Ketika QRIS Jadi ‘Game Changer’ Ekosistem Pembayaran Nasional, UMKM Terbantu Signifikan

6 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Pegawai Cikopi Mang Eko saat melayani konsumen di Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Pegawai Cikopi Mang Eko saat melayani konsumen di Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.ID – Tak dapat dipungkiri, kemunculan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) membawa dampak positif secara nasional bagi kelancaran niaga di Indonesia. Di sudut roastery kopi di Arcamanik, Bandung Timur, Muchtar Koswara (yang akrab dipanggil Mang Eko) aktif memakainya. Di gang sempit Cicadas, Ani Andriyani sibuk memastikan puluhan driver ojek online yang antre di depan gerainya terlayani cepat, juga menggunakan merchant QRIS.

Dua pelaku usaha itu berjibaku dengan dua produk yang berbeda. Tetapi keduanya menjadi bukti hidup dari sebuah klaim yang kini makin sulit dibantah: bahwa QRIS bukan sekadar alat bayar. Menurut Dewi Hestiningrum S., Regional CEO BRI Regional Office Bandung (Region 9), QRIS adalah sesuatu yang jauh lebih strategis dari itu.

"QRIS adalah game changer dalam ekosistem pembayaran nasional. QRIS bukan hanya alat pembayaran, tetapi juga pintu masuk bagi inklusi keuangan UMKM ke layanan perbankan yang lebih luas, termasuk pembiayaan," ujar Dewi kepada Ayobandung.id (21/5/2026).

Cikopi Mang Eko dan Ani (Dimsum Inmons) mungkin tidak pernah menggunakan frasa seperti itu. Namun tanpa mereka sadari, merekalah yang sedang membuktikannya, dalam satu transaksi demi satu transaksi lainnya, setiap hari.

Ketika Teknologi Sudah Terasa seperti Hal Biasa

Muchtar Koswara pemiliki Cikopi Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Muchtar Koswara pemiliki Cikopi Mang Eko. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Dari cara Mang Eko berbicara soal alat-alat digital yang ia gunakan sehari-hari,ia tidak menyebutnya sebagai "transformasi digital". Ia tidak menggunakan kata-kata teknis. Baginya, QRIS adalah "mudah". BRImo adalah "lengkap". Mesin EDC adalah "cepat cairnya".

"Penggunaannya mudah, pencairannya cepat dibandingkan bank lain. Satu hari bisa tiga kali pencairan," ujar Mang Eko, (17/5/2026).

Tiga kali pencairan dalam sehari. Bagi usaha yang perputaran modalnya bergantung pada kecepatan arus kas (apalagi setelah ia melewati titik paling berat dalam hidupnya) angka itu bukan sekadar fitur. Ia adalah napas.

Ekosistem digital yang ia pilih pun sederhana dalam tampilannya: merchant QRIS, mesin EDC, dan aplikasi BRImo. Tiga instrumen dari BRI yang bekerja dalam satu sistem terhubung. QRIS untuk menerima pembayaran pelanggan retail yang datang langsung ke tokonya. EDC untuk transaksi kafe-kafe B2B yang membeli 3 hingga 200 kilogram kopi per bulan. BRImo untuk memantau mutasi rekening setiap pagi.

Sederhana. Tapi di balik kesederhanaan itu, ada sebuah roastery dengan lebih dari 50 kafe sebagai pelanggan tetap, produksi 1,2 hingga 1,86 ton kopi per bulan, dan jalur ekspor ke Malaysia.

Pun bagi Ani yang memulai Dimsum Inmons dari sebuah gang kecil di Cicadas. Hari-hari awal penuh dengan kekhawatiran yang terasa kecil tapi nyata: driver ojek online yang terlalu lama nongkrong antre di depan rumahnya karena proses transaksi yang lambat. Kini, di enam gerai aktif Dimsum Inmons, antrean itu mengalir rapi. Cashless, cepat, tercatat otomatis.

"Manfaat yang paling dirasakan adalah proses pembayaran menjadi lebih efisien, mengurangi penggunaan uang tunai, mempercepat antrean pelanggan, serta membantu pencatatan transaksi usaha menjadi lebih rapi dan transparan," tutur Ani, (19/5/2026).

Momentum itu yang membuat kebutuhan terhadap sistem transaksi lebih modern menjadi mendesak. Dan pilihan Ani jatuh pada merchant QRIS BRI sebagai tulang punggung seluruh gerainya.

"Kami memilih QRIS BRI karena proses transaksinya praktis, cepat, dan mudah digunakan baik oleh tim operasional maupun pelanggan. Selain itu, jaringan dan layanan BRI yang luas membuat kami merasa lebih nyaman dan terpercaya dalam mendukung transaksi usaha sehari-hari," jelas Ani.

