Bahasa yang Menjadi Kontrol Sosial Kala Ramadan

Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Senin 23 Feb 2026, 12:13 WIB
Ilustrasi orang Indonesia berkumpul di sebuah warung. (Sumber: Pexels | Foto: Noval Gani)

Ilustrasi orang Indonesia berkumpul di sebuah warung. (Sumber: Pexels | Foto: Noval Gani)

AYOBANDUNG.ID -- Puasa sering dipahami sebagai praktik spiritual individual. Hubungan personal antara manusia dan keyakinannya. Namun dalam kehidupan sosial, puasa tidak sepenuhnya bersifat privat. Puasa berlangsung dalam ruang kolektif, dalam ritme makan bersama, perubahan jadwal harian, hingga cara orang berbicara. Di titik inilah bahasa memainkan peran yang jarang disadari: bukan sekadar alat komunikasi, tetapi mekanisme kontrol sosial.

Setiap Ramadan, masyarakat menghasilkan, mengulang, dan menyebarkan kosakata tertentu. Ada istilah untuk menunggu waktu berbuka, istilah untuk menggambarkan godaan, istilah untuk menyindir pelanggaran, dan istilah untuk menegaskan kepatuhan.

Ragam bahasa ini tidak netral. Tanpa perlu instrumen formal, bahasa berfungsi mengatur perilaku, menetapkan norma, dan mengawasi kepatuhan. Bahasa menjadi pengingat terus-menerus bahwa puasa bukan hanya kewajiban religius, tapi juga kewajiban sosial.

Ilustrasi simbol-simbol Ramadan. (Sumber: Pexels | Foto: Anna Tarazevich)
Ilustrasi simbol-simbol Ramadan. (Sumber: Pexels | Foto: Anna Tarazevich)

Dalam teori sosiologi klasik, keteraturan masyarakat tidak hanya dijaga oleh hukum, tetapi juga oleh tekanan sosial yang tidak tertulis. Émile Durkheim menjelaskan masyarakat mempertahankan kohesi melalui norma kolektif yang mengikat individu. Pelanggaran terhadap norma itu memicu reaksi sosial yang tidak selalu berupa hukuman resmi, tetapi sering berupa penilaian, stigma, atau label.

Bahasa adalah medium utama reaksi tersebut. Dalam konteks Ramadan, individu yang tidak menjalankan puasa atau dianggap tidak menjalankannya jarang langsung dihadapkan pada konfrontasi formal. Sebaliknya, ia ditempatkan dalam kategori linguistik tertentu. Ia diberi label, dijadikan bahan candaan, atau disindir melalui istilah yang dipahami bersama. Tindakan memberi nama ini bukan sekadar deskripsi, tapi bentuk sanksi simbolik.

Dalam bahasa Jawa Timur, misalnya, dikenal istilah mokel untuk menyebut orang yang diam-diam membatalkan puasa sebelum waktunya. Di beberapa wilayah Jawa Barat, ada istilah seperti nyemen atau godin yang juga merujuk pada tindakan serupa. Sebutan-sebutan ini bukan sekadar deskripsi perilaku; ia menempatkan individu dalam kategori sosial tertentu.

Label sosial bekerja dengan dua cara sekaligus. Pertama, ia menandai perilaku menyimpang. Kedua, ia mempertegas standar yang dianggap normal. Dengan kata lain, ketika masyarakat memiliki banyak istilah untuk pelanggaran puasa, yang sebenarnya sedang mereka lakukan adalah menegaskan bahwa berpuasa adalah kondisi default yang diharapkan. Bahasa, dalam hal ini, tidak memaksa, tapi mengarahkan.

