AYOBANDUNG.ID – Ada yang belum berubah di Kampung Kreatif Batik Difabel, UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, meski banyak hal di sekelilingnya sedang berubah pesat. Canting masih bergerak. Motif masih lahir. Kain masih dijemur di bawah matahari yang sama. Pun fasilitas, masih belum bisa dimaksimalkan akibat efisiensi anggaran.
Pun jika ayobandung.id mau jujur dari tiga pertemuan dengan orang-orang berkaitan dengan tempat ini, ada jarak yang masih menganga antara apa yang sudah dicapai GHD dan apa yang seharusnya bisa mereka capai jika ekosistem di pendukungnya bekerja lebih baik.
Apa yang ayobandung.id paparkan ini bukan keluhan. Hanya kenyataan (dan sekilas harapan) yang perlu dibaca dengan mata terbuka.
Tiga Suara, Satu Gambar

Nurdin datang ke GHD pada 2020 tanpa banyak harapan. Penyandang polio asal Cianjur itu hanya ingin mencoba. Enam tahun kemudian, ia adalah koordinator pewarnaan sekaligus instruktur bimbingan mental bagi rekan-rekannya. Ia yang dulu mempertanyakan mengapa Tuhan menciptakannya seperti itu, kini menjadi orang yang membantu orang lain menjawab pertanyaan yang sama.
"Saya pribadi, selain mendapatkan ilmu saya mendapatkan rasa bersyukur tentang kehidupan saya di sini," katanya. "Pas datang saya ke sini, maka saya tertampar dengan omongan saya sendiri."
Nurdin bukan pengecualian. Ia adalah pola. Di GHD, transformasi semacam itu terjadi berulang dari peserta pelatihan menjadi tenaga profesional, dari orang yang dibantu menjadi orang yang membantu. Anggi Jatnika pun pola yang sama. Begitu pula puluhan nama lain yang tidak sempat masuk ke dalam tulisan ini.
Andina Rahayu melihat pola itu setiap hari. Sebagai Kepala UPTD GHD, ia adalah orang yang paling tahu betapa mahalnya harga setiap transformasi itu; dan betapa rapuhnya ekosistem yang menopangnya.
"Sekarang karena efisiensi, kendala terberatnya pemasaran. Pesanan berkurang setengahnya," ujarnya. Kalimat itu pendek, tapi beratnya tidak. Di baliknya ada jam kerja yang berkurang, ada penghasilan yang menyusut, ada semangat yang harus terus dijaga meski pesanan sepi.

Andina bermimpi GHD menjadi destinasi wisata edukasi. Ia sudah melobi pemerintah Cimahi. Ia membayangkan area seluas 2,8 hektare itu hidup, ada mobil wisata yang berkeliling, ada turis yang belajar mencanting, ada cerita yang dibawa pulang ke negeri yang jauh. Mimpi itu belum terwujud. Tapi ia tidak berhenti melobi.
Di sisi lain kota berbeda, A. Radinal Pramudha Sirat menjalankan Rumah BUMN Bandung dengan keyakinan bahwa pemberdayaan yang sejati tidak dimulai dari modal, melainkan dari kapasitas.
"Kalau kami tidak fokus ke pinjaman, kami fokus ke pemberdayaan skill-nya," tegasnya. Sistem empat kelas yang diterapkan (dari UMKM yang belum punya laporan keuangan hingga yang siap ekspor) adalah peta jalan yang jelas. GHD sedang berjalan di peta itu, pelan tapi pasti.

***
Tiga suara itu, dari Nurdin, Andina, dan Radinal. Tiga posisi yang berbeda. Tetapi jika digabungkan, ketiganya membentuk satu gambar yang sama: sebuah tempat yang luar biasa, yang sedang berjuang keras untuk bertahan dalam sistem yang belum sepenuhnya berpihak padanya.
Batik GHD sudah dikenakan TWICE. Sudah masuk Italia. Sudah terpajang di dekat pintu masuk Rumah BUMN Bandung. Tapi mesin jahit yang dibutuhkan para penjahitnya belum juga ada. CSR yang diharapkan Andina belum datang. Ruang pamer yang representatif masih dalam daftar tunggu.
Kondisi mereka bukan paradoks yang aneh. Akan tetapi realita yang sangat umum di ekosistem pemberdayaan Indonesia: prestasi bisa melompat jauh, tapi infrastruktur pendukungnya sering tertinggal di belakang.
Apa yang membuat GHD berbeda bukan karena mereka sudah selesai dengan masalah itu. Tapi karena mereka tidak berhenti bergerak meski masalah itu belum selesai. Nurdin tetap datang setiap hari. Andina tetap melobi. Radinal tetap membuka pintu bagi siapa pun yang mau masuk dan belajar.

Ekosistem yang sempurna mungkin belum ada. Tapi ekosistem yang terus berusaha, itu yang sedang terjadi di sini.
Andina pun bersyukur, sekalipun berharap bisa mendapatkan bantuan CRS untuk mengoptimalkan GHD, ia setidaknya telah menerima pembinaan dengan manfaat yang istimewa.
"Sebagai mitra UMKM saya senang sekali, ya. Kita ikut pelatihan AI (artificial intelligence), kemudian juga tentang manajemen juga. Jadi dari BRI itu pelatihannya sangat bermanfaat sekali. Mungkin nanti bisa dapat sertifikat juga dari BRI, kalau semisalnya BRI mau membantu anak-anak difabel ini dengan membuat pelatihan untuk mereka juga," tutup Andina penuh harapan baik untuk Kampung Kreatif Batik Difabel. (*)
