Canting dan Ekosistem yang Belum Sempurna, Sebuah Harapan dari Kampung Kreatif Batik Difabel

4 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan
Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.ID – Ada yang belum berubah di Kampung Kreatif Batik Difabel,  UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, meski banyak hal di sekelilingnya sedang berubah pesat. Canting masih bergerak. Motif masih lahir. Kain masih dijemur di bawah matahari yang sama. Pun fasilitas, masih belum bisa dimaksimalkan akibat efisiensi anggaran.

Pun jika ayobandung.id mau jujur dari tiga pertemuan dengan orang-orang berkaitan dengan tempat ini, ada jarak yang masih menganga antara apa yang sudah dicapai GHD dan apa yang seharusnya bisa mereka capai jika ekosistem di pendukungnya bekerja lebih baik.

Apa yang ayobandung.id paparkan ini bukan keluhan. Hanya kenyataan (dan sekilas harapan) yang perlu dibaca dengan mata terbuka.

Tiga Suara, Satu Gambar

Nurdin (di kursi roda), penyandang polio, pertama kali datang ke GHD pada 2020. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Nurdin (di kursi roda), penyandang polio, pertama kali datang ke GHD pada 2020. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Nurdin datang ke GHD pada 2020 tanpa banyak harapan. Penyandang polio asal Cianjur itu hanya ingin mencoba. Enam tahun kemudian, ia adalah koordinator pewarnaan sekaligus instruktur bimbingan mental bagi rekan-rekannya. Ia yang dulu mempertanyakan mengapa Tuhan menciptakannya seperti itu, kini menjadi orang yang membantu orang lain menjawab pertanyaan yang sama.

"Saya pribadi, selain mendapatkan ilmu saya mendapatkan rasa bersyukur tentang kehidupan saya di sini," katanya. "Pas datang saya ke sini, maka saya tertampar dengan omongan saya sendiri."

Nurdin bukan pengecualian. Ia adalah pola. Di GHD, transformasi semacam itu terjadi berulang dari peserta pelatihan menjadi tenaga profesional, dari orang yang dibantu menjadi orang yang membantu. Anggi Jatnika pun pola yang sama. Begitu pula puluhan nama lain yang tidak sempat masuk ke dalam tulisan ini.

Andina Rahayu melihat pola itu setiap hari. Sebagai Kepala UPTD GHD, ia adalah orang yang paling tahu betapa mahalnya harga setiap transformasi itu; dan betapa rapuhnya ekosistem yang menopangnya.

"Sekarang karena efisiensi, kendala terberatnya pemasaran. Pesanan berkurang setengahnya," ujarnya. Kalimat itu pendek, tapi beratnya tidak. Di baliknya ada jam kerja yang berkurang, ada penghasilan yang menyusut, ada semangat yang harus terus dijaga meski pesanan sepi.

Andina Rahayu, Kepala UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Andina Rahayu, Kepala UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Andina bermimpi GHD menjadi destinasi wisata edukasi. Ia sudah melobi pemerintah Cimahi. Ia membayangkan area seluas 2,8 hektare itu hidup, ada mobil wisata yang berkeliling, ada turis yang belajar mencanting, ada cerita yang dibawa pulang ke negeri yang jauh. Mimpi itu belum terwujud. Tapi ia tidak berhenti melobi.

Di sisi lain kota berbeda, A. Radinal Pramudha Sirat menjalankan Rumah BUMN Bandung dengan keyakinan bahwa pemberdayaan yang sejati tidak dimulai dari modal, melainkan dari kapasitas.

"Kalau kami tidak fokus ke pinjaman, kami fokus ke pemberdayaan skill-nya," tegasnya. Sistem empat kelas yang diterapkan (dari UMKM yang belum punya laporan keuangan hingga yang siap ekspor) adalah peta jalan yang jelas. GHD sedang berjalan di peta itu, pelan tapi pasti.

A. Radinal Pramudha Sirat CEO Rumah BUMN Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
A. Radinal Pramudha Sirat CEO Rumah BUMN Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

***

Tiga suara itu, dari Nurdin, Andina, dan Radinal. Tiga posisi yang berbeda. Tetapi jika digabungkan, ketiganya membentuk satu gambar yang sama: sebuah tempat yang luar biasa, yang sedang berjuang keras untuk bertahan dalam sistem yang belum sepenuhnya berpihak padanya.

