Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

9 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

  • Buku Masakan Thursina karya Siti Mukmin menjadi salah satu yang paling fenomenal pada masa itu. Sejak terbit pertama kali di awal 1950-an.

  • Pada dekade 1970-an, literatur resep di Indonesia mengalami proses formalisasi melalui institusi pendidikan dan organisasi sosial.

Periode 1950 hingga 1979 di Indonesia bukan sekadar babak awal pascakemerdekaan, melainkan medan tempur kultural untuk mendefinisikan jati diri bangsa. Dalam perspektif sejarah gastronomi, buku resep yang terbit pada era ini bertransformasi menjadi instrumen strategis yang memediasi transisi dari hegemoni kolonial menuju kedaulatan nasional yang mandiri. Meja makan menjadi panggung di mana narasi politik identitas dimainkan.

Sebelum periode ini, literatur kuliner didominasi oleh pengaruh Belanda yang memosisikan selera Eropa sebagai standar tertinggi. Namun, proklamasi kemerdekaan menuntut pemutusan rantai budaya tersebut. Dapur bukan lagi sekadar ruang domestik, melainkan manifestasi kedaulatan pangan. Penulisan resep menjadi upaya sadar untuk menginventarisasi kekayaan agraris Nusantara sebagai pilar "berdiri di atas kaki sendiri".

Semangat dekolonisasi inilah yang memicu ledakan literatur resep pada dekade 1950-an, sebuah fase di mana aroma bumbu lokal mulai menggantikan dominasi mentega dan tepung terigu dalam narasi literatur kita.

Dekade 1950-an: Fondasi Identitas dan Refleksi Ekonomi

Menginjak dekade 1950-an, dunia perbukuan resep masakan di Indonesia menggeliat. Buku Masakan Thursina karya Siti Mukmin menjadi salah satu yang paling fenomenal pada masa itu. Sejak terbit pertama kali di awal 1950-an, buku ini sukses dicetak ulang hingga 21 kali sampai 1981, bahkan belakangan direvisi dan dilengkapi resep baru oleh Dahniar Jatim. Kepopuleran dan kontribusinya pun mendapat apresiasi tinggi ketika resmi diakui oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1954.

Pada dekade pertama kedaulatan penuh Indonesia ini, buku masak hadir tidak sekadar sebagai panduan dapur, melainkan sebagai instrumen "restorasi kultural". Kehadirannya menghidupkan kembali naskah dan tradisi kuliner yang sempat terhenti akibat kelesuan literatur sepanjang Perang Dunia II dan masa revolusi fisik. Lebih dari itu, deretan buku masak pada era ini merefleksikan upaya awal bangsa untuk merajut berbagai fragmen etnik menjadi satu identitas nasional yang hibrida namun tetap autentik.

Jejak transisi tersebut terekam jelas dalam beberapa karya monumental era 1950-an. Terbit di Bandung, Buku Masakan karya W.C. Keuner (1950) hasil terjemahan A. Awal menjadi saksi sosiologis awal kemerdekaan dengan menyandingkan resep Indonesia, Belanda, dan Tionghoa—sebuah potret nyata dari fase di mana pengaruh kolonial masih berkelindan erat dengan semangat nasionalisme yang baru tumbuh.

Dua tahun berselang, Ny. Sitti Nur Zainuddin – Moro merilis buku Nasi dan Sambal-sambalan (1952). Melalui lebih dari 460 resep yang berfokus pada elemen fundamental kuliner lokal, buku ini menegaskan bahwa nasi dan sambal adalah elemen pemersatu yang melintasi batas strata sosial, menghubungkan masyarakat dari pelosok negeri hingga kota besar.

Peran penting perempuan dalam menjaga akar tradisi juga semakin tampak lewat Buku Masakan karya Ny. B. Abdulkadir (1954). Hal yang paling menarik secara historis dari buku ini adalah penyertaan resep Slametan dan Jamu. Sang penulis memberikan legitimasi medis pada jamu dengan mencantumkan bahwa suaminya—seorang dokter berpengalaman praktik selama 50 tahun—mengintegrasikan "obat Jawa" ke dalam pengobatan modern, menciptakan sebuah bentuk sinkretisme antara ilmu pengetahuan dan tradisi di awal masa kemerdekaan.

