Menikmati Kerupuk, Mengenang Perjuangan: Sejarah, Filosofi, dan Refleksi Budaya Lomba Makan Kerupuk

6 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Sejumlah ibu rumah tangga mengikuti berbagai lomba 17 Agustus di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah ibu rumah tangga mengikuti berbagai lomba 17 Agustus di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Lomba makan kerupuk telah menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Indonesia lintas generasi.

  • Perjalanan kerupuk memasuki babak berbeda ketika masyarakat Indonesia menghadapi tekanan ekonomi berat pada masa Malaise hingga pendudukan Jepang pada dekade 1930-an dan 1940-an.

  • Dahulu, rakyat mengonsumsi kerupuk aci karena keterpaksaan ekonomi di bawah tekanan penjajah.

Setiap kali bulan Agustus tiba, pemandangan khas itu kembali hadir di berbagai penjuru Indonesia. Dari gang-gang sempit di tengah permukiman padat perkotaan hingga lapangan terbuka di pelosok desa, gelak tawa dan sorak-sorai masyarakat mengiringi semarak perayaan kemerdekaan.

Di tengah kemeriahan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, ada satu tradisi yang nyaris tak pernah absen: lomba makan kerupuk. Anak-anak hingga orang dewasa berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung, menengadahkan kepala, lalu berusaha menggigit kerupuk yang terus bergoyang, tergantung pada seutas tali rafia.

Sederhana, meriah, dan mengundang tawa, lomba makan kerupuk telah menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Indonesia lintas generasi. Namun, di balik keseruannya, kerupuk menyimpan kisah yang jauh lebih panjang. Kudapan renyah ini memiliki jejak sejarah kuliner yang telah berkembang selama berabad-abad dan, dalam konteks perayaan kemerdekaan, kemudian memperoleh makna simbolis yang erat dengan perjuangan serta perjalanan bangsa Indonesia.

Jejak Panjang Kerupuk dalam Khazanah Kuliner Nusantara

Jauh sebelum menjadi bagian dari kemeriahan lomba setiap Agustus, kerupuk telah lebih dahulu mengakar dalam sejarah kuliner Nusantara. Perjalanannya melintasi beragam zaman, dari masyarakat Jawa kuno, berkembang di kawasan pesisir, hingga menjadi bagian dari strategi bertahan hidup masyarakat pada masa-masa sulit.

Jejak awal keberadaan kerupuk di Pulau Jawa dapat ditelusuri hingga abad ke-9 Masehi. Prasasti Batu Pura mencatat istilah kurupuk atau krupuk rambak, yang merujuk pada penganan renyah berbahan kulit sapi atau kerbau. Tradisi serupa juga tercermin dalam berbagai catatan Jawa kuno yang menunjukkan bagaimana masyarakat memanfaatkan kulit hewan dengan cara dikeringkan, kemudian digoreng hingga mengembang dan disantap sebagai pendamping nasi.

Seiring berkembangnya jalur perdagangan maritim pada sekitar abad ke-15, tradisi membuat kerupuk semakin menyebar ke berbagai kawasan pesisir Nusantara hingga Semenanjung Melayu, tempat makanan sejenis dikenal dengan sebutan keropok. Perjumpaan dengan lingkungan dan sumber pangan yang berbeda membuat bahan bakunya ikut mengalami penyesuaian.

Di daerah pesisir yang kaya hasil laut, misalnya, ikan dan udang mulai dimanfaatkan sebagai bahan utama. Dari sinilah lahir beragam kerupuk bercita rasa gurih yang kemudian berkembang menjadi ciri khas berbagai daerah. Kerupuk pun tidak lagi hanya berbahan kulit hewan, tetapi terus beradaptasi mengikuti kekayaan bahan pangan setempat.

Kerupuk Aci di Tengah Masa Sulit 1930–1940-an

Perjalanan kerupuk memasuki babak berbeda ketika masyarakat Indonesia menghadapi tekanan ekonomi berat pada masa Malaise hingga pendudukan Jepang pada dekade 1930-an dan 1940-an. Dalam situasi ketika bahan pangan berprotein seperti daging, kulit hewan, dan ikan semakin sulit dijangkau, masyarakat mencari bahan alternatif yang lebih murah dan mudah diperoleh.

Tepung tapioka atau aci yang berasal dari singkong kemudian menjadi salah satu pilihan. Singkong relatif mudah dibudidayakan, termasuk di lahan yang kurang subur, sehingga dapat menjadi sumber pangan bagi masyarakat ketika bahan makanan lain semakin terbatas. Dari bahan sederhana inilah kerupuk aci berkembang dan kemudian dikenal luas dalam berbagai bentuk, termasuk kerupuk yang kerap disimpan serta dijajakan dalam kaleng atau blek.

Bagi masyarakat kecil, kerupuk aci bukan sekadar pelengkap makanan. Harganya yang terjangkau dan teksturnya yang mengembang serta renyah membuatnya mampu memberi rasa lebih lengkap pada sepiring nasi dengan lauk yang terbatas. Dalam konteks masa tersebut, kerupuk menjadi cerminan kesederhanaan sekaligus kemampuan masyarakat beradaptasi terhadap tekanan ekonomi, kelangkaan pangan, dan kondisi perang.

Dari makanan yang telah dikenal selama berabad-abad hingga menjadi teman makan rakyat pada masa sulit, perjalanan kerupuk memperlihatkan kemampuannya untuk terus menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Kesederhanaannya justru membuat makanan ini tetap bertahan, melekat dalam keseharian, dan akhirnya menempati ruang tersendiri dalam ingatan kolektif masyarakat Indonesia.

