Islam Pemerintah: Menggeliat Berpotensi Mencederai Keragaman Umat

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Jumat 10 Okt 2025, 14:51 WIB
Berbagai Pakaian Muslimah, Pakaian Warga yang Jadi Penumpang Angkot (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Berbagai Pakaian Muslimah, Pakaian Warga yang Jadi Penumpang Angkot (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Masih sering terdengar hebohnya, selepas magrib menjelang isya, orang-orang saling bertanya soal awal puasa Ramadan. Beberapa sudah mantap dengan pilihannya, seperti, “Aku kan Muhammadiyah,” sementara yang lain santai menjawab, “Kita mah Islam Pemerintah.”

Dalam persepsi publik kita, Islam Pemerintah adalah praktik berislam yang menunggu kepastian hasil sidang isbat Kementerian Agama, yang diumumkan lewat konferensi pers di tayangan televisi. Ia bersandar pada standar resmi termasuk logo halal pada produk kemasan.

Ia kerap menghindari praktik cenderung berbeda dari kebanyakan orang. Ia khawatir kalau keunikannya dipandang kontroversial. Ia pengen yang “aman-aman” saja. Inilah Islam Pemerintah selalu menjadi bahasa pengakuan tentang simbol muslim “sah” yang tidak radikal-teroris, tapi juga tidak liberal.

Kendati demikian, wacana Islam Pemerintah sangat berbahaya. Ia berpotensi menyeragamkan umat dan menyempitkan pemahaman kita tentang realitas masyarakat muslim Indonesia yang kaya dan kompleks. Ia tidak mendidik publik, tidak membiasakan kita menjadi masyarakat muslim yang kritis dan yang terbiasa menerima keragaman dunia Islam.

Ini Masalah yang Serius

Gema narasi ini terus meluas. Identitas Islam Pemerintah menjadi tambatan bagi kita yang kebingungan mencari akar jati diri. Ia memang sangat diandalkan buat orang-orang yang kehilangan tradisi atau mereka yang tidak berafiliasi pada payung organisasi.

Islam Pemerintah akhirnya menjadi nama baru untuk rakyat yang sebetulnya mempraktikan Islam dengan cara-cara yang sederhana. Sebagai strategi dan siasat yang berguna membendung kecurigaan dan pengawasan negara pada ekspresi kebebasan beragama kita.

Tapi lama kelamaan, seiring nama ini mengkristal. Islam Pemerintah seakan jadi versi yang paling “normal”. Sedikit demi sedikit yang lain menjadi yang liyan.

Kita mungkin ngeuh bahwa dalam obrolan warga kerap muncul kesan, misal, praktik berpuasa ala Muhammadiyah yang berbeda tanggal malah dipandang sebagai amalan ibadah yang “enggak mau diajak guyub”. Kelompok-kelompok tarekat dan tradisi lokal seperti Naqsyabandiyah di Sumatra Barat, An-Nadziriyah di Sulawesi Selatan, Aboge di Jawa, dan Syattariyah di Aceh, lama kelamaan dibingkai sebagai ekspresi berislam yang “ngehe”. Kita mengernyitkan dahi.

Penelitian Gus Nadir

Nadirsyah Hosen, seorang alim yang populer disapa Gus Nadir, dalam artikelnya “Hilal and Halal: How to Manage Islamic Pluralism in Indonesia?” (Asian Journal of Comparative Law, 2012) menyoroti bahwa perbedaan ijtihad telah menjadi ciri khas fikih sepanjang sejarah, dan meski satu sama lain kadang bertentangan, perbedaan ini tetap harus dihormati.

Hal ini terlihat jelas dalam dua isu yang sangat sehari-hari. Penentuan hilal untuk Ramadan dan Idul Fitri, serta sertifikasi halal. Main kata yang menarik, hilal dan halal. Dua hal yang sangat serius diurus negara dan punya dampak yang signifikan pada poret keragaman Islam di Indonesia.