Ilustrasi makan masakan khas Indonesia. (Sumber: Unsplash | Foto: Masjid Pogung Raya)
Ilustrasi makan masakan khas Indonesia. (Sumber: Unsplash | Foto: Masjid Pogung Raya)

Menariknya, kontrol sosial selama Ramadan jarang tampil dalam bentuk teguran keras. Ia lebih sering muncul dalam bentuk humor. Candaan tentang lapar, godaan, atau ketidaksanggupan menahan diri beredar luas dalam percakapan sehari-hari maupun media sosial. Sekilas, humor tampak ringan. Namun secara sosial, ia memiliki fungsi disipliner yang kuat.

Humor memungkinkan masyarakat menegur tanpa menyinggung secara langsung. Ia menurunkan potensi konflik interpersonal, tetapi tetap menyampaikan pesan normatif. Tertawa bersama atas pelanggaran tertentu berarti menyepakati bahwa perilaku tersebut berada di luar standar yang diharapkan.

Ungkapan seperti “puasa setengah hari” atau “latihan buka duluan” terdengar ringan, tetapi secara sosial memiliki fungsi korektif. Humor memungkinkan masyarakat menegur tanpa menyinggung secara langsung. Ia mengurangi potensi konflik interpersonal, tetapi tetap menyampaikan pesan normatif.

Dengan demikian, humor bukan sekadar ekspresi spontan. Ini adalah mekanisme koreksi sosial yang aman, efisien, dan berulang. Orang belajar batas norma bukan melalui larangan eksplisit, tetapi melalui apa yang dianggap pantas untuk ditertawakan.

Dalam banyak situasi, tekanan sosial yang dibungkus humor justru lebih efektif daripada teguran formal. Teguran bisa ditolak. Tertawaan sulit dihindari, karena ia bekerja di tingkat penerimaan sosial.

Baca Juga: Mendadak Pasar Takjil Ramadan

Mengapa bahasa memiliki peran sebesar itu dalam Ramadan? Jawabannya terletak pada sifat puasa itu sendiri. Puasa bukan hanya praktik keagamaan, tetapi juga fenomena sosial kolektif.

Antropolog Clifford Geertz menunjukkan bahwa praktik keagamaan selalu tertanam dalam sistem makna yang dibentuk masyarakat. Ritual tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan yang sakral, tetapi juga hubungan antar manusia, tapi menciptakan ritme bersama, struktur waktu bersama, dan pengalaman emosional bersama.

Ramadan secara konkret mengubah kehidupan sosial. Jadwal makan serempak bergeser. Aktivitas malam meningkat. Interaksi publik menyesuaikan. Bahkan ekspresi kelelahan atau kesabaran menjadi pengalaman yang dibagi bersama. Dalam kondisi seperti ini, bahasa berfungsi sebagai perekat simbolik.

Istilah ngabuburit, misalnya, tidak sekadar berarti “menunggu waktu berbuka”. Ia merujuk pada aktivitas sosial tertentu: berjalan-jalan sore, berburu takjil, berkumpul santai, atau sekadar mengisi waktu dengan kegiatan ringan. Kata ini menamai sebuah praktik sosial yang berulang setiap hari selama Ramadan.

Begitu pula istilah bukber (buka bersama), yang bukan sekadar makan bersama, tetapi ritual sosial yang menegaskan relasi pertemanan, kekeluargaan, dan komunitas. Bahkan istilah war takjil yang populer di kalangan generasi muda menggambarkan pengalaman kompetitif sekaligus komunal dalam memperoleh makanan berbuka.

Kosakata Ramadan bukan sekadar kata tambahan dalam kalender tahunan. Kumpulan kata itu adalah bagian dari ritual. Dengan mengucapkan, memahami, dan mengulang istilah tertentu, masyarakat menegaskan bahwa mereka berada dalam kerangka waktu dan pengalaman yang sama.

Pada tahap ini, bahasa tidak hanya menggambarkan Ramadan, justru membantu membentuknya sebagai realitas sosial.

Mengapa pelanggaran memiliki banyak istilah?