Filosofi Kemerdekaan di Balik Tali dan Kerupuk

Kemeriahan lomba setiap tanggal 17 Agustus di Indonesia. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Kemeriahan lomba setiap tanggal 17 Agustus di Indonesia. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Memasuki dekade 1950-an, ketika Indonesia masih berada pada tahun-tahun awal kemerdekaan, berbagai kegiatan rakyat mulai digelar untuk memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia. Di tengah suasana tersebut, lomba makan kerupuk kemudian tumbuh menjadi salah satu permainan yang akrab dengan perayaan 17 Agustus. Sederhana, murah, dan dapat diikuti hampir semua kalangan, lomba ini dengan cepat menjadi bagian dari kemeriahan masyarakat.

Namun, di balik kesederhanaannya, lomba makan kerupuk kerap dimaknai lebih dari sekadar hiburan. Setiap unsur di dalamnya seolah menghadirkan kembali gambaran tentang keterbatasan, perjuangan, dan kegigihan dalam meraih sesuatu yang tidak mudah diperoleh.

Aturan yang melarang peserta menggunakan tangan, misalnya, dapat dibaca sebagai simbol keterbatasan dan pengekangan. Dengan kedua tangan berada di belakang tubuh, peserta kehilangan keleluasaan untuk meraih makanan di hadapannya. Gambaran tersebut mengingatkan pada kondisi masyarakat pada masa penjajahan, ketika ruang gerak rakyat dibatasi, baik secara politik, ekonomi, maupun dalam menentukan nasibnya sendiri.

Sementara itu, kerupuk yang digantung pada seutas tali dan terus bergoyang menghadirkan tantangan tersendiri. Letaknya begitu dekat di depan mata, tetapi tidak mudah digapai. Dalam pemaknaan simbolis, kondisi ini dapat menggambarkan kemerdekaan sebagai cita-cita yang membutuhkan perjuangan panjang untuk diraih.

Peserta tidak dapat sekadar bergerak tergesa-gesa. Mereka harus mengamati arah dan ritme ayunan kerupuk, menunggu saat yang tepat, lalu mencoba menggigitnya sedikit demi sedikit. Di sinilah kesabaran dan kemampuan membaca momentum menjadi bagian penting dari permainan.

Kegigihan juga diuji sepanjang perlombaan. Tidak jarang kerupuk bergeser tepat ketika mulut hampir berhasil menjangkaunya. Peserta harus kembali mengatur posisi dan mencoba lagi, berulang kali, hingga akhirnya berhasil. Dari permainan sederhana tersebut tersirat pelajaran tentang pantang menyerah; bahwa sebuah tujuan terkadang tidak dapat dicapai dalam sekali usaha, melainkan membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan keberanian untuk terus mencoba.

Dengan demikian, lomba makan kerupuk bukan hanya menghadirkan gelak tawa dalam perayaan kemerdekaan. Dalam pemaknaan yang lebih luas, permainan ini dapat menjadi pengingat sederhana bahwa kemerdekaan lahir dari perjuangan panjang—dari keterbatasan, kegagalan, kesabaran, hingga kegigihan untuk terus meraih cita-cita.

Evolusi Makna: Dari Keterpaksaan Menjadi Rasa Syukur

Perjalanan panjang kerupuk mencerminkan transformasi sosial-politik bangsa Indonesia. Makna dan fungsi kerupuk bergeser secara signifikan dari zaman ke zaman:

Era Sejarah

Jenis dan Konteks Pemanfaatan

Makna Sosial & Kuliner

Era Kerajaan (Abad IX)

Olahan kulit (rambak) sebagai pelengkap hidangan

Kudapan tradisional bernilai budaya tinggi

Era Penjajahan (1930–1940-an)

Kerupuk aci sebagai alternatif lauk murah

Simbol krisis, keterbatasan, dan daya tahan hidup

Era Kemerdekaan (1950-an–sekarang)

Objek perlombaan perayaan 17 Agustus sekaligus pelengkap makan serta camilan yang ragam dan cita rasanya semakin kaya

Simbol pengingat sejarah, keceriaan, dan rasa syukur

Dahulu, rakyat mengonsumsi kerupuk aci karena keterpaksaan ekonomi di bawah tekanan penjajah. Hari ini, kerupuk dimakan dalam suasana gembira, dikelilingi gelak tawa tetangga dan sanak saudara. Perubahan konteks dari "makan untuk bertahan hidup" menjadi "makan untuk merayakan kebebasan" adalah representasi nyata dari kemerdekaan itu sendiri.

Refleksi Modern: Merawat Ingatan di Tengah Zaman

Di tengah riuk-pikuk era digital yang serba cepat, lomba makan kerupuk tetap bertahan kokoh sebagai salah satu tradisi paling lestari di Indonesia. Keberadaannya menjadi bukti hangat bahwa merawat memori kolektif bangsa tak melulu harus lewat lembaran buku sejarah yang tebal atau pidato formal di atas mimbar.

Melalui kesederhanaan selembar kerupuk aci, generasi muda diajak menyapa sejarah secara langsung; merasakan secuil kesulitan, tertawa bersama di tengah keterbatasan, dan merayakan kemenangan kecil saat kerupuk tersebut berhasil dilahap habis.

Sebutir kerupuk renyah yang kita gigit saban 17 Agustus bukan lagi sekadar camilan murah pelengkap sajian. Ia telah menjelma menjadi monumen hidup—pengingat senyap bahwa kebebasan, keceriaan, dan kebersamaan yang kita nikmati hari ini berdiri teguh di atas fondasi perjuangan, kesabaran, serta keprihatinan para pendahulu bangsa. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)