Official Persib Logo
1933
1933

Persib di Ambang Juara, Pedagang Kecil Otista Bersiap "Lebaran"

Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Sabtu 23 Mei 2026, 08:49 WIB
Deretan lapak penjual jersey dan bendera Persib di kawasanTegalega Kota Bandung, Jumat, 22 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Deretan lapak penjual jersey dan bendera Persib di kawasanTegalega Kota Bandung, Jumat, 22 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Di tengah hiruk-pikuk persiapan bobotoh menyambut Persib menjadi juara Super League 2025/2026, ada pedagang kecil yang diam-diam ikut menggantungkan harapan pada kemenangan ini.

Dari penjual jersey, bendera, hingga lapak dadakan musiman, euforia sepak bola memberi mereka sesuatu yang sederhana namun berarti. Dagangan lebih laku, otomotais cuan pun bertambah.

Salah satunya deretan lapak dadakan di sisi jalan di kawasan Otista hingga menuju Tegalega, Kota Bandung. Biru mendadak jadi warna yang paling mudah ditemukan. Jersey Persib bergantung rapat di depan toko, bendera berkibar di pinggir trotoar, sementara klakson kendaraan bersahut-sahutan bersama obrolan soal pertandingan terakhir.

Teriakan “kaosan dikaosan”, “yu Persib juara dijerseyan”, dan “Persib Maung Bandung” menggaung di sepanjang jalan. Sore ini tampak jelas rasa tak sabar warga untuk berpesta, konvoi, dan menyambut “lebarannya” orang Bandung.

Bandung belum resmi berpesta. Namun suasananya sudah terasa seperti perayaan.

Bukan hanya bobotoh yang sibuk menghitung peluang juara, para pedagang atribut pun ikut menunggu hasil pertandingan dengan rasa deg-degan masing-masing.

Bagi Kelvin, riuh persiapan juara Persib bukan sekadar urusan trofi, melainkan momen "lebaran" yang melipatgandakan rezeki di lapak jerseynya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Bagi Kelvin, riuh persiapan juara Persib bukan sekadar urusan trofi, melainkan momen "lebaran" yang melipatgandakan rezeki di lapak jerseynya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Di salah satu lapak, Kelvin (21), pedagang jersey asal Bandung, terlihat sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti.

Tumpukan jersey dewasa, baju anak, hingga atribut lain memenuhi tokonya.

“Sebenernya saya mah memang jualan jersey dari dulu, bukan baru sekarang. Jersey, sepatu, kadang atribut lain juga ada. Cuma ya sekarang karena lagi rame Persib mau juara, otomatis orang-orang nyarinya ke atribut Persib semua,” katanya.

Menurut Kelvin, lonjakan pembeli sebenarnya sudah mulai terasa sejak pertandingan melawan Persija beberapa waktu lalu. Namun beberapa hari menjelang laga terakhir, suasananya berubah jauh lebih ramai.

“Dari lawan Persija juga udah mulai rame. Tapi sekarang mah beda. Hari ini malah paling rame. Orang datang terus. Kalau hari biasa mah beda pisan,” ujarnya.

Ia menunjuk salah satu produk yang paling cepat habis. Bukan jersey pemain, melainkan baju jersey anak.

“Yang paling laku sekarang malah baju jersey anak. Kalau lagi begini yang banyak beli justru orang tua. Kalau hari-hari biasa mah anak kecil,” kata Kelvin.

Harga atribut di lapaknya bervariasi, mulai Rp35 ribu hingga Rp120 ribu. Dalam sehari, ia mengaku bisa menjual sekitar 30 potong barang saat momen seperti ini.

“Omzet mah sudah pasti naik jauh dibanding hari biasa. Alhamdulillah. Kalau Persib juara ya sudah pasti ngaruh lagi. Orang-orang makin ramai, makin tahu tempat jualan di sini,” katanya.

Meski persaingan dagang makin ketat karena lapak atribut mendadak bermunculan di banyak titik, Kelvin menganggap itu bagian dari momentum.

“Persaingan pasti ketat. Kadang saling bantu, kadang ya tergantung pembelinya aja. Kalau masuk ke sini ya rezeki sini, kalau ke sana ya rezeki sana. Yang penting mah jualan jalan,” ujarnya sambil tertawa.