Kunjungan Penulis Ke Rumah K.H. Marzuki Wahid, Cirebon (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Salah Seolah Kawan Penulis)
Kunjungan Penulis Ke Rumah K.H. Marzuki Wahid, Cirebon (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Salah Seolah Kawan Penulis)

Sadarkah kita, bahwa tata kelola dan penentuan putusan hilal dan halal ini ada di puncak kekuasaan? Bagaimana dengan kelompok-kelompok muslim marginal yang punya pandangan berbeda dengan arus utama?

Penelitian ini mengusulkan agar keputusan soal hilal sebaiknya berada di tangan Pengadilan Agama di bawah Mahkamah Agung, bukan lembaga eksekutif, diharapkan agar lebih netral. Sedangkan dalam urusan halal, Gus Nadir menilai berbagai lembaga juga perlu diberi peran untuk menghindari monopoli dan menekan biaya. Sensitif!

Seragam itu Gampang Dikontrol

Di balik kenyamanan praktis yang ditawarkan wacana resmi, terdapat mudarat dari penyeragaman praktik keagamaan ini. Ketika seluruh keputusan dikontrol serempak, kekuasaan menjadi mudah menstandarisasi simbol, ritual, dan pengakuan yang dipandang valid.

Semua umat seolah harus tunduk pada satu komando, sementara suara lokal dan variasi praktik jadi tersisih. Kekuasaan cenderung tidak peduli pada keragaman yang hidup di lapisan masyarakat. Di pesisir, pegunungan, kota, desa. Di aliran dan tradisi yang berbeda, atau pada konteks isu perempuan, lingkungan, dan keadilan sosial tertentu.

Wacana penyeragaman memposisikan standar administratif sebagai tolok ukur utama ketaatan berislam sehingga praktik lain yang fleksibel atau kontekstual dapat dianggap tidak sah, menyimpang, atau bahkan abnormal.

Media nasional, dengan logika seragam, dapat dengan mudah menafsirkan pilihan lokal sebagai sesuatu “aneh”. Padahal praktik tersebut telah hidup lama, menyesuaikan kondisi sosial dan kultura dengan masing-masing komunitas. Termasuk perbedaan itu pasti juga berakar kuat pada argumen dan alasannya sendiri.

Bahaya lain adalah pergeseran fokus umat. Dari kehidupan berislam yang adaptif dan kaya menjadi kepatuhan administratif yang kaku. Khazanah yang kaya dan yang selama ini menjadi kekuatan komunitas justru terpinggirkan. Selain itu, pengawasan serentak oleh lembaga resmi berpotensi menciptakan monopoli wacana. Sekalipun mungkin tidak bertindak, ia bisa menciptakan budaya kekerasan yang membatasi keragaman yang ada.

Dalam konteks ini, kontrol kekuasaan atas praktik berislam tidak hanya menyederhanakan kompleksitas sosial dan budaya, tetapi juga menekan ruang keragaman tafsir, kekayaan tradisi, dan kemajemukan metodologi dalam mencari pandangan keagamaan.

Akhirnya keragaman yang selama ini menjadi ciri khas dan kekuatan masyarakat Indonesia tereduksi menjadi formalitas, sementara kekuasaan tetap nyaman mengontrol semua lapisan sekaligus, tanpa memperhatikan konteks historis, geografis, atau sosial yang membentuk praktik keberislaman yang autentik. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda
Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

Filsafat Seni Islam

Ayo Netizen 18 Sep 2025, 20:01 WIB
Filsafat Seni Islam

News Update

Ayo Netizen 28 Nov 2025, 23:00 WIB

Trotoar di Bandung: Jalan Kaki di Zaman Sandal Jepit ke Zaman Sneaker Premium

Trotoar di Bandung bukan sekadar tempat berjalan, tapi panggung kehidupan kota — kadang panggung tragedi, kadang komedi, seringnya keduanya sekaligus.
Kawasan legendaris Braga bukan sekadar jalan, melainkan lembaran sejarah yang hidup, menyatu dengan denyut nadi modernitas kota. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Biz 28 Nov 2025, 21:27 WIB

Membangun Kebiasaan Aman di Jalan Bersama Sadulur Bikers Bandung Timur

Keselamatan berkendara di Bandung kini bukan lagi sekadar kampanye, melainkan sebuah kesadaran yang perlahan tumbuh menjadi budaya.
Ilustrasi. Keselamatan berkendara di Bandung kini bukan lagi sekadar kampanye, melainkan sebuah kesadaran yang perlahan tumbuh menjadi budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 20:51 WIB

