berbagai Pakaian Muslimah, Pakaian Warga yang Jadi Penumpang Angkot (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Masih sering terdengar hebohnya, selepas magrib menjelang isya, orang-orang saling bertanya soal awal puasa Ramadan. Beberapa sudah mantap dengan pilihannya, seperti, “Aku kan Muhammadiyah,” sementara yang lain santai menjawab, “Kita mah Islam Pemerintah.”

Dalam persepsi publik kita, Islam Pemerintah adalah praktik berislam yang menunggu kepastian hasil sidang isbat Kementerian Agama, yang diumumkan lewat konferensi pers di tayangan televisi. Ia bersandar pada standar resmi termasuk logo halal pada produk kemasan.

Ia kerap menghindari praktik cenderung berbeda dari kebanyakan orang. Ia khawatir kalau keunikannya dipandang kontroversial. Ia pengen yang “aman-aman” saja. Inilah Islam Pemerintah selalu menjadi bahasa pengakuan tentang simbol muslim “sah” yang tidak radikal-teroris, tapi juga tidak liberal.

Kendati demikian, wacana Islam Pemerintah sangat berbahaya. Ia berpotensi menyeragamkan umat dan menyempitkan pemahaman kita tentang realitas masyarakat muslim Indonesia yang kaya dan kompleks. Ia tidak mendidik publik, tidak membiasakan kita menjadi masyarakat muslim yang kritis dan yang terbiasa menerima keragaman dunia Islam.

Ini Masalah yang Serius

Gema narasi ini terus meluas. Identitas Islam Pemerintah menjadi tambatan bagi kita yang kebingungan mencari akar jati diri. Ia memang sangat diandalkan buat orang-orang yang kehilangan tradisi atau mereka yang tidak berafiliasi pada payung organisasi.

Islam Pemerintah akhirnya menjadi nama baru untuk rakyat yang sebetulnya mempraktikan Islam dengan cara-cara yang sederhana. Sebagai strategi dan siasat yang berguna membendung kecurigaan dan pengawasan negara pada ekspresi kebebasan beragama kita.

Tapi lama kelamaan, seiring nama ini mengkristal. Islam Pemerintah seakan jadi versi yang paling “normal”. Sedikit demi sedikit yang lain menjadi yang liyan.

Kita mungkin ngeuh bahwa dalam obrolan warga kerap muncul kesan, misal, praktik berpuasa ala Muhammadiyah yang berbeda tanggal malah dipandang sebagai amalan ibadah yang “enggak mau diajak guyub”. Kelompok-kelompok tarekat dan tradisi lokal seperti Naqsyabandiyah di Sumatra Barat, An-Nadziriyah di Sulawesi Selatan, Aboge di Jawa, dan Syattariyah di Aceh, lama kelamaan dibingkai sebagai ekspresi berislam yang “ngehe”. Kita mengernyitkan dahi.

Penelitian Gus Nadir

Nadirsyah Hosen, seorang alim yang populer disapa Gus Nadir, dalam artikelnya “Hilal and Halal: How to Manage Islamic Pluralism in Indonesia?” (Asian Journal of Comparative Law, 2012) menyoroti bahwa perbedaan ijtihad telah menjadi ciri khas fikih sepanjang sejarah, dan meski satu sama lain kadang bertentangan, perbedaan ini tetap harus dihormati.

Hal ini terlihat jelas dalam dua isu yang sangat sehari-hari. Penentuan hilal untuk Ramadan dan Idul Fitri, serta sertifikasi halal. Main kata yang menarik, hilal dan halal. Dua hal yang sangat serius diurus negara dan punya dampak yang signifikan pada poret keragaman Islam di Indonesia.

Kunjungan Penulis Ke Rumah K.H. Marzuki Wahid, Cirebon (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Salah Seolah Kawan Penulis)
Kunjungan Penulis Ke Rumah K.H. Marzuki Wahid, Cirebon (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Salah Seolah Kawan Penulis)

Sadarkah kita, bahwa tata kelola dan penentuan putusan hilal dan halal ini ada di puncak kekuasaan? Bagaimana dengan kelompok-kelompok muslim marginal yang punya pandangan berbeda dengan arus utama?

Penelitian ini mengusulkan agar keputusan soal hilal sebaiknya berada di tangan Pengadilan Agama di bawah Mahkamah Agung, bukan lembaga eksekutif, diharapkan agar lebih netral. Sedangkan dalam urusan halal, Gus Nadir menilai berbagai lembaga juga perlu diberi peran untuk menghindari monopoli dan menekan biaya. Sensitif!

Seragam itu Gampang Dikontrol

Di balik kenyamanan praktis yang ditawarkan wacana resmi, terdapat mudarat dari penyeragaman praktik keagamaan ini. Ketika seluruh keputusan dikontrol serempak, kekuasaan menjadi mudah menstandarisasi simbol, ritual, dan pengakuan yang dipandang valid.

Semua umat seolah harus tunduk pada satu komando, sementara suara lokal dan variasi praktik jadi tersisih. Kekuasaan cenderung tidak peduli pada keragaman yang hidup di lapisan masyarakat. Di pesisir, pegunungan, kota, desa. Di aliran dan tradisi yang berbeda, atau pada konteks isu perempuan, lingkungan, dan keadilan sosial tertentu.

Wacana penyeragaman memposisikan standar administratif sebagai tolok ukur utama ketaatan berislam sehingga praktik lain yang fleksibel atau kontekstual dapat dianggap tidak sah, menyimpang, atau bahkan abnormal.

Media nasional, dengan logika seragam, dapat dengan mudah menafsirkan pilihan lokal sebagai sesuatu “aneh”. Padahal praktik tersebut telah hidup lama, menyesuaikan kondisi sosial dan kultura dengan masing-masing komunitas. Termasuk perbedaan itu pasti juga berakar kuat pada argumen dan alasannya sendiri.

Bahaya lain adalah pergeseran fokus umat. Dari kehidupan berislam yang adaptif dan kaya menjadi kepatuhan administratif yang kaku. Khazanah yang kaya dan yang selama ini menjadi kekuatan komunitas justru terpinggirkan. Selain itu, pengawasan serentak oleh lembaga resmi berpotensi menciptakan monopoli wacana. Sekalipun mungkin tidak bertindak, ia bisa menciptakan budaya kekerasan yang membatasi keragaman yang ada.

Dalam konteks ini, kontrol kekuasaan atas praktik berislam tidak hanya menyederhanakan kompleksitas sosial dan budaya, tetapi juga menekan ruang keragaman tafsir, kekayaan tradisi, dan kemajemukan metodologi dalam mencari pandangan keagamaan.

Akhirnya keragaman yang selama ini menjadi ciri khas dan kekuatan masyarakat Indonesia tereduksi menjadi formalitas, sementara kekuasaan tetap nyaman mengontrol semua lapisan sekaligus, tanpa memperhatikan konteks historis, geografis, atau sosial yang membentuk praktik keberislaman yang autentik. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)