Tak hanya urusan tradisi dan dapur, buku masak masa itu bahkan bertindak sebagai artefak ekonomi makro. Hal ini terlihat pada buku Membuat ICE CREAM dan PUDDING karya Suryati (1959). Penurunan harga buku yang tercetak pada sampulnya, dari Rp70 menjadi Rp10, bukanlah sekadar diskon komersial, melainkan dampak langsung dari kebijakan Sanering (revaluasi mata uang) pada Agustus 1959. Buku ini menjadi bukti sejarah konkret tentang bagaimana gejolak moneter mampu menyentuh hingga aspek terkecil dalam kehidupan rumah tangga.

Pada akhirnya, pelbagai inisiatif individual di era 1950-an yang berfokus pada pemulihan tradisi ini berhasil meletakkan fondasi kokoh. Jejak-jejak sejarah dalam buku resep tersebut menjadi landasan penting bagi lahirnya proyek dokumentasi kuliner nasional yang berskala sentralistik dan sarat dengan agenda politis pada dekade berikutnya.

Dekade 1960-an: Mustikarasa dan Puncak Nasionalisme Kuliner

Memasuki tahun 1960-an, literatur kuliner mencapai "prestasi tertinggi" melalui proyek negara yang bersifat masif. Dapur tidak lagi dipandang secara atomistik, melainkan sebagai bagian dari ketahanan nasional.

Buku kumpulan resep masakan Mustikarasa terbit pada tahun 1967. Proyek ini bermula dari instruksi Presiden Sukarno kepada Menteri Pertanian, Brigjen dr. Azis Saleh, pada tahun 1960. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Buku kumpulan resep masakan Mustikarasa terbit pada tahun 1967. Proyek ini bermula dari instruksi Presiden Sukarno kepada Menteri Pertanian, Brigjen dr. Azis Saleh, pada tahun 1960. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)

Puncak dari era ini adalah lahirnya buku kumpulan resep masakan Mustikarasa (1967). Proyek ini bermula dari instruksi Presiden Sukarno kepada Menteri Pertanian Brigjen dr. Azis Saleh pada 1960. Visi besar di balik buku ini dirangkum dalam pernyataan tajam Bung Karno: "Negara zonder (tanpa) politik pangan", yang mengisyaratkan bahwa tanpa kedaulatan meja makan, kedaulatan bangsa hanyalah ilusi.

Keterlibatan Hartini Soekarno menjadi kunci penting dalam penyusunan ini. Dengan antusiasme besar, ia mempelopori Festival Makanan Indonesia untuk mencari alternatif pengganti beras dan menguji resep-resep dari penjuru Nusantara. Meski sempat terhambat peristiwa politik 1965, buku setebal 1.123 halaman dengan 1.600 resep ini akhirnya terbit sebagai manifesto politik "Berdikari".

Sebagai kontras, literatur populer seperti Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia Khusus Jawa (Ida S) dan Kursus Kilat Masak2an Tanpa Guru (Djamilah Nurdin, 1960) tetap menjaga narasi domestik. Dengan motto seperti "Masakan seorang isteri dapat memikat tjinta suaminja", buku-buku ini menunjukkan bahwa meski negara bicara tentang kedaulatan pangan, di tingkat akar rumput, dapur tetap menjadi instrumen stabilitas emosional keluarga. Standarisasi domestik ini kemudian berkembang menjadi standarisasi institusional di dekade berikutnya.

Dekade 1970-an: Institusionalisasi dan Diversifikasi Pangan

Pada dekade 1970-an, literatur resep di Indonesia mengalami proses formalisasi melalui institusi pendidikan dan organisasi sosial. Pada era ini, penulisan resep tidak lagi dipandang sekadar sebagai hobi atau dokumentasi pribadi, melainkan telah bertransformasi menjadi bagian penting dari kurikulum pembangunan nasional.