An Se Young Ratu Bulu Tangkis Korea yang Berhati Bersih dan Senang Berbagi

Sepanjang 2025, An Se Young berhasil menjuarai 10 dari 14 turnamen internasional yang ia ikuti.
Sepanjang 2025, An Se Young (kiri) berhasil menjuarai 10 dari 14 turnamen internasional yang ia ikuti. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Kim Sunjoo)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 19:11 WIB

Cadasngampar dan Cicadas Itu Endapan Material Letusan Gunung Api 

Menelisik asal-asul nama geografis Cicadas dan Cadasngampar.
Cadasngampar di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor. (Sumber: Citra satelit: Google maps)
Ayo Jelajah 28 Nov 2025, 18:46 WIB

Hikayat Kota Hantu Semipalatinsk, Halaman Belakang Uni Soviet yang jadi Kuburan Senyap Radiasi

Kisah suram Semipalatinsk, situs uji coba nuklir Soviet yang meninggalkan radiasi dengan jejak 456 ledakan nuklir, jutaan penduduk terdampak, dan kota yang membeku dalam kesunyian
Tampakan Semipalatinsk di Semey, Kazakhstan dan bekas lokasi uji coba senjata nuklir utama Uni Soviet dari tahun 1949 hingga 1989 (Sumber: Google Earth)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 18:37 WIB

Tren Olahraga Pilates: Solusi Kebugaran Holistik untuk Gaya Hidup Urban Bandung

Maulia Putri seorang praktisi gaya hidup sehat di Bandung, menceritakan manfaat pilates yang menjadikan latihan ini sebagai rutinitas.
Dua perempuan sedang melakukan latihan pilates pada Sabtu Siang, (08/11/25) di Studio Pilates Mekarwangi, Bojongloa Kidul, Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penuis | Foto: Maya Amelia)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 18:15 WIB

Menyalakan Kehidupan Malam di Tengah Hening Lembang

Saat malam mulai turun di kaki Gunung Burangrang, kawasan Dusun Bambu berubah menjadi ruang wisata penuh cahaya.
Cahaya lampu menghiasi suasana malam di area wisata Dusun Bambu Lembang, (06/10/2025) (Foto: Dokumentasi Pihak Narasumber.)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 17:20 WIB

Kreativitas Generasi Z Bawa Warna Baru bagi Industri Pernikahan Bandung

Inovasi Gen Z dari Marlina mendorong Indhira Wedding Organizer berkembang pesat di Bandung.
Tim Indhira Wedding Organizer mengatur prosesi pernikahan adat Sunda di Bandung dengan detail dan kehangatan (18/10/2025). (Sumber: Indhira Wedding Organizer)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 17:03 WIB

Inovasi Risol yang Menggabungkan Citra Rasa Modern dan Pelestarian Budaya Sunda

Mourisol menyajikan risol premium dengan 8 varian rasa unik. Ukurannya besar, cocok sebagai pengganti makan berat.
Gambar 1.1 Rissol yang menjadi keunggulan Mourisol (5/11/2025) (Foto: (Sumber:Maura))
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 16:49 WIB

Makna Budaya Siraman dalam Pernikahan Adat Sunda

Pengantin asal Bandung, memilih melaksanakan tradisi siraman sebelum prosesi pernikahannya sebagai bentuk penyucian diri dan pelestarian budaya adat Sunda.
Mutiara Syoba’ah sedang melakukan budaya sakral siraman sebelum melangkah ke jenjang pernikahan, Jumat (14/01/2022) (Sumber: Dokumentasi Wedding Organizer | Foto: Ali Solehudin)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 16:39 WIB

Ko Dalang Menghidupkan Warisan Wayang Golek di Tengah Arus Modernisasi Budaya

Wayang Golek dihidupkan Ko Dalang Irfan lewat inovasi bahasa, durasi, dan alur modern.
Ko Dalang menampilkan pertunjukan Wayang Golek di Saung Angklung Udjo diiringi  dengan musik tradisional Sunda, Kamis (6/11/25), Kec. Cibeunying Kidul, Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Ishanna Nagi)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 15:24 WIB

