Lembang Tempo Dulu

Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan Minggu 22 Feb 2026, 11:43 WIB
Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)

Kawasan Lembang yang kita kenal sekarang adalah sebagai destinasi wisata di utara Bandung yang cukup terkenal. Sebut saja berbagai tempat wisata kekinian, cafe–cafe nuansa hutan yang eksotis hingga wisata kuliner yang menggiurkan.

Namun, selain itu juga pembangunan wisata akan terus menerus menjamur di Lembang setelah dimulai pembangunan wisata terpadu di lahan bekas Grand Hotel Lembang yang legendaris itu menjadi kawasan hiburan kekinian yang sudah pasti akan merubah kawasan Lembang menjadi kawasan yang semakin ramai saja.Imbasnya ya sudah pasti adalah kemacetan dan minimnya kawasan resapan yang mengakibatkan banjir di sejumlah  titik apabila memasuki musim penghujan.

Tapi tahukah kalian semua, dahulu Lembang adalah sebuah kawasan hijau yang pada masa VOC memiliki sebuah upeti istimewa yang nantinya di ekspor oleh VOC ke kawasan Eropa. Dalam sebuah jurnal yang berjudul An Early List of Villages, Village heads, Familie, Tribute and Earning in Priangan, West Java 1680 atau Daftar Awal Desa, Kepala Desa, Keluarga, Upeti dan Pendapatan di Priangan, Jawa Barat 1680, pada halaman 11 dikatakan bahwa pada tahun 1680, kawasan Lembang memiliki 5 rumah besar dan dikepalai oleh satu orang cutak atau kepala dusun yang bernama Singamarta, dan mereka memberikan upeti kepada VOC.

Upeti yang dimaksud bukan hal–hal yang dekat dengan Lembang masa sekarang, seperti hasil peternakannya dan hasil pertaniannya namun, upeti yang diberikan kepada VOC pada tahun 1680 dari Lembang adalah bunga pohon Kesumba Keling.  Bunga kesumba keling  dahulunya tumbuh sangat subur di utara Lembang. Bunganya mengandung pigmen karotenoid biksin yang dapat menghasilkan warna kuning, orange dan magenta secara alami.  Bunga kesumba inilah yang diincar VOC untuk nantinya dikirim ke Eropa guna mewarnai kain – kain yang akan menjadi gaun – gaun wanita kelas atas Eropa.

Setelah saya meriset hal ini lebih dalam lagi, ditemukanlah bahwa kawasan utara Lembang tersebut adalah kawasan kampung Cilameta, tepatnya sekarang berada tidak jauh dari puncak Jayagiri, mungkin yang suka trekking ke puncak Jayagiri sudah tidak asing dengan kawasan ini. Dahulu di sana terdapat sebuah dusun yang cukup ramai.

Pada masa VOC ramai karena upeti khasnya, dan pada masa budi daya kina, ramai karena dijadikan tempat pemisahan batang dan kulit kina, hingga warga lokal sering menyebutnya sekarang dengan kawasan pabrik kulit, ternyata kulit yang dimaksud itu adalah kulit kina. Sayangnya desa Cilameta ini harus punah dan warganya kebanyakan menyebar ke arah selatan mendekati kawasan perekonomian dan alun – alun Lembang sebagai pusatnya. 

Kampung Cilameta masa kolonial. (Sumber: Koleksi keluarga Billy Janzs)
Kampung Cilameta masa kolonial. (Sumber: Koleksi keluarga Billy Janzs)

Selain itu ditemukan fakta menarik lainnya dari Lembang yaitu tentang arti kata Lembang itu sendiri. Lagi-lagi datanya saya peroleh dari sebuah jurnal berbahasa Belanda yang berjudul  Het Nederlandsche Java Instituut, Javaansche Geographische Namen Als Spiegel Van De Omgeving En De Denkwijkze Van Het Volk. Pada halaman 3 dijelaskan bahwa diberi nama Lembang adalah karena dikawasan Lembang dahulu banyak sekali ditemukan sejenis rumput yang disebut rumput Lembang. 

Rumput Lembang dalam bahasa Inggris dikenal dengan Bulrush atau Cattail, dan dalam bahasa Indonesia sering disebut tanaman Lidi Air. Nama ilmiah dari rumut ini adalah Typha Latifolia. Dahulu ketika masa kolonial jenis rumput ini banyak ditemukan di kawasan bukit Bosscha sekarang, kawasan Baru Ajak hingga sungai – sungai kecil yang bermuara hingga ke kawasan Situ Umar, yang sekarang berubah menjadi kawasan wisata kekinian Floating Market Lembang.

Dari kedua jenis tumbuhan di atas yaitu kesumba keling dan rumput Lembang dapat diambil kesimpulan bahwa, dahulu Lembang merupakan kawasan hijau dan menyimpan aneka macam tumbuhan alami dengan berbagai kisah yang nyaris dilupakan. Mirisnya, kedua jenis tumbuhan yang menyimpan kisah sejarah akan Lembang tempo dulu tersebut sekarang nyaris tidak ditemukan lagi di Lembang.