Semangat pergeseran tersebut terekam dalam berbagai penerbitan buku masak yang membawa misi-misi strategis. Pada tahun 1972, Ny. H. Oeis menerbitkan Resep Masakan Kuwe Singkong yang berfokus pada agenda diversifikasi pangan. Buku yang diterbitkan penerbit Al-Ma’arif Bandung ini secara khusus mempromosikan singkong sebagai komoditas lokal yang mampu menjadi substitusi terigu dengan kualitas yang setara secara gastronomi.

Dua tahun kemudian, F. Gouw Tjoe Nio dan S. Ardipradja menyusun Resep Masakan Dapur Sederhana (1974). Buku ini lahir dari hasil praktik selama 12 tahun di Sekolah Kesejahteraan Keluarga Pertama (SKKP) Bandung sebagai langkah standarisasi pedagogis demi menciptakan kesatuan resep di tingkat nasional.

Selanjutnya, buku lain yang sangat populer pada era pertengahan dekade ini adalah dua jilid Pandai Memasak (1975) yang disusun oleh Nyonya Rumah alias Julie Sutarjana. Karya ini menjadi penanda penting bagaimana kepiawaian mengolah hidangan mulai disebarluaskan secara masif dan terstruktur kepada masyarakat luas.

Upaya formalisasi dan edukasi gizi ini juga didorong oleh organisasi sosial serta lembaga pendidikan kejuruan lainnya. Melalui buku Mina Rasa: Kumpulan Masakan Ikan dari Sabang Sampai Merauke (1977), organisasi wanita PERISKATANI (Persatuan Isteri Karyawan Departemen Pertanian) mengusung kampanye gizi dari Sabang sampai Merauke untuk menasionalisasikan konsumsi protein masyarakat melalui pelbagai olahan ikan dan udang.

Buku "Mina Rasa: Kumpulan Masakan Ikan dari Sabang Sampai Merauke" (1977) bertujuan mengusung kampanye gizi guna menasionalisasikan konsumsi protein masyarakat lewat beragam olahan ikan dan udang. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Buku "Mina Rasa: Kumpulan Masakan Ikan dari Sabang Sampai Merauke" (1977) bertujuan mengusung kampanye gizi guna menasionalisasikan konsumsi protein masyarakat lewat beragam olahan ikan dan udang. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)

Pada tahun yang sama, Ny. Tuty Latief menerbitkan Resep Masakan Daerah (1977) yang mendokumentasikan masakan khas dari seluruh penjuru Indonesia guna memenuhi kebutuhan pembelajaran formal di Sekolah Kesejahteraan Keluarga Atas (SKKA) Surabaya.

Secara keseluruhan, analisis terhadap periode ini menunjukkan bahwa keterlibatan sekolah kejuruan seperti SKKP dan SKKA, serta organisasi istri seperti PERISKATANI, bukan sekadar upaya sederhana untuk berbagi resep masakan. Keterlibatan tersebut sejatinya merupakan sebuah proyek teknokrasi yang bertujuan mendefinisikan standar nutrisi serta tata kelola ekonomi rumah tangga yang seragam secara nasional.

Profil Tokoh dan Transisi ke Penulisan Resep Modern

Transisi dunia kuliner Indonesia menuju era profesionalisme ditandai oleh hadirnya tokoh-tokoh visioner yang berhasil mengubah otoritas dapur domestik menjadi sebuah institusi bisnis berdaya pengaruh tinggi. Mereka tidak hanya membagikan resep, tetapi juga membangun industri, membentuk standar baru, dan membawa kepiawaian mengolah makanan ke ranah publik yang lebih luas.

Salah satu pilar utama dalam gerakan ini adalah Julie Sutarjana, yang lebih dikenal dengan nama pena Nyonya Rumah. Selain mengasuh rubrik "Dapur Kita" di harian Kompas dan mengelola bisnis restoran di Bandung, ia juga tercatat memulai kiprahnya di majalah Star Weekly pada tahun 1951.

Julie Sutarjana menjadi jembatan sejarah yang menghubungkan tradisi literatur kuliner era kolonial menuju masa modern. Melalui karya monumentalnya, Belajar Memasak (1978)—yang menghimpun 500 resep multikultural—serta seri Pandai Memasak (1975), Nyonya Rumah membuktikan kepiawaiannya dalam mengintegrasikan kekayaan tradisi kuliner lokal dengan gaya hidup dan kebutuhan praktis masyarakat urban yang kian berkembang.

