Bandung dan Mereka yang Pulang dalam Lelah

3 menit baca
Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan
ekanan hidup di kota membuat banyak masyarakat terus berjalan, meski lelah perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. (Sumber: Freepik)
ekanan hidup di kota membuat banyak masyarakat terus berjalan, meski lelah perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. (Sumber: Freepik)

Kota Bandung sering dikenal sebagai kota yang nyaman untuk ditinggali—udara yang sejuk, deretan tempat hiburan, serta suasana yang dekat dengan anak muda membuat kota ini selalu terasa ramai. Dari pagi hingga malam, Bandung seakan tidak pernah benar-benar berhenti berjalan. Di tengah padatnya rutinitas, banyak orang tetap menjalani hari meski lelah telah menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Di balik keramaian itu, ada ribuan orang yang menjalani hari dengan cara-caranya sendiri. Ketika sebagian orang menikmati suasana kota, sebagian lainnya sudah memulai pekerjaan sejak pagi demi memenuhi kebutuhan hidup. Jalanan di kota ini banyak dipenuhi oleh para pekerja, pedagang, pengemudi ojek online, hingga mahasiswa yang harus membagi waktu antara kuliah dan mencari penghasilan tambahan sambil mencoba bertahan hidup di kota perantauan.

Bandung terasa sesak bukan hanya karena jalanannya yang padat, tetapi juga karena tekanan hidup yang terus berjalan di dalamnya. Banyak orang harus menjalani rutinitas yang melelahkan setiap hari demi mempertahankan hidup di kota ini.

Bandung kini bukan hanya tentang tempat untuk menikmati hidup, tetapi juga kota tempat banyak orang berjuang untuk mempertahankan hidupnya. Di tengah biaya hidup yang terus meningkat dan tuntutan kehidupan perkotaan yang semakin besar, bekerja menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Bandung sehari-hari.

Keluarga korban longsor Cisarua menangis usai mendengar informasi salah satu keluarganya ditemukan. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Keluarga korban longsor Cisarua menangis usai mendengar informasi salah satu keluarganya ditemukan. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Kota yang Ramai, tetapi Tidak Ramah bagi Semua Orang

Bandung hampir tidak pernah benar-benar sepi. Bahkan pada malam hari, kendaraan masih memenuhi jalanan, tempat hiburan tetap ramai, dan pusat kota seperti Alun-Alun Bandung masih dipadati masyarakat.

Masih banyak masyarakat kecil yang hidup di sisi kota ini dengan keadaan serba pas-pasan. Sebagian dari mereka harus memikirkan pekerjaan untuk esok hari, mencari tambahan penghasilan, hingga menahan kebutuhan hidup untuk dirinya dan keluarganya yang terus meningkat. Tidak sedikit pula orang yang bekerja dari pagi hingga malam seperti sopir angkot, buruh harian, atau pedagang kecil—hanya untuk memastikan dapur tetap menyala.

Bagi mereka, hidup di Bandung bukan tentang menikmati kota, melainkan bertahan di tengah kerasnya kehidupan perkotaan. Banyak dari mereka pulang saat malam hari dengan tubuh yang lelah, lalu kembali memulai rutinitas yang sama keesokan harinya.

Perkembangan kota yang begitu cepat juga perlahan mengubah cara hidup masyarakatnya. Tempat-tempat modern terus bermunculan, tetapi bersamaan dengan itu biaya tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, dan gaya hidup kota ikut meningkat. Tidak semua orang mampu mengikuti perubahan tersebut dengan mudah.

Di balik perkembangan dan ramainya Bandung, ada banyak masyarakat kecil yang menjadi penopang kehidupan kota ini. Mereka terus bekerja setiap hari, meskipun kehidupan yang dijalani tidak selalu berjalan dengan mudah.

Ketika Rakyat Menopang Kota, tetapi Tidak Selalu Didengar

Bulan Mei ini, kehidupan di Bandung terus berjalan bersama masyarakat kecil yang menjadi pihak paling banyak berkontribusi dalam menjaga kota ini tetap hidup. Para pedagang kaki lima yang mulai berjualan sejak pagi di sisi jalan hingga pasar, pengemudi ojek online berkeliling mencari penumpang, buruh bekerja tanpa mengenal cuaca, hingga petugas kebersihan yang tetap bekerja ketika sebagian orang masih terlelap tidur. Mereka hadir di setiap sudut kota dan menjadi bagian penting dari kehidupan Bandung sehari-hari.

