Kedaulatan di Atas Meja Makan: Diplomasi Kuliner Sukarno pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung

6 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Momen jamuan makan malam resmi pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 19 April 1955. (Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Momen jamuan makan malam resmi pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 19 April 1955. (Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)

Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung bukan sekadar hajatan diplomatik akbar yang menghadirkan 29 pemimpin negara; ia adalah panggung dekolonisasi mental. Di tengah fajar kemerdekaan bangsa-bangsa di dua benua, Presiden Sukarno menyadari bahwa kedaulatan politik tak akan pernah utuh tanpa kedaulatan identitas.

Bagi Sukarno, urusan logistik makanan dalam konferensi ini adalah pernyataan politik yang sangat penting. Beliau menegaskan visi bahwa "kemerdekaan dimulai dari lidah"—sebuah manifestasi dari prinsip Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Visi ini lahir dari keyakinan mendalam Sukarno bahwa pangan adalah fondasi utama karakter bangsa. Beliau menolak keras stempel inferioritas dan kemiskinan, sebuah gagasan yang pernah diabadikannya lewat bait lagu: "Siapa bilang bapak dari Blitar, bapak kita dari Prambanan. Siapa bilang Indonesia lapar, Indonesia banyak makanan."

Lewat jamuan resmi tersebut, Sukarno ingin membuktikan bahwa Nusantara memiliki kekayaan kuliner adirasa yang mampu menandingi, bahkan melampaui standar internasional. Keyakinan inilah yang memicu intervensi langsung Sang Presiden ketika mendapati panitia masih terjebak pola pikir kolonial—menyiapkan sajian yang melulu berstandar Barat.

Intervensi Sukarno: Mengganti Menu Eropa dengan Cita Rasa Nusantara

Pada tahap persiapan Konferensi Asia Afrika (KAA), panitia awalnya merencanakan jamuan berkonsep Eropa demi menyesuaikan dengan norma diplomatik umum saat itu. Namun, Presiden Sukarno melakukan "tindakan dekolonial" dengan merombak total rencana tersebut. Beliau sangat memahami dampak psikologis dari sebuah jamuan—menyajikan cita rasa asli Nusantara kepada para tamu internasional adalah wujud nyata diplomasi kesetaraan. Bagi Sukarno, Indonesia tak perlu menduplikasi selera bekas penjajah hanya untuk merasa terhormat di mata dunia.

Bung Karno pun turun tangan langsung memeriksa setiap detail hidangan. Beliau memastikan kudapan rakyat seperti rengginang, opak, bajigur, hingga bandrek tidak hanya hadir, tetapi disajikan dengan penuh martabat di meja para pemimpin dunia.

Pergeseran paradigma ini menggeser menu kontinental standar Barat menjadi spektrum rasa kaya Nusantara, mulai dari hidangan utama seperti soto, sate, dan gado-gado, hingga penganan tradisional layaknya klepon, pukis, lemper, kue lapis, colenak, dan cendol. Perubahan mendasar ini kemudian diwujudkan melalui kolaborasi erat dengan para pelaku kuliner lokal yang memiliki kedekatan historis dengan Sang Presiden, salah satunya adalah Rumah Makan Madrawi.

Sate dan Soto Madrawi: Santapan Utama di Jantung Diplomasi

Rumah Makan (RM) Madrawi dipilih sebagai penyedia konsumsi Konferensi Asia Afrika (KAA) bukan semata karena kelezatan hidangannya, melainkan berkat ikatan emosional yang telah terjalin lama dengan Sukarno. Sejak masih menimba ilmu di ITB, Sukarno sudah menjadi pelanggan setia kedai milik dua bersaudara asal Madura, Madrawi dan Fadlie Badjuri, yang berlokasi di Jalan Dalem Kaum. Di masa-masa sulit perjuangan, Bung Karno sering menyantap hidangan di sana dan baru membayarnya ketika memiliki uang—sebuah bentuk solidaritas dan rasa saling percaya yang mendalam antar-anak bangsa.

Selama helatan KAA berlangsung, RM Madrawi mengoperasikan "dapur diplomasi" yang bekerja ekstra cepat dengan mengirimkan pesanan ke Gedung Pakuan, kediaman Gubernur Jawa Barat, sebanyak dua kali sehari. Dapur ini menyiapkan ragam sajian khas seperti sate ayam, soto ayam, sate dan gulai kambing, rawon sapi, hingga bistik. Operasional adirasa ini bahkan mencatat preferensi khusus dari para tamu negara, salah satunya Pangeran Faisal dari Arab Saudi yang secara spesifik meminta potongan daging sate yang berukuran besar, atau "segede jempol".

Fadli Badjuri menunjukkan foto rumah makan (RM) Madrawi tempo dulu di kediamannya di Kota Bandung, Selasa (17/4/2018). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)
Fadli Badjuri menunjukkan foto rumah makan (RM) Madrawi tempo dulu di kediamannya di Kota Bandung, Selasa (17/4/2018). (Sumber: Humas Pemkot Bandung)

Diplomasi kuliner ini terbukti sukses mencairkan suasana dan membawa keberhasilan budaya tersendiri. Tokoh-tokoh dunia seperti PM India Jawaharlal Nehru dan Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser tak ragu menyantap hidangan langsung menggunakan tangan kanan demi menghormati tradisi lokal Indonesia.