Mengulik Gedung Kosong 30 Tahun yang Disulap Jadi Rumah Hantu Braga

Wahana seru sekaligus uji nyali di tengah Kota Bandung.
Tampak depan Rumah Hantu Braga di Jalan Braga, Kota Bandung, Rabu 29 September 2025. (Foto: (Sumber: Dokumentasi Penulis | foto: Muhammad Amril Fathurrahman Rovery)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 14:29 WIB

Perluasan Area Petting Zoo Farmhouse Lembang: Pengalaman Belajar yang Menarik dan Seru

Wisata edukasi bernuansa Eropa yang terletak di dataran tinggi wilayah Bandung.
Seoarang anak memberi makan kelinci di area petting zoo Farmhouse Lembang (Sabtu 8/11/25). (Sumber: Fauzi Ananta)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 13:01 WIB

Olahraga Musim Dingin di Tengah Hangatnya Kota Kembang

Sensasi meluncur di atas es dengan latar taman hijau, arena semi outdoor pertama di Indonesia ini jadi spot seru.
Pengunjung menikmati kegiatan bermain ice skating pada sore hari di Garden Ice Rink, Paris Van Java, Bandung (14/09/2025). (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 10:42 WIB

Tips Mancing Gacor dari Komunitas! Wajib Tahu Komposisi Bahan terhadap Kualitas Umpan Ikan

Yang bikin Umpan TMK beda dari yang lain, bahan-bahannya bukan asal-asalan.
Team TOMCAT FISHING mengikuti lomba memancing acara DR FISHING Competition dan mendapatkan hadiah uang tunai pada 17 September 2025. (Sumber: Radhit Adhiyaksa Hermanto | Foto: Dokumentasi pribadi)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 09:33 WIB

Pelari Kalcer Merapat! Komunitas Olahraga Gen-Z Hadir di Kota Bandung

Berawal dari rasa FOMO, para Gen-Z di Bandung mulai menjadikan olahraga sebagai pilihan gaya hidup.
Para Anggota Olahraguys Sedang Melakukan Persiapan Untuk Kegiatan FunRun X Mad.Cultureid, Sukajadi, Kota Bandung (21/10/2025) (Sumber: Olahraguys | Foto: Olahraguys)
Ayo Netizen 28 Nov 2025, 08:59 WIB

Yoga Outdoor, Tren Hidup Sehat di Bandung

Sanggar Senam Vinisa menawarkan kelas untuk semua usia, memberi relaksasi, ketenangan, dan interaksi sosial, dengan tarif terjangkau.
Peserta melakukan yoga bersama di outdoor, Podomoro Park, Kabupaten Bandung pada Minggu (2/11/2025). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Wan Maulida Kusuma Syazci)
Ayo Netizen 27 Nov 2025, 20:14 WIB

Pintu Rumah yang Tidak Pernah Tertutup

Pak Katenen seorang ASN yang bertugas di bagian Bimbingan Mental di TNI AU Lanud Sulaiman.
Ilustrasi rumah di dekat lingkungan pesantren. (Sumber: Ilustrasi AI)
Ayo Biz 27 Nov 2025, 19:55 WIB

Potensi Bisnis Mall Bandung Menguat di Tengah Tren Konsumsi dan Gaya Hidup Urban

Mall di Bandung tidak lagi sekadar menjadi ruang transaksi, melainkan telah bertransformasi menjadi destinasi pengalaman yang menyatukan belanja, hiburan, kuliner, dan interaksi sosial.
Ilustrasi. Mall di Bandung tidak lagi sekadar menjadi ruang transaksi, melainkan telah bertransformasi menjadi destinasi pengalaman yang menyatukan belanja, hiburan, kuliner, dan interaksi sosial. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Jelajah 27 Nov 2025, 18:36 WIB

Hikayat Johny Indo, Robin Hood Garut Pemburu Harta Orang Kaya

Kisah lengkap Johny Indo, si Robin Hood Garut yang merampok orang kaya, kabur dari penjara, hingga membintangi banyak film aksi.
Johny Indo, Robin Hood dari Garut.