Batik GHD sudah dikenakan TWICE. Sudah masuk Italia. Sudah terpajang di dekat pintu masuk Rumah BUMN Bandung. Tapi mesin jahit yang dibutuhkan para penjahitnya belum juga ada. CSR yang diharapkan Andina belum datang. Ruang pamer yang representatif masih dalam daftar tunggu.

Kondisi mereka bukan paradoks yang aneh. Akan tetapi realita yang sangat umum di ekosistem pemberdayaan Indonesia: prestasi bisa melompat jauh, tapi infrastruktur pendukungnya sering tertinggal di belakang.

Apa yang membuat GHD berbeda bukan karena mereka sudah selesai dengan masalah itu. Tapi karena mereka tidak berhenti bergerak meski masalah itu belum selesai. Nurdin tetap datang setiap hari. Andina tetap melobi. Radinal tetap membuka pintu bagi siapa pun yang mau masuk dan belajar.

Ekosistem yang sempurna mungkin belum ada. Tapi ekosistem yang terus berusaha, itu yang sedang terjadi di sini.

Andina pun bersyukur, sekalipun berharap bisa mendapatkan bantuan CRS untuk mengoptimalkan GHD, ia setidaknya telah menerima pembinaan dengan manfaat yang istimewa.

"Sebagai mitra UMKM saya senang sekali, ya. Kita ikut pelatihan AI (artificial intelligence), kemudian juga tentang manajemen juga. Jadi dari BRI itu pelatihannya sangat bermanfaat sekali. Mungkin nanti bisa dapat sertifikat juga dari BRI, kalau semisalnya BRI mau membantu anak-anak difabel ini dengan membuat pelatihan untuk mereka juga," tutup Andina penuh harapan baik untuk Kampung Kreatif Batik Difabel. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 16:03

Mengapa Sejarah Kelam G30S Harus Tetap Dibaca?

Seyogianya sejarah harus tetap dibaca, meski itu adalah sejarah kelam. Sejarah bukanlah alat untuk menebar kebencian, tetapi dari sejarah kita belajar. Pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila.

Poster rilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1984 oleh Perusahaan Produksi Film Negara. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 13:53

Mengapa Hari Tani dan Reforma Agraria Penting bagi Warga Bandung?

Petani dan usaha pertanian di Kota Bandung masih ada dan terus bertahan,

Hamparan sampah di kota Bandung dan petani yang sedang beraktivitas (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 09:25

Kenapa Biaya Publish Scopus Berbeda? Simak Alasannya!

Biaya publikasi jurnal Scopus sering disalahpahami akademisi. Pahami siapa yang menetapkan biayanya, cara cek tarif resmi, dan cara menyusun anggaran publikasi yang realistis.

Ilustrasi akademisi sedang menyusun jurnal ilmiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 08:34

Pelecehan terhadap Perempuan di Ruang Keagamaan

Pelecehan seksual terhadap perempuan tidak menutup kemungkinan terjadi di ruang-ruang keagamaan.

Perempuan seringkali menjadi satu-satunya korban yang harus menanggung traumanya juga beban sosial yang seharusnya ditanggung oleh para pelaku. (Sumber: pexels)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 20:44

KDM Muncul di 'Financial Times' dan Sinyal Radar Kekuasaan Global

Ketika Financial Times mengangkat KDM dalam salah satu reportasenya, yang terjadi bukan sekadar peliputan, melainkan juga sinyal ihwal adanya potensi perubahan lanskap politik.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 19:26

Dari Wilayah Ilir ke Ulu: Sejarah Jembatan Ampera Peninggalan Soekarno

Jembatan Ampera merupakan jembatan yang menghubungi kedua wilayah yaitu Ulu dan Ilir yang terpisah oleh Sungai Musi. Jembatan ini menyimpan berbagai sejarah yang tersimpan di dalamnya.

 (Sumber: Balai Diklat Keuangan Palembang | Foto: Angga Sunda Prima)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 17:23

Ikon Bandung Pilihan Saya: 'Toko Buku Djawa'

Toko Buku Djawa bukan sekadar toko buku lama di Braga, tetapi juga bagian dari memori masa kecil dan jejak perubahan budaya kawasan tersebut.

Etalase toko buku Djawa di Jalan Braga no. 79, Kota Bandung. (Sumber: Flickr | Foto: fatmanabilla)