Canting dan Ekosistem yang Belum Sempurna, Sebuah Harapan dari Kampung Kreatif Batik Difabel

4 menit baca
Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Senin 11 Mei 2026, 14:31 WIB
Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

AYOBANDUNG.ID Ada yang belum berubah di Kampung Kreatif Batik Difabel,  UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, meski banyak hal di sekelilingnya sedang berubah pesat. Canting masih bergerak. Motif masih lahir. Kain masih dijemur di bawah matahari yang sama. Pun fasilitas, masih belum bisa dimaksimalkan akibat efisiensi anggaran.

Pun jika ayobandung.id mau jujur dari tiga pertemuan dengan orang-orang berkaitan dengan tempat ini, ada jarak yang masih menganga antara apa yang sudah dicapai GHD dan apa yang seharusnya bisa mereka capai jika ekosistem di pendukungnya bekerja lebih baik.

Apa yang ayobandung.id paparkan ini bukan keluhan. Hanya kenyataan (dan sekilas harapan) yang perlu dibaca dengan mata terbuka.

Tiga Suara, Satu Gambar

Nurdin (di kursi roda), penyandang polio, pertama kali datang ke GHD pada 2020. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Nurdin (di kursi roda), penyandang polio, pertama kali datang ke GHD pada 2020. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Nurdin datang ke GHD pada 2020 tanpa banyak harapan. Penyandang polio asal Cianjur itu hanya ingin mencoba. Enam tahun kemudian, ia adalah koordinator pewarnaan sekaligus instruktur bimbingan mental bagi rekan-rekannya. Ia yang dulu mempertanyakan mengapa Tuhan menciptakannya seperti itu, kini menjadi orang yang membantu orang lain menjawab pertanyaan yang sama.

"Saya pribadi, selain mendapatkan ilmu saya mendapatkan rasa bersyukur tentang kehidupan saya di sini," katanya. "Pas datang saya ke sini, maka saya tertampar dengan omongan saya sendiri."

Nurdin bukan pengecualian. Ia adalah pola. Di GHD, transformasi semacam itu terjadi berulang dari peserta pelatihan menjadi tenaga profesional, dari orang yang dibantu menjadi orang yang membantu. Anggi Jatnika pun pola yang sama. Begitu pula puluhan nama lain yang tidak sempat masuk ke dalam tulisan ini.

Andina Rahayu melihat pola itu setiap hari. Sebagai Kepala UPTD GHD, ia adalah orang yang paling tahu betapa mahalnya harga setiap transformasi itu; dan betapa rapuhnya ekosistem yang menopangnya.

"Sekarang karena efisiensi, kendala terberatnya pemasaran. Pesanan berkurang setengahnya," ujarnya. Kalimat itu pendek, tapi beratnya tidak. Di baliknya ada jam kerja yang berkurang, ada penghasilan yang menyusut, ada semangat yang harus terus dijaga meski pesanan sepi.

Andina Rahayu, Kepala UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Andina Rahayu, Kepala UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

Andina bermimpi GHD menjadi destinasi wisata edukasi. Ia sudah melobi pemerintah Cimahi. Ia membayangkan area seluas 2,8 hektare itu hidup, ada mobil wisata yang berkeliling, ada turis yang belajar mencanting, ada cerita yang dibawa pulang ke negeri yang jauh. Mimpi itu belum terwujud. Tapi ia tidak berhenti melobi.

Di sisi lain kota berbeda, A. Radinal Pramudha Sirat menjalankan Rumah BUMN Bandung dengan keyakinan bahwa pemberdayaan yang sejati tidak dimulai dari modal, melainkan dari kapasitas.

"Kalau kami tidak fokus ke pinjaman, kami fokus ke pemberdayaan skill-nya," tegasnya. Sistem empat kelas yang diterapkan (dari UMKM yang belum punya laporan keuangan hingga yang siap ekspor) adalah peta jalan yang jelas. GHD sedang berjalan di peta itu, pelan tapi pasti.

A. Radinal Pramudha Sirat CEO Rumah BUMN Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
A. Radinal Pramudha Sirat CEO Rumah BUMN Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)

***

Tiga suara itu, dari Nurdin, Andina, dan Radinal. Tiga posisi yang berbeda. Tetapi jika digabungkan, ketiganya membentuk satu gambar yang sama: sebuah tempat yang luar biasa, yang sedang berjuang keras untuk bertahan dalam sistem yang belum sepenuhnya berpihak padanya.