Salah satu fenomena paling mencolok dalam bahasa Ramadan adalah kelimpahan istilah yang berkaitan dengan pelanggaran atau kegagalan menahan diri. Secara antropologis, ini bukan kebetulan. Masyarakat cenderung menghasilkan kosakata yang lebih kaya untuk hal-hal yang mereka anggap penting untuk diawasi.

Dalam banyak budaya, wilayah yang diatur ketat oleh norma, seperti tabu makanan, seksualitas, atau kesucian ritual, selalu disertai bahasa yang kompleks. Banyaknya istilah bukan sekadar variasi linguistik; ia mencerminkan intensitas perhatian sosial.

Semakin tinggi nilai moral suatu praktik, semakin detail bahasa yang mengelilinginya.

Dalam konteks puasa, pelanggaran bukan hanya kegagalan pribadi. Ini adalah gangguan terhadap ritme kolektif. Karena itu, masyarakat mengembangkan berbagai cara simbolik untuk mengidentifikasi, mengomentari, dan menegurnya. Setiap istilah baru memperluas kemampuan komunitas untuk mengawasi perilaku tanpa harus menggunakan instrumen formal.

Bahasa menjadi jaringan pengamatan yang tersebar di seluruh ruang sosial. Istilah seperti mokel, godin, atau nyemen memungkinkan masyarakat menandai penyimpangan tanpa perlu konfrontasi langsung. Bahasa menjadi sistem klasifikasi sosial yang bekerja secara otomatis.

Kegiatan Ramadan di Masjid Salman ITB menjelang waktu berbuka puasa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Kegiatan Ramadan di Masjid Salman ITB menjelang waktu berbuka puasa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Keragaman istilah Ramadan di berbagai daerah menunjukkan bahwa kontrol sosial tidak pernah sepenuhnya seragam. Setiap komunitas mengembangkan cara linguistik sendiri untuk mengelola kepatuhan. Perbedaan istilah mencerminkan perbedaan gaya komunikasi, tingkat keluwesan norma, dan bentuk humor lokal.

Namun di balik variasi tersebut terdapat fungsi yang sama: menjaga keteraturan ritual kolektif. Bahasa lokal menjadi perangkat adaptif yang menyesuaikan norma universal dengan konteks budaya setempat.

Dengan kata lain, keragaman istilah bukan sekadar kekayaan bahasa. Ia adalah bukti bahwa masyarakat secara aktif merancang mekanisme simbolik untuk mempertahankan praktik bersama.

Baca Juga: Sejarah Es Cendol Elizabeth yang Selalu Menjadi Minuman 'Bintang' di Saat Ramadan

Yang paling signifikan dari semua ini adalah bahwa kontrol sosial Ramadan sebagian besar berlangsung tanpa paksaan formal. Tidak ada lembaga yang secara sistematis memproduksi istilah, mengatur penggunaannya, atau menegakkan konsekuensinya. Namun bahasa tetap bekerja secara efektif.

Kekuatan bahasa terletak pada makna yang disepakati bersama. Individu menyesuaikan perilaku bukan karena takut hukuman resmi, tetapi karena ingin tetap berada dalam orbit penerimaan sosial. Mereka menghindari label tertentu, menghindari bahan candaan tertentu, dan berusaha selaras dengan ritme kolektif.

Ini adalah bentuk pengawasan simbolik, pengawasan yang tidak terlihat, tetapi dirasakan.

Bahasa menciptakan kesadaran bahwa perilaku selalu berada dalam medan interpretasi sosial. Bahkan tindakan yang tampak privat memperoleh dimensi publik ketika masyarakat memiliki kata untuk menilainya.

Baca Juga: Lembang Tempo Dulu

Puasa dijalankan oleh tubuh, tetapi dipertahankan oleh sistem makna yang melingkupinya. Bahasa adalah salah satu elemen paling aktif dalam sistem tersebut. Ia menamai, menilai, menegur, mengingatkan, dan menyatukan.