Pohon kesumba keling tidak dapat ditemukan lagi di hutan Jayagiri, karena eksploitasi kawasan yang semakin parah. Dan, sama pula dengan nasib rumput Lembang yang tidak ditemukan sama sekali di kawasan yang dahulu banyak ditemukan. Pernah sesekali saya melihat rumput Lembang tersebut di kawasan hutan Tangkuban Parahu, yaitu di kawasan menuju kawah upas, namun karena sekarang kawasan tersebut semakin viral oleh pendakian,   saya belum sempat mengeceknya kembali.

Dari hal di atas dapat disimpulkan bahwa Lembang adalah kawasan yang telah banyak bersalin rupa.  Lembang yang kita kenal sekarang adalah Lembang yang telah banyak melalui rangkaian kisah.

Baca Juga: Miéling Poé Basa Indung: Jejak Panjang Pers Sunda

Saya akan mulai memperkenalkannya kepada para pembaca semuanya masa lalu Lembang yang unik, dari mulai masuknya pengelolaan perkebunan teh, kopi dan kina di masa tanam paksa, masa masuknya orang–orang Afrika Selatan yang nantinya akan memberikan torehan sejarah tentang perkembangan pertanian sayuran dan peternakan; yang secara tidak langsung mengajarkan kita sejarah sayur mayur dan susu yang umum terdapat di meja makan kita hari ini adalah rangkaian kisah panjang yang dahulu dimulai di tanah Lembang, dan kisah menarik Lembang lainnya yang merupakan kawasan tempat menyerahnya Hindia Belanda kepada Jepang; yang apabila dalam buku sejarah di sekolah kita hanya diberi tau bahwa Hindia Belanda menyerah kepada Jepang di Kalijati, Subang, padahal itu adalah rangkaian kisah panjang dan berliku yang ada di tanah Lembang.  

 Semoga bermanfaat dan salam kenal untuk semua pembaca, salam sejarah dari Lembang! (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Linimasa 05 Mar 2026, 21:19

UIN Bandung Sebelum dan Sesudah Magrib Saat Ramadan

Setiap Ramadan, kawasan UIN Sunan Gunung Djati Bandung berubah ramai oleh mahasiswa yang ngabuburit dan berburu takjil.

Suasana menjelang magrib saat Ramadan di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 19:20

10 Netizen Terpilih Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Pameran Al-Qur’an Mushaf Sundawi berhias motif khas budaya Jawa Barat di Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 05 Mar 2026, 14:47

Sejarah Bandung Dijuluki Twente van Indonesië, Kota Kembang Diproyeksikan jadi Pusat Industri

Catatan koran 1949 menggambarkan Bandung dipenuhi pabrik tekstil yang membuatnya dibandingkan dengan Twente di Belanda.

Nederlandsch-Indische Metaalwaren en Emballage Fabrieken (NIMEF) di Bandung tahun 1950-an (Sumber: Wikimedia)
Mayantara 05 Mar 2026, 14:05

Kemarahan Digital Perang Iran dan Keuntungannya bagi Platform Media Sosial

Beberapa hari terakhir ini, linimasa media sosial dan juga WhatsApp Group di Indonesia dipenuhi umpatan dan kutukan.

Imbauan pemberhentian perang. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 12:06

Suara Tionghoa Menyigi Ruang Dialog, Sosial, Ekonomi, dan Budaya

Ruang perjumpaan dari berbagai umat beragama menjadi taman bertumbuh, tempat pengalaman yang dibagikan tanpa takut, juga tempat identitas dirayakan tanpa curiga.

Suara Tionghoa di Majalengka. (Dok. Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 11:53

Night Walk di Bulan Ramadan, Kaki Besi Perkuat Tren Komunitas Jalan Kaki di Bandung

Meski digelar pada bulan Ramadan, antusiasme peserta tidak surut. Dengan dress code serba hitam yang telah ditentukan panitia, para peserta memadati trotoar dengan tambahan aksesori khas.

Salah satu event komunitas Kaki Besi. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Seni Budaya 05 Mar 2026, 10:03

Sejarah Tari Saman, Jejak Warisan Syeikh di Dataran Tinggi Gayo

Jejak nama Saman dikaitkan dengan ulama abad ke-14 dan pengaruh Islam di Aceh, membentuk tarian komunal yang sarat syair moral.

Pagelaran Tari Saman terbesar di dunia dengan 12.262 penari. Acara kolosal ini diadakan pada 13 Agustus 2017 di Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Mar 2026, 09:25

Renungan Ramadan dan Jadwal Puasa Bandung 1969 dalam Koran Lawas

Membuka kembali lembaran surat kabar lama sering menghadirkan pengalaman yang unik.

Surat kabar Berdikari terbitan Bandung, 28 November 1969, bertepatan dengan 18 Ramadan 1389 Hijriah (57 tahun silam). (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Beranda 05 Mar 2026, 06:55

Berawal dari Konten Viral, Kaki Besi Menjadi Komunitas Jalan Kaki Terbesar di Bandung

Berawal dari konten viral di media sosial, Komunitas Kaki Besi berkembang menjadi komunitas jalan kaki terbesar di Bandung. Didirikan oleh Insan Buana, Kaki Besi kini memiliki puluhan ribu pengikut.

Salah satu event Komunitas Kaki Besi. Dalam waktu kurang dari satu tahun, komunitas ini mencatat ribuan anggota aktif. (Sumber: Komunitas Kaki Besi)
Bandung 04 Mar 2026, 21:33

Menilik Eksistensi Kue Balok Kang Didin, Kuliner Legendaris Bandung sejak 1950 yang Melawan Arus Zaman

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya.

Bertempat di Jalan Abdul Rahman Saleh, No. 52, Husen Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Kue Balok Kang Didin disebut berbeda dari ciri khas kue balok lainnya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 16:42

Kisah Ramadan dalam Lagu ‘Lebaran Sebentar Lagi’

Lagu Lebaran Sebentar Lagi merupakan salah satu lagu remake dari band Gigi yang sebelumnya dinyanyikan pertama kali oleh Bimbo. 

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Beranda 04 Mar 2026, 15:22

Hampir 9 Tahun Bertahan, Begini Cara Dagelan Jabar Mengikuti Perubahan Zaman di Instagram

Berawal dari repost meme receh khas tongkrongan warganet Jawa Barat, akun ini tak memaksa diri menjadi media berita, tetapi juga tak bertahan sebagai sekadar akun humor.

Admin Dagelan Jabar Nono Sugianto. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 15:04

Cikalintu, Tempat yang Keliru Dipilih

Dalam nama Cikalintu, kata 'Kalintu' berarti keliru atau ditukar.

Toponim Cikalintu dalam Peta Topografi Lembar Bandoeng Tahun 1905 (diperbaiki dari peta tahun 1904). Dipetakan oleh Topographisch Bureau, Batavia. (Sumber: Peta koleksi KITLV Heritage)
Sejarah 04 Mar 2026, 14:46

Misteri Danau Cipanas Rancaekek, Tempat Pemandian Bupati Bandung Zaman Dulu

Warga menyebut penambangan bukit Gunung Cipanas memicu lenyapnya sumber panas yang dulu jadi tempat rekreasi elite Bandung.

Danau Cipanas Rancaekek. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 13:30

Benny Soebardja Pelopor Progresif Rock Indonesia

Musisi rock asal Bandung, Benny Soebardja, dikenal lewat band-band yang pernah ia bentuk, mulai dari The Peels, Shark Move, hingga Giant Step.

Benny Soebardja dengan vinyl "Shark Move" (1973) di Delft, Belanda. Dijuluki oleh media asing sebagai The Godfather of Indonesian Progrock Underground. (Sumber: Istimewa)
Ikon 04 Mar 2026, 13:15

Jejak Pitalka, Roti Pipih Ramadan dari Kosovo yang Bertahan Sejak Era Ottoman

anya muncul setahun sekali di Kosovo, pitalka menjadi warisan kuliner sejak masa Ottoman yang tetap hidup di meja iftar Prizren.

Pitalka, roti khas Kosovo yang jadi iftar Ramadan.
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 11:09

Siwok Cante, Konsep Puasa dalam Masyarakat Sunda Pra-Islam

Siwok cante, merupakan salah satu hal yang harus dihindari oleh mereka yang sedang mengemban tugas negara.

Buku hasil transliterasi dan terjemahan pertama Sanghyang Siksakandang Karesian bersama dua naskah Sunda kuna lainnya oleh Tim Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda 1987. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Mar 2026, 09:38

Bukan Sekadar Nunggu Azan Magrib, 5 Aktivitas Ngabuburit Berfaedah

Sejatinya, ngabuburit bukan sekadar cara “mengisi waktu”, menunggu azan magrib.

Aktivitas apik ngabuburit di Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 03 Mar 2026, 20:40

Sentuhan Estetika di Balik The Edit, Titik Temu Kurasi Fashion Muslim Premium di Bandung

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia.

The Edit menghadirkan ruang kurasi fashion yang tidak sekadar menjual produk, namun juga mengusung karya, karakter, dan cerita dari para desainer berbakat Indonesia. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 03 Mar 2026, 19:24

Rumah Tumbuh, Akses Menguat: Ujian Transformasi BTN di Tengah Rekor Pembiayaan

Di tengah lanskap itu, PT Bank Tabungan Negara (BTN) tampil sebagai aktor sentral.

Pekerja merampungkan proyek rumah subsidi di El Hago Residence, Mekarbakti, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang (3/12/2020). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Deni Suhendar/Magang)