Kerusuhan China berawal di perkebunan Cilangkap 8 Mei 1832 pukul 22.00 menjelang 9 Mei 1832. Mereka masuk ke Purwakarta, lalu membakar habis kota yang baru dibangun selama ± 1 tahun 4 bulan pasca kepindahan ibukota dari Wanayasa ke Sindangkasih pada 09 Januari 1830.
Sindangkasih berubah nama menjadi Purwakarta atas permintaan Bupati Karawang di Sindangkasih R.A.A. Suriawinata, yang disetujui Asisten Residen Karawang di Sindangkasih, Guillaume de Seriere de Bizourmet melalui Goedkeuringsbrief No. 40 (20 Juli 1831) dan Besluit No. 2 (20 Juli 1831).
Penduduk di Cilangkap dan Purwakarta kabur ke dalam hutan-hutan di desa-desa sekitarnya. Kerusuhan China juga terjadi di Wanayasa 9 Mei 1832 pukul 22.00 menjelang 10 Mei 1832. Wanayasa bekas ibukota Kabupaten Wanayasa (1684–1789), kedudukan Assistent Resident Krawang dan Residen Priangan (1816–1829) serta ibukota Kabupaten Karawang (1821-1830).
Peristiwa Kerusuhan China di Kabupaten Karawang
Perusuh di Cilangkap dan Purwakarta membakar gedung-gedung dan rumah-rumah dinas pemerintah serta membunuh ± 25 orang pejabat Belanda dan keluarganya tewas dengan 6 orang terluka. Perusuh yang membakar habis Cilangkap dan Purwakarta lalu merusuh di Tanjungpura dan Warung Bambu sehingga semua penduduk setempat kabur ke hutan-hutan di antara rawa-rawa.
Perusuh dari Wanayasa bertempur mati-matian melawan pasukan KNIL dari Wanayasa yang bersenjata lengkap dipimpin Pierre Francois Clignett dan Heinrich Christian Macklot. Terjadilah pertempuran dahsyat antara hidup dan mati di Tanjakan Pasir Panjang (Rancadarah), banyak perusuh yang tewas mengenaskan dengan luka-luka (tembak, tusuk, sayat, bacok dan penggal, terpisah kepala dari badannya).
Alibasah Sentot Prawirodirdjo
Dari manuskrip Moehammad Oemar (Ajudan Bupati Cianjur R.A.A. Prawiradiredja I), Carita Perang Cina di Tanjungpura Kabupaten Purwakarta, 14 Agustus 1864 (Kode Sd. 108, koleksi Karel Frederik Holle), dalam bait 102, 177, 179, 182, 198, 244, 248, 250, 252 dan 253 menyebut nama Pangeran Alibasah (Alibasah) sebagai komandan pasukan yang membawahi 4 orang tumenggung yang mendapat tugas dari Gubenur Jenderal Hindia-Belanda (Johannes van den Bosch) guna menumpas Kerusuhan China di Purwakarta, Kabupaten Karawang.
Pangeran Alibasah identik dan otentik merupakan sebutan bagi Alibasah Sentot Abdullah Mustafa Prawirodirdjo, panglima perang pada Perang Diponegoro (1825-1830). Hal ini diperkuat dengan manuskrip R.A.A. Sastraadhiningrat III (Bupati Karawang), “Krawang” (Plt. No. 46 Peti 121, koleksi Cornelis Marinus Pleyte).
Dari dokumen tercetak:
Philippus Pieter Roerda van Eysinga, “Handboek der Land- en Volkenkunde, Geschied-, Tall, Aardrijks- en Staatkunde van Nederlandsch Indie.” (III, Boek) II Deel, Amsterdam bij L. Vab Bakkenes, 1842, pp. 406-408;
François Vincent Henri Antoine Ridder de Stuers, “Gedenkschrift van den Oorlog op Java van 1825 tot 1830”, uit het Frans vertaald H.M. Lange. Amsterdam, 1847 dan
Guillaume de Seriere du Bizourmet, “Mijne Loopbaan in Indie”, R. van Wijk, Zwolle, 1849 (Bijlage XVII, pag. 81-121)
menuliskan, bahwa Alibasah Sentot Prawirodirdjo memimpin Barisan Sentot dengan pakaian seragam sorban hitam bergaris putih, jubah putih dan jaket rompi merah membawahi 3 orang tumenggung, yaitu: Pangeran Sumo Negoro, R.T. Prawiro di Puro dan R.T. Marto Puro, dengan 250 orang kavaleri dan 50 orang infanteri.