Menariknya, Dimsum Inmons hingga kini belum menggunakan mesin EDC. Dan Ani tidak merasa itu sebagai kekurangan. Ssatu kode QR sudah cukup untuk menggerakkan roda bisnis enam gerainya dengan omzet tidak kurang dari Rp 350 juta per bulan.

Dua Jalan dalam Satu Ekosistem Perbankan

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung yang lahir dari sebuah gang kecil Cicadas. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung yang lahir dari sebuah gang kecil Cicadas. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Mang Eko dan Ani tiba di titik yang sama lewat jalan yang berbeda. Mang Eko masuk melalui kebutuhan arus kas yang kritis. Digitalisasi hadir bukan sebagai pilihan visioner, melainkan sebagai solusi pragmatis dari seseorang yang baru saja bangkit dari titik paling bawah. Ani masuk melalui komunitas dan pendampingan (dari Rumah BUMN ke BRIncubator) dan QRIS menjadi konsekuensi logis dari perjalanan itu.

Tapi hasilnya serupa. Keduanya kini menjalankan usaha dengan infrastruktur digital yang bekerja begitu mulus hingga tidak lagi terasa seperti "teknologi". Ia terasa seperti hal yang memang sudah seharusnya ada.

Posisi Ani bahkan unik: ia bukan hanya merchant pengguna QRIS, tapi juga konsumen aktifnya dalam kehidupan sehari-hari.

"Ya, secara personal saya juga menggunakan aplikasi BRImo dan cukup sering memanfaatkan fitur QRIS dalam aktivitas sehari-hari. Saya memilih BRImo karena aplikasinya praktis, mudah digunakan, dan membantu kebutuhan transaksi menjadi lebih cepat tanpa harus membawa uang tunai," ungkap Ani.

Mang Eko pun mengandalkan BRImo untuk hal serupa: mengelola keuangan harian dari satu aplikasi, mulai dari memantau pesanan kafe, mengatur stok, hingga mengawasi arus kas. 

"Aplikasinya sangat lengkap dan mudah untuk digunakan," katanya singkat.

Di balik kesederhanaan penilaian itu tersimpan sesuatu yang lebih dalam: kepercayaan seorang pengusaha yang tahu betul harga dari sistem yang tidak bisa diandalkan. Dan apa yang mereka rasakan itu sejalan persis dengan yang dicatat Dewi Hestiningrum dari sisi institusi.

"BRImo saat ini menjadi bagian dari gaya hidup nasabah kami. Nasabah kini dapat mengelola keuangan, membayar tagihan, membeli produk asuransi, hingga berinvestasi — seluruhnya dalam satu genggaman, 24 jam tanpa henti. BRImo bukan sekadar aplikasi mobile banking, tetapi telah menjadi gerbang utama interaksi nasabah dengan BRI," ujar Dewi.

***

Kedua kisah ini memperlihatkan sesuatu yang jarang masuk dalam laporan atau siaran pers tentang digitalisasi UMKM: bahwa transformasi paling nyata tidak selalu datang dalam bentuk program besar atau investasi teknologi mahal.

Ia datang dalam bentuk notifikasi suara ketika pembayaran masuk. Dalam bentuk pencairan dana tiga kali sehari. Dalam bentuk antrean ojek yang mengalir rapi karena tidak ada lagi hitung-hitungan uang kembalian.

Mang Eko bahkan pernah menyuarakan harapan agar ada soundbox (alat yang mengonfirmasi pembayaran lewat suara) agar ia tidak perlu terus memantau layar ponsel di tengah kesibukan roasting. Ia mungkin belum mengetahuinya, tapi BRI sudah punya jawabannya: fitur voice notification di aplikasi BRI merchant, yang hadir tanpa biaya tambahan dan tanpa perangkat keras terpisah.

Angka-angka di balik ekosistem ini pun berbicara sendiri. Pada kuartal I 2026, BRI mencatat merchant aktif mencapai 323.700 dengan volume transaksi tumbuh 26,5% secara tahunan. Khusus QRIS, volume transaksi melonjak 76% dan jumlah transaksi meningkat 86,7% secara year-on-year menjadi 253 miliar transaksi hanya dalam tiga bulan pertama 2026.

Tapi pertumbuhan angka itu bukan tanpa tantangan. Dewi mengakui bahwa transformasi digital perbankan menyimpan dua sisi yang harus dijaga sekaligus.

"Tantangan terbesarnya ada dua hal yang saling berkaitan. Pertama, menjaga keseimbangan antara akselerasi teknologi dan tingkat literasi digital masyarakat. Jika teknologi melaju jauh lebih cepat dari kesiapan pengguna, maka risiko eksklusi justru meningkat. Kedua, memitigasi risiko keamanan siber yang terus berkembang, termasuk modus social engineering yang semakin canggih," ujar Dewi.