Di tengah suasana tersebut, sempat terjadi insiden menggelitik ketika pelayan menyodorkan mangkuk aluminium berisi air kobokan untuk cuci tangan. Nehru yang belum familiar dengan kebiasaan tersebut hampir meminum air kobokan sebelum akhirnya dihentikan dengan sigap oleh Fadlie Badjuri. Momen kecanggungan budaya ini justru berakhir dengan tawa hangat yang semakin mendekatkan para pemimpin negara.

Skala operasional RM Madrawi selama KAA memang luar biasa besar. Setiap harinya, dapur ini menghabiskan tak kurang dari 10 ekor kambing, 300 ekor ayam kampung, serta potongan paha sapi dalam jumlah melimpah, yang pada akhirnya mencatatkan total tagihan sepekan mencapai Rp 500.

Kini, keberadaan Rumah Makan Madrawi tinggal kenangan dalam catatan sejarah. Rumah makan yang mencapai puncak kejayaannya pada 1955, yang dahulu menjadi langganan Bung Karno tersebut, telah resmi berhenti beroperasi sejak 1987.

Colenak Murdi: "Dicocol Enak" sebagai Diplomasi Pencuci Mulut

Colenak Murdi Putra, yang eksis sejak 1930, menempati posisi terhormat sebagai hidangan penutup (dessert) resmi dalam malam resepsi KAA di Gedung Pakuan serta acara perpisahan di Hotel Savoy Homann. Kudapan berbahan dasar peuyeum (singkong fermentasi) ini merupakan simbol kemewahan yang lahir dari kecerdasan lokal.

Kemewahannya terpancar dari pemilihan bahan baku utamanya: peuyeum spesifik dari Cimenyan dan gula aren murni dari Pangandaran. Pada masanya, gula aren merupakan komoditas mahal mengingat pohon aren sulit dibudidayakan secara masif dan hanya tumbuh alami di wilayah beriklim khusus seperti Dago atau Ciumbuleuit.

Untuk menjaga kemurnian dan identitas kulinernya, Murdi menerapkan "Ritual dan Wasiat" yang sangat ketat dalam proses produksi maupun penyajiannya. Dari sisi teknik, pembakaran colenak wajib menggunakan hawu (tungku arang) demi menghasilkan aroma asap yang khas dan menjaga tekstur peuyeum agar tidak lembek.

Keautentikan resepnya pun dijaga secara eksklusif oleh internal keluarga tanpa melibatkan orang luar. Selain itu, Murdi memegang teguh prinsip etika pelayanan—seperti pantangan memunggungi pembeli—serta pendirian budaya yang kuat. Ia menolak keras berdagang bakso karena menganggapnya bukan makanan tradisional Sunda, sehingga menjualnya bersama colenak dinilai dapat merusak integritas budaya kuliner mereka.

Keteguhan menjaga kualitas ini membuahkan hasil manis di panggung internasional. Para delegasi KAA memberikan apresiasi tinggi dan memuji colenak sebagai sajian yang "unik dan enak". Keberhasilan ini membuktikan bahwa olahan singkong fermentasi sederhana mampu naik kelas menjadi santapan berkelas bagi para raja dan presiden dunia.

Hingga kini, colenak buatan Murdi masih tetap lestari melintasi zaman. Kudapan khas berbahan dasar peuyeum dan racikan gula merah ini terus dijaga keautentikannya, dan saat ini pengelolaannya diteruskan oleh generasi ketiga.

Manifestasi Mustikarasa: Warisan Politik Pangan Sukarno

Pengalaman kuliner pada panggung KAA 1955 menjadi katalis penting bagi pembentukan kebijakan pangan nasional Indonesia. Menanggapi data FAO tahun 1958 yang menyoroti rendahnya persediaan pangan nasional serta tingginya lonjakan impor beras yang mencapai 800.000 ton, Sukarno menginisiasi penyusunan buku masak nasional berjudul Mustikarasa, yang kemudian berhasil diterbitkan pada tahun 1967.

Mustikarasa hadir bukan sekadar sebagai kumpulan resep, melainkan dokumen politik strategis untuk mewujudkan kedaulatan pangan melalui diversifikasi. Melalui kitab ini, Sukarno mengusung visi besar untuk menggeser orientasi nasional dari "swasembada beras" menuju "swasembada pangan" yang lebih luas, dengan mendorong masyarakat memanfaatkan beragam bahan lokal non-beras.

Merangkum lebih dari 1.000 resep dari Sabang sampai Merauke, buku yang disusun bersama para ahli gizi ini tak hanya menjamin kecukupan nutrisi rakyat, tetapi juga menjaga kepribadian budaya bangsa. Lebih dari itu, keanekaragaman kuliner ini dirancang untuk menjadikan "lidah rakyat" sebagai benteng pertahanan utama melawan ketergantungan impor dan dominasi budaya asing.

Visi Sukarno mengenai kedaulatan pangan tersebut tetap relevan hingga hari ini. Dinamika diplomasi kuliner KAA 1955 mengajarkan bahwa meja makan sesungguhnya adalah meja perundingan yang paling jujur. Pangan tak boleh dipandang sebatas komoditas ekonomi semata, melainkan hak fundamental rakyat untuk berdaulat atas lidah, budaya, dan identitasnya sendiri. Pada akhirnya, kedaulatan suatu bangsa tercermin dari apa yang tersaji di atas meja makannya. (Diolah dari berbagai sumber)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)