Langkah profesionalisasi ini semakin diperkuat oleh kehadiran Elly dan Nila Chandra. Dua bersaudara asal Surabaya ini tampil sebagai pionir dalam merintis dan memodernisasi kursus memasak di Indonesia. Elly Chandra mengawali langkahnya dengan membuka kursus masak pada tahun 1971, sementara Nila Chandra berhasil membawa profesi ini ke tingkat yang lebih tinggi.

Popularitas Nila Chandra memuncak hingga namanya tercatat dalam Guinness Book of Records pada tahun 1988 atas prestasinya membuat kue raksasa—sebuah capaian yang kian mengukuhkan posisi seni memasak sebagai ajang kompetensi profesional.

Di balik pesatnya perkembangan ini, pengaruh masyarakat etnis Tionghoa memegang peranan yang tidak bisa dianggap remeh. Karya-karya seperti 50 Chinese Recipes (1957) bahkan membawa dimensi diplomatik yang unik karena diterbitkan sebagai suplemen majalah China Reconstructs. Kehadiran literatur semacam ini menegaskan sebuah fakta historis bahwa sejak dahulu, khazanah kuliner Indonesia selalu bersifat terbuka dan inklusif, dengan mudah menyerap serta menyatukan pelbagai pengaruh luar yang telah berakar kuat di tengah masyarakat.

Evolusi Teknis dan Warisan Budaya Kuliner Nusantara

Evolusi teknis buku resep sepanjang pertengahan abad ke-20 merefleksikan proses modernisasi teknologi serta transformasi pemikiran masyarakat Indonesia. Dari sisi takaran, terjadi pergeseran perlahan dari "takaran rumah tangga" yang relatif tak presisi—seperti cangkir, mangkuk, atau piring—menuju standar gramasi modern yang lebih terukur.

Buku Masakan Aneka Warna (1969) karya Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio yang diterbitkan PN. Balai Pustaka menjadi titik balik penting dalam transisi ini karena mencantumkan dua jenis takaran sekaligus (metrik gram/liter dan takaran gelas/sendok) untuk membantu pembaca beradaptasi.

Penting untuk dicatat, narasi dapur sepanjang era ini konsisten menempatkan wanita sebagai subjek tunggal. Penggunaan istilah populer seperti "Nyonya Rumah" hingga penargetan siswi SKKP menegaskan bertahannya peran gender tradisional dalam urusan domestik, jauh sebelum koki pria mendominasi panggung kuliner publik di akhir abad ke-20.

Peran para perempuan ini tidak bisa dipandang sebelah mata; lewat lembaran kertas sederhana, mereka sejatinya melakukan tindakan politik yang subtil namun mendalam dengan merajut persatuan bangsa melalui standarisasi rasa dan bumbu.

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. Rekaman sejarah ini membuktikan bahwa identitas kuliner kerap kali jauh lebih awet dan bertahan ketimbang sebuah rezim politik. Meskipun kepemimpinan nasional terus berganti, resep-resep yang terabadikan dalam karya monumental seperti Mustikarasa maupun catatan Nyonya Rumah tetap menjadi kompas kedaulatan pangan bangsa.

Semangat untuk menghargai bahan lokal serta merayakan keberagaman rasa di masa lalu tetap menjadi artefak sejarah yang sangat relevan bagi tren gastronomi hari ini—sebuah bukti bahwa melalui literatur kuliner, Indonesia tidak hanya merdeka secara politik, melainkan juga merdeka di atas meja makannya sendiri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 16:03

Mengapa Sejarah Kelam G30S Harus Tetap Dibaca?

Seyogianya sejarah harus tetap dibaca, meski itu adalah sejarah kelam. Sejarah bukanlah alat untuk menebar kebencian, tetapi dari sejarah kita belajar. Pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila.

Poster rilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1984 oleh Perusahaan Produksi Film Negara. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 13:53

Mengapa Hari Tani dan Reforma Agraria Penting bagi Warga Bandung?

