Bahasa yang Menjadi Kontrol Sosial Kala Ramadan

6 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Ilustrasi orang Indonesia berkumpul di sebuah warung. (Sumber: Pexels | Foto: Noval Gani)
Ilustrasi orang Indonesia berkumpul di sebuah warung. (Sumber: Pexels | Foto: Noval Gani)

AYOBANDUNG.ID -- Puasa sering dipahami sebagai praktik spiritual individual. Hubungan personal antara manusia dan keyakinannya. Namun dalam kehidupan sosial, puasa tidak sepenuhnya bersifat privat. Puasa berlangsung dalam ruang kolektif, dalam ritme makan bersama, perubahan jadwal harian, hingga cara orang berbicara. Di titik inilah bahasa memainkan peran yang jarang disadari: bukan sekadar alat komunikasi, tetapi mekanisme kontrol sosial.

Setiap Ramadan, masyarakat menghasilkan, mengulang, dan menyebarkan kosakata tertentu. Ada istilah untuk menunggu waktu berbuka, istilah untuk menggambarkan godaan, istilah untuk menyindir pelanggaran, dan istilah untuk menegaskan kepatuhan.

Ragam bahasa ini tidak netral. Tanpa perlu instrumen formal, bahasa berfungsi mengatur perilaku, menetapkan norma, dan mengawasi kepatuhan. Bahasa menjadi pengingat terus-menerus bahwa puasa bukan hanya kewajiban religius, tapi juga kewajiban sosial.

Ilustrasi simbol-simbol Ramadan. (Sumber: Pexels | Foto: Anna Tarazevich)
Ilustrasi simbol-simbol Ramadan. (Sumber: Pexels | Foto: Anna Tarazevich)

Dalam teori sosiologi klasik, keteraturan masyarakat tidak hanya dijaga oleh hukum, tetapi juga oleh tekanan sosial yang tidak tertulis. Émile Durkheim menjelaskan masyarakat mempertahankan kohesi melalui norma kolektif yang mengikat individu. Pelanggaran terhadap norma itu memicu reaksi sosial yang tidak selalu berupa hukuman resmi, tetapi sering berupa penilaian, stigma, atau label.

Bahasa adalah medium utama reaksi tersebut. Dalam konteks Ramadan, individu yang tidak menjalankan puasa atau dianggap tidak menjalankannya jarang langsung dihadapkan pada konfrontasi formal. Sebaliknya, ia ditempatkan dalam kategori linguistik tertentu. Ia diberi label, dijadikan bahan candaan, atau disindir melalui istilah yang dipahami bersama. Tindakan memberi nama ini bukan sekadar deskripsi, tapi bentuk sanksi simbolik.

Dalam bahasa Jawa Timur, misalnya, dikenal istilah mokel untuk menyebut orang yang diam-diam membatalkan puasa sebelum waktunya. Di beberapa wilayah Jawa Barat, ada istilah seperti nyemen atau godin yang juga merujuk pada tindakan serupa. Sebutan-sebutan ini bukan sekadar deskripsi perilaku; ia menempatkan individu dalam kategori sosial tertentu.

Label sosial bekerja dengan dua cara sekaligus. Pertama, ia menandai perilaku menyimpang. Kedua, ia mempertegas standar yang dianggap normal. Dengan kata lain, ketika masyarakat memiliki banyak istilah untuk pelanggaran puasa, yang sebenarnya sedang mereka lakukan adalah menegaskan bahwa berpuasa adalah kondisi default yang diharapkan. Bahasa, dalam hal ini, tidak memaksa, tapi mengarahkan.

Ilustrasi makan masakan khas Indonesia. (Sumber: Unsplash | Foto: Masjid Pogung Raya)
Ilustrasi makan masakan khas Indonesia. (Sumber: Unsplash | Foto: Masjid Pogung Raya)

Menariknya, kontrol sosial selama Ramadan jarang tampil dalam bentuk teguran keras. Ia lebih sering muncul dalam bentuk humor. Candaan tentang lapar, godaan, atau ketidaksanggupan menahan diri beredar luas dalam percakapan sehari-hari maupun media sosial. Sekilas, humor tampak ringan. Namun secara sosial, ia memiliki fungsi disipliner yang kuat.