Batik GHD sudah dikenakan TWICE. Sudah masuk Italia. Sudah terpajang di dekat pintu masuk Rumah BUMN Bandung. Tapi mesin jahit yang dibutuhkan para penjahitnya belum juga ada. CSR yang diharapkan Andina belum datang. Ruang pamer yang representatif masih dalam daftar tunggu.

Kondisi mereka bukan paradoks yang aneh. Akan tetapi realita yang sangat umum di ekosistem pemberdayaan Indonesia: prestasi bisa melompat jauh, tapi infrastruktur pendukungnya sering tertinggal di belakang.

Apa yang membuat GHD berbeda bukan karena mereka sudah selesai dengan masalah itu. Tapi karena mereka tidak berhenti bergerak meski masalah itu belum selesai. Nurdin tetap datang setiap hari. Andina tetap melobi. Radinal tetap membuka pintu bagi siapa pun yang mau masuk dan belajar.

Ekosistem yang sempurna mungkin belum ada. Tapi ekosistem yang terus berusaha, itu yang sedang terjadi di sini.

Andina pun bersyukur, sekalipun berharap bisa mendapatkan bantuan CRS untuk mengoptimalkan GHD, ia setidaknya telah menerima pembinaan dengan manfaat yang istimewa.

"Sebagai mitra UMKM saya senang sekali, ya. Kita ikut pelatihan AI (artificial intelligence), kemudian juga tentang manajemen juga. Jadi dari BRI itu pelatihannya sangat bermanfaat sekali. Mungkin nanti bisa dapat sertifikat juga dari BRI, kalau semisalnya BRI mau membantu anak-anak difabel ini dengan membuat pelatihan untuk mereka juga," tutup Andina penuh harapan baik untuk Kampung Kreatif Batik Difabel. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Bandung 08 Jun 2026, 19:34

Menilik Eksistensi Dawa Rempah, Racikan Minuman Herbal Tradisional dengan Sentuhan Modern

Gaya hidup sehat turut menjadi tren kekinian yang santer digandrungi oleh masyarakat di masa kini. Salah satu caranya lewat menjaga kesehatan dan kebugaran.

Dawa Rempah (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:31

Hari Laut Sedunia, Masih Adakah Prospek Galangan Kapal di Jabar?

Masih sedikit industri galangan kapal di Jabar. Padahal provinsi ini memiliki sebelas pelabuhan yang bisa digunakan sebagai prasarana galangan kapal.

Ilustrasi Hari Laut Sedunia 2026, pemandangan Pantai Jayanti di Kecamatan Cidaun. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Muhammad Ikhsan)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:01

Polemik Penggusuran Perumahan Warga di Anyer Dalam akibat Pembangunan oleh KAI

Perumahan Warga di Anyer Dalam digusur untuk pembangunan yang dilakukan oleh oleh KAI merupakan kejadian yang terjadi 5 tahun yang lalu.

Foto Grafiti Bekas 2021 di Tembok Menyusuri di Jalan Serang menyusuri Jalan Anyer Dalam, 17 April 2026. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hikmat Nur Hidayat)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 17:29

Polemik SPPG Sukabumi: Antara Harapan Gizi dan Alarm Nyata bagi Gen Z

Tercatat sudah tiga kali gelombang unjuk rasa terjadi di pertengahan tahun ini.

Dokumentasi demo SPPG Sukabumi
Beranda 08 Jun 2026, 17:04

Bandung Pernah Jadi Kiblat Musik Indie, Kini Para Musisi Berusaha Merebutnya Kembali

Bandung pernah menjadi salah satu pusat musik independen Indonesia. Melalui Bandung Music Indie, para musisi kini berupaya membangun kembali ruang bersama dan semangat kolektif yang mulai memudar.

Atmosfer hangat dan akrab mewarnai gelaran Bandung Music Indie saat musisi lintas generasi dan penikmat musik bertemu dalam satu ruang yang sama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 16:53

Gedung BAT Cirebon, Pusat Industri yang Kini Hidup sebagai Cagar Budaya Kota

Bukan hanya bangunan kosong, Gedung BAT Cirebon merupakan saksi bisu kejayaan industri kolonial di Kota Cirebon.

Potret Gedung BAT Cirebon saat ini (Sumber: siceppot.cirebonkota.go.id)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 15:07

Gor Saparua sebagai Ruang Ekspresi Anak Muda dan Panggung Musik Kota Bandung

Satu tempat yang sekarang banyak dipakai orang untuk mencurahkan keringat selama 1990-an-2000-an.

