Merawat Kebersamaan, Meraih Kebahagiaan

7 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Sejumlah siswa Al Irsyad Satya Islamic School mengikuti tadarus Al-Quran di Masjid Al-Irsyad pada Kamis, 21 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah siswa Al Irsyad Satya Islamic School mengikuti tadarus Al-Quran di Masjid Al-Irsyad pada Kamis, 21 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Bada salat ashar yang cerah itu, waktu terasa berjalan lebih pelan dari biasanya. Saat asyik membaca buku lawas Psikologi Kebahagiaan karya Komarudin Hidayat terbitan Noura tahun 2013. 

Maha karya dari hasil pengalaman dan renungan Mas Komar sapaan akrabnya tentang identitas diri sejati anak manusia, virus-virus yang merusak kebahagiaan, dan ikhtiar bersama dalam membangun (menciptakan) pola pikir (tindakan) bahagia.

Justru ngaderes malah terhenti oleh dering telepon. Dari seberang, suara istri terdengar ringan dan tegas, “Bah, uih jam baraha?”

“Tabuh 16.30 WIB,” kujawab singkat.

Setengah lima kurang sepuluh menit. Cukup jadi pengingat ada yang lebih penting dari sekadar menuntaskan bacaan. Dengan merapikan meja, mematikan komputer untuk segera bergegas, terus berpamitan kepada kawan dan satpam yang masih berjaga, “Tipayun nya. Markipul. Assalamualaikum.”

Mari melakukan tadarus Al-Quran di Masjid Al-Irsyad pada Kamis, 21 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Lelah Jadi Berkah 

Sudah hampir sepekan, aktivitas pulang berubah dan lebih cepat. Tak lagi selepas Magrib seperti biasa. Awal bulan selalu membawa tanggung jawab laporan-laporan yang harus dituntaskan, dari segala rutinitas yang tak bisa ditunda.

Semua itu dilakukan ada rindu yang menggebu diam-diam menunggu untuk segera dipenuhi. Ya berkumpul bersama, bercerita, canda tawa, sambil makan bareng. 

Sesampainya di rumah, pintu dibuka dengan suasana yang berbeda. Tak ada panggilan dari Kakang anak ketiga (4 tahun) yang bikin semangat dan selalu ada cerita luar biasa, hanya Aa Akil, anak kedua (11 tahun), menyambut dengan wajah berbinar. “Bah bawa koran...!

Belum sempat dijawab. Udah menyeroscos, "Alhamdulillah Aa lulus munaqosah!” ucapnya, sedikit terburu-buru, seolah-olah kabar baik itu tak sabar untuk segera sampai.

Tanpa banyak kata, kupeluk bocah kelas lima SD itu dengan erat, hangat, lama. Seakan-akan seluruh lelah hari itu luruh begitu saja. “Alhamdulillah, nuhun, A,” ucapku pelan, sambil mengusap kepalanya.

Di momen seperti itu, kebahagiaan terasa sederhana, tidak muluk-muluk dan tak rumit. Justru hadir dari usaha yang terus dijaga, dari doa yang tak putus, ada peran kecil yang dijalankan dengan penuh kesungguhan. Anak terus berusaha belajar siang malam, dan ibu yang setia memberi dorongan, motivasi tanpa lelah biar jadi berkah.

“Sudah nyebatkeun nuhun ka Mbu?” tanyaku pelan.

“Udah, Bah,” jawabnya singkat, sambil menggandengku agar masuk ke dalam rumah.

"Hore, hari Sabtu wisuda Tahfiz juz 30!" dengan lantang berteriak.

Tangannya masih sibuk mengambil koran untuk mencari halaman favoritnya, rubrik tunggu dulu dan gelora sebagai Bobotoh sejati Persib. Hidup Maung Bandung!

Pikiranku justru melayang dan teringat pada halaman buku yang tadi sempat terbuka dan dicatat. Ihwal kebahagiaan bukan hanya tentang pencapaian, tetapi soal siapa yang kita peluk setelahnya, dan kepada siapa rasa syukur itu harus kembali kita tujukan. Alhamdulillah ya Rab! Nuhun Gusti!