Namun ironisnya, mereka yang paling banyak berkorban dan berjuang demi kehidupan kota ini, justru merekalah yang sering menjadi pihak yang paling jarang diperhatikan. Di saat masyarakat kecil harus memikirkan pekerjaan, biaya hidup, dan kebutuhan keluarga, sebagian pejabat terlihat hidup dengan kenyamanan yang jauh dari keresahan masyarakat kecil. Mereka datang dengan fasilitas, pengawalan, dan penghormatan, sementara rakyat kecil tetap menjalani hidup dengan penuh ketidakpastian tentang hari esok.

Ketimpangan inilah yang perlahan terasa nyata di tengah kehidupan kota. Rakyat terus bekerja demi menjaga kehidupan tetap berjalan, tetapi kesejahteraan yang diharapkan tidak selalu datang bersamaan dengan perjuangan kerja keras itu. Banyak masyarakat yang akhirnya hanya mampu bertahan, bukan benar-benar hidup dengan layak.

Oleh karenanya, Bandung bukan hanya tentang kota yang ramai dan penuh hiburan. Kota ini juga dibangun oleh orang-orang yang setiap hari pulang membawa lelah. Di balik gemerlap dan ramainya Bandung, ada banyak orang yang tetap kembali bangun esok pagi meski lelah terus menjadi bagian dari hidup mereka—agar kota dan kehidupan mereka tetap berjalan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pernando Aigro S
Mahasiswa FH Unpar. Quotes "Jangan takut gagal, karna gagal ga takut kamu"- Leonico Joedo. 🗿

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 23 Jun 2026, 18:54

Panduan Wisata Waduk Jatiluhur, Bendungan Terbesar Indonesia yang jadi Destinasi Favorit

Panduan lengkap Waduk Jatiluhur Purwakarta, mulai dari sejarah bendungan terbesar di Indonesia, aktivitas wisata, kuliner khas, hingga tips berkunjung terbaru.

Waduk Jatiluhur. (Sumber: Disparbud Purwakarta)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 18:11

Penyalin Cahaya: Ketika Kekerasan Seksual tidak Memandang Gender

Kekerasan dan Pelecehan Seksual hari ini tidak memandang gender karena bisa terjadi kepada perempuan maupun laki-laki.

Penyalin Cahaya adalah film yang merepresentasikan kekerasan dan pelecehan seksual yang tidak memandang gender. (Istimewa)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 17:56

Membedah Konsistensi Pesan Promo Launching Brand oleh Perusahaan Sportswear di Berbagai Platform

Kolaborasi Nike dan NAKED Copenhagen menghadirkan produk yang menggabungkan unsur fashion dan sneakers dalam satu desain yang unik.

Diambil dari Website Resmi Nike
Ayo Biz 23 Jun 2026, 17:38

'Ngeureuyeuh' Membawa Athiya Cake dari Dapur Rumahan Jadi Pemberi Lapangan Kerja

Kini, di pertengahan 2026, dapur Rika tidak lagi sepi seperti dahulu. Pesanan mengalir hampir setiap hari.

Produk Athiya Cake di kompleks perumahan Mega Mutiara Tasik Regency, Kabupaten Tasikmalaya, (20/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Sejarah 23 Jun 2026, 16:25

Hikayat Ngamplang, dari Pusat Pemulihan Paru Pertama Hingga Pemberi Julukan Swiss Van Java

Dibangun pada 1912 sebagai sanatorium, Ngamplang kemudian berkembang menjadi wisata yang mendunia.

Salah satu sudut bangunan Sanatorium Ngamplang Garut yang kini berubah fungsi jadi lapangan golf. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 16:04

Trotoar, PKL, dan Keadilan Ruang Kota

Kebutuhan trotoar, PKL yang tertata dan berkelanjutan hingga adanya keadilan ruang kota.

Warga berjalan di trotoar kawasan Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, Kamis 4 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 15:11

Optimasi Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Industri Kendaraan Listrik

Audit teknologi tidak hanya terkait dengan transfer teknologi namun juga bertujuan untuk memperluas lapangan kerja yang layak secara berkesinambungan.

Ilustrasi kendaraan listrik. (Sumber: Pexels | Foto: Mad Knoxx)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 14:55

Kegagalan Penataan Kota, Menumbuhkan Tata Jalanan

Di balik semrawutnya Pasar Cicadas, membuat PKL terpaksa menutup akses toko. Namun justru memunculkan simbiosis sebagai jalan tengah keduanya tetap hidup.