Gor Saparua Bandung. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Zikri)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 12:00

Perempuan yang Menjerit-Membuncah Keheningan Malam Kota Bandung

Bahkan di keheningan malam pun perempuan selalu ramai dengan isi kepalanya.

Suasana alam di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: KOSONGDANSATU)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 10:41

Ibu Kota di Bawah Hujan Plastik: Bagaimana Peran Pemerintah dalam Mengatasinya?

Hujan mikroplastik di Ibu Kota dan pernah menjadi berita hangat pada 2025 akhir tahun.

Banjir akibat hujan deras di Jakarta. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:43

Fenomena Geologi Mata Air Asin dalam Memori Kolektif dan Toponimi Desa Ciuyah

Fenomena mata air asin di Desa Ciuyah, Kab. Sumedang, berasal dari air laut purba (connate water).

Kondisi terkini situs mata air asin purba (connate water) di Desa Ciuyah, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, saat didokumentasikan pada 28 Maret 2026 pukul 10.50 WIB. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Fatia Siti Biladi)
Wisata & Kuliner 08 Jun 2026, 09:42

Panduan Wisata Sea World: Dunia Bawah Laut yang Bisa Dijelajahi dalam 3 Jam

Panduan lengkap Sea World Ancol mulai dari harga tiket, Antasena Tunnel, feeding shark, Jellyfish Sphere, hingga tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Sea World Indonesia. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:02

Rompi "Psikolog Klinis" di Puskesmas: Niat Baik yang Menabrak Aturan

Pemasangan rompi bertuliskan "Psikolog Klinis" di puskesmas menuai sorotan. Di balik niat baik meningkatkan layanan, ada aturan profesi yang dipertanyakan.

Seorang warga berkonsultasi dengan psikolog di Puskesmas Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Rabu 13 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 08:26

Wujudkan Optimasi Pajak Bumi dan Bangunan dengan Drone  

Mengelola Pajak Bumi dan Bangunan dengan drone sangat efektif untuk melakukan pemetaan udara, pemutakhiran data blok, dan penilaian properti secara presisi.

Demo drone produksi Iter Aero di Kabupaten Subang terkait dengan bidang perkebunan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 19:05

Bangsa Penghafal: Ketika Pancasila Dipisahkan dari Tradisi Berpikir yang Melahirkannya

Pancasila tidak lahir dari hafalan. Ia lahir dari pergulatan pemikiran yang panjang. Ironisnya, bangsa yang mewarisinya justru semakin terbiasa menghafal daripada memahami.

Bung Karno (Foto: Dokumen Historia.ID)
Bandung 07 Jun 2026, 18:19

Dari K-Pop hingga Kuliner, Mengintip Cara Bandung dan Korea Selatan Ubah Hubungan Kultural Jadi Peluang Bisnis Kreatif

Dari kegemaran menikmati musik hingga tren produk kecantikan, adaptasi kultural ini perlahan tapi pasti membuka ruang-ruang usaha baru yang melibatkan para pelaku industri kreatif lokal.

“Oullim Korea: Rhythm & Recipes” yang memadati 23 Paskal Shopping Center, Bandung, pada 5–7 Juni 2026.
Bandung 07 Jun 2026, 15:04

Dari Tren Jadi Cuan, Kisah Mawaru Matcha Ekspansi Ratusan Gerai Lewat Minuman Kalcer

Gelombang hype yang mengakar dari tren makanan hingga minuman kalcer masa kini seperti dessert, kopi, sampai matcha greentea, kian menarik respons positif masyarakat.

Mawaru Matcha. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 07 Jun 2026, 09:41

Riwayat Cibiru, Pusat Kesenian Hingga Kemacetan

Cibiru dikenal karena kemacetannya, tetapi kawasan ini juga menjadi rumah bagi benjang dan wayang golek.

Kondisi kemacetan di Cibiru, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 07 Jun 2026, 08:33

Jelajah Yogyakarta untuk Pemula: Destinasi, Kuliner, dan Itinerary Pilihan

Panduan lengkap untuk pertama kali ke Yogyakarta, mulai dari transportasi, tempat menginap, wisata budaya, hingga kuliner khas yang wajib dicoba.

Tugu Jogja. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 07:09

Menelusuri Jejak Bioskop Capitol di Sukabumi

mengenai bioskop capitol di sukabumi, yang pernah menjadi pusat hiburan masyarakat ditahun 90-an

Bioskop Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. (Sumber: Dokumentasi Penulis)