Humor memungkinkan masyarakat menegur tanpa menyinggung secara langsung. Ia menurunkan potensi konflik interpersonal, tetapi tetap menyampaikan pesan normatif. Tertawa bersama atas pelanggaran tertentu berarti menyepakati bahwa perilaku tersebut berada di luar standar yang diharapkan.

Ungkapan seperti “puasa setengah hari” atau “latihan buka duluan” terdengar ringan, tetapi secara sosial memiliki fungsi korektif. Humor memungkinkan masyarakat menegur tanpa menyinggung secara langsung. Ia mengurangi potensi konflik interpersonal, tetapi tetap menyampaikan pesan normatif.

Dengan demikian, humor bukan sekadar ekspresi spontan. Ini adalah mekanisme koreksi sosial yang aman, efisien, dan berulang. Orang belajar batas norma bukan melalui larangan eksplisit, tetapi melalui apa yang dianggap pantas untuk ditertawakan.

Dalam banyak situasi, tekanan sosial yang dibungkus humor justru lebih efektif daripada teguran formal. Teguran bisa ditolak. Tertawaan sulit dihindari, karena ia bekerja di tingkat penerimaan sosial.

Baca Juga: Mendadak Pasar Takjil Ramadan

Mengapa bahasa memiliki peran sebesar itu dalam Ramadan? Jawabannya terletak pada sifat puasa itu sendiri. Puasa bukan hanya praktik keagamaan, tetapi juga fenomena sosial kolektif.

Antropolog Clifford Geertz menunjukkan bahwa praktik keagamaan selalu tertanam dalam sistem makna yang dibentuk masyarakat. Ritual tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan yang sakral, tetapi juga hubungan antar manusia, tapi menciptakan ritme bersama, struktur waktu bersama, dan pengalaman emosional bersama.

Ramadan secara konkret mengubah kehidupan sosial. Jadwal makan serempak bergeser. Aktivitas malam meningkat. Interaksi publik menyesuaikan. Bahkan ekspresi kelelahan atau kesabaran menjadi pengalaman yang dibagi bersama. Dalam kondisi seperti ini, bahasa berfungsi sebagai perekat simbolik.

Istilah ngabuburit, misalnya, tidak sekadar berarti “menunggu waktu berbuka”. Ia merujuk pada aktivitas sosial tertentu: berjalan-jalan sore, berburu takjil, berkumpul santai, atau sekadar mengisi waktu dengan kegiatan ringan. Kata ini menamai sebuah praktik sosial yang berulang setiap hari selama Ramadan.

Begitu pula istilah bukber (buka bersama), yang bukan sekadar makan bersama, tetapi ritual sosial yang menegaskan relasi pertemanan, kekeluargaan, dan komunitas. Bahkan istilah war takjil yang populer di kalangan generasi muda menggambarkan pengalaman kompetitif sekaligus komunal dalam memperoleh makanan berbuka.

Kosakata Ramadan bukan sekadar kata tambahan dalam kalender tahunan. Kumpulan kata itu adalah bagian dari ritual. Dengan mengucapkan, memahami, dan mengulang istilah tertentu, masyarakat menegaskan bahwa mereka berada dalam kerangka waktu dan pengalaman yang sama.

Pada tahap ini, bahasa tidak hanya menggambarkan Ramadan, justru membantu membentuknya sebagai realitas sosial.

Mengapa pelanggaran memiliki banyak istilah?

Salah satu fenomena paling mencolok dalam bahasa Ramadan adalah kelimpahan istilah yang berkaitan dengan pelanggaran atau kegagalan menahan diri. Secara antropologis, ini bukan kebetulan. Masyarakat cenderung menghasilkan kosakata yang lebih kaya untuk hal-hal yang mereka anggap penting untuk diawasi.