Indeks Kebahagiaan Indonesia 2025 (Sumber: Instaagram @goodstats.id, @kompascom, @dataindonesia.id)
Indeks Kebahagiaan Indonesia 2025 (Sumber: Instaagram @goodstats.id, @kompascom, @dataindonesia.id)

Mengeja Indeks (Paradoks) Kebahagiaan 

Berdasarkan data World Happiness Report 2025, Indonesia berada di peringkat ke-83 dari 143 negara dengan skor kebahagiaan 5,617. NKRI menempati posisi ke-6 di ASEAN, di bawah Singapura, Vietnam, Malaysia, dan Thailand. (Kompas, 28 Januari 2026 dan Kompas.com, 27 Maret 2026, 18:30 WIB)

Meskipun secara global berada di posisi itu, studi lain dari Global Flourishing Study menunjukkan kebahagiaan tinggi di tingkat masyarakat, terutama di Maluku Utara dan Kalimantan Utara menonjol sebagai wilayah paling bahagia di Bumi Pertiwi ini. 

Hasil Survei BPS, Indeks Kebahagiaan Indonesia pada 2021 naik 0,8 menjadi 21,79 dibanding 70,69 di 2017. Pengukuran Indeks Kebahagiaan 2021 menggunakan metode baru, dengan kontribusi 2017 menjadi tahun dasar ukuran kebahagiaan. Pendekatan yang digunakan adalah kepuasan hidup, afeksi (perasaan), dan eudaimonia (makna hidup). Maluku Utara masih menjadi provinsi paling bahagia dengan skor 76,34, disusul Kalimantan Utara 76,33 dan Maluku 76,28. (Tirto.id 8 Mei 2025 16:00 WIB)

Mari bandingkan dengan data goodstats yang bersumber dari BPS 2021 sebelum pemekaran 38 Provinsi menyimpulkan Indeks Kebahagiaan Indonesia tahun 2022 tercatat mencapai 71,49, diukur melalui 3 dimensi, kepuasan, perasaan, dan makna hidup. Dimensi ini lebih komprehensif dibandingkan 2014 yang memakai kepuasan hidup saja.

Bila dilihat, Sulawesi dan Maluku menjadi wilayah paling bahagia dengan 6 provinsi masuk 10 besar. Untuk tiga provinsi dengan skor lebih rendah adalah Banten (68,08), Bengkulu (69,74), dan Papua (69,87).

Data ini menunjukkan bahwa kebahagiaan masyarakat Indonesia cukup beragam antarwilayah karena faktor sosial, budaya, dan lingkungan. (https://goodstats.id/ 21 September 2025 Pukul 15.47 WIB)

Padahal, Indonesia unggul dalam aspek kedermawanan dan kebebasan memilih (peringkat 24), tapi berbanding terbalik yang memiliki tingkat ketimpangan kebahagiaan yang cukup tinggi (peringkat 100) dan tantangan dalam harapan hidup sehat. 

Dalam tulisan Ahmad Arif berjudul Paradoks Rakyat ”Bahagia” dijelaskan tingginya angka ”flourishing” Indonesia, sementara indeks kebahagiaan rendah, merupakan manifestasi dari ketahanan moral dan daya tahan rakyat terhadap penderitaan.

Global Flourishing Study justru membongkar paradoks. Ketika Presiden membanggakan skor karakter dan kebajikan, yang dipuji sejatinya adalah daya tahan rakyat yang dipaksa tangguh oleh keadaan serba susah.

Indonesia menempati peringkat pertama dalam hal kedermawanan (generosity), tetapi yang membuat anjlok adalah persepsi korupsi di urutan sangat rendah, yakni 124. Bila indeks flourishing tinggi dipamerkan, mengapa laporan kebahagiaan yang rendah tidak disampaikan?

Ilustrasi berdoa. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ilustrasi berdoa. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Dalam laporan ini komponen kebahagiaan dan kepuasan hidup di Indonesia justru di bawah rata-rata skor flourishing nasional, sehingga ditampilkan sebagai deviasi negatif dalam grafik. Sebaliknya, komponen makna dan tujuan hidup serta karakter dan kebajikan berada di atas rata-rata nasional.

Pola ini menunjukkan, flourishing Indonesia lebih merefleksikan kemampuan manusia untuk bertahan dan memberi makna pada kehidupan yang sulit ketimbang keberhasilan struktur sosial dalam menyediakan rasa aman, adil, dan bahagia.

Untuk masyarakat religius dan komunal seperti Indonesia, skor tinggi untuk makna dan tujuan hidup menjadi masuk akal. Namun dari perspektif sosiologi kritis, hal ini justru problematis.

Pierre Bourdieu mengingatkan ketika ketidakadilan diterima sebagai kewajaran, yang terjadi sebenarnya merupakan kekerasan simbolik. Tingkat flourishing yang tinggi di tengah kemiskinan struktural adalah tanda adaptasi dengan penderitaan, bukan simbol kemajuan.

