Meretas Makna 'Islam téh Sunda, Sunda téh Islam'

6 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Masjid Raya Al Jabbar di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Masjid Raya Al Jabbar di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

“Islam téh Sunda, Sunda téh Islam”, ungkapan yang sangat terkenal. Membuat banyak orang menerimanya begitu saja, seakan-akan inheren secara asali. Padahal slogan ini lahir belakangan, diucapkan oleh Endang Saifuddin Anshari pada pemaparan makalah Riungan Masyarakat Sunda di Bandung pada 1967.

Menurut Chaider S. Bamualim dalam Negotiating Islamisation and Resistance: A Study of Religions, Politics and Social Change in West Java from the Early 20th Century to the Present (2015), sikap Anshari ini terbilang nyentrik dibandingkan corak organisasinya, Persatuan Islam (PERSIS). Jelas pandangan ini mencerminkan sintesis Sunda-Islam, berdiri di atas ikhtiar membangun jembatan kultural dan religius. Jargon ini juga berguna untuk mendukung agenda dakwah bagi kaum muslim tradisional maupun modern.

Jakob Sumardjo sebagaimana yang dikutip oleh Asep Salahudin dalam Sufisme Sunda (2017) memberi komentar yang menarik, “Benarkah Sunda identik dengan Islam dan Islam identik dengan Sunda? Jawabannya …., kita jangan terburu-buru mengambil kesimpulan seperti itu. Kecuali kalau kita selalu nyaman hidup dalam jargon.”

Dakwah yang Menguat

Dalam penutup bukunya Gebruiken en Godsdienst der Soendanezen (1935), Hidding mencatat bahwa meskipun Islam telah berabad-abad memengaruhi Sunda, cara hidup masyarakatnya masih menunjukkan corak keberagamaan yang “lama”. Artinya, tiga puluh dua tahun sebelum jargon itu muncul, religiusitas masyarakat Sunda belum banyak berubah. Baru setelah itu dakwah kian tumbuh dan menguat.

Perubahan ini tampak jelas dalam catatan Ajip Rosidi dari penelitian Proyek Sundanologi (1987–1989). Ia menunjukkan bahwa masyarakat Sunda modern semakin menekankan tauhid, menempatkan pendidikan agama sebagai hal penting, sementara praktik menyajikan sasajén dan kepercayaan pada uga makin berkurang.

Fenomena islamisasi ini juga dibahas Rifki Rosyad dalam A Quest for True Islam: A Study of the Islamic Resurgence Movement among the Youth in Bandung (2006). Dalam konteks kontemporer, gerakan pemurnian Islam bahkan meluas hingga menyentuh ranah ekonomi, sosial, dan budaya.

Rangkaian proses islamisasi itu bukan hanya memengaruhi praktik keagamaan sehari-hari, tetapi juga merembes ke ranah politik. Identitas keagamaan yang kian menonjol di kalangan masyarakat Sunda kemudian menjadi salah satu penentu dalam dinamika politik kontemporer. Hal ini tampak, misalnya, dalam Pilgub Jawa Barat 2018.

Herdiansah dan Al-Banjari (2023) mencatat dari data exit poll bahwa orang Sunda menempatkan identitas agama dan suku sebagai indikator penting dalam menentukan preferensi politik. Sebanyak 56% responden menyatakan sangat setuju dan 35% setuju, sebuah gambaran tentang kuatnya religiusitas dan identitas kolektif berperan di ruang kekuasaan.

Lakon Sejarah yang Panjang

Ilustrasi karya seni yang islami. (Sumber: Pexels/Andreea Ch)
Ilustrasi karya seni yang islami. (Sumber: Pexels/Andreea Ch)

Abdul Syukur (2011) melalui jurnal “Islam, Entitas, dan Politik Identitas: Kasus Sunda”, mengetengahkan masalah tersebut dengan serius. Menurutnya identitas Sunda yang berasosiasi dengan Islam merupakan konstruksi akibat kekalahan sejarah.