Dalam banyak budaya, wilayah yang diatur ketat oleh norma, seperti tabu makanan, seksualitas, atau kesucian ritual, selalu disertai bahasa yang kompleks. Banyaknya istilah bukan sekadar variasi linguistik; ia mencerminkan intensitas perhatian sosial.

Semakin tinggi nilai moral suatu praktik, semakin detail bahasa yang mengelilinginya.

Dalam konteks puasa, pelanggaran bukan hanya kegagalan pribadi. Ini adalah gangguan terhadap ritme kolektif. Karena itu, masyarakat mengembangkan berbagai cara simbolik untuk mengidentifikasi, mengomentari, dan menegurnya. Setiap istilah baru memperluas kemampuan komunitas untuk mengawasi perilaku tanpa harus menggunakan instrumen formal.

Bahasa menjadi jaringan pengamatan yang tersebar di seluruh ruang sosial. Istilah seperti mokel, godin, atau nyemen memungkinkan masyarakat menandai penyimpangan tanpa perlu konfrontasi langsung. Bahasa menjadi sistem klasifikasi sosial yang bekerja secara otomatis.

Kegiatan Ramadan di Masjid Salman ITB menjelang waktu berbuka puasa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Kegiatan Ramadan di Masjid Salman ITB menjelang waktu berbuka puasa. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Keragaman istilah Ramadan di berbagai daerah menunjukkan bahwa kontrol sosial tidak pernah sepenuhnya seragam. Setiap komunitas mengembangkan cara linguistik sendiri untuk mengelola kepatuhan. Perbedaan istilah mencerminkan perbedaan gaya komunikasi, tingkat keluwesan norma, dan bentuk humor lokal.

Namun di balik variasi tersebut terdapat fungsi yang sama: menjaga keteraturan ritual kolektif. Bahasa lokal menjadi perangkat adaptif yang menyesuaikan norma universal dengan konteks budaya setempat.

Dengan kata lain, keragaman istilah bukan sekadar kekayaan bahasa. Ia adalah bukti bahwa masyarakat secara aktif merancang mekanisme simbolik untuk mempertahankan praktik bersama.

Baca Juga: Sejarah Es Cendol Elizabeth yang Selalu Menjadi Minuman 'Bintang' di Saat Ramadan

Yang paling signifikan dari semua ini adalah bahwa kontrol sosial Ramadan sebagian besar berlangsung tanpa paksaan formal. Tidak ada lembaga yang secara sistematis memproduksi istilah, mengatur penggunaannya, atau menegakkan konsekuensinya. Namun bahasa tetap bekerja secara efektif.

Kekuatan bahasa terletak pada makna yang disepakati bersama. Individu menyesuaikan perilaku bukan karena takut hukuman resmi, tetapi karena ingin tetap berada dalam orbit penerimaan sosial. Mereka menghindari label tertentu, menghindari bahan candaan tertentu, dan berusaha selaras dengan ritme kolektif.

Ini adalah bentuk pengawasan simbolik, pengawasan yang tidak terlihat, tetapi dirasakan.

Bahasa menciptakan kesadaran bahwa perilaku selalu berada dalam medan interpretasi sosial. Bahkan tindakan yang tampak privat memperoleh dimensi publik ketika masyarakat memiliki kata untuk menilainya.

Baca Juga: Lembang Tempo Dulu

Puasa dijalankan oleh tubuh, tetapi dipertahankan oleh sistem makna yang melingkupinya. Bahasa adalah salah satu elemen paling aktif dalam sistem tersebut. Ia menamai, menilai, menegur, mengingatkan, dan menyatukan.

Melalui istilah, candaan, dan label, masyarakat memastikan bahwa Ramadan tetap menjadi pengalaman kolektif yang teratur. Tanpa perlu perintah formal, tanpa perlu sanksi resmi, bahasa menjaga ritme bersama tetap stabil.

Dalam setiap ungkapan yang beredar selama Ramadan, terdapat kerja sosial yang sunyi namun efektif: menjaga norma, mempertahankan solidaritas, dan memastikan bahwa praktik bersama tetap berlangsung sebagaimana mestinya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)