Meminjam istilah Antonio Gramsci, ini adalah bentuk hegemoni. Rakyat seolah nrimo (menerima kondisi) yang merugikan mereka, karena nilai-nilai moral dan budaya menutupi relasi kuasa yang timpang.

Sosiolog Frantz Fanon menunjukkan, masyarakat pascakolonial kerap menginternalisasi penindasan. Kekerasan struktural yang panjang melahirkan etika bertahan, patuh lebih aman daripada melawan, diam dianggap lebih rasional daripada menuntut.

Sikap nrimo terhadap penderitaan itu menjadi habitus, pola disposisi yang terbentuk oleh sejarah dominasi. Ia melahirkan warga yang bermoral, tetapi tidak berdaulat. Maka paradoks itu muncul, rakyat kuat secara sosial, lemah secara politik.

Parahnya, peran agama, yang sangat dominan di Nusantara. Di satu sisi, agama memberi makna hidup, tetapi tidak otomatis membebaskan. Dalam konteks Indonesia, bahasa kesabaran dan keikhlasan menggantikan tuntutan struktural itu. (Kompas, 28 Januari 2026  07:10 WIB)

tadarus Al-Quran di Masjid Al-Irsyad pada Kamis, 21 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
tadarus Al-Quran di Masjid Al-Irsyad pada Kamis, 21 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Temukan Identitas dan Ketenangan Batin di Tengah Kehidupan

Dalam buku Psikologi Kebahagiaan, Komaruddin Hidayat dijelaskan untuk menemukan identitas diri sejati sebagai jalan menuju kebahagiaan yang substansial, bukan sekadar kesenangan sesaat. Kebahagiaan lahir dari keseimbangan antara kesadaran diri, makna hidup, dan kedekatan spiritual.

Hidup merupakan perjalanan panjang. Kebahagiaan sejati tidak hanya terletak pada pencapaian akhir, melainkan hadir dalam setiap proses kehidupan yang dijalani dengan keyakinan, rasa syukur, dan kesadaran spiritual. Dengan demikian, seseorang dapat menemukan ketenangan batin di tengah dinamika kehidupan.

Terdapat tiga pilar utama yang sangat memengaruhi tingkat kebahagiaan seseorang, yaitu:

- Keluarga. Keharmonisan hubungan keluarga menjadi fondasi emosional yang menghadirkan rasa aman, kasih sayang, dan dukungan dalam kehidupan.

- Pekerjaan tidak semata-mata dipandang sebagai sarana mencari nafkah, tetapi menjadi ruang untuk menemukan makna, kontribusi, dan aktualisasi diri.

- Identitas Diri. Kebahagiaan akan lebih mudah diraih ketika seseorang memahami jati dirinya, mengenali tujuan hidup, serta menyadari posisinya di hadapan Tuhan dan sesama manusia.

Berbagai “virus” mental yang kerap merampas kebahagiaan manusia modern, mulai dari terjebak dalam utang dan gaya hidup berlebihan. Hidup di bawah tekanan, kecemasan, dan rasa takut yang berkepanjangan. Kehilangan jati diri akibat terlalu berorientasi pada materi dan pengakuan sosial.

Kebahagiaan sejati tidak hanya diukur dari pencapaian materi, justru dari kemampuan manusia menemukan makna hidup, menjaga keseimbangan batin, dan membangun hubungan yang sehat dengan Tuhan, diri sendiri, orang lain, dan alam sekitar (lingkungan).

Walhasil, di antara riuhnya aktivitas dunia dan tumpukan kewajiban bekerja untuk mencari nafkah, manusia kerap lupa ihwal rumah bukan sekadar tempat pulang, melainkan ruang tempat makna hidup menemukan bentuknya yang paling jujur, bahagia dan damai. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 12:24

Ayam Bekakak: Eksplorasi Gastronomi, Akar Historis, dan Filosofi Budaya Sunda

Dalam peta kuliner Tatar Pasundan, Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam) bukan sekadar sajian pemuas lapar.

Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam), hidangan ayam panggang utuh khas Tatar Pasundan. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: amrufm)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 11:19

Sesi Cukur Malam

Berkisah pembicaraan dua orang sobat, tukang cukur dan pelanggannya yang seorang dosen. Mereka menggosipkan mengenai kesialan-kesialan nasib karib mereka semasa SMA.

Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)