Islam mengambil posisi sebagai sumber legitimasi baru bagi Sunda, sekaligus menjadi kekuatan pembeda dari hegemoni kebudayaan Jawa. Sunda telah menjadi korban dari penaklukan yang dilakukan oleh Majapahit – Hindu, Mataram – Islam, hingga Demak.

Lapis peminggiran Sunda terus berlanjut hingga datangnya kolonialisme Eropa. Lukito dan Rohayani (2024) dalam “Hambatan Pemberitaan Injil di Tatar Pasundan: Suatu Auto Kritik” mengatakan bahwa mengakarnya Islam dalam budaya Sunda, turut ditanamkan akibat penjajahan yang menerbitkan aturan tanam paksa. Islam menjadi kekuatan pelindung yang mampu membangun resistensi terhadap identitas asing bagi orang-orang Sunda kala itu. Sunda-Islam vis a vis dengan Eropa-Kristen.

Setelah Indonesia modern terbentuk,  Sunda lebih dikenali sebagai kategori kesukuan. Pada masa ini etos keislaman makin menguat, bahkan tak tanggung menjadi kekuatan politik yang melawan. Kartosuwiryo berhasil menggerakkan orang-orang Sunda dengan membawa visi kekuatan Islam politis melalui Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/ TII).

Nina H. Lubis menerangkan bahwa pada 7 Agustus 1949, terjadi proklamasi Negara Islam Indonesia (NII) di Kabupaten Tasikmalaya. Hingga tahun 1957 gerakan ini telah mendapatkan 13.129 tentara, 3.000 senjata, menguasai 20% area Tasikmalaya, 14% area Ciamis, dan 15% area Garut, termasuk wilayah Gunung Halu dan Cililin, Cianjur selatan, dan sekitaran Gunung Salak di Bogor.

Setelah tragedi 1965, Orde Baru mengusung proyek nasionalisme bercorak militeristik yang memangkas berbagai kekuatan sayap kiri dan kanan, termasuk kontrol atas dominasi politik Islam. Aksi ini terjadi sebagaimana sebelumnya pasukan Siliwangi berhasil menumpas DI/TII. Sejak itu Sunda berada di bawah hegemoni baru, yakni nasionalisme ala Soeharto.

Di sinilah peluang menegaskan Sunda-Islam datang, utamanya bagi kelompok yang berkiblat pada kekuatan politik Islam seperti Masyumi dan turunannya. Inilah yang menjadi konteks munculnya jargon “Islam téh Sunda, Sunda téh Islam”.

Semangat politik Islam kini diterjemahkan dalam jalan dakwah khususnya lewat bidang pendidikan yang terus beroperasi meskipun dalam tekanan. Bahkan yang uniknya justru dipandang lebih sejalan dengan agenda Orde Baru yang masif melakukan pembinaan keagamaan (agamaisasi), ketimbang menyuarakan aspirasi politik.

Akhirnya, meskipun Islam politik kalah telak, islamisasi kultural justru mendapatkan panggung yang luas. Misalnya pada 1977 Muhammadiyah meresmikan Ma’had Darul Arqam di Garut dan Yayasan Sahid Jaya mengembangkan Pusat Pendidikan Islam Modern Sahid di Bogor.

Bahkan lebih awal lagi, Persatuan Umat Islam telah mendirikan Perguruan Tinggi Islam di Majalengka pada 1972. Begitupun Universitas Islam Bandung berganti status dan Universitas Islam Nusantara berubah nama pada tahun 1969, serta setahun sebelumnya IAIN Sunan Gunung Djati berhasil berdiri di Bandung.

Memulihkan Klaim

Islam terus menerus menjadi bahan pergumulan orang Sunda dalam laju sejarahnya. Meskipun pada titik tertentu kerap muncul anggapan sempit bahwa jadi orang Sunda berarti muslim. Namun Mark Woodward dalam Islamicate Civilization and National Islams: Islam Nusantara, West Java and Sundanese Culture (2019) mengkritik bahwa narasi itu lebih bersifat ideologis daripada faktual.

Baginya pembacaan atas jargon “Islam téh Sunda, Sunda téh Islam” sering kali bersifat klaim. Pertama, Sunda dianggap sejak awal sudah islami. Kedua, budaya Sunda harus dipurifikasi agar sesuai ajaran Islam. Kedua tafsir ini dipandang sebagai bahasa “fiksi saleh.” Pada kenyataannya, masih ada orang Sunda yang non-muslim, seperti Urang Kanékés yang memeluk Sunda Wiwitan.

Dalam penelitian yang sama, Woodward justru merefleksikan upaya historis dan kultural untuk menyatukan identitas Sunda dengan Islam. Salah satu simbol utamanya ialah figur Sunan Gunung Jati. Salah seorang Wali Songo ini yang dalam silsilahnya dikisahkan berakar ganda, dari Nabi Muhammad melalui garis ayah dan dari Prabu Siliwangi melalui garis ibu.

Dari titik ini, wajah Islam di Sunda berkembang dalam beragam bentuk. Mulai ekspresi tradisional-sufistik yang tampak dalam pantun, mitologi Nyai Pohaci, ritual agraris, dan ziarah wali, hingga modernis-reformis seperti Persatuan Islam (PERSIS) dan Muhammadiyah yang menekankan purifikasi dan pendidikan. Serta varian kultural seperti Islam Nusantara yang dipromosikan NU dan Islam Berkemajuan yang digagas Muhammadiyah.

Bahkan dalam konteks kontemporer Woodward juga melihat hadirnya arus Salafi-transnasional yang cenderung menolak tradisi lokal.

Merangkul Keragaman

Bangunan Masjid Cipaganti zaman baheula. (Sumber: IBT Locale Techniek)
Bangunan Masjid Cipaganti zaman baheula. (Sumber: IBT Locale Techniek)

“Islam téh Sunda, Sunda téh Islam” seharusnya setia merangkul keragaman Islam, berani berdialog dengan semua pihak. Tatar Sunda sendiri telah menjadi saksi akan lahirnya tokoh-tokoh yang berhasil memadukan nilai-nilai Islam dan budaya Sunda, seperti R.A.A. Wiranatakusumah V dan Penghulu Haji Hasan Mustapa.

Perkembangan ini diiringi munculnya organisasi PERSIS pada 1913 di Bandung, juga gerakan aktivis muslim di ITB seperti dicatat pada penelitiannya Bamualim.

Dalam lintasan waktu, Sunda juga melahirkan ulama-ulama karismatik yang menjadi representasi Islam tradisional seperti Ajengan K.H. Moh. Ilyas Ruhiat dari Cipasung dan Abah Anom dari Suryalaya yang masing-masing berperan penting dalam basis pesantren. Di tanah yang sama, hadir pula komunitas dan tokoh dari ragam latar termasuk Ahmadiyah yang telah ada sejak 1933.

Historiografi ini tampak jelas dalam Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Barat (2011) yang ditulis oleh tim di bawah ketua Nina Herlina Lubis Di dalamnya melahirkan pejuang kemerdekaan Entoy M. Toyib dan Raden M. Muhyidin yang aktif di Paguyuban Pasundan. Di samping itu, perjumpaan Sunda dengan tradisi Ahlulbait pun tak terhindarkan dengan berdirinya Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) di Bandung pada tahun 2000.

Dengan demikian, “Islam téh Sunda, Sunda téh Islam” bukanlah jargon yang beku, melainkan pintu tafsir yang selalu terbuka. Ia adalah jejak kreativitas dan pergulatan batin manusia Sunda, yang dirajut dari benang sejarah, politik, dan budaya, sehingga maknanya tak pernah selesai. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)