Persib di Ambang Juara, Pedagang Kecil Otista Bersiap "Lebaran"

5 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Deretan lapak penjual jersey dan bendera Persib di kawasanTegalega Kota Bandung, Jumat, 22 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Deretan lapak penjual jersey dan bendera Persib di kawasanTegalega Kota Bandung, Jumat, 22 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Di tengah hiruk-pikuk persiapan bobotoh menyambut Persib menjadi juara Super League 2025/2026, ada pedagang kecil yang diam-diam ikut menggantungkan harapan pada kemenangan ini.

Dari penjual jersey, bendera, hingga lapak dadakan musiman, euforia sepak bola memberi mereka sesuatu yang sederhana namun berarti. Dagangan lebih laku, otomotais cuan pun bertambah.

Salah satunya deretan lapak dadakan di sisi jalan di kawasan Otista hingga menuju Tegalega, Kota Bandung. Biru mendadak jadi warna yang paling mudah ditemukan. Jersey Persib bergantung rapat di depan toko, bendera berkibar di pinggir trotoar, sementara klakson kendaraan bersahut-sahutan bersama obrolan soal pertandingan terakhir.

Teriakan “kaosan dikaosan”, “yu Persib juara dijerseyan”, dan “Persib Maung Bandung” menggaung di sepanjang jalan. Sore ini tampak jelas rasa tak sabar warga untuk berpesta, konvoi, dan menyambut “lebarannya” orang Bandung.

Bandung belum resmi berpesta. Namun suasananya sudah terasa seperti perayaan.

Bukan hanya bobotoh yang sibuk menghitung peluang juara, para pedagang atribut pun ikut menunggu hasil pertandingan dengan rasa deg-degan masing-masing.

Bagi Kelvin, riuh persiapan juara Persib bukan sekadar urusan trofi, melainkan momen "lebaran" yang melipatgandakan rezeki di lapak jerseynya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bagi Kelvin, riuh persiapan juara Persib bukan sekadar urusan trofi, melainkan momen "lebaran" yang melipatgandakan rezeki di lapak jerseynya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Di salah satu lapak, Kelvin (21), pedagang jersey asal Bandung, terlihat sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti.

Tumpukan jersey dewasa, baju anak, hingga atribut lain memenuhi tokonya.

“Sebenernya saya mah memang jualan jersey dari dulu, bukan baru sekarang. Jersey, sepatu, kadang atribut lain juga ada. Cuma ya sekarang karena lagi rame Persib mau juara, otomatis orang-orang nyarinya ke atribut Persib semua,” katanya.

Menurut Kelvin, lonjakan pembeli sebenarnya sudah mulai terasa sejak pertandingan melawan Persija beberapa waktu lalu. Namun beberapa hari menjelang laga terakhir, suasananya berubah jauh lebih ramai.

“Dari lawan Persija juga udah mulai rame. Tapi sekarang mah beda. Hari ini malah paling rame. Orang datang terus. Kalau hari biasa mah beda pisan,” ujarnya.

Ia menunjuk salah satu produk yang paling cepat habis. Bukan jersey pemain, melainkan baju jersey anak.

“Yang paling laku sekarang malah baju jersey anak. Kalau lagi begini yang banyak beli justru orang tua. Kalau hari-hari biasa mah anak kecil,” kata Kelvin.

Harga atribut di lapaknya bervariasi, mulai Rp35 ribu hingga Rp120 ribu. Dalam sehari, ia mengaku bisa menjual sekitar 30 potong barang saat momen seperti ini.

“Omzet mah sudah pasti naik jauh dibanding hari biasa. Alhamdulillah. Kalau Persib juara ya sudah pasti ngaruh lagi. Orang-orang makin ramai, makin tahu tempat jualan di sini,” katanya.

Meski persaingan dagang makin ketat karena lapak atribut mendadak bermunculan di banyak titik, Kelvin menganggap itu bagian dari momentum.

“Persaingan pasti ketat. Kadang saling bantu, kadang ya tergantung pembelinya aja. Kalau masuk ke sini ya rezeki sini, kalau ke sana ya rezeki sana. Yang penting mah jualan jalan,” ujarnya sambil tertawa.

Namun di balik optimisme soal pertandingan, ada satu hal yang justru ia khawatirkan. Bukan soal peluang menang atau kalah.

“Kalau pertandingan mah saya percaya Persib. Yang saya takutin mah bobotoh kalau udah turun ke lapang semua, bisi jadina kumaha,” katanya.

Saat diminta menggambarkan suasana Bandung menjelang Persib juara dalam satu kalimat, jawabannya spontan.

