Masalah sampah di Kota Bandung setiap hari semakin menunjukkan bagaimana rendahnya SDM yang ada, selain faktor dari warga sekitar peran yang paling dibutuhkan adalah bapa Walikota yang seharusnya menjadi permasalahan prioritas pemerintah. Menggunungnya sampah yang menjalar di setiap sudut kota, seperti pasar, pemukiman warga dan tempat tempat yang tak layak sampah ada disana. Dari sini secara tidak langsung kita bisa melihat kualitas penanganan pemerintah atas permasalahan sampah ini.
Warga menantikan kebijakan nyata. Mereka ingin merasakan perubahan pada kota Bandung , bukan sekadar janji yang diulang dari tahun ke
Bandung selalu dikenal sebagai kota kreatif. Sayangnya, kreativitas ini tidak terlihat dalam cara pemerintah kota menyelesaikan masalah sampah. Masyarakat menunggu terobosan yang konkret, bukan sekadar slogan dan rencana yang hanya terdengar baik di atas kertas. Perlu ada inovasi dalam pemilahan sampah, perluasan fasilitas pengolahan, modernisasi armada pengangkut, serta kerja sama yang lebih serius dengan sektor swasta dan komunitas lokal.
Di sisi lain, penegakan aturan terkait kebersihan masih sangat lemah. Banyak titik pembuangan liar yang dibiarkan tanpa pengawasan, pedagang pasar yang bingung harus membuang sampah ke mana karena armada tidak tepat waktu, dan warga yang akhirnya terpaksa menumpuk sampah karena tidak ada alternatif yang memadai. Ketika aturan tidak dilakukan, maka jangan heran kalau sikap masyarakat pun ikut tidak disiplin.
Yang disayangkan, permasalahan sampah ini justru menjatuhkan reputasi yang dimana bapa Walikota sendiri ingin membangun reputasi yang baik dan menciptakan lingkungan yang asri. Jangankan wisatawan, warga asli bandung apakah bisa menikmati kota ini jika bau sampah saja masih menjadi keluhan utama?
Bagaimana warga bisa merasa bangga jika lingkungan tempat mereka tinggal tidak dikelola dengan baik?
Warga Bandung tidak menuntut hal yang muluk-muluk. Mereka hanya ingin kota ini dikelola dengan serius. Mereka ingin melihat pemimpinnya turun langsung ke lapangan, meninjau titik-titik kritis, berdialog dengan warga, dan memastikan bahwa tim di lapangan bekerja dengan sigap. Mereka ingin melihat solusi yang bukan hanya cepat, tetapi juga berkelanjutan.
Menurut saya pemerintah bisa membangun ekosistem ekonomi sirkular dengan cara pelibatan bank sampah,pengepul,dan industri daur ulang secara sistematis. Namun, perlu diiringi edukasi publik yang kreatif dan berkelanjutan, terutama perihal pemilihan dan pengurangan sampah sejak dari sumber.
Baca Juga: Sampah yang Menumpuk Setiap Pagi, Pemandangan Rutin di Pasar Cicaheum
Kampanye yang dilakukan secara serentak di lingkungan sekolah, komunitas dan media sosial serta melibatkan influencer lokal sebagai peran perubahan, aka membantu membangun budaya baru yang menambah rasio keberhasilan sistem pengelolaan sampah berbasis sikular ditingkat kota.
Kota Bandung punya peluang besar, namun peluang tersebut bisa tenggelam jika persoalan mendasar seperti sampah saja tidak mampu ditangani dengan benar. Sekarang waktunya pemerintah kota menempatkan isu sampah sebagai prioritas, bukan sekadar tugas rutin yang diserahkan kepada dinas tanpa dukungan dan pengawasan yang kuat.
Warga menantikan kebijakan nyata. Mereka ingin merasakan perubahan pada kota Bandung , bukan sekadar janji yang diulang dari tahun ke tahun. Dan sebagai pemimpin, Anda memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa Bandung bisa bersih, bisa rapi, dan bisa kembali menunjukkan wajah terbaiknya. (*)