Melalui istilah, candaan, dan label, masyarakat memastikan bahwa Ramadan tetap menjadi pengalaman kolektif yang teratur. Tanpa perlu perintah formal, tanpa perlu sanksi resmi, bahasa menjaga ritme bersama tetap stabil.

Dalam setiap ungkapan yang beredar selama Ramadan, terdapat kerja sosial yang sunyi namun efektif: menjaga norma, mempertahankan solidaritas, dan memastikan bahwa praktik bersama tetap berlangsung sebagaimana mestinya. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Mar 2026, 19:20

10 Netizen Terpilih Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Pameran Al-Qur’an Mushaf Sundawi berhias motif khas budaya Jawa Barat di Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 05 Mar 2026, 14:47

Sejarah Bandung Dijuluki Twente van Indonesië, Kota Kembang Diproyeksikan jadi Pusat Industri

Catatan koran 1949 menggambarkan Bandung dipenuhi pabrik tekstil yang membuatnya dibandingkan dengan Twente di Belanda.

Nederlandsch-Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken (NIMEF) di Bandung tahun 1950-an (Sumber: Wikimedia)
Mayantara 05 Mar 2026, 14:05

Kemarahan Digital Perang Iran dan Keuntungannya bagi Platform Media Sosial

Beberapa hari terakhir ini, linimasa media sosial dan juga WhatsApp Group di Indonesia dipenuhi umpatan dan kutukan.

Imbauan pemberhentian perang. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 12:06

Suara Tionghoa Menyigi Ruang Dialog, Sosial, Ekonomi, dan Budaya

Ruang perjumpaan dari berbagai umat beragama menjadi taman bertumbuh, tempat pengalaman yang dibagikan tanpa takut, juga tempat identitas dirayakan tanpa curiga.

Suara Tionghoa di Majalengka. (Dok. Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 11:53

Night Walk di Bulan Ramadan, Kaki Besi Perkuat Tren Komunitas Jalan Kaki di Bandung

Meski digelar pada bulan Ramadan, antusiasme peserta tidak surut. Dengan dress code serba hitam yang telah ditentukan panitia, para peserta memadati trotoar dengan tambahan aksesori khas.

Salah satu event komunitas Kaki Besi. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Seni Budaya 05 Mar 2026, 10:03

Sejarah Tari Saman, Jejak Warisan Syeikh di Dataran Tinggi Gayo

Jejak nama Saman dikaitkan dengan ulama abad ke-14 dan pengaruh Islam di Aceh, membentuk tarian komunal yang sarat syair moral.

Pagelaran Tari Saman terbesar di dunia dengan 12.262 penari. Acara kolosal ini diadakan pada 13 Agustus 2017 di Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 09:25

Renungan Ramadan dan Jadwal Puasa Bandung 1969 dalam Koran Lawas

Membuka kembali lembaran surat kabar lama sering menghadirkan pengalaman yang unik.

Surat kabar Berdikari terbitan Bandung, 28 November 1969, bertepatan dengan 18 Ramadan 1389 Hijriah (57 tahun silam). (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 06:55

Berawal dari Konten Viral, Kaki Besi Menjadi Komunitas Jalan Kaki Terbesar di Bandung

Berawal dari konten viral di media sosial, Komunitas Kaki Besi berkembang menjadi komunitas jalan kaki terbesar di Bandung. Didirikan oleh Insan Buana, Kaki Besi kini memiliki puluhan ribu pengikut.

Salah satu event Komunitas Kaki Besi. Dalam waktu kurang dari satu tahun, komunitas ini mencatat ribuan anggota aktif. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Bandung 04 Mar 2026, 21:33

Menilik Eksistensi Kue Balok Kang Didin, Kuliner Legendaris Bandung sejak 1950 yang Melawan Arus Zaman

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya.

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 16:42

Kisah Ramadan dalam Lagu ‘Lebaran Sebentar Lagi’

Lagu Lebaran Sebentar Lagi merupakan salah satu lagu remake dari band Gigi yang sebelumnya dinyanyikan pertama kali oleh Bimbo. 