“Lebaran. Ini mah lebarannya Bandung.”

Tak jauh dari sana, Erik (23), pedagang asal Garut, berdiri di balik tumpukan bendera Persib berbagai ukuran.

Berbeda dengan Kelvin yang memang sehari-hari berjualan jersey, Erik mengaku hadir khusus karena momen ini.

“Musiman. Setahun sekali, Persib mau juara mah pasti ada perayaan. Ya sudah, jualan bendera,” katanya singkat sambil tertawa.

Ia biasanya berjualan buah di kawasan tersebut. Namun ketika Persib mendekati gelar juara, lapaknya berubah total.

“Kalau Persib mau juara mah pasti jualan beginian. Udah tiap tahun. Sekarang kan momentum lagi,” ujarnya.

Erik hanya menjual bendera. Ukurannya beragam, dengan harga mulai Rp25 ribu hingga sekitar Rp80 ribu. Hari itu menjadi hari pertamanya membuka lapak. Meski baru mulai, belasan bendera sudah terjual.

“Baru hari ini jualan. Tapi lumayan lah. Ada sekitar sepuluhan yang keluar. Mudah-mudahan sampai Minggu makin rame,” katanya.

Modal jualannya pun terbilang mendadak.

“Modal dadakan ini mah,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Bagi Erik, jualan atribut Persib bukan semata soal mencari untung, tetapi juga soal membaca denyut kota. Saat Bandung sedang bersiap berpesta, peluang ekonomi ikut bergerak.

“Kalau Persib juara mah mudah-mudahan makin ramai jualannya,” katanya.

Ia tak terlihat terlalu cemas menghadapi pertandingan terakhir.

“Percaya. Udah yakin,” ucapnya mantap.

Bagi Erik, Persib bukan sekadar klub sepak bola. Ia sempat terdiam ketika ditanya arti Persib baginya, lalu menjawab pendek sambil tersenyum.

“Hatena lah.”

Hatena artinya bahasa hati. Kalimat sederhana yang mungkin cukup mewakili banyak orang Bandung. Sebab di kota ini, Persib sering kali tak lagi berdiri sebagai klub sepak bola semata. Ia tumbuh menjadi identitas, ruang emosi, dan alasan orang asing saling menyapa di jalan.

Suryana baru kali ini membeli jersey Persib untuk merayakan kemenangan Maung Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Suryana baru kali ini membeli jersey Persib untuk merayakan kemenangan Maung Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Di tengah hiruk-pikuk lapak biru itu, Suryana (36) datang sebagai salah satu pembeli. Hari itu ia membeli jersey Persib untuk pertama kalinya.

“Karena euforianya. Karena hattrick. Karena sudah dipastikan juara lah,” katanya.

Meski baru pertama kali membeli jersey, kecintaannya pada Persib tak perlu dipertanyakan.

“Persib mah segalanya. Bahasa hatena lah,” ujarnya.

Ia mengaku suasana Bandung terasa berbeda menjelang momentum juara.

“Beda pisan ayeuna mah. Kerasa. Kota jadi hidup, karena rek merayakan,” katanya.

Bagi Suryana, keberadaan pedagang atribut yang tiba-tiba memenuhi kawasan Otista bukan sesuatu yang mengganggu. Justru sebaliknya. Menurutnya, sepak bola sedang memberi napas ekonomi bagi banyak orang.

“Persib itu ngaruh ke UMKM. Biasanya mungkin sepi, sekarang jadi rame. Orang jualan kebantu ku Persib,” katanya.

Soal pertandingan terakhir, ia terdengar santai. Tak ada rasa terlalu cemas.

“Optimis. Pasti meunang. Urang nonton nobar aja besok,” ujarnya.

Ketika ditanya kalau Persib resmi juara, jawabannya sederhana.

“Bersyukur.”

Menjelang malam, lapak-lapak biru di Otista masih ramai didatangi pembeli. Jersey terus dicoba, bendera terus dibentangkan, obrolan soal skor pertandingan terus berulang dari satu sudut ke sudut lain.

Di Bandung, Persib memang lebih dari klub sepak bola.

Ia bisa mengubah jalanan menjadi pasar, membuat ekonomi rakyat bergerak, menghidupkan pedagang musiman, mempertemukan orang-orang asing dalam obrolan yang sama, bahkan membuat kota terasa seperti sedang bersiap menyambut hari raya.

Atau meminjam kata Kelvin:

“Persib mau juara teh… ini mah lebarannya Bandung.”

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 14:41

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon

Taman Wisata Goa Sunyaragi adalah salah satu wisata bersejarah di Kota Cirebon yang menyimpan banyak cerita menarik.

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)