Namun di balik optimisme soal pertandingan, ada satu hal yang justru ia khawatirkan. Bukan soal peluang menang atau kalah.

“Kalau pertandingan mah saya percaya Persib. Yang saya takutin mah bobotoh kalau udah turun ke lapang semua, bisi jadina kumaha,” katanya.

Saat diminta menggambarkan suasana Bandung menjelang Persib juara dalam satu kalimat, jawabannya spontan.

“Lebaran. Ini mah lebarannya Bandung.”

Tak jauh dari sana, Erik (23), pedagang asal Garut, berdiri di balik tumpukan bendera Persib berbagai ukuran.

Berbeda dengan Kelvin yang memang sehari-hari berjualan jersey, Erik mengaku hadir khusus karena momen ini.

“Musiman. Setahun sekali, Persib mau juara mah pasti ada perayaan. Ya sudah, jualan bendera,” katanya singkat sambil tertawa.

Ia biasanya berjualan buah di kawasan tersebut. Namun ketika Persib mendekati gelar juara, lapaknya berubah total.

“Kalau Persib mau juara mah pasti jualan beginian. Udah tiap tahun. Sekarang kan momentum lagi,” ujarnya.

Erik hanya menjual bendera. Ukurannya beragam, dengan harga mulai Rp25 ribu hingga sekitar Rp80 ribu. Hari itu menjadi hari pertamanya membuka lapak. Meski baru mulai, belasan bendera sudah terjual.

“Baru hari ini jualan. Tapi lumayan lah. Ada sekitar sepuluhan yang keluar. Mudah-mudahan sampai Minggu makin rame,” katanya.

Modal jualannya pun terbilang mendadak.

“Modal dadakan ini mah,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Bagi Erik, jualan atribut Persib bukan semata soal mencari untung, tetapi juga soal membaca denyut kota. Saat Bandung sedang bersiap berpesta, peluang ekonomi ikut bergerak.

“Kalau Persib juara mah mudah-mudahan makin ramai jualannya,” katanya.

Ia tak terlihat terlalu cemas menghadapi pertandingan terakhir.

“Percaya. Udah yakin,” ucapnya mantap.

Bagi Erik, Persib bukan sekadar klub sepak bola. Ia sempat terdiam ketika ditanya arti Persib baginya, lalu menjawab pendek sambil tersenyum.

Hatena lah.”

Hatena artinya bahasa hati. Kalimat sederhana yang mungkin cukup mewakili banyak orang Bandung. Sebab di kota ini, Persib sering kali tak lagi berdiri sebagai klub sepak bola semata. Ia tumbuh menjadi identitas, ruang emosi, dan alasan orang asing saling menyapa di jalan.

Suryana baru kali ini membeli jersey Persib untuk merayakan kemenangan Maung Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Suryana baru kali ini membeli jersey Persib untuk merayakan kemenangan Maung Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Di tengah hiruk-pikuk lapak biru itu, Suryana (36) datang sebagai salah satu pembeli. Hari itu ia membeli jersey Persib untuk pertama kalinya.

“Karena euforianya. Karena hattrick. Karena sudah dipastikan juara lah,” katanya.

Meski baru pertama kali membeli jersey, kecintaannya pada Persib tak perlu dipertanyakan.

“Persib mah segalanya. Bahasa hatena lah,” ujarnya.

Ia mengaku suasana Bandung terasa berbeda menjelang momentum juara.

Beda pisan ayeuna mah. Kerasa. Kota jadi hidup, karena rek merayakan,” katanya.

Bagi Suryana, keberadaan pedagang atribut yang tiba-tiba memenuhi kawasan Otista bukan sesuatu yang mengganggu. Justru sebaliknya. Menurutnya, sepak bola sedang memberi napas ekonomi bagi banyak orang.

“Persib itu ngaruh ke UMKM. Biasanya mungkin sepi, sekarang jadi rame. Orang jualan kebantu ku Persib,” katanya.

Soal pertandingan terakhir, ia terdengar santai. Tak ada rasa terlalu cemas.