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 04 Mar 2026, 15:22

Hampir 9 Tahun Bertahan, Begini Cara Dagelan Jabar Mengikuti Perubahan Zaman di Instagram

Berawal dari repost meme receh khas tongkrongan warganet Jawa Barat, akun ini tak memaksa diri menjadi media berita, tetapi juga tak bertahan sebagai sekadar akun humor.

Admin Dagelan Jabar Nono Sugianto. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 15:04

Cikalintu, Tempat yang Keliru Dipilih

Dalam nama Cikalintu, kata 'Kalintu' berarti keliru atau ditukar.

Toponim Cikalintu dalam Peta Topografi Lembar Bandoeng Tahun 1905 (diperbaiki dari peta tahun 1904). Dipetakan oleh Topographisch Bureau, Batavia. (Sumber: Peta koleksi KITLV Heritage)
Sejarah 04 Mar 2026, 14:46

Misteri Danau Cipanas Rancaekek, Tempat Pemandian Bupati Bandung Zaman Dulu

Warga menyebut penambangan bukit Gunung Cipanas memicu lenyapnya sumber panas yang dulu jadi tempat rekreasi elite Bandung.

Danau Cipanas Rancaekek. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 13:30

Benny Soebardja Pelopor Progresif Rock Indonesia

Musisi rock asal Bandung, Benny Soebardja, dikenal lewat band-band yang pernah ia bentuk, mulai dari The Peels, Shark Move, hingga Giant Step.

Benny Soebardja dengan vinyl "Shark Move" (1973) di Delft, Belanda. Dijuluki oleh media asing sebagai The Godfather of Indonesian Progrock Underground. (Sumber: Istimewa)
Ikon 04 Mar 2026, 13:15

Jejak Pitalka, Roti Pipih Ramadan dari Kosovo yang Bertahan Sejak Era Ottoman

anya muncul setahun sekali di Kosovo, pitalka menjadi warisan kuliner sejak masa Ottoman yang tetap hidup di meja iftar Prizren.

Pitalka, roti khas Kosovo yang jadi iftar Ramadan.
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 11:09

Siwok Cante, Konsep Puasa dalam Masyarakat Sunda Pra-Islam

Siwok cante, merupakan salah satu hal yang harus dihindari oleh mereka yang sedang mengemban tugas negara.

Buku hasil transliterasi dan terjemahan pertama Sanghyang Siksakandang Karesian bersama dua naskah Sunda kuna lainnya oleh Tim Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda 1987. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 09:38

Bukan Sekadar Nunggu Azan Magrib, 5 Aktivitas Ngabuburit Berfaedah

Sejatinya, ngabuburit bukan sekadar cara “mengisi waktu”, menunggu azan magrib.

Aktivitas apik ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 03 Mar 2026, 20:40

Sentuhan Estetika di Balik The Edit, Titik Temu Kurasi Fashion Muslim Premium di Bandung

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia.

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 03 Mar 2026, 19:24

Rumah Tumbuh, Akses Menguat: Ujian Transformasi BTN di Tengah Rekor Pembiayaan

Di tengah lanskap itu, PT Bank Tabungan Negara (BTN) tampil sebagai aktor sentral.

Pekerja merampungkan proyek rumah subsidi di El Hago Residence, Mekarbakti, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang (3/12/2020). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Deni Suhendar/Magang)
Seni Budaya 03 Mar 2026, 16:37

Sejarah Batik Pekalongan, Warisan Budaya dari Pantura Sejak 1802

Sejak awal 1800-an, batik di Pekalongan berkembang dari perdagangan pesisir hingga diakui UNESCO sebagai bagian jejaring kota kreatif dunia.

Kain sarung motif batik Pekalongan tahun 1980-an di Museum Honolulu. (Sumber: Wikimedia)