Apa yang ditulis de Stuers diperkuat oleh Saleh As'ad Djamhari, Stelsel Benteng dalam Pemberontakan Diponegoro 1827-1830 Suatu Kajian Sejarah Perang. Disertasi. Universitas Indonesia, 2007. Pasca Sentot menyerahkan diri kepada militer Kolonial Hindia-Belanda pada tanggal 17 Oktober 1829, sebagai letnan kolonel di dalam dinas militer, ia diberi wewenang memimpin pasukannya sendiri, terdiri dari 3 orang pangeran, 4 orang tumenggung utama, 37 orang tumenggung lainnya, 352 orang tentara dan 300 orang tentara tambahan. Sentot didampingi oleh seorang pembina militer bernama Luitenant de Leau.
Penumpasan Kerusuhan China di Karawang
Kerusuhan China (8 Mei 1832 – 16 Mei 1832) cukup besar dan menjadi tamparan sangat keras bagi pemerintah dan militer Kolonial Hindia-Belanda. Kekuatan guna penumpasan kerusuhan tersebut, terdiri dari:
Pasukan Kabupaten Cianjur: kavaleri Bapak Nona 60 orang; jager Bapak Kodok 60 orang; pengiring 10 orang; logistik R.H. Abdullah dari Gandaria 8 orang; keluarga kabupaten 40 orang; dari 26 cutak @ 50 orang tiap cutak (26x50=1.300 orang) dan tambahan Asep Rabal (dari Kaliastana) 25 orang.
Pasukan koalisi Kabupaten Karawang, Cianjur, Bogor dan Bandung serta Garut, Sukapura dan Sumedang yang berjaga di Batusirap.
Pasukan KNIL: infanteri, kavaleri dan artileri Pierre Francois Clignett dan 1ste Luitenant Heinrich Christian Macklot dari Wanayasa plus 3 pucuk meriam; infanteri Residen Priangan, Otto Carel Holmberg de Beckfelt 150 orang; hussaren Ridmeester D.D. Le Jolle dari Bogor 25 orang dan mobile troepen Majoor Andreas Victor Michiels dari Batavia.
Pasukan Barisan Sentot: 3-4 tumenggung, 250 orang kavaleri dan 50 orang infanteri dipimpin Sentot.
Barisan Sentot berangkat dari Batavia, menyusuri Pantai Utara, menyeberangi Sungai Citarum, menuju Tanjungpura. Barisan Sentot bertemu dengan perusuh. Terjadilah pertempuran dahsyat, perusuh dihancurkan kekuatannya, 600 orang perusuh (dari total 800 orang) tewas dalam pertempuran.
Sisanya (200 orang) ditangkap dan dipenggal leher kepalanya oleh pasukan Priangan. Ada 17 orang perusuh yang ditangkap, keesokan harinya tewas dipenggal, lalu diberi air keras dan dikirim ke Batavia. Lusanya dapat ditangkap lagi 20 orang perusuh.
Saat Residen Priangan dan pasukannya tiba di Tanjungpura, berjumpa dengan Barisan Sentot yang telah menggempur perusuh di sana. Mereka mendapatinya sedang sibuk mengepak 600 buah kepala perusuh guna dikirim ke Batavia.

Pasca penumpasan kerusuhan Residen Karawang, Residen Cianjur, Bupati Karawang, Bupati Cianjur, Bupati Bogor, R.A.A. Wiranata, Alibasah Sentot Prawirodirdjo dan lain-lain menuju ke Purwakarta guna meninjau situasi dan kondisi pasca kerusuhan.
Di sana tiada air sebab bendungan air yang ada dibobol oleh perusuh; bangunan-bangunan yang dibakar: kompieks loji; penjara, rumah sakit dan gudang uang hancur, uang kertas menjadi abu senilai f 11.200.000, sebagian uang logam masih bisa diseiamatkan; juga bangunan induk, gudang barang, dapur, kandang kuda, kereta kuda dan kantor.
Diputuskan, bahwa tiap kabupaten harus menempatkan pasukan 500 orang prajurit guna menjaga keamanan di Purwakarta, dari Cianjur dipimpin Kumetir Wiranagara dan dari Bandung dipimpin Arya Majah, yang berhasil menangkap 29 orang perusuh dan mengirimkannya ke Batavia via Cianjur. Pasca keamanan pulih total mereka pulang kembali ke daerah masing-masing.
Dalam kerusuhan tersebut gugur diantaranya R. Sumayuda, Ajudan Bupati Bandung dan lain-lain; de Leau (Sheperd Leau/Scheffer Leau); Heinrich Christian Macklot; de Vries; des Marbais dan lain-lain. (*)