Karena itulah, bagi BRI, QRIS tidak pernah berdiri sendiri. Ini merupakan pintu masuk— bukan titik akhir—menuju ekosistem yang lebih luas: dari pencatatan transaksi yang rapi, ke rekam jejak keuangan yang terbangun, ke akses pembiayaan yang semakin mudah dijangkau.

Dimsum Inmons sudah merasakannya. Cikopi Mang Eko sudah membuktikannya. Dan keduanya punya harapan yang searah untuk perjalanan ke depan.

"Ke depannya, kami berharap inovasi digital dari BRI terus berkembang, khususnya dalam mendukung UMKM agar semakin mudah mengelola transaksi, laporan penjualan, hingga integrasi dengan sistem bisnis yang lebih modern," ujar Ani.

Sementara Mang Eko, dari roastery-nya di Arcamanik, terus menyangrai biji kopi dari Puntang, Papandayan, dan Cikurai; dan mengirimkannya ke kafe-kafe di Bandung, ke luar kota, bahkan ke Malaysia. Dengan infrastruktur digital di punggungnya yang bekerja begitu senyap, hingga ia tidak pernah merasa perlu menyebutnya sebagai "transformasi".

Baginya, itu hanya cara kerja yang normal; dan itulah, justru, tanda bahwa digitalisasi telah benar-benar berhasil. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 07:43

Kenapa Maling di Negeri Ini Tidak Takut CCTV?

Di tengah ekonomi yang semakin sulit kejadian kriminalitas semakin meningkat terutama untuk pencurian sepedah motor di Bandung

Gambaran curanmor di CCTV (Sumber: Istimewa)
Sejarah 07 Okt 2026, 19:44

Mengenang Persitiwa Perobekan Bendera Belanda di Bandung

Bandung memiliki catatan sejarah penting dalam penyebaran teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945 lalu. Para pemuda radio Bandung adalah para pelaku utamanya proses pengambilalihan sejumlah fa

Gedung Bekas Bank DENIS tempat peristiwa perobekan Bendera Belanda terjadi di Bandung. Gedung ini sekarang menjadi gedung bank bjb
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 18:59

Inisiatif Rail Clinic Berbasis RS Dustira, Terobosan Faskes di Jawa Barat

RS Dustira dan Stasiun Cimahi. Keduanya berada sangat berdekatan dan memiliki sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari perkembangan Kota Cimahi

Rumah sakit Dustira dilihat dari skibridge Stasiun Cimahi (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 17:27

Punahnya Satwa yang Dilindungi Akibat Bencana Ekologis

Alam sebagai habitat harus dijaga agar bisa diminimalisir bencana ekologis. Perluasan untuk peningkatan ekonomi seharusnya mempertimbangkan kondisi hutan, di mana habitat satwa menjaga keseimbangan.

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nyonyofoto)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 15:54

Pesona Garut (Bagian 2): 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Kabupaten Garut tak hanya dikenal lewat bentang alamnya yang memikat, tetapi juga keberagaman warisan kulinernya yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.

Dodol menjadi salah satu oleh-oleh paling ikonik dari Garut. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 14:41

Persamaan dan Perbedaan antara Sejarah, Tarikh, Riwayat, Hikayat, Babad, Mitologi dan Legenda

Bedah tuntas persamaan dan perbedaan sejarah, tarikh, riwayat, hikayat, babad, mitologi dan legenda. Pahami makna, karakteristik serta posisinya dalam literatur historis dan kultural Nusantara.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 13:10

Tebang Pilih Hukum: Investigasi Keracunan 88 Seoul vs Keracunan MBG

Hukum yang ada di Indonesia seringkali tebang pilih karena tajam ke bawah dan tumpul ke atas salah satunya investigasi keracunan.

Restoran 88 Seoul Paskal (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 12:36

DNA Sunda di Tanah Banyumas

Berkisah tentang folklore dan toponimi yang mengaitkan keterkaitan Banyumas dengan Sunda.

DNA Sunda di Tanah Banyumas (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 07 Okt 2026, 10:54

Tarif Parkir Rp65.000 dan Negara yang Kalah di Pinggir Jalan Kota Bandung

Kasus tari parkir Rp65.000 di Jalan Diponegoro, Bandung, seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan siapa oknumnya. Pelaku, jika terbukti melanggar, tentu harus ditindak.

Petugas sedang melakukan pemeriksaan bus pariwisata. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Beranda 07 Okt 2026, 09:42

Halte BRT di Tengah Jalan Satu Arah, Solusi atau Biang Macet Baru di Ahmad Yani Cicadas?

Pembangunan halte BRT di tengah Jalan Ahmad Yani picu kekhawatiran macet. Warga dan pengamat mengkritik desain, Pemkot pilih percepat proyek, sementara perencana ungkap manfaat BRT.

Sejumlah pekerja menyelesaikan proyek pembangunan halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Kota Bandung, Selasa 6 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)