Petani dan usaha pertanian di Kota Bandung masih ada dan terus bertahan,

Hamparan sampah di kota Bandung dan petani yang sedang beraktivitas (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 09:25

Kenapa Biaya Publish Scopus Berbeda? Simak Alasannya!

Biaya publikasi jurnal Scopus sering disalahpahami akademisi. Pahami siapa yang menetapkan biayanya, cara cek tarif resmi, dan cara menyusun anggaran publikasi yang realistis.

Ilustrasi akademisi sedang menyusun jurnal ilmiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 08:34

Pelecehan terhadap Perempuan di Ruang Keagamaan

Pelecehan seksual terhadap perempuan tidak menutup kemungkinan terjadi di ruang-ruang keagamaan.

Perempuan seringkali menjadi satu-satunya korban yang harus menanggung traumanya juga beban sosial yang seharusnya ditanggung oleh para pelaku. (Sumber: pexels)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 20:44

KDM Muncul di 'Financial Times' dan Sinyal Radar Kekuasaan Global

Ketika Financial Times mengangkat KDM dalam salah satu reportasenya, yang terjadi bukan sekadar peliputan, melainkan juga sinyal ihwal adanya potensi perubahan lanskap politik.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 19:26

Dari Wilayah Ilir ke Ulu: Sejarah Jembatan Ampera Peninggalan Soekarno

Jembatan Ampera merupakan jembatan yang menghubungi kedua wilayah yaitu Ulu dan Ilir yang terpisah oleh Sungai Musi. Jembatan ini menyimpan berbagai sejarah yang tersimpan di dalamnya.

 (Sumber: Balai Diklat Keuangan Palembang | Foto: Angga Sunda Prima)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 17:23

Ikon Bandung Pilihan Saya: 'Toko Buku Djawa'

Toko Buku Djawa bukan sekadar toko buku lama di Braga, tetapi juga bagian dari memori masa kecil dan jejak perubahan budaya kawasan tersebut.

Etalase toko buku Djawa di Jalan Braga no. 79, Kota Bandung. (Sumber: Flickr | Foto: fatmanabilla)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 16:27

Review Ingatan Sosok Figur Publik yang Pernah Menjabat Walikota Bandung

Setiap pemimpin akan meninggalkan kesan dan jejak sejarah. Sosok walikota Bandung yang diketengahkan di sini adalah Ateng Wahyudi dan Dada Rosada. Layak menjadi sosok figur publik untuk dikenang.

Walikota dari masa ke masa : R. Husein Wangsaatmadja (1976 - 1983), H. Ateng Wahyudi (1983 - 1993), Wahyu Hamidjaja (1983 - 1998), Aa Tarmana (1998 - 2003). (Sumber: Instagram | Foto: Musium Kota Bandung)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 15:23

Konservasi Khusus Owa dan Celepuk Indonesia

Lindungi owa, primata setia Indonesia dan celepuk, burung hantu kecil Indonesia dari kepunahan. Upaya konservasi habitat dan penyelamatan satwa ini demi menjaga keseimbangan ekosistem hutan berharga.

Owa Jawa. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: A.Baihaqi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 13:59

Keadilan Ekonomi untuk Guru

Guru masih diposisikan sebagai pahlawan, itu pun tanpa tanda jasa, tanpa ada jalan keluarnya, menganggap bahwa guru hanya sukarela, keilmuannya tidak sebesar gaji karyawan non pendidikan.

Sejumlah siswa saat beraktivitas di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 8 Cimahi, Jalan Kerkof, Kota Cimahi, Kamis 18 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 10:26

Potret Destinasi dan Lanskap Kuliner Bogor Tahun 2000

Memasuki milenium baru pada tahun 2000, Bogor tetap mengukuhkan posisinya sebagai destinasi gastronomi yang tak lekang oleh waktu.

Es Pala, minuman segar khas Bogor. (Sumber: ChatGPT | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 09:02

Ada Warga yang Mungkin Hilang dari Radar Data Pemerintah Kota Bandung

Kehidupan bergerak cepat, sementara pemutakhiran data bergerak lambat. Maka, muncullah apa yang diistilahkan sebagai invisible citizens.

Warga sedang antre menerima bantuan sosial. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)