Sejumlah spanduk penolakan pembangunan jalur BRT yang dipasang oleh para pedagang terlihat di depan lapak PKL, Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, (17/12026). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 14:37

Fenomena Live Shopping, Mengapa Mahasiswa Sulit Menahan Godaan Belanja?

Menilik fenomena live shopping dari sudut pandang mahasiswa. Mengapa diskon temporal dan live shopping begitu adiktif hingga memicu gaya hidup konsumtif?

ilustrasi live shopping. (Sumber: gemini)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 12:26

World Cup TVRI

Selain tahun ini, TVRI pernah melakukannya pada tahun 1970.

Bola Piala Dunia 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: UKinUSA)
Wisata & Kuliner 23 Jun 2026, 11:51

Panduan Wisata Kota Lama Semarang: Riwayat Jejak Kolonial di Jantung Kota Pelabuhan

Kota Lama Semarang menawarkan pengalaman berjalan kaki di antara bangunan kolonial, museum, galeri seni, dan kuliner legendaris Jawa Tengah.

Kota Lama Semarang. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 11:40

Jejak Keemasan Majalah Vista

Jejak Keemasan Majalah Vista: Menelusuri Dunia Hiburan Era 1980-90-an

Pebulutangkis nasional Hastomo Arbi menghiasi sampul depan Majalah Vista edisi Juni 1985. (Sumber: Koleksi Majalah Vista milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 10:48

Menelisik Bisnis Jastip Fashion, Antara Peluang Ekonomi dan Celah Kebocoran Pajak

Jastip fashion membuka peluang ekonomi, tetapi berisiko menimbulkan kebocoran pajak jika tidak diatur.

Ilustrasi jastip fashion. (Sumber: gemini.ai | Foto: gemini.ai)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 09:50

Ngertaken Bumi Lamba di Gunung Tangkuban Parahu

Ritual Upacara Ngeurtakeun Bumi Lamba di Tangkuban Parahu adalah upacara adat Sunda untuk menjaga harmoni manusia dan alam, sarat makna spiritual dan kebersamaan lintas budaya.

Ngertaken Bumi Lamba di Gunung Tangkuban Parahu. (Sumber: Penulis | Foto: Rio Praja)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 08:06

Menelusuri Jejak Selabintana, Hotel Tua di Sukabumi dari Masa Kolonial

Sekilas sejarah mengenai Hotel Selabintana, hotel legendaris dari masa kolonial yang masih bertahan hingga masa kini

Hotel Selabintana sekitar Tahun 1928 (Foto: Sumber: Digital Collection KITLV Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 20:07

Depresi pada Remaja dan Urgensi Aplikasi Konseling

Sejumlah remaja berisiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mental karena kehidupan mereka, stigma, dan kurangnya akses terhadap layanan berkualitas.

Ilustrasi Talkshow Kesehatan Jiwa Happiness Project di Cafe Halaman, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Farits)
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 18:52

Ketika THR Berubah Menjadi Aset

Meninjau kebijakan PT ANTAM (Persero) Tbk meluncurkan emas tematik edisi Idulfitri 1447H/2026 bertema “Gempita Hari Raya”.

Emas Batangan Edisi Idulfitri 1447H.
Ayo Biz 22 Jun 2026, 17:24

Menempuh Jarak Ratusan Kilometer untuk Melihat Teladan dari 2 Desa BRILian

Dua desa di Kabupaten Sumedang membuktikan bahwa teladan ekonomi desa tidak butuh keistimewaan, justru hanya perlu sistem yang kuat untuk memutar roda nasib.

Siluet dari Ilham Fadilah, Direktur BUMDes Cisurat, di tepian Waduk Jatigede, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, (11/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Wisata & Kuliner 22 Jun 2026, 16:55

Wisata Tembok Ratapan Solo, Destinasi Viral Satire Digital

Fenomena Tembok Ratapan Solo bermula dari satire di Google Maps dan berkembang menjadi arus kunjungan publik ke rumah Jokowi di Solo.

Tembok Ratapan Solo
Ayo Netizen 22 Jun 2026, 16:49

Cantik yang Mengkhianati: Ketika Aksesori Menjadi Ancaman

Risiko ganda logam saat MRI: luka bakar arus radiofrekuensi dan distorsi gambar pemindaian.

Lepuhan pada kulit pasien akibat arus induksi saat pemindaian MRI. (Foto: Radiology Business)