“Optimis. Pasti meunang. Urang nonton nobar aja besok,” ujarnya.

Ketika ditanya kalau Persib resmi juara, jawabannya sederhana.

“Bersyukur.”

Menjelang malam, lapak-lapak biru di Otista masih ramai didatangi pembeli. Jersey terus dicoba, bendera terus dibentangkan, obrolan soal skor pertandingan terus berulang dari satu sudut ke sudut lain.

Di Bandung, Persib memang lebih dari klub sepak bola.

Ia bisa mengubah jalanan menjadi pasar, membuat ekonomi rakyat bergerak, menghidupkan pedagang musiman, mempertemukan orang-orang asing dalam obrolan yang sama, bahkan membuat kota terasa seperti sedang bersiap menyambut hari raya.

Atau meminjam kata Kelvin:

“Persib mau juara teh… ini mah lebarannya Bandung.”

News Update

Beranda 23 Mei 2026, 08:49

Persib di Ambang Juara, Pedagang Kecil Otista Bersiap "Lebaran"

Euforia Persib menuju juara membawa berkah bagi pedagang kecil di Otista. Penjual jersey dan bendera ikut panen rezeki dari ramainya warga menyambut pesta juara.

Deretan lapak penjual jersey dan bendera Persib di kawasanTegalega Kota Bandung, Jumat, 22 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 19:17

Senayan Bergema untuk Persib Sejak 1995 dan Kini 2026 

Kemenangan Persib Bandung selangkah lagi menuju juara Liga Super Indonesia 2026 membuat kenangan mendekat.

Sutiono Lamso dan Kekey Zakaria menjadi pahlawan kemenangan Persib pada partai final di Stadion Senayan, Jakarta. (Sumber: Tabloid Tribun Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 18:07

Gaya Hidup Demi 'Eksposur': Puncak Komedi Finansial dan Cara Waras biar Gak Tekor

Hemat pangkal kaya itu mutlak, tapi di zaman sekarang, hemat itu butuh mental baja!

Kini, media sosial menjadi panggung global, tempat siapa pun bisa menampilkan diri, membentuk citra, dan menarik perhatian. (Sumber: Pexels/RDNE Stock project)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 17:19

Lebaran Haji Tempo Dulu

Hari Raya Idul Adha pada tempo dulu lebih dikenal dengan nama Lebaran Haji.

Artikel pada salah satu koran yang terbit tahun 1936. (Sumber: Delpher.nl)
Beranda 22 Mei 2026, 15:02

Hutan di Papua Selatan yang Dincar untuk PSN Seluas 3,5 Juta Lapangan Sepakbola Standar FIFA

Film dokumenter Pesta Babi menyoroti 2,5 juta hektare hutan Papua yang masuk proyek pangan dan energi, setara 3,5 juta lapangan bola.

Tayangan di film Pesta Babi. (Sumber: Jubi TV)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 13:08

Urban Legend Rel Kereta Api: Bukan Setannya yang Budeg tapi Manusianya yang Bebal

Kadang manusia lebih setan dari setan itu sendiri. Satu tindakan impulsif atas pilihan pribadi sering kali justru mengkambinghitamkan mahluk di dunia lain.

Kereta Rel Listrik (KRL). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: TyewongX)
Wisata & Kuliner 22 Mei 2026, 11:14

Jelajah Pesona Green Canyon Karawang, Sungai Jernih di Tengah Tebing Lumut Hijau

Green Canyon Karawang menawarkan sungai jernih, tebing lumut hijau, canyoning, dan suasana alam sejuk di kawasan Pangkalan.

Green Canyon Karawang. (Sumber: KCIC)
Komunitas 22 Mei 2026, 08:47

Cara Anti Leumpunk Club Susur Sudut Tersembunyi Kota Bandung Pakai GPS Sungut dan Modal Tawa

Menatap Bandung dari gang sempit bersama Anti Leumpunk Club. Modal tanya warga dan saling ledek, jalan kaki 8 km jadi ruang sehat yang penuh tawa.

Ayu dan Meiyama bersama rekannya di Anti Leumpunk Club di Lapangan Saparua, Kamis 21 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 08:35

Buku, Keluarga, dan Literasi

Buku menjadi jendela dunia yang pertama kali dikenalkan dari rumah, sebelum anak mengenal ruang belajar yang lebih luas, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat.

Seseorang sedang asyik membaca (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Beranda 21 Mei 2026, 21:21

Ekosistem Digital Kian Bising, Media Lokal Didorong Kembali ke Publik

Media lokal didorong kembali mengutamakan kepentingan publik di tengah ancaman AI, hilangnya trafik klik, dan maraknya buzzer di ruang digital.

Pembukaan Jateng Media Summit 2026, Kamis (21/5/2026). (Sumber: Suara.com | Foto: Budi Arista Romadhoni)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 20:34

Reformasi Dibungkam, Otoritarianisme Gaya Baru Bangkit Kembali

Pembatalan sepihak kegiatan peringatan 28 Tahun Reformasi di Jakarta bukan lagi sekadar persoalan administrasi hotel.

Peringatan 28 Tahun Reformasi 98 di Jakarta. (Foto: Dokumen pribadi)
Beranda 21 Mei 2026, 19:31

Papua Bukan Tanah Kosong, Tapi Terus Dianggap Tanah Tanpa Suara

Film Pesta Babi memperlihatkan Papua dari sudut yang jarang terlihat: ketakutan, kehilangan tanah, dan pembangunan yang meninggalkan luka.

Hofni Sibetai mahasiswa asal Papua menyampaikan pandangannya seusai nobar Pesta Babi di Pusat Studi Bahasa Jepang Universitas Padjadjaran, Rabu 20 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 19:03

Malam Jum’at Bukan Sekadar Baca Yasin: Menyelami Kedalaman Ritual Spiritual Warga NU

Ritual kebanyakan warga Nu membaca yasin pada malam jumat sudah menjadi sebuat tradisi

Seorang warga Bandung sedang membaca Alquran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 17:17

Cintapada, Padasuka, Padaasih, Toponim yang Merekam Kekayaan Alam dan Kekhawatiran

Kata 'pada' terdapat dalam berbagai kata dan sering terkait dengan makna alam, tempat, atau daerah.

Kampung Cipadakati di Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Peta: Google maps)
Wisata & Kuliner 21 Mei 2026, 16:00

Jelajah Kuliner Roti Bandung, dari Bakery Viral Kekinian hingga Toko Jadul Legendaris

Bandung punya banyak bakery populer, mulai dari artisan sourdough modern hingga toko roti jadul dengan resep yang hampir tidak berubah.

Ilustrasi roti hits di Bandung.
Ayo Biz 21 Mei 2026, 15:38

Ketika QRIS Jadi ‘Game Changer’ Ekosistem Pembayaran Nasional, UMKM Terbantu Signifikan

QRIS adalah game changer dalam ekosistem pembayaran nasional.

Pegawai Cikopi Mang Eko saat melayani konsumen di Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Linimasa 21 Mei 2026, 14:48

Dari Tragedi Sampah ke Konservasi, Wajah Baru Eks TPA Leuwigajah

Dua dekade setelah longsor maut 2005, eks TPA Leuwigajah kini dijadikan area konservasi di Cimahi.

Lahan eks TPA Leuwigajah. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 12:20

Ketika Reformasi Mulai Bergulir

Di tengah tekanan Orde Baru yang masih terasa, pers mulai tampil lebih berani.

Sejumlah surat kabar menyoroti gelombang demonstrasi pada era Reformasi Mei 1998. (Sumber: Surat kabar Kedaulatan Rakyat dan Berita Buana | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 09:21

Siswa Tahun 1980-an adalah Generasi Tangguh

Ketangguhan para siswa tahun 1980-an adalah jawaban dalam menangani bebagai permasalahan generasinya.

Ilustrasi siswa. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 08:32

Bandung Review, Membangun Kesadaran Kolektif

Hegemoni sosial seharusnya menjadi semangat untuk membangun kesadaran kolektif, dengan mengadopsi nilai-nilai lokal seperti someah, silih asah, silih asih dan silih asuh untuk membangun kota inklusif

Keramaian kawasan Cikapundung Bandung yang menjadi salah satu pusat aktivitas kota. (Foto: Agus Wahyudi)