AYOBANDUNG.ID -- Gaya hidup sehat kini tidak lagi sekadar mengikuti tren diet populer yang beredar di media sosial. Di kafe-kafe urban hingga ruang kerja bersama di Bandung, obrolan tentang nutrisi semakin personal.
Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik. Metode ini menawarkan sesuatu yang berbeda yakni pola makan yang disesuaikan dengan DNA, seolah tubuh berbicara langsung tentang apa yang benar-benar dibutuhkannya.
Food genomics bekerja dengan membaca kode genetik seseorang, lalu menyesuaikan rekomendasi nutrisi berdasarkan respons biologis yang unik. Perbedaan genetik membuat metabolisme, penyerapan vitamin, hingga potensi intoleransi makanan berbeda pada tiap individu.
Fenomena ini menegaskan bahwa nutrigenomik bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan pendekatan ilmiah yang menekankan keunikan biologis setiap orang.
“Tidak ada satu pola makan yang cocok untuk semua orang. Perbedaan kode genetik mempengaruhi cara tubuh merespons nutrisi, sehingga pendekatan ini bersifat sangat personal,” ujar dokter spesialis gizi klinik, dr. Davie Muhamad.
Di tingkat global, nutrigenomik berkembang pesat seiring meningkatnya kesadaran akan pencegahan penyakit kronis. Laporan pasar kesehatan internasional mencatat bahwa industri nutrisi presisi diproyeksikan tumbuh lebih dari 15% per tahun hingga 2030.
Di Indonesia, layanan ini masih terbatas, namun penelitian tentang hubungan gen dan nutrisi mulai dilakukan di sejumlah universitas dan lembaga riset. Fenomena ini menunjukkan bahwa nutrigenomik bukan lagi sekadar wacana akademik, melainkan tren yang perlahan masuk ke ruang publik.
Proses pemeriksaan food genomics sendiri cukup sederhana. Sampel darah atau air liur dikirim ke laboratorium, lalu dianalisis selama satu hingga dua minggu. Hasilnya kemudian diinterpretasikan oleh dokter gizi klinik untuk memberikan rekomendasi nutrisi personal.
Rekomendasi ini bisa mencakup pengaturan makronutrien, kebutuhan vitamin D, lemak esensial omega-3, hingga jenis olahraga yang sesuai dengan profil genetik. Bagi anak muda yang terbiasa dengan aplikasi kesehatan dan smartwatch, hasil tes ini terasa seperti “upgrade” gaya hidup sehat ke level berikutnya. Namun, nutrigenomik tidak berhenti pada genetik semata.
“Secara teori, hasil nutrigenomik tidak berubah karena genetik seseorang bersifat tetap. Tetapi pada penerapannya tetap perlu mempertimbangkan faktor epigenetik dan lingkungan, seperti pola hidup, stres, dan aktivitas fisik. Karena itulah diet yang berhasil pada satu orang belum tentu efektif pada orang lain,” tambah dr. Davie.
dr. Davie juga menyoroti bahwa nutrigenomik harus dipahami sebagai pendekatan holistik, bukan sekadar hasil cetakan laboratorium. Selain membantu menentukan pola makan yang lebih tepat, panel nutrigenomik juga dapat mendeteksi potensi alergi atau intoleransi makanan.
Hal ini memberi keuntungan besar bagi individu yang sering mengalami gangguan kesehatan akibat konsumsi makanan tertentu. Dengan informasi ini, mereka bisa menghindari risiko sejak awal, menjadikan nutrigenomik bukan hanya alat untuk meningkatkan performa, tetapi juga untuk mencegah masalah kesehatan.
Meski begitu, dr. Davie menegaskan bahwa nutrigenomik bukan pengganti prinsip dasar hidup sehat. Pola makan teratur, tidak melewatkan waktu makan, serta memastikan komposisi makanan yang lengkap dan seimbang tetap menjadi fondasi utama. Nutrigenomik hadir sebagai pelengkap, bukan pengganti.
Ke depan, nutrigenomik diproyeksikan berkembang dengan dukungan teknologi seperti kecerdasan buatan, big data, dan perangkat wearable. Bayangkan sebuah aplikasi yang terhubung dengan smartwatch, membaca data DNA, lalu memberi rekomendasi menu harian yang sesuai dengan kondisi tubuh.
“Harapannya, food genomics dapat menjadi alat pendukung dalam menentukan pola makan yang lebih personal, sehingga berkontribusi pada perbaikan tren kesehatan masyarakat Indonesia dalam sepuluh tahun ke depan,” ujar dr. Davie.
Potensi nutrigenomik di Indonesia cukup besar, terutama karena generasi muda semakin peduli pada kesehatan dan terbuka terhadap teknologi baru. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang dirilis Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi stunting nasional masih berada di angka 19,8%, sementara target pemerintah adalah menurunkannya menjadi 14,2% pada 2029.
Angka ini menegaskan bahwa inovasi nutrisi presisi seperti nutrigenomik dapat menjadi bagian dari strategi nasional dalam memperbaiki kualitas kesehatan masyarakat. Meski demikian, tantangan implementasi tidak kecil. Biaya tes nutrigenomik masih relatif tinggi, akses laboratorium terbatas, dan literasi masyarakat tentang nutrisi berbasis DNA masih rendah.
Regulasi dan standar layanan juga perlu diperkuat agar tidak menimbulkan kesenjangan akses antara kelompok masyarakat yang mampu dan yang kurang mampu. Dari sisi pasar, nutrigenomik memiliki peluang besar. Generasi millennial dan Gen Z dikenal sebagai konsumen yang lebih terbuka terhadap personalisasi dan teknologi kesehatan.
Data BPS 2025 menunjukkan adanya peningkatan pengeluaran rumah tangga untuk kesehatan dan gaya hidup sehat. Tren ini memperlihatkan bahwa nutrigenomik berpotensi menjadi pasar baru yang berkembang pesat di Indonesia, terutama jika didukung oleh kebijakan pemerintah dan inovasi industri.
Jika tren ini terus berkembang, nutrigenomik bisa menjadi bagian dari transformasi gaya hidup sehat yang lebih presisi. Dengan dukungan teknologi, data resmi pemerintah, dan kesadaran generasi muda, nutrigenomik berpeluang menjadi solusi strategis bagi Indonesia dalam menghadapi tantangan kesehatan masa depan.
Alternatif kebutuhan menu